Perasaan Aneh

2597 Words
-*-*-*- Syakina POV. Pagi ini aku membuatkan Pak Juan sarapan yang sederhana.Salad sayur dicampur sedikit daging ikan salmon yang panggang lebih dulu.Mungkin ini pertama kalinya aku memasakkan Pak Juan makanan.Tetapi memasak bukan hal yang sulit bagi ku.Walaupun aku tidak tau Pak Juan akan memakannya atau tidak.Makanan yang ku buat sesuai seleranya atau tidak. Aku hanya ingin menjalankan tugas baru ku dan melaksanakan kewajiban ku sebagai istri.Apalagi menyiapkan makanan untuk sarapan pagi dan makan malam ada dalam poin perjanjian yang telah dibuat Pak Juan.Selain itu,aku tidak boleh bekerja dan hanya menunggu kepulangan Pak Juan ke apartemen.Membosankan!,benar-benar membosankan.Aku harus berdiam diri di apartemen yang lebih terasa bagaikan penjara ini.Hanya menghitung waktu saja tanpa ada kegiatan lain diluar yang bisa membuat ku senang. Selesai memasak,aku menghidangkan makanan dimeja makan.Ku lihat Pak Juan baru selesai bersiap setelah ku pergoki Dia pulang saat fajar tadi.Entah tidur dimana Pak Juan semalam?.Aku tidak tau kebiasaan nya dan tidak pernah terlintas dipikiran ku.Aku menduga jika seorang CEO seperti dirinya sangat menjaga nama baik nya,menjaga kesehatannya,disiplin akan waktu dan tidur lebih awal. "Duduklah!.Aku perlu bicara soal kita". Aku hanya menuruti kemauan Pak Juan yang meminta ku duduk saat melihat ku berdiri saja.Ya,sejujurnya aku ingin pergi dari hadapan Pak Juan.Sungguh aku jengah melihat wajah Pak Juan yang tanpa ekspresi.Datar dan dingin.Tidak seperti sebelumnya ketika mati-matian menggoda ku dengan pesona nya yang ternyata palsu.Hanya ingin menjerat ku agar masuk kedalam jebakan cinta nya yang juga palsu itu. Dendam nya lah pada Kak Adit yang memicu Pak Juan mendekati ku,menggodaku,menyatakan cinta dan mengajak ku menikah.Aku sempat menolak karna benih cinta yang Pak Juan tanam dihati ku belum tumbuh.Tapi ketika ku tolak,Pak Juan mengancam ku akan melakukan hal buruk pada Kak Adit,orang yang seharusnya bertanggung jawab akan tragedi yang menimpa adiknya. Sulit ku percaya kata-kata Pak Juan bakal tega melakukan itu.Tapi hal itu tidak mengejutkan ku karna bukan kali pertama aku mendengar kata ancaman itu dari mulut Pak Juan.Kerap kali ku dengar nada ancaman nya ketika Pak juan mendapat penolakan dari ku.Namun lagi-lagi Pak Juan memperlihatkan kondisi Yuna yang sedang koma. Dari lubuk hati ku yang paling dalam,aku menyesali perbuatan Kak Adit pada Yuna.Tapi yang tidak ku habis pikir,kenapa harus aku yang menanggung dosa Kak Adit?.Hingga detik ini,aku tak menemukan alasan yang jelas.Tapi apa boleh buat jika Pak Juan sudah berkehendak,aku mengalah dan menyerah.Tidak mungkin aku tega membiarkan Kak Adit meregang nyawa tanpa bukti yang kuat atas kejahatannya. "Ada apa Pak?". "Bagaimana pun,aku suami mu,Syakina.Panggil aku dengan sebutan yang pantas.Aku tidak mau orang lain mendengar panggilan mu pada ku". "Baik,,,Mas.Apa yang mau Mas Juan bicarakan?".". "Gunakan kartu ini untuk keperluan yang penting dan mendesak saja.Aku tidak suka melihat orang yang memboroskan uang demi ambisi". Aku terpaku memandangi kartu debit berwarna hitam yang Mas Juan lemparkan dimeja,ke arahku.Sangat ku sayangkan.Mas Juan yang berparas menawan,tapi perangainya sangat busuk.Seperti inikah tabiat seorang Juan Mirza Prayudha yang begitu ku segani selama ini?. Lagipula aku bukan gadis boros yang suka menghamburkan uang.Meskipun uang yang entah berapa besarnya di kartu itu bukan hasil dari tetesan air keringat ku.Aku tidak peduli dengan semua yang Mas Juan miliki.Aku hanya ingin bahagia dan segera terlepas dari belenggu Mas Juan. "Maaf Mas.Tadi malam Mas tidur dimana?.Aku hanya takut sendirian di apartemen seluas ini".Sebenarnya aku takut menanyakan hal ini tapi aku penasaran.Siapa yang Mas Juan temui tadi malam hingga tega meninggalkan ku di apartemen yang masih asing bagi ku. Tadi malam saja aku sulit tidur dikamar baru ku.Aku belum terbiasa tidur di kamar apartemen ini yang sudah jelas bukan rumah ku.Tidur dikamar ku lebih nyaman meski kecil. "Aku dirumah Dave.Kamu tidak perlu pedulikan aku!,dan jangan campuri urusan pribadi ku!.Pikirkan diri mu dan kakak mu saja.Mengerti?!. "Baiklah".Aku tertunduk lesu mendengar perkataan Mas Juan yang menyakitkan. "Temani aku makan!.Kamu perlu tenaga untuk menghadapi ku". Kata-kata Mas Juan memang lah sangat menyakitkan,tapi sejumput perhatian nya membuat ku bersemangat memakan salad yang Mas Juan tuangkan.Nada Mas Juan yang tegas pun tidak bisa ku bantah lagi.Apalagi usia ku dengan Mas Juan terpaut cukup jauh. -*-*-*- Flashback. "Aku ucapkan terima kasih,teman.Kamu menepati janji mu.Berkat usaha mu,Yuna lolos dari maut". Disetiap helaan nafas Juan,Dave dapat merasakan rasa syukur pada Tuhan karna Yuna masih hidup.Suatu keajaiban yang begitu sangat disyukuri Dave juga bisa menyelamatkan nyawa Yuna. "Sudah tugas ku,kawan.Aku tau kamu terharu,tapi tidak perlu se dramatis ini".Sudut bibir Dave terangkat naik saat bahunya terasa basah oleh air mata Juan. Juan sekarang tidak seperti Juan yang dikenalnya selama 5 tahun ini.Definisi Juan adalah sangat dingin dan arogan.Sosok yang tegar,kuat dan anti menitikan air mata.Selama berteman dengan Juan sekalipun Dave tak pernah melihat air mata menetes.Tetapi kali ini Juan terlihat begitu rapuh dan cengeng. Kendati demikian,Dave memahami suasana hati Juan.Apa yang dirasakan Juan,pernah juga Dave rasakan ketika la kehilangan wanita terkasih nya,Diandra,beberapa tahun silam.Namun takdir Diandra berbeda dengan Yuna.Jika Yuna masih bisa la selamatkan,sedangkan Diandara tidak.Sehingga Dave bernafas lega,Yuna masih hidup dan Juan masih bisa melihat raga Yuna. "Ini mukjizat Tuhan.Sudah takdir Yuna untuk tetap hidup,dan belum saat nya Yuna pergi.Kurasa Yuna berat meninggalkan orang-orang yang mencintai nya".Dave mengusap punggung Juan yang menangis haru didekapannya tuk kali pertama. "Bersyukurlah!.Tuhan masih memberi Yuna kesempatan hidup di dunia".Sosok yang pernah mengisi hati nya dan memberikan kebahagiaan dalam hidup nya tak pernah dapat dilihatnya lagi,Dave menghela berat. 'Aku merindukan mu Diandra.Nama mu masih selalu ku sebut disetiap detak jantungku.Cinta ku untuk mu takkan pernah pudar.Kenangan mu tetap melekat di pikiran ku.Begitu pula rasa sesal ku,masih kerap singgah di hati ku.Maafkan aku Diandra'...Serpihan kenangan Diandra yang telah lama berpulang ke pangkuan Tuhan,merasuki pikiran Dave meski sudah merelakan Diandra pergi. Memang tidak mudah untuk Dave melupakan sosok wanita terkasih yang begitu la cinta dengan segenap jiwa dan raganya.Tak ayal kenangan Diandra pun tak mau enyah dari hatinya dan cinta nya tak luntur ditelan waktu.Bahkan rasa sesalnya pun masih saja menempati ruang dihatinya. Walaupun Dave sudah berusaha melupakan Diandra.Akan tetapi,cinta yang begitu besar telah membelenggunya sehingga hatinya tertutup untuk cinta yang lain.Alih-alih mencari wanita lain,'sebagai pengganti Diandra',yang dapat mengisi kekosongan hati nya dan pelebur rasa kesepian nya,Dave memilih menyendiri.Apalagi hal kesendirian Dave didukung oleh belum menemukan wanita yang mampu menggetarkan kalbu dan mendebarkan jantung nya. -*-*-*- "Aditya Raka".Juan memandangi nama yang tertera di kartu undangan pernikahan yang pernah diberikan Ratih.Ada rasa panas yang menjalari hatinya saat membaca nama pria yang berandil besar penyebab detak jantung Yuna nyaris saja hilang. Meskipun masih gamang sebab bukti yang mengarah pada pemilik nama itu masih klise.Juan belum sempat menyelidiki.Tetapi tanda silang pada nama mempelai pria menjadi petunjuk,sehingga Juan meyakini jika si pemilik nama itu adalah penyebab Yuna hamil.Namun pria itu tak mau bertanggung jawab dan malah menikahi wanita lain,sontak Yuna pun memilih mengakhiri hidup. Untuk menyelidiki hal itu,Juan mengambil laptop nya dan mencari jejak akun sosial media si pemilik nama yang masih asing ditelinga nya. Aditya Raka User name not found Tara Anandita Wiguna Akun ini bersifat pribadi "Dasar k*****t!".Darah Juan yang berdesir panas mengakibatkan laptopnya yang tidak berdosa dibanting ke lantai sampai terbelah dua saat akun yang dicarinya tak ada,dan satu lagi dikunci. Undangan pernikahan yang diletakkannya di nakas,Juan ambil kembali.Dilihatnya tanggal digelarnya resepsi pernikahan itu dengan sorot matanya yang tajam,dan ternyata sore hari ini.Tak buang waktu lagi,bergegas Juan bersiap memakai setelan jas pesta hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu.Sebuah senjata api yang diambilnya dilaci nakas,Juan sematkan dibalik jas hitamnya. "Akan ku buktikan,siapa yang sepantasnya mati,Yuna.Pria k*****t itu harus mati ditangan ku".Api amarah berkobar diretina Juan,seakan ingin membakar pria yang membuat nya berambisi untuk balas dendam. "Aku harus berhasil menyingkirkan pria itu.Tidak peduli,walaupun aku harus berakhir dibalik jeruji,asalkan pria itu mati".Detik-detik kematian pria itu pun sudah terbayang di pelupuk mata Juan.Kematian pria itu akan membuat luka dihatinya turut membaik,sehingga la bersedia menerima segala konsekuensinya yaitu menginap di hotel prodeo. "Siapapun yang mencoba menyakiti orang yang ku sayang,akan ku lukai".Rahang keras Juan yang tegas menegang,menahan rasa yang membara disanubarinya. Seumur hidup Juan yang sudah memasuki usia 29 tahun ini,tak pernah ada yang membuat nya semarah ini.Adik dan lbu nya adalah kelemahan nya.Siapa pun yang menyakiti keduanya,akan berhadapan dengan nya.Demi kedua orang tersayang,Juan rela bertarung nyawa. -*-*-*- Tetesan air mata Syakina menyertai kebahagiaan Aditya dan Tara yang sudah sah menjadi suami istri dan kini sedang bersanding di singgasana pengantin.Syakina merasa senang sekaligus sedih.Senang melihat kakaknya menyandang status baru,tetapi mulai hari ini,la harus merelakan kakak nya pergi.Kini saatnya la menjalani hidup sendiri tanpa seorang pun yang menemani,dan mencari nafkah sendiri. Walaupun Aditya tidak akan mengangkat tangan nya sebagai seorang kakak,tetapi Syakina tak ingin menggantungkan hidupnya lagi pada Aditya.Cukup sampai disini saja la merepotkan Aditya.Mulai detik ini la ingin melihat Aditya hidup bahagia dengan Tara. Syakina menyeka genangan air mata nya dengan tissue mengingat sosok nun jauh di atas sana."Ayah lbu,seandainya kalian ada disini.Suasana nya pasti akan sangat berbeda". Kebahagiaan nya dan kakak nya akan sempurna jika Aditya menikah didampingi,disaksikan dan direstui orang tua.Namun apa mau dikata jika kedua orang tuanya tak pernah bisa hadir di momen sakral kakaknya dan tak dapat menyaksikan kebahagiaan yang terpancar diwajah Aditya. "Semoga kalian ikut berbahagia diatas sana,dan dapat melihat kebahagiaan kakak".Syakina menarik nafas sedalam mungkin,menghembusnya perlahan,dan menguatkan hati nya kembali. "Sudahlah.Bukan saatnya menangis.Ahhh,perutku terus meronta.Sebaiknya aku makan".Perutnya yang sudah keroncongan dielusnya saat perasaannya terlalu hanyut dalam kesedihan sampai melupakan untuk mengisi perutnya yang belum diisi makanan itu. Stan makanan yang menyajikan menu istimewa,Syakina hampiri dan tanpa ragu mengambil makanan yang membuat nya tergiur untuk mencicipi.Syakina pun makan sembari menikmati lantunan nada piano. -*-*-*- "Anakku sayang.Malang sekali nasib mu,Nak.Mama ada disini,sayang.Jadi,ayo bangunlah!". Manik Anne bagaikan telaga air mata yang beriak-riak melihat putrinya terbaring di ranjang pasien seorang diri dengan alat-alat yang hanya dapat ditemukan dirumah sakit,dan peralatan yang sangat mendukung hidup Yuna.Sesaat pun Anne enggan beranjak dari duduknya,ketika Dave membolehkan nya menemani Yuna di ruang ICU meski hanya sebentar,sejak Juan berpamitan pulang ke rumah.Tetapi sudah berjam-jam lamanya,Juan belum kembali muncul di rumah sakit.Apa boleh buat,Anne pun tak mungkin meninggalkan rumah sakit dan membiarkan Yuna sendirian tanpa pengawasan dari pihak keluarga. "Yuna,ayo buka mata mu!,nak.Mama tidak akan memarahi mu nak,dan tidak akan bertanya,siapa ayah bayi mu.Asalkan kamu bangun,sayang".Puncak kepala putri nya yang sedang tidur dengan nyenyak,Anne belai lembut. Tersirat suatu kepedihan yang teramat sangat dinetra Anne saat melihat putrinya tak merespon ucapan nya sedikit pun.Anne ingin sekali bercanda dan tertawa bersama Yuna.Seperti yang biasa dilakukan nya di atas tempat tidur Yuna sebelum malam tiba.Senyum dan suara tawa Yuna sangat dirindukan Anne.Walaupun mungkin tak akan pernah bisa dilihat nya lagi seiring terjadi nya tragedi yang dialami Yuna. Namun Anne akan menerima dengan ikhlas dan berlapang d**a atas kondisi Yuna saat ini yang telah berbadan dua.Anne tak mau terpuruk disaat Yuna membutuhkan dukungan nya.Bagaimana pun pahitnya ludah yang harus la telan,tetapi Anne takkan menyalahkan Yuna atau siapa pun.Ini sudah suratan takdir Yuna meski terasa bagaikan pukulan yang sangat telak saat tau dirahim Yuna tumbuh seorang janin,buah dari ikatan yang belum sah,dan entah siapa ayah calon cucu nya itu. -*-*-*- Ditengah semaraknya pesta yang mewah dan meriah,Juan turut serta menjadi tamu undangan mewakili Yuna.Gestur tubuhnya yang jangkung dan wajah nya yang rupawan,tak sedikit kaum hawa yang memandang nya kagum,hingga garis senyumnya yang semula datar,sedikit melengkung naik. "Haiii,belum ada pasangan ya?,mau aku temani?.Boleh,aku kenalan?".Seorang wanita yang terpesona dengan ketampanan nya mencoba menggoda nya dan mengulurkan tangan. Akan tetapi,Juan tak menanggapi wanita yang bulu mata palsu nya berkedip-kedip tatkala menatap nya itu.juan memilih menjauh pergi mencari spot yang tidak ramai dan minim cahaya.Alhasil wanita yang terpesona oleh Juan dan mabuk kepayang kala melihat pesona Juan pun,menelan ludah dengan pupil melebar.Tak ayal wanita itu pun menarik kembali uluran tangan nya yang tak disambut baik oleh Juan. Di sudut ballroom dengan penerangan yang remang,disinilah Juan berada saat ini.Spot terbaik untuk menjalankan misinya.Juan pun mulai melancarkan aksinya.Senjata yang bersembunyi di balik jas nya,Juan keluarkan.Selongsong peluru la masukkan dan mulai membidik target yang berdiri di pelaminan,dan tak jauh dari tempat nya berdiri. Ketegangan mulai merasuki jiwa Juan.Tangannya bergetar saat akan menarik pemicu senjata nya.Sedikit ada rasa takut dan ragu untuk melenyapkan nyawa orang lain yang tidak pernah dilakukan nya.Niatnya pun seketika tenggelam di palung hatinya yang terdalam.Namun bayangan Yuna kembali muncul dipikirannya,hingga keyakinan nya untuk balas dendam menyeruak kembali ke permukaan. Juan kembali menarik pemicu senjata nya,dan siap menembak mati target.Tak disangka dan tak diduga,disaat yang tidak yang tepat,seorang gadis jelita yang terlihat sedang menelpon,berjalan kearahnya hingga pandangan Juan terhalangi. "Astaga.Gadis sialan.Mengganggu saja".Senjata yang sudah siap menembus jantung target,Juan sembunyikan kembali di balik jasnya. Sekelumit rasa akan melukai siapa pun yang menghalangi,menguap begitu saja.Juan pikir,tidak semestinya la melukai orang yang tak berdosa dan tak bersalah.Terkecuali orang itu terlibat membantu orang yang ingin la habisi. "Iya,iya.Tunggu sebentar".Disaat gadis berparas cantik yang berlapis gaun warna peach itu semakin mendekat kearahnya,Juan pura-pura memainkan telpon genggam sambil sesekali menatap gadis itu. "Tadi aku tidak bisa mendengar suara mu.Sekarang katakan!,ada apa?".Ekor mata gadis yang terbilang tampak menawan dan cukup seksi meliriknya,seketika Juan memalingkan muka,saat diam-diam la asyik mencuri pandang. "Biarkan saja.Pria sedingin salju di Antartika dan arogan sepertinya,tidak perlu dihirauhkan.Acuhkan dan abaikan saja ha,ha,haaa...".Gadis yang berdiri disampingnya tiba-tiba saja tertawa sambil sekilas meliriknya,seketika Juan mengerutkan kening,dan berasumsi jika gadis itu melecehkannya. Apalagi mendengar kata-kata yang terlontar dari gadis itu seketika membuat kuping nya terasa panas.Tak terima ditertawakan dan dicemooh gadis itu,Juan meradang dan merebut ponsel gadis itu.Tak ayal gadis itu menatapnya tajam. "Heiii,apa yang Anda lakukan?.Kembalikan ponsel ku!". Juan mengibaskan tangan gadis yang menarik jasnya,dimana senjata nya bersarang."Katakan dulu!.Apa maksud ucapan mu?". "Ucapan ku yang mana?.Maksud mu apa?.Bicara yang jelas,dan jangan membuat ku pusing!".Gadis itu telah gagal merebut ponsel nya kembali dari tangan nya,Juan menaikkan sudut bibirnya. Namun melihat gadis itu berkacak pinggang,Juan mendengus kasar.Gadis itu malah menantang nya,bukannya menjelaskan kata-kata yang membuat cuping telinga nya memerah. "Minta maaflah dulu pada ku!,dan tarik kembali kata-kata mu!".Emosi Juan yang sudah tersulut karna kedatangan gadis itu telah membuyarkan misinya,semakin terbakar.Tak ayal Ponsel milik gadis yang menatapnya liar itu,tak Juan kembalikan dan malah mencekal lengan gadis itu. "Astaga.Apa salah ku,sampai Anda se arogan ini?.Ayo katakan!".Arogansi gadis dihadapannya membuat Juan geleng-geleng kepala sebab sudah berani mendorong dadanya hingga la tersentak mundur. Selama masih hidup,Juan takkan membiarkan wanita asing menyentuhnya tanpa seijin nya.Apalagi dengan cara sekasar itu,maka Juan tak mungkin diam saja. "Aku arogan?.Hahhh,yang benar saja.Baik,aku memang arogan seperti yang kamu bilang.Kamu juga sudah berani sekali mencibir ku.Kamu akan menyesal,jika tau siapa aku?".Sorot mata Juan yang setajam duri,seakan ingin menusuk keberanian gadis yang malah memutar balikkan keadaan pada nya. Gadis itu bahkan memutar jengah bola matanya sehingga membuat Juan berdecak.Seakan gadis itu meremehkan ucapannya."Anda jangan membuat masalah dengan ku.Aku tidak perduli siapa Anda.Sebaiknya Anda pergi!,jika tidak ingin pengawal pribadi keluarga kakak ipar ku,tuan rumah pesta ini,menyeret Anda dari sini.". "Apa?.Kakak ipar?".Bagaikan dihunus pedang urat leher Juan hingga tak mampu berucap banyak,dan hanya melongo tak percaya mendengar pengakuan gadis yang telah berani mengusirnya. "Ya,benar.Aku Syakina Rayna,adik ipar dari Tara Anandita Wiguna.Paham!?". Intensnya Juan memandangi gadis yang telah mengklaim dirinya sebagai adik dari pria yang telah merenggut kesucian Yuna,melangkah pergi.Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaannya saat mengetahui itu.Namun ada hikmah yang bisa diraihnya dari perdebatan nya bersama gadis yang nama nya bisa diingatnya sangat jelas,dan sudah disimpannya didalam memori kepalanya. Maksud dan tujuan nya datang ke pesta pernikahan itu,Juan singkirkan.Naluri nya mengatakan,membalas dendam tidak harus dengan mengotori tangan nya.Luka tak harus dibalas dengan luka yang sama.Banyak jalan yang bisa ditempuh nya agar nama baik nya tetap terjaga,dan tak beresiko. "Tidak mengapa!.Banyak jalan menuju Roma".Walaupun Juan harus kecewa rencananya telah digagalkan gadis itu,tetapi tercetus rencana baru di otaknya. Apalah arti kematian pria itu jika mati secepat itu,dan tanpa merasakan dulu apa yang la rasakan.Ia takkan berpuas diri jika tak menyaksikan hati pria itu tersakiti dulu,dengan cara yang sama. "Mata dibalas mata.Hati dibalas hati".Tangan Juan mengepal tak sabar menantikan saat-saat hari pembalasan nya tiba. Juan tau harus memulai dari mana.Namun sebelum itu,Juan harus memastikan jika nama Syakina Rayna,pernah didengarnya dari seseorang. Off.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD