1
Tempat itu berserakan. Banyak makhluk yg nampak buas tergeletak mati.
Namun belum selesai
Secepat kilat sesuatu mengangkatnya.
“Tak bisa bergerak. Mereka mengendalikanku.” itulah yang dia pikir saat itu.
Seketika sebuah anak panah melesat kearah nya.
Slatss..
Menggores cukup dalam.
“Argghh!!”
"Lu!!"
Nami berteriak mellihatnya.
“Apa mungkin?”
Ucap Trans dalam hati.
Mencoba melihat wajah di balik jubah hitam. Namun tak bisa.
“Lu bertahan lah.”
Teriak seseorang.
Makhluk itu mendekat menampakkan wajah gelapnya.
Gelap.
.
.
.
~~~
Kembali ke awal cerita.
Sebelum semuanya dimulai.
~~~
.
.
.
.
.
Di suatu negeri yang indah, terlihat beramai-ramai penduduknya bersuka ria bersama. Mereka menyanyikan lagu dan menari dengan riang. North Island, yang merupakan negeri makmur dan permai. Di dalam negeri yang damai tersebut, terdapat sebuah kerajaan megah yang diperintah oleh raja dan ratu yang baik hati.
Raja yang bijaksana itu memiliki seorang putera dan seorang puteri. Yang selalu mereka bina untuk menjadi pengganti mereka nantinya setelah mereka tak sanggup lagi memerintah negeri yang amat mereka cintai itu. Raja dan ratu sangat menyayangi puteri kecil mereka. Berharap dengan hati lembut dan penyayangnya dia akan membantu kakak nya kelak saat sang kakak telah memikul jabatan pemberian ayahnya.
Namun, segala kebahagian dan suka cita itu seketika sirna saat kabar buruk mendatangi kerajaan tersebut. Sang ratu tersungkur dan menangis, dan raja tak bisa berbuat banyak. Si puteri kecil tak mengerti apa yang terjadi. Dia hanya melihat semuanya termenung dengan wajah sedih. Paman nya, Zargam berteriak dan memukuli sebagian prajurit malang itu. Zargam merupakan adik Sang Raja, sifatnya cukup pemarah dan keras. Namun dia orang yang baik hati. Nampaknya salah seorang dari mereka menunduk memegangi seekor kuda yang berlumur darah. Saat itulah tersadar bahwa sang kakak, Locius tak kembali pulang.
Hari-hari berlalu setelah menghilangnya si anak sulung, Sang Raja menjadi sering termenung akhir-akhir ini. Di ruang itu dia tertunduk entah apa yang ada dalam pikirannya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, menghentikan lamunannya. Dia tersentak, dan mempersilahkan tamunya itu untuk masuk.
“Astaga! Ya silahkan masuk.”
“Aku sangat minta maaf karena telah mengganggu Yang Mulia.” dia menundukkan kepalanya.
“Adikku Zargam, sekarang apa yang harus kuperbuat. Calon pewaris tahtaku sudah tiada. Ini juga merupakan kesalahan ku, saat dia baru berumur 8 tahun dan aku sudah terlalu mempersiapkannya.”
“Tidak Yang Mulia, pangeran muda Locius memang masih kecil. Namun di umurnya yang masih muda itu, dia sudah amat tertarik dengan dunia politik dan pemerintahan. Dia juga sangat suka bermain pedang dan sangat pandai dalam memanah. Apa yang dipelajarinya selama 4 tahun ini, benar-benar ia kuasai. Dia merupakan calon raja yang arif dan tangguh Yang Mulia.”
“Janganlah kau memanggilku begitu wahai adik, kau memang adik dan penasehat terbaik di kerajaan ini. Apalah yang dapat aku perbuat tanpa adanya dirimu. Lalu bagaimana jalan terbaik sekarang adikku?”
“Negeri Utara ini harus selalu jaya seperti saat ini, maka Anda harus memilih calon pengganti yang baru.”
“Pengganti?”
“Benar, seorang pengganti, yang akan menjadi penerus mu selanjutnya yang akan memegang tahta mu ini. Dialah yang pantas menjadi raja dan memerintah, seorang yang mengerti tentang kerajaan ini dan mampu menjaganya. Dan yang terpenting, kau tahu kakak? Dia harus merupakan keluarga kita, dan merupakan darah ayah kita yang agung. Hanya darahnya lah yang mampu memikul kejayaan negeri ini. Seperti dirimu kakak, dan aku.” terbesit sebuah senyuman di bibir sang penasehat itu, lalu keceriaan terpancar dari wajah Sang Raja.
“Iya!! Kau benar adik, tapi siapa orang yang pantas itu...”, Sang Raja berfikir
“Kenapa Anda harus bingung, di kerajaan ini hanya satu orang saja yang pantas.”
“Tentu saja, putri ku yang pemberani. Dia pasti mampu melakukannya.”
“Emm, tapi... Iya! Anda benar sekali, mari bimbing dia untuk menjadi seorang penguasa.”, bibir sang penasehat terlihat tersenyum kaku.
.
.
.
.
.
~~~
Part selanjutnya,
Dari jendela yang hanya terbuka sedikit kordennya, ia terduduk penuh iba.
"Yang Mulia, akankah kau akan terus disini?", menepuk pelan.
"Wahai permaisuriku, sungguh ku tak rela anak gadis ku harus mendapatkan perlakuan semacam itu."