Damian tiba di sebuah rumah kosong milik keluarganya. Salah satu rumah yang sudah lama kosong karena akan dijual. Damian keluar dari mobilnya, merapikan jasnya seperti orang yang penuh wibawa. Dean yang tampak menunggu di luar mobil sontak menghampiri ketika bosnya datang.
"Bagaimana? Semuanya aman?" tanya Damian.
"Aman Pak."
"Di mana dia sekarang?" tanya Damian lagi seraya melirik ke sekitarnya dengan iris tajamnya.
"Di dalam, Pak." Dean melirik ke mobil dinas, yang biasa digunakan Dean untuk menjalankan tugas-tugas dari Damian. Damian mengikuti arah pandang Dean lalu mengangguk, kakinya bergerak melangkah menuju mobil tersebut.
Damian membuka pintu jok belakang mobil, menunduk. Keduanya bertemu pandang, waktu seakan berhenti. Olivia melotot dan langsung berontak ketika melihat Damian namun sayangnya bibirnya dibungkam dengan lakban hitam. Damian menyunggingkan smirknya lalu masuk ke dalam, duduk di sebelah Olivia yang tubuh dan tangannya juga terikat dengan tali.
"Kita ketemu lagi cantik." Damian merangkul Olivia, menariknya mendekat ke arahnya sampai jarak wajah mereka tersisa hanya beberapa cm.
"Hmmpphh!" Olivia berteriak frustasi sampai urat-urat di lehernya menegang, matanya melotot tajam. Tubuhnya bergerak gelisah, mencoba melepaskan diri dari tali yang memeluk tubuhnya erat.
Damian justru terkekeh. "Tenang cantik, jangan grasak-grusuk begitu." Tangan Damian bergerak membelai rambut Olivia, menyelipkan rambut ke belakang telinga Olivia sehingga ia bisa melihat wajah Olivia dengan jelas.
"Bagaimana semalam? apa kamu menikmatinya?" bisik Damian tepat di telinga Olivia. Olivia dengan cepat menjauh, menggeleng dan menatap Damian ngeri, dadanya kembang kempis.
"Kamu buru-buru sekali perginya, aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat pagi sama kamu."
"Hmmpphh!"
"Kamu ngomong apa sih, sayang?" tanya Damian seraya menarik lakban yang menutupi mulut Olivia.
"Selamat pagi, your ass!" kata umpatan keluar dari mulut Olivia setelah lakban yang membekap mulutnya terlepas.
Bukannya takut, Damian justru tertawa. "Kamu semakin cantik kalau marah."
"Apa kamu sudah sinting, huh?! kamu habis memperkosa orang dan kamu masih bisa cengengesan begini? Pergilah berobat!" tegas Olivia kemudian mengalihkan wajahnya, masih berusaha untuk melepaskan diri. "Setelah aku bebas dari sini, aku akan langsung melaporkanmu ke polisi. Kamu pikir, aku takut denganmu, huh?!" sambung Olivia sibuk mengomel.
Damian mendengus. "Memangnya kamu yakin bisa bebas dari sini?"
Olivia sontak menoleh, menatap lurus ke mata elang yang tengah menatapnya remeh.
"Apa maumu?" tanya Olivia to the point.
"Sudah kuduga, kamu adalah wanita yang kucari." Damian mengubah posisinya, bersandar sambil bersedekap d**a. Wajahnya kelihatan santai. "Aku tertarik denganmu. Aku ingin kamu menikah denganku," celetuknya setelah beberapa saat.
"Hah?! Apa kamu sudah gila?!"
"Iya, aku memang gila." Olivia menatap jijik wajah menyebalkan Damian. Kalau saja tangannya tidak terikat, sudah pasti Damian akan mendapatkan pukulan keras di wajahnya.
"Aku tidak mau. Sampai dunia kiamat pun aku tidak akan mau menikah denganmu!" jawab Olivia tegas tanpa ragu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh, begitu ya? Walaupun kamu mendapatkan imbalan 3 milyar?"
Olivia terdiam, kepalanya menunduk namun bola matanya bergerak pelan. Olivia tidak punya apa-apa sekarang. Dia tidak punya keluarga, dia tidak punya tempat berlindung, dia tidak punya pekerjaan dan dia sudah tidak punya banyak uang yang tersisa di rekeningnya. Bila sampai tahun depan, ia belum mendapatkan pekerjaan baru, mungkin dia akan tinggal di bawah kolong jembatan.
Damian mengangkat alisnya. "Kamu pasti berubah pikiran 'kan?" Damian memajukan wajahnya. "Kapan lagi kamu bisa dapat uang sebanyak itu secara cepat. Kamu hanya perlu menjadi istriku. Aku perlu menikah sebelum usiaku 30 tahun Desember nanti. Dan aku akan bayar semuanya di muka."
Olivia mengangkat kepalanya, alisnya berkerut. "Aku tidak percaya denganmu. Kamu berusaha menjebakku lagi 'kan?" Mata Olivia memicing selidik. Olivia masih menaruh curiga dengan Damian setelah kejadian semalam. Dia tidak akan mudah percaya begitu saja pada pria asing di sebelahnya itu.
"Aku tidak bohong. Aku memang harus segera menikah sebelum usiaku 30 tahun agar aku bisa sah menjadi pewaris keluarga dan memperkuat posisiku. Aku tidak kepikiran wanita lain selain kamu. Makanya aku menawarkan tawaran menarik ini hanya untukmu."
Olivia kembali terdiam, hatinya menjadi bimbang. Dia tiba-tiba termenung memikirkan nasib hidupnya ke depannya dan saat itu sosok suami br*ngseknya kembali melintas di pikirannya, membuat hatinya panas.
"Kalau begitu mana buktinya?" kepala Olivia mendongak, menatap Damian tanpa gentar.
Damian menghela napas. "Aku harus membuktikan apa?"
"Mungkin ... Seperti surat perjanjian?"
"Aku belum membuatnya. Aku bahkan belum tahu namamu. Kalau kamu setuju, aku akan memberikannya padamu besok."
Olivia memutar bola matanya malas kemudian kembali berpikir cukup lama. Ia melirik Damian, memperhatikan penampilannya detail.
Damian yang sudah lelah menunggu terlalu lama akhirnya mengeluarkan ponselnya, mengutak-atik sebentar sebelum menunjukkan sesuatu pada Olivia. "Namaku Damian Addison. Apa kamu lihat namaku di sini?" tanya Damian menunjukkan jajaran petinggi sebuah perusahaan F&B Addison Group.
Kelopak mata Olivia membesar ketika melihatnya. Nama Damian beserta fotonya jelas tertera di sana sebagai CEO Addison Group.
"Apa kamu percaya sekarang?"
"Ok, aku akan pertimbangkan. Tapi, aku akan lihat surat perjanjiannya dulu nanti." Olivia akhirnya berkata dengan sungguh-sungguh seolah keputusannya ini adalah keputusan yang terbaik. Damian tersenyum lega. "Tapi ... Aku harus mengurus surat cerai dulu sebelum menikah denganmu," sambung Olivia.
"Jadi, kamu sudah menikah?" tanya Damian seraya mengangkat satu alisnya.
"Iya. Tapi, aku belum punya anak. Apa itu jadi masalah?"
"Tidak. Cepatlah urus surat ceraimu agar kita bisa menikah." Olivia mengangguk.
"Ngomong-ngomong, sepertinya kita belum kenalan. Aku Damian Addison."
"Aku Olivia Valleri."
"Ok. Sekarang kita akan ke rumahku, bertemu kedua orangtuaku."
"Hah, sekarang juga?" Olivia menelan ludahnya, tiba-tiba merasa gugup.
"Iya, anggap saja untuk mengenalkanmu pada orangtuaku untuk pertama kalinya. Namun sebelum itu kita harus mencari baju untukmu dan juga ke salon. Kamu harus tampil mempesona di depan kedua orangtuaku." Keduanya saling pandang. Damian menatap Olivia dengan senyum lebar seraya menaikturunkan alisnya sementara Olivia hanya memasang tampang datar kemudian menghela napas berat.
***
Damian tiba di rumah menjelang malam. Dia sudah mengabarkan kepada kedua orangtuanya sebelumnya kalau dia akan membawa gandengannya ke rumah.
Damian mematikan mesin mobilnya saat tiba di halaman depan rumahnya yang luas. Keduanya diam, keheningan menggantung di udara sejenak. Olivia tampak tegang, matanya berkedip-kedip pelan sambil menatap lurus ke depan, ke rumah besar nan mewah yang terpampang nyata di depannya. Tangannya yang berada di pangkuannya bergetar. Sementara Damian yang duduk di kursi kemudi sudah menghadap ke arah Olivia sejak 5 menit yang lalu, menatapnya dari samping dengan intens hingga senyumnya mengembang. Namun Olivia tak merasa terganggu. Kegugupan menguasai dirinya.
Olivia sudah didandani sesuai kemauan Damian. Dia kelihatan cantik dan anggun dalam balutan dress selutut berwarna merah maroon yang mengekspos bagian bahunya, kainnya jatuh mengikuti lekuk tubuh. Rambut lurusnya dibiarkan terurai, tanpa poni. Make-upnya dibuat natural, tidak mencolok namun tetap kelihatan anggun. Ia juga memakai aksesoris kalung dan anting mutiara yang menambah kesan elegan dan menawan sampai membuat Damian pangling saat melihat Olivia usai didandani.
"Kamu percaya 'kan sekarang kalau aku bisa memberi uang 3 miliar itu dengan mudah?" tanya Damian melirik ke arah rumah megahnya yang tampak seperti mansion sejenak sebelum menatap Olivia kembali.
Olivia menoleh pelan. "Iya, aku percaya. Tapi, perjanjian tetaplah perjanjian. Aku tidak akan maju sebelum ada surat perjanjian itu."
"Iya, aku tahu. Aku akan menyerahkan surat perjanjiannya besok padamu. Ok?"
Olivia hanya mengangguk lemah. Debar jantungnya belum juga reda seolah baru pertama kali bertemu calon mertua.
"Apa kamu gugup?" tanya Damian setelah beberapa saat, masih memperhatikan gerak-gerik Olivia.
"Ti-tidak. Aku cuma bingung harus ngomong apa nanti," jawab Olivia seraya menghela napas panjang, tangannya mengepal. Namun Olivia seketika tersentak ketika Damian menggenggam tangannya. Olivia kembali menoleh, kini tatapan Damian lebih teduh dan tulus, tidak seperti sebelum-sebelumnya.
"Tenang saja, ikuti saja aku."