Tidak Percaya

1687 Words

"Ma, aku lagi di jalan mau ke rumah ya," ujar Kania pelan untuk memberi kabar sang mama, memastikan kalau di rumah ada orang. "Boleh, kamu ada apa tumben pakai izin, Sayang. Biasanya juga langsung aja main." Mamanya terdengar heran di seberang. "Ya udah Mama tunggu di rumah." Kania menghela napas berat usai menjejalkan ponsel ke tas, merasa tidak memiliki tempat paling aman selain rumah sendiri. Dia sudah puluhan menit duduk di taksi, mengabaikan Haidar yang sejak tadi mengikutinya di belakang. Sekitar bola matanya hangat selagi tangisnya belum reda sepenuhnya. Selama perjalanan bayangan suami tidak menolak ciuman sahabatnya terus berputar di kepala. Berapa sering mereka melakukan itu di belakang? Miris sekali nasibnya dikhianati dua orang yang disayang sekaligus. Kania ingin melamp

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD