4

592 Words
Seperti hari-hari biasa mereka bersama-sama tertawa dan bercanda. Walaupun sudah 2 tahun Alucia mendapat pelatihan, dia tetap lah puteri kerajaan. Bersikap lemah lembut merupakan syarat seorang puteri. Dia bersama ayah dan ibunya tampak sedang bercanda di ruang tengah, keluarga yang sangat harmonis. Kemudian kesenangan itu terhenti seketika. Tok tok tok... “Ya! Masuk.” “Maaf mengganggu kesenangan Yang Mulia.” “Oh Zargam, kemarilah berkumpul bersama kami.” “Iya paman, kemarilah!” “Tentu saja aku ingin tapi, kurasa Anda harus melihat ini sekarang.” Sang Raja bergegas meninggalkan ruangan, nampaknya penting. Karenanya wajah Zargam terlihat tidak senang. Ratu sangat khawatir, dia memandang suaminya penuh tanya. “Sesuatu yang aneh terjadi yang mulia.” “Apa itu?” Mereka tiba di balkon istana, lalu Zargam menunjuk ke arah tempat yang jauh. Sesuatu mulai terlihat. “Lihatlah, jelas sekali itu ilmu sihir.” “Itu sihir kan? Bagaimana menurutmu?” “Kurasa sangat kuat dan mungkin akan sangat berbahaya.” “Aku tak mengerti tentang sihir, hanya kau yang mewarisi sihir Ibunda. Jadi aku mohon kau harus menemukan jalan keluar masalah ini.” “Tentu saja Yang Mulia, semua ahli sihir kerajaan sudah mulai bergerak. Kami akan berusaha.” Awan hitam dari arah timur itu tampak mendekat. Suara gemuruh terdengar dan petir mulai menyambar. Wajah Sang Raja tampak sangat gelisah. Sihir yang akan membawa bencana itu akan sangat meresahkan kerajaannya. Tapi kenapa tampak berasal dari selatan? Kemampuan sihir. Hanya Zargam lah ahli sihir terkuat di wilayah utara. Nampaknya keselamatan setiap penghuni daerah ini bergantung padanya. Di dalam keluarga Sang Raja tidak jauh dengan dunia sihir. Namun tetap saja tidak setiap tunas memiliki semua kemampuan induknya. Hanya adik Sang Raja yang dapat mendalami dunia sihir, bahkan Raja tidak dapat sedikitpun mengerti sihir. Namun karena sebagai kakak yang baik dan sifat terpujinya, dia mampu menjadi seorang raja. Walaupun kekuatan sihir ibunya hanya dimiliki oleh adiknya saja, dia akhirnya mewarisi kemampuan ayahnya memerintah Negeri Utara peninggalan ayahnya. Malam itu segalanya tampak kelabu, sihir telah berhasil mempengaruhi. Seperti semuanya larut dalam kegelapan, kesedihan dan kesengsaraan. Malam itu tidak menyenangkan. Tiba-tiba sesuatu terjadi. Gerbang di hancurkan dan beberapa penjaga lenyap. Mereka diserang, tampak makhluk mengerikan datang menyerbu. Semua orang bersiap terutama Sang Raja. Dia menoleh dan tersenyum, meyakinkan pada isteri dan puteri nya bahwa semua akan baik-baik saja. Cling-cling Krakkkk!! Pertarungan dimulai, semuanya sangat gaduh. Terlihat aksi perlawanan dimana-mana. Tiba-tiba saja, banyak cairan merah bersimbah di lantai. Bau anyir darah mulai terasa. Pertanda banyak orang telah kehilangan nyawa. Makhluk apa yang bisa berbuat sedemikian ini. Setelah itu seketika semua suara lenyap. Tidak tahu apa yang dihadapi oleh mereka, sesuatu yang kuat. Tahan pedang dan sangat cepat, makhluk yang mengerikan. Semua suara lenyap, dan hening, mereka telah pergi. “Yang Mulia!!” “Cepat-cepat! Semuanya.” “Terlambat...” Mereka semua bingung, situasi yang tidak jelas. Ratu berlari seraya menggandeng puterinya. Cling! Tangan kanannya memegang pedang. Seketika pedang terjatuh saat melihat suaminya tergeletak. Dia berlari. Puteri itu menahan tangis. . . . . . ~~~ Part selanjutnya, “Setiap muncul kekuatan besar, muncul pula tanggung jawab yang besar. Setiap datang segala kebahagiaan maka akan mengenal benci dan kepedihan, dan kesulitan pun akan segera datang melanda.” “Kenapa begitu?” “Saat kecil, aku ditemukan di depan pintu tempat ini. Lalu pengasuh membawaku, dan merawatku sampai aku besar. Aku ingin ketika aku dewasa nanti, aku bisa mencari dan bertemu dengan kedua orang tua ku. Aku ingin bertanya, mengapa mereka meninggalkanku. Satu satunya yang mereka tinggalkan cuma sebuah nama saja.” jelasnya tanpa memperlihatkan kilasan wajah sedih sedikitpun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD