Part 14 (Rindu Belum Tuntas)

1196 Words
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, mungkin hanya sampai nanti malam. Biarkan aku meluapkan semua rinduku yang menggumpal. Aku tahu aku sudah gila, sangat, tapi itulah kenyataannya," katanya masih dengan pelukan hangat. Tubuhnya yang besar membuatku terasa mungil dalam dekapannya. Dia bahkan bergumam tentang tubuhku beberapa kali. Aku tidak kuasa mengatakan apapun, otakku sibuk mengontrol jantung sampai lupa kalau bibir harus diperkerjakan agar suasana kembali waras seperti sebelumnya. Otakku baru tersentil setelah Juna meneriaki namaku di depan pintu. Aku langsung mendorong Gazza dan berlari ke arah pintu. "Ah, kamu menyelamatkanku," kataku dengan napas yang menderu. "Kenapa? Dia memperkosa kamu?" tanya Juna sembari menunjuk Gazza di belakangku dengan tatapan sinisnya. "Ish, dasar c***l!" "Hati-hati kalau berbicara. Saya tidak seburuk apa yang Anda ucapkan!" ketus Gazza menarikku mundur. "Mau apa Anda ke mari?" "Hara!" Untunglah Bibi Ni datang dari belakang dan segera menghentikan tatapan saling bunuh antara Gazza dan Juna. Jika Bibi tidak datang, mungkin akan menjadi peperangan yang dahsyat. "Bibi membawakan kalian makanan. Tapi berjanjilah untuk tetap menjaga norma dan nilai perempuan, jangan sampai distrik ini dikutuk," bisik Bibi yang aku sangat mengerti maksudnya. Tidak mungkin juga aku melakukan hal yang salah, aku harus tetap waras dan mengingat Tuhan. "Tidak, Bibi. Dia akan segera pulang," kataku menarik Gazza untuk keluar, namun tubunya terlalu berat untuk kutarik, sehingga dia hanya diam di tempat tanpa ada pergeseran. "Nah, bagus. Tidak baik..." Juna hendak mendukungku tapi kalimatnya terhenti karena Bibi Ni justru menariknya untuk turun. "Bi, kenapa lebih pilih selebriti daripada ponakan Bibi sendiri sih?" "Diam, Juna!" Tangan Bibi Ni sekuat tenaga mencengkram kerah Juna dari belakang. "Bi, biar Juna menemani saya di sini. Saya..." "Terima kasih untuk makanannya, Bi!" seru Gazza langsung menarikku masuk dan menutup pintu. "Ya!" jeritku pada Gazza, hanya dibalas senyuman olehnya. "Pulang lah, komohon!" "Hara, aku tidak punya banyak waktu. Karena nanti malam aku harus terbang ke Jepang untuk menghadari acara jumpa penggemar. Aku hanya ingin menghabiskan waktu beberapa saat. Sekadar menonton TV atau bermain gim denganmu. Bagaimana bisa aku berangkat ke Jepang bermodalkan rindu?" "Itu urusanmu! Aku tidak bisa membiarkanmu ada di rumah karena aku harus menghadiri pertemuan guru sore ini." "Kamu bisa izin, sekali saja." "Tidak bisa. Ada denda yang harus kubayar jika melewatkan pertemuan, karena ini juga menyangkut kelangsungan pembelajaran siswa-siswiku." "Aku bisa memberimu nafkah, jika kamu mendapatkan banyak masalah dalam pekerjaanmu," lontarnya justru membuatku kesal. "Aku bukan perempuan lemah yang bisa diperalat dengan uangmu. Aku butuh kerja dan aku bukan siapa-siapamu. Tidak semua bisa diatur dengan uang!" ketusku. "Maaf, kalau begitu aku ikut," serunya. "Apa kamu sudah gila?" "Ya, kutanya siapa yang membuatku gila?" Aku diam, tidak tahu harus menjawab apa. Jantung dan otakku sibuk sendiri dengan hal-hal aneh. Bagaimanapun aku akan tetap pergi, bahkan meski hatiku sedikit ingin tinggal. Entahlah, bukankah sebelumnya aku juga merindukan Gazza? Ketika bertemu, ada perasaan takut dan senang yang datang bersamaan. Lebih takut jika banyak orang tahu Gazza menemuiku, lalu menimbulkan berbagai macam permasalahan dan hidupku kembali tidak tenang. Masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun, aku harus segera bersiap dengan beberapa berkas pembelajaran yang akan aku ajukan. Tentu saja dengan pintu terkunci dan beberapa kali Gazza memanggilku dari luar. Beberapa menit kemudian dia menyerah dan kudengar suara televisi yang cukup keras. Sepertinya dia sengaja mengangguku agar aku menemuinya. Sayang sekali, aku tidak akan terkecoh olehnya. "Aku mau berangkat, kalau kamu pergi tolong pastikan pintu terkunci," pesanku tidak ingin berdebat dengannya. Juna sudah menunggu di bawah, dia memberondongku pesan agar aku segera meninggalkan rumahku. Padahal pertemuan dilaksanakan tak jauh dari kompleks kami. Mungkin 7 menit sampai, pertemuan masih 45 menit lagi. Aku hanya ingin menghindari Gazza, bukan jual mahal, bahkan jika harus jatuh cinta, perempuan sepertiku harus memperhatikan kastaku sendiri. "Lalu aku harus bagaimana? Rinduku ini harus kuapakan?" tanyanya menghentikan langkahku di depan pintu. "Tidurlah dan lupakan. Jika masih ada waktu untuk bertemu tunggu lah, aku akan pulang cepat," ucapku begitu saja. "Ah, tidak-tidak, pulang lah! Lupakan rindumu!" "Apa kamu menolakku sekarang?" "Tidak, ah, iya. Kita harus sadar bahwa kasta tertinggi ada di kepalamu dan kasta terendah ada di kepalaku." Meninggalkan Gazza begitu saja. Sempat kudengar dia bergumam, "Aku sudah mencuri hatimu tapi aku lupa mencari keyakinan dan kepercayaanmu padaku." Itu menyentuh sekali, bergetar pula dadaku mendengarnya Lamat. Berlari menuruni anak tangga dan berusaha riang di depan Juna, meski sebenarnya pikiran dan jantungku bekerja untuk Gazza. Aku tidak mau munafik, pada kenyataannya pesona Gazza memang berbeda. Kenangan yang dia ciptakan dan sengaja dia lukis dalam memoriku pun terkesan berbeda. Jika Juna dengan segala bahagianya, senyum manis, dan kebaikannya. Gazza memberiku tatapan yang jujur, cerita yang lain, tawa, tangis. Aku hanya merasa itu sebuah kejujuran yang seimbang. Karena hidup tidak bisa selalu bahagia, kita perlu jujur saat terluka dan mengeluarkan air mata. "Gazza bagaimana?" "Tidak bagaimana-bagaimana, malam ini sepertinya dia akan pergi ke Jepang." "Apa dia benar-benar jatuh cinta padamu?" "Dia mengatakannya demikian." "Kamu percaya?" "Aku tidak tahu." Percakapan kami dengan sepeda ontel, ditemani senja yang hendak menyambut. Jingganya belum benar-benar jingga, masih semburat kuning terang tapi beberapa menit lagi senja sudah pasti datang. Juna terus melontarkan pertanyaan dan pernyataan yang mengisyaratkan bahwa dia tidak suka Gazza terus menemuiku. Dia mengatakan aku tidak boleh jatuh ke dalam pelukan Gazza karena hanya akan membuat hidupku semakin rumit. Tentu saja Juna benar, itu yang kutakutkan. "Jangan pacaran sama Gazza, titik! Pacaran sama aku aja." "Haishhh!" desisku menepuk punggungnya. Pertemuan guru dilaksanakan di sebuah hotel kecil di Distrik Guangsi, di tepi pantai yang menampakkan langit jingga serta debur ombak tenangnya. Semua terasa menenangkan untuk berpikir perihal kurikulum. Hanya aku yang tidak tenang karena terus memikirkan Gazza. Sungguh aku tidak bisa berbohong bahwa ada perasaan bahagia ketika bertemu dengannya dan terus memikirkannya ketika kami berpisah. Bukankah itu artinya aku jatuh cinta? "Kenapa sih? Gelisah gitu kayanya," bisik Juna di samping kananku. Menggeleng. "Kamu memikirkan Gazza?" "Tidak," balasku tersenyum kaku. "Tapi kamu menuliskan namanya di ujung bukumu," bisiknya lagi menunjuk ujung bukuku. Aku segera merobek dan membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di ujung ruangan hotel. "Sepertinya kamu sudah terperangkap. Apa sudah tidak ada posisi yang pas untukku di hatimu?" Aku tidak bisa menjawabnya. Bahkan meski Juna mengulangi pertanyaannya. Dua jam pertemuan, aku segera mengajak Juna pulang. Dia sebenarnya ingin mengajakku ke pantai, menikmati pantai. Aku ingin, sangat tapi tidak dengan Juna. Hatiku pun rasanya ingin segera pulang dan menemui Gazza. Hal yang aku takutkan sekarang adalah memulai lagi cerita kerinduan. Sekeras apapun aku mengelak, kenyataannya aku merindukan dia. Tiba di rumah bersama dengan Juna yang terus mengikutiku. Aku tidak mendapati Gazza di sini. Hanya ada surat yang dia tinggalkan di atas meja makan bersama dengan beberapa macaron berbagai macam warna. "Hari ini rinduku belum tuntas dan aku sudah harus merindukanmu lagi. Aku akan kembali lagi. Tolong siapkan waktu luangmu." tulisnya dalam surat yang singkat, padat, dan jelas. Aku tidak tahu kenapa tapi aku menangis. Benar-benar menangis dan terasa sesak penuh sesal. Juna yang menyadari itu segera memelukku dan mengatakan, "Sepertinya kamu benar-benar jatuh cinta dengannya. Jatuh cintalah dengannya dengan nyaman, Hara. Jika hidupmu rumit dan kamu menghadapi banyak masalah. Aku yang akan maju untuk membantumu. Aku tidak cukup lugas untuk mengatakan aku jatuh cinta padamu karena bayang masa lalu, tapi aku bisa dengan lugas menyatakan bahwa aku akan menjagamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD