Nampaknya usia 8 tahun bukan usia anak-anak lagi baginya, seperti seumuran kakak nya dulu. Pemerintahan dan politik harus ia ketahui. Pedang, busur dan panah harus ia kuasai.
Benar, menjadi seorang anak calon pewaris tahta itu bukan hal yang mudah.
Jikalau saja kakak nya masih ada, sekarang ia mungkin hanya akan duduk minum teh hangat dan makan biskuit, sambil membaca buku dongeng di sudut kamarnya. Tumbuh menjadi gadis kecil yang manis dan lugu, seorang puteri yang anggun.
Memang hidup sebagai keluarga kerajaan harus memiliki kemampuan menjaga diri sendiri. Karena apa yang dimiliki oleh kaum bangsawan kadang dapat menarik niat buruk bagi orang-orang yang iri pada mereka. Itulah kehidupan kaum berderajat tinggi.
Walaupun ada kekhawatiran yang sangat besar, sang raja harus merelakan puterinya memegang pedang dan panah. Hingga ia mendapatkan calon pewaris yang dapat ia yakini mampu memikul tugas berat kerajaan, itu harga yang harus dibayarkan.
Dari jendela yang hanya terbuka sedikit kordennya, ia terduduk penuh iba.
"Yang Mulia, akankah kau akan terus disini?", menepuk pelan.
"Wahai permaisuriku, sungguh ku tak rela anak gadis ku harus mendapatkan perlakuan semacam itu."
"Bukankah hanya itu yang kau minta darinya? Bukankah nantinya kau akan melepaskan segalanya untuk dirinya?", nampak Sang Ratu trenyuh hatinya.
"Permaisuriku, isteriku tercinta, andai putera ku masih disini."
Mereka memandang puteri kecil mereka yang kelelahan, berlumur keringat, dan memikul beban yang berat. Puteri mereka selalu, dan akan tetap selalu menjadi puteri kecil yang penuh dengan kerendahan dan kelembutan, mereka yakin akan hal itu.
.
.
.
Cling-cling-cling-cling!!
"Bu-kan-kah a-ku ha-rus is-ti-rahat seka-rang?" ,suaranya terisak, dia terlalu lelah untuk bicara.
"Tunggu dulu Puteri Alucia, Anda harus berlatih dengan keras", jelas sang pengawal
"As-ta-ga, a-pa kau tak lihat wahai teman. Aku seorang gadis."
Brukk, Alucia terjatuh di tempat latihan.
"Puteri, ku tahu Anda berpura-pura pingsan. Apa Anda pikir mampu menipu saya? Tentu saja tidak."
Dia memang berniat menipunya, tapi kelihatannya gagal.
Pengawal tertawa penuh kesombongan, lalu Alucia pun menghentikan tipu muslihatnya itu.
"Baiklah teman, aku memang berniat menipu. Tapi aku tak akan melakukannya lagi, karena sekarang ku tahu kalau kau ternya cukup pintar untuk ku bodohi.",
memperlihatkan wajah kesalnya.
"Hahahaha! Tentu saja, Anda harus belajar juga dari ku. Tapi jika kau sombong, pasti kau akan segera kalah."
Alucia tersenyum kecil, sebuah senyuman licik. Dia mencari celah dan melewati jalan di antara kedua kaki pengawal itu. Dan,
"Ya! Sekarang siapa yang tertawa kepala besar? Hahaha, apa kau bisa menangkapku sekarang? Coba kita lihat." Alucia berdiri dengan penuh senyuman.
"Astaga puteri!!"
Alucia berlari dan membuat tempat latihan itu berantakan, si pengawal mencoba meraihnya namun selalu tak sampai. Para pelayan dan pengawal disana hanya tertawa melihat aksi konyol mereka berdua, nampaknya itu suatu momen yang mungkin cukup langka.
Gadis itu menarik anak panah dengan kuat. Sebelah matanya terpejam.
"Kau siap?"
"Aku siap!"
"Apa bidikanmu sudah siap?!"
"Yaa!"
"Kalau begitu, lepaskan!"
Panah melesat cepat. Namun arahnya diluar dugaan. Panah melesat ke atas dan mengenai ranting pohon berukuran besar. Ranting itu patah dan jatuh diatas si penjaga.
Brukkkk
"Hahahahah"
Lalu mereka tertawa bersama.
.
.
.
.
.
~~~
Part selanjutnya,
"Alucia!!"
"Kakak!?"
"Hahaha, ayo kejar aku kalau bisa dasar cengeng."
"Kakak jahat sekali, aku kan tidak cengeng."