-*-*-*-
Syakina menahan air matanya meski ingin menangis saat Juan menyematkan cincin kawin dijari manis nya.Resmi sudah pernikahannya dengan Juan,dan telah sah diperistri Juan.Namun cincin kawin itu tidak memberikan kebahagiaan dalam hatinya,dan yang paling menyakiti hati Syakina adalah ketika pernikahannya yang tak pernah la harapkan itu disaksikan Aditya yang menjadi wali nikah nya.
Bergulir air mata Syakina saat keningnya terasa basah oleh bibir Juan.Tetapi tidak ada yang dapat dibanggakan dari kecupan lembut Juan itu.Terasa hambar yang seharusnya terasa manis saat tak ada cinta didalamnya.Apa jadinya biduk rumah tangga nya nanti jika dibangun tanpa pondasi cinta?.Tetap akan berdiri kokoh atau malah akan hancur?.
"Aku mencintaimu,sayang.Kamu istri yang ku dambakan selama ini.Jadilah istri yang baik!,sayang ku?".
Syakina memejamkan mata mendengar perkataan yang tidak berasal dari lubuk hati Juan.Terasa pahit dan menyakitkan.Namun itu tak seberapa sakitnya dibandingkan senyuman Juan yang menyiratkan ketidak tulusan.Syakina muak dan jengah sehingga tak ingin menatap Juan.Tetapi apa daya nya jika tak dapat menolak keinginan dan perlakuan Juan yang berhak atas dirinya,mulai detik ini.
-*-*-*-
Flashback.
"Yuna,Yuna...!".
Setelah tak sadarkan diri begitu lama,akhirnya Anne terbangun dari pingsannya saat memimpikan Yuna dengan dahi bergelimang peluh.Anne mengernyitkan kening tatkala melihat Ratih ada dikamar Yuna,bukannya Yuna.Anne merasa heran saat Yuna tak ada didekatnya padahal tadi Yuna bersama nya.
"Dimana anakku Yuna,Ratih?.Tadi Dia bersama ku disini.Katakan!,dimana Dia?".Anne heran seharusnya Yuna ada didekatnya.
Psikis Anne terlihat tak stabil dan seperti orang linglung,Ratih menjadi cemas sekaligus heran.Apakah Anne lupa atau belum menyadari tragedi sore tadi?.Bukankah Anne lebih tahu ketimbang dirinya akan apa yang sudah terjadi?.ltu membuat Ratih tak tahu harus menjawab apa,meski la sudah tahu yang sebenarnya.
"Ibu sudah bangun?.Apa lbu baik-baik saja?".Wajah pucat Anne Ratih telisik dengan perasaan tak menentu seraya menggenggam erat tangan Anne.
Alih-alih memberi nya jawaban yang memuaskan,Ratih malah balik bertanya hingga akhirnya Anne pun turun dari tempat tidur saat sosok yang dicari nya tak ada."Aku harus mencari Yuna,Ratih.Yuna!,Yuna!".
Ke setiap sudut rumah nya Anne mencari Yuna,diikuti Ratih.Akan tetapi disudut mana pun Anne tak menemukan sosok putri semata wayangnya yang menjadi penyemangat hidup nya selama ini,sehingga Anne pun gundah dan bertanya pada Ratih yang mendampingi dengan setia kemana pun la melangkah.
"Ratih,dimana Yuna?".Anne menatap Ratih yang terlihat rikuh.
Apa yang harus di katakan pada Anne,Ratih bingung.Apalagi melihat tatapan Anne yang sendu membuat Ratih tergugu.Ratih takut Anne jatuh pingsan lagi saat mendengar kondisi Yuna terkini yang baru la tahu dari Juan saat menghubungi nya lewat telepon seluler.
Ratih hanya diam membisu dan tak menjawab pertanyaan nya,Anne meradang dan mencengkeram tangan Ratih."Kenapa diam,Ratih?.Cepat katakan!".
Namun Ratih menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.Ratih bingung mencari jawaban atas pertanyaan Anne yang menuntut nya mengatakan keberadaan Yuna.Ratih ingin menceritakan kondisi Yuna tetapi Ratih takut Anne jatuh pingsan lagi.Namun Ratih tak punya pilihan lain dan bagaimana pun Anne harus tau.
"M'mbak Yuna dirumah sakit,Bu.Dan,Mas Juan menunggui disana".Ratih tertunduk lemah,tak sanggup melihat raut wajah Anne yang terlihat shock.
"Tidaaak...Yunaaa...".Suara tangis Anne memecah keheningan malam saat menyadari sesuatu yang telah menimpa Yuna.
Anne seketika menangis histeris dan menjambaki rambutnya.Apalagi ketika mengingat dan melihat oleh mata kepalanya sendiri akan Yuna saat ditemukannya dikamar mandi dengan kondisi naas hingga ulu hati nya terasa nyeri.Betapa takutnya Anne membayangkan Yuna sudah tiada dengan cara yang tragis hingga Anne merasa frustasi.Sudah ditinggal mati suami yang menjadi tauladan bagi nya dan kedua anaknya akibat penyakit jantung yang sudah lama diderita,dan kini harus kehilangan Yuna.Oh,tidak.Yang benar saja.Anne tak sanggup menerima kepergian Yuna secara tak wajar dan tiba-tiba.
"Ibu tenang ya!.Ayo duduk dulu!".Ratih menuntun Anne ke kursi dan Anne pun duduk."Ibu tunggu disini ya?!.Saya akan mengambil air untuk lbu minum obat".Melangkah lah Ratih dengan tergesa-gesa ke dapur mengambil minum dan obat penenang yang dikonsumsi Anne sejak suaminya,Anggara Prayudha untuk Anne agar suasana hati nya lebih tenang.
Meski tak memiliki anak,tetapi Ratih dapat merasakan apa yang Anne rasakan.Sedih?,ya pasti Anne sangat bersedih dan terpukul.lbu mana yang takkan terluka hatinya saat anak nya diambang maut.Separuh hatinya pasti akan hancur dan jiwanya terasa hilang.Apalagi Ratih begitu mendambakan memiliki anak yang tak juga hadir dalam biduk rumah tangga nya yang dirajut bersama Bayu selama 9 tahun ini.Oleh sebab itu tak ayal Ratih pun sangat menyayangi Juan dan Yuna,yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.
-*-*-*-
"Yuna,maafkan kakak tidak bisa menjaga mu dengan baik".Bulir bening yang terjatuh di pelupuk mata Juan,diusapnya
saat melihat Yuna yang terbaring diruang ICU dengan alat penunjang kehidupan di bagian tubuhnya.
"Kakak berjanji akan membalaskan luka mu dengan luka yang sama".Hati Juan terasa ditusuk ribuan jarum yang tajam dan darah nya terasa bergolak akan nasib adiknya yang malang hingga tega melukai diri sendiri dan berakhir nestapa.
Siapa yang patut disalahkan atas musibah ini?.Dirinya kah yang buruk menjadi seorang kakak dan gagal menggantikan figur Ayahnya?.Apa mungkin ini bunga yang harus la petik dari kesibukannya dalam memimpin perusahaan yang memproduksi furniture berkelas dan berkualitas sehingga Yuna luput dari perhatian nya?.
Ataukah pria laknat yang sudah menghamili adiknya,namun belum diketahui identitasnya?.Juan tak tahu,namun la akan mencari tahu.Tetapi dimana?,sedangkan teman pria dan wanita Yuna,tak satupun yang la kenal.Apalagi harus mencari pria yang mesti bertanggung jawab atas diri Yuna hingga mengalami koma,dan dalam keadaan hamil pula.Mustahil la mencari jarum dalam tumpukan jerami.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?".Kini Juan bingung dan tak tahu harus apa hingga gusar dan mengusap wajah nya yang muram.
lngin pulang ke rumah menemui lbunya yang sudah pasti sangat membutuhkan nya.Tetapi jika la pergi,la takut denyut jantung Yuna tiba-tiba berhenti.Sungguh,pikiran Juan terasa buntu seakan la ada didalam labirin yang membuat nya sulit menemukan jalan keluar,hingga la pun merasa frustasi sampai membenturkan kepalanya ke dinding dan mengepalkan tangannya.
Setiap saat Dave tak henti memantau kondisi Yuna dan setia menemani Juan ketika tak ada pasien darurat yang harus dioperasi.Dave ingin memastikan jika Yuna mendapat perawatan yang baik dan ada dalam pengawasan nya.Tak bisa ditepis oleh Dave jika la menyukai Yuna,sosok gadis yang cantik dan selalu ceria.
"Kenapa Yuna?.Kenapa menanggung derita mu sendiri?".Dave membelai kepala Yuna dan menatap nanar wajah Yuna yang terlihat seperti mayat hidup yang tertidur dengan pulasnya seolah tak ingin bangun dan tak ingin diganggu hingga tak menyadari jika Dave ada disampingnya.
Namun Dave tak pernah menyangka jika Yuna menyimpan hal sebesar ini dan takdir nya akan semalang ini.Apa yang kurang dari Yuna?,sedikit pun Dave tak menemukan kekurangan Yuna.
'Ahhh,seandainya Yuna bukan adik Juan,Aku akan menjadikannya kekasihku'...Ucap Dave dalam hati.
Juan senang memiliki sahabat seperti Dave yang bisa diandalkan sebagai Dokter,hingga senyumnya tersungging melihat perhatian Dave terhadap Yuna.Terbukti dari cara Dave merawat Yuna sekarang.Begitu intens dan hati-hati.Juan menyambut Dave yang baru keluar dari ruangan ICU selesai memeriksa Yuna.
"Bagaimana Dave?.Sudah ada perubahan?.Apa Yuna menunjukkan tanda-tanda vital?".Juan menatap Dave dengan penasaran dan berharap Dave melihat pergerakan dari Yuna dan menunjukkan tanda-tanda bangkit dari koma.
Tatapan Juan begitu mengoyak hati Dave yang terlihat sangat mengkhawatirkan Yuna,sehingga Dave merasa iba.Melihat kerutan di bawah mata Juan dan berkantung pun membuat Dave tak tega.Semalaman Juan tak tidur demi menunggui Yuna diluar ruang perawatannya seakan sedetik pun Juan tak ingin jauh dari Yuna.Lebih membuat Dave miris adalah ketika Juan terlihat tak menyentuh makanan sedikit pun.Hanya air yang masuk ke mulutnya,dan kopi.Penampilan Juan pun terlihat lusuh dan acak-acakan.Tak seperti Juan yang Dave kenal.Selalu tampil stylish dan trendy.
Dave pun menyunggingkan bibirnya melihat keadaan Juan sekarang,dan menepuk bahu sahabat nya yang tampak kacau itu."Pulanglah Juan!.Aku dan perawat akan terus memantau perkembangan Yuna disini.Akan ku kabari jika ada sesuatu".
Dave tak ingin Juan terlalu larut dalam kesedihan sampai melupakan kesehatan nya sendiri sehingga la pun meminta Juan pulang.Lagipula Yuna ada di tempat yang aman dan dalam pantauan nya.
Juan merasa ucapan Dave benar dan la pun menganggukkan kepala.Apalagi la tak bisa berdiam diri terus,sementara pria yang membuat Yuna akan menjadi seorang lbu diluar pernikahan,masih berkeliaran bebas.Maka dari itu la harus segera menyelidiki siapa pria tersebut.Belum lagi lbu nya pingsan saat la tinggalkan dari kemarin sampai hari berganti,dan sore berganti pagi.
"Aku mengandalkan mu,teman.Tolong jaga Yuna!".Juan menatap Dave yang mengulum senyum,dengan harapan Dave bisa menjaga Yuna dengan baik selama la tak ada didekat Yuna.
Tanpa diminta pun tentu Dave akan melakukan itu dengan senang hati,sebab la pun menyayangi Yuna sehingga la pun tak mungkin menolak dan takkan lalai menjalankan tugas nya sebagai Dokter.
"Jangan khawatir.Aku akan menjaga Yuna".Dave pun meyakinkan Juan dengan anggukan kepala dan meyakinkan Juan dengan anggukan kepala."Urus dirimu dulu dan Tante,Juan.Pergilah!".Menatap Juan dengan riak mata yang menyiratkan jika la dapat dipercaya dan akan menepati janji sehingga Juan tak perlu khawatir.
"Terima kasih,Dave.Aku pergi,sampai nanti!".Sejenak Juan merangkul Dave yang mengukir senyum tulus diwajahnya dan kemudian berlalu pergi dari hadapan Dave dengan memikul beban yang luar biasa berat dihatinya.
Dave menatap lekat Juan yang melangkah dengan gontai.Sesungguhnya Dave ingin membantu kesulitan yang Juan hadapi,namun apa daya waktu nya terkuras habis di meja operasi.Kendati demikian,Dave berjanji akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Yuna sebagai gantinya.
-*-*-*-
Apa yang Tara impikan tak lama lagi akan menjadi kenyataan.Aditya akan mempersunting nya di pelaminan esok lusa,sehingga senyuman nya terpancar sempurna,isyarat jika betapa sangat bahagia hatinya akan seutuhnya memiliki Aditya.Tak percaya rasanya hati Tara akan menikah dengan Aditya,dan seakan masih bermimpi.Namun gaun pengantin yang ada digenggamnya nya sekarang dan akan la kenakannya dihari pernikahannya nanti,menjadi bukti nyata jika ini bukan mimpi semata.
"Sampai kapan pun aku tidak melepas mu,Adit.Aku akan selalu mencintai mu hingga akhir hayat ku nanti".Gaun pengantin nya Tara kecup dan dipeluknya dengan erat,seolah la memeluk Aditya.
Namun kemudian Tara melempar gaun nya ke tempat tidur saat teringat gadis yang selalu mengekori Aditya kemanapun dan menatap pantulan wajah nya dicermin.
"Aku pastikan air mata mu akan mengalir deras di hari bahagia ku nanti bersama Aditya,gadis parasit.Dan kamu harus berhenti menjadi parasit".Tara mengumpat dirinya sendiri yang mematut diri didepan cermin sebelum pergi,seolah sedang memarahi gadis yang begitu sangat la benci lantaran selalu menempel pada Aditya seperti parasit.
Apalagi gadis itu lebih cantik dari nya dan sering membuat nya cemburu.Namun kini Tara tersenyum bangga bisa memenangkan hati Aditya dan akan mengikatnya tuk selamanya hingga la takkan takut Aditya direbut gadis itu dan tak perlu cemaskan Aditya akan berpaling dari nya.
Tara begitu mencintai Aditya hingga la tak rela Aditya dekat dengan wanita lain meski Aditya tak sederajat dengan nya,tetapi bagi Tara Aditya sosok yang sempurna dan juga mencintai nya.Meski sulit awalnya memang membuat Aditya jatuh cinta dan bertekuk lutut pada nya.Tetapi kekayaan yang dimiliki nya mampu membuat Aditya tunduk,dan kini Tara berbangga hati akan menjadi istri Aditya,sehingga Aditya pun bisa terbebas dari jerat gadis yang dibencinya.
Off.