-*-*-*-
"Mulai hari ini,kamu akan tinggal disini.Ini kamar mu dan aku akan tidur dikamar ku,yang ada disebelah".
"Baik.Terserah pada mu saja.Aku akan menurut".
"Baiklah.Aku harus pergi ke suatu tempat.Kamu tidak perlu menunggu ku.Aku akan kembali,esok pagi.Selamat malam!".
"Oh,aku sangat lelah".Syakina membenamkan wajahnya diatas kasur yang akan menjadi tempat tidur nya mulai detik ini,sepeninggal Juan yang pergi begitu saja meninggalkan nya sendirian di kamar tamu bernuansa monokrom yang ada didalam Apartemen Juan itu.Interior berwarna hitam dan putih kamar itu seakan mewakili hatinya yang hambar,hampa dan tak bahagia.
Takdir nya begitu pahit.Namun walaupun pahit harus dihadapi Syakina dengan tegar dan lapang d**a demi Aditya.Lagipula apa yang Juan inginkan harus la turuti meski tak sejalan dengan hati dan pikiran nya.Asa dan mimpi nya menikah dengan pria yang la cinta tak penting lagi.Hanya ilusi yang takkan pernah menjadi nyata.
"Aku sangat lelah".Syakina menangisi kenyataan pahit nya itu.Apalah daya jika tangan nya tak sampai untuk menggapai impian nya dan mewujudkan cita-citanya?.
Kenyataan yang terjadi dan harus diterima saat ini adalah Juan suaminya.Suami yang sepenuhnya memiliki hak akan dirinya.Tetapi mirisnya,suami yang tak la cinta dan tak mencintai nya.Hanya kepalsuan,kebencian dan dendam yang akan mewarnai bahtera rumah tangganya bersama Juan di Apartemen mewah itu.
Syakina tersenyum getir harus menerima segala kemelut yang akan terjadi nanti.Entah akan kemana Juan membawa hubungan yang suci itu,nantinya.Apalagi malam ini adalah malam pertama pengantin nya yang seharusnya dilalui dengan indah namun malah kelabu.Kelabu oleh dendam dan kebencian Juan.
Kendati demikian Syakina senang bisa melewatkan malam ini tanpa Juan.Ia bisa tidur nyenyak tanpa harus terusik oleh keberadaan Juan di Apartemen.Hidup satu atap dengan pria yang tak la cinta dan tak mencintai nya sudah menjadi hal tersulit.Apalagi harus menghabiskan malam yang terasa panjang dan mencekam bersama Juan.
-*-*-*-
Flashback.
Perasaan Ratih merasa lega melihat Juan pulang,la pun menyambut Juan diambang pintu."Mas Juan,syukurlah sudah pulang.lbu terus menangis dan mencari Mbak Yuna.Tapi kondisi lbu sekarang sudah tenang".
"Terima kasih karna Bibi sudah menjaga Mama.Tolong siapkan makanan,Bik.Aku akan membersihkan diri dulu".Juan pun melangkah namun saat akan memasuki kamarnya,Ratih mencengkal lengannya,dan Juan pun kembali menatap Ratih.
"Sebentar Mas".Ratih memberikan sebuah kartu undangan pada Juan."Ini Bibi temukan dikamar mandi Mbak Yuna".
"Undangan pernikahan siapa ini,Bik?".Benda berwarna putih dengan ukiran inisial nama A & T warna gold yang Ratih berikan pada nya,Juan tatap dengan kening berkerut.
Setahunya tak ada teman atau kerabat dekat yang akan menikah dalam waktu dekat ini.Juan pun heran melihat undangan pernikahan yang terlihat mewah itu.
"Tidak tau,Mas".Ratih pun menggelengkan kepala,sebab benda itu tak sengaja ditemukannya di kamar mandi Yuna ketika la membersihkan percikan darah Yuna yang bergenang dilantai.
Juan pun membuka undangan itu dan membaca nama calon pasangan pengantin.Seketika mata Juan terbelalak melihat nama si mempelai pria ditandai silang menggunakan lipstik warna merah sehingga Juan berasumsi jika nama mempelai pria yang tercetak di undangan yang digenggamnya itu ada kaitannya dengan insiden yang dialami Yuna.Jalan pikiran nya yang gelap dan tak menemukan titik terang akhirnya terbuka.Juan pun terbersit akan memulai aksi balas dendam nya,tetapi la harus menelusuri lebih dalam lagi sebelum bertindak.Jika memang sudah terbukti,la tak segan akan menghukum pria yang membuat Yuna nelangsa.
"Terima kasih Bik.Aku masuk dulu".Juan memasuki kamarnya dan rebahan di tempat tidur tuk melepaskan segala rasa penatnya sesaat dengan mata terpejam.
Detik ini Juan merasa lelah,tetapi bukan hanya fisik nya saja yang lelah melainkan juga pikiran dan hati nya menghadapi ujian ini.Sakit,la pun merasa sakit.Baik lahir maupun batin nya.Namun Juan menyadari jika sakit nya itu tak seberapa dibandingkan rasa sakit yang dipikul Yuna.Sesak, dadanya pun terasa sesak hingga sulit bernafas bagaikan tenggelam didasar laut.Tetap la akan menghela lega jika dendamnya untuk Yuna sudah terbayarkan dan memberi hukuman yang setimpal pada pria perusak,penghancur hidup dan masa depan Yuna.Dengan begitu segala rasa yang menggelayuti hatinya akan berkurang.
-*-*-*-
Flashback on.
'Maaf.Aku tidak bermaksud menyakiti mu'.
'Kamu jahat!.Aku benci kamu!,aku benci kamu!!!'.
'Kamu tau kan?,kalau aku mencintaimu.Tapi kamu selalu menolakku dan bersikap angkuh'.
'Bohong!.Kalau benar kamu mencintai ku,kamu tidak akan melakukan ini'.
'Aku terpaksa Yuna.Hatiku dikuasai rasa cemburu'.
'Sudah ku katakan jika aku mencintai orang lain.Cinta tidak bisa dipaksakan,seharusnya kamu mengerti'.
'Yang aku tau hanya mencintai mu,Yuna.Aku pun tidak akan pernah melepaskan mu'.
'Jangan!.Kumohon,jangan lakukan...!'.
Off.
Alam bawah sadar Yuna menangkap kejadian malam naas ketika kesuciannya yang dijaga sebaik mungkin genap telah direnggut teman masa kecilnya yang ternyata mencintai nya tepat diusianya genap 26 tahun,sehingga tubuh nya mengalami kejang-kejang.
Perawat yang berjalan melewati ruang ICU Yuna,panik saat melihat tubuh Yuna bergetar.Perawat itu pun berhambur masuk guna mengecek Yuna yang terlihat sudah kembali tenang.Namun monitor yang merekam detak jantung Yuna,melemah.
"Astaga,bagaimana ini?".Perawat itu menjadi semakin panik ketika angka yang terdapat dimonitor rekam jantung secara bertahap menurun.
"Tidak,ini tidak boleh terjadi.Aku harus memanggil Dokter".Tombol darurat yang menempel di dinding yang berfungsi memanggil Dokter saat situasi darurat segera ditekannya.
Tak harus menunggu lama,Dave yang bertanggung jawab merawat Yuna pun datang,tepat ketika suara lengkingan panjang terdengar dari monitor itu,sehingga Dave tersentak kaget.Apa yang ditakutinya terjadi juga.Monitor menunjukkan angka 0 dan bergaris horizontal.
Perawat yang menunggu kedatangan Dokter,lega melihat Dave datang."Dokter,pasien henti jantung".
Dave sigap bertindak memeriksa Yuna yang terlihat menunjukkan tanda-tanda kematian."Cepat! ambil Defribillator!".Suara menggelegar Dave mengejutkan Suster yang bergeming.
Perawat itu pun berjalan keluar guna melaksanakan titah Dave.Sedangkan Dave sendiri sudah naik ke atas tubuh Yuna dan memompa dadanya dengan kedua tangannya.Dave mencoba membuat jantung Yuna kembali berdetak.Dave tak ingin kehilangan Yuna disaat la sudah berjanji akan menjaga Yuna pada Juan dan akan melakukan yang terbaik.
"Jangan pergi Yuna!.Kumohon,bertahan lah!".
Tanda-tanda kehidupan Yuna belum terlihat,Dave panik dan semakin memacu lebih cepat gerakan tangan nya hingga peluh bercucuran.Masa bodoh,Dave tak peduli dan membiarkan saja keringat nya bergulir dipelipisnya.Tenaga nya pun mulai terkuras dan melemah,tetapi Dave takkan berhenti berusaha.Nyawa Yuna lebih penting baginya saat ini.
Alat kejut jantung yang diminta Dave datang dibawa Suster bersama Dua tim medis lainnya.Selesai dipasang,alat pun siap digunakan."Dok,sudah siap".
Tak mau mengulur waktu,Dave pun mengejutkan jantung Yuna dengan alat itu hingga tubuh Yuna terangkat naik dan turun.Namun usaha Dave tak membuakan hasil,la pun putus asa.
"Naikkan 200 Joule!".
"Baik".Kekuatan alat kejut itu ditingkatkan kembali oleh perawat.
Tangan Dave bergetar saat mencoba mengulang usaha nya menghidupkan Yuna kembali.Takut akan gagal lagi.Jika Yuna sampai tiada,la takkan memaafkan dirinya sendiri.Hal terburuk bagi Dave adalah saat harus mengumumkan kematian pasien,dan paling membahagiakan nya ketika melihat pasien pulang dalam keadaan sehat.
-*-*-*-
"Mama,kendalikan emosi Mama!.Aku tau Mama sedih,tapi Mama harus tegar,demi Yuna".Juan merangkul Anne yang sesenggukan menangisi Yuna sesampainya di Lobby rumah sakit.
Sebenarnya Juan enggan membawa Anne ke rumah sakit.Tetapi Anne bersikeras ingin melihat Yuna.Apa boleh buat,Juan pun membawa Anne dengan pengawalan nya.
"Dosa apa yang pernah Mama lakukan,Juan?.Kenapa nasib Yuna semalang ini?".Tangis Anne semakin menjadi hingga tak sedikit orang-orang yang memandangnya iba setibanya di lorong lantai VlP.
Derita Anne adalah ketika melihat anaknya terluka dan tak berdaya.Penderitaannya saat ini malah melebihi ketika kehilangan suami tercinta,sehingga hidup nya terasa tak berarti dan air mata nya tak mau berhenti mengalir.Tak mungkin Anne sanggup menerima kenyataan saat Yuna harus berbaring di ranjang pasien hingga batas waktu yang entah sampai kapan,dan tak heran Anne sangat bersedih,bahkan merasa menderita.
Tim medis yang lalu lalang keluar masuk ruangan Yuna menarik perhatian Juan dan Anne saat tiba didepan kamar rawat inap Yuna.Anne mulai hilang keseimbangan saat berdiri hingga terduduk di kursi menyimak situasi yang janggal terjadi di kamar rawat Yuna.Meyakini jika putri nya tidak baik-baik saja.
Sama halnya dengan Anne,Juan begitu penasaran akan kondisi Yuna.la menghampiri perawat yang berjalan melewati nya dengan mendorong alat kejut jantung."Suster,apa yang terjadi pada pasien bernama Ayunara ?".
Kecemasan tampak jelas di raut wajah Juan yang tampan,sehingga perawat itu menduga Juan keluarga dari pasien,la pun tak segan untuk menceritakan kondisi Yuna."Pasien sempat henti jantung,Mas.Tapi sudah kembali normal".
"Apa?,henti jantung?".Manik hitam legam Juan pun membulat sempurna mendengar yang telah terjadi pada Yuna tanpa sepengetahuannya dan ketika la pun tak ada disisi Yuna.
"Benar.Selebihnya Anda bisa menanyakan langsung pada Dokter Dave.Beliau ada di ruangannya.Mari".Perawat yang membawa alat kejut jantung pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Juan yang diam mematung,menyiratkan betapa terkejutnya Juan mendengar hal itu.
Tak hanya terkejut,Juan pun sangat terpukul saat tahu Yuna mengalami sesuatu yang buruk.Apalagi jika sampai Yuna melepaskan nyawa tanpa la dampingi.Juan akan merasa menyesal dan bersalah.Sebagai seorang kakak la sangat payah,sungguh buruk dan begitu tak berguna.Menjaga adiknya saja tidak becus malah fokus pada tujuan nya dalam memimpin,mengembangkan,memajukan dan membesarkan nama perusahaan Tree Palace.