Part 16 (Skandal Kencan?)

1224 Words
Sore hari bersama jingga di tepi pantai. Seolah narasi hidupku sekarang hanya soal senja dan kerinduan. Benar, aku sudah seperti orang gila karena terus memikirkan Gazza. Merasa kesal setiap kali dia tidak menghubungiku, tapi aku juga merasa kerdil ketika dia mencoba merayuku. Jika itu kamu, bukankah kamu akan terbang? Rayuan lelaki tidak bisa dipungkiri lagi. Ia bak sayap malaikat yang membawa kita lupa akan daratan. Akan tetapi, bagiku yang hanya seorang anak yatim piatu, guru di sebuah distrik, tidak punya siapa-siapa, dan memiliki perjanjian dengan seorang politisi, semua itu seolah menegaskan bahwa aku terlalu kerdil untuk raksasa besar sekelas Kim Gazza. Hal-hal demikian yang acapkali kupikirkan, pagi, siang, sore, bahkan malam. Dibumbui rindu yang ingin sekali kuabaikan. Ditambah lagi trik menghindari Juna karena aku merasa tak enak hati padanya. Namun, dia sepertinya bukan laki-laki yang mudah menyerah. Dia terus menyapaku meski aku abai, bahkan masih menawarkan jok belakang sepeda ontel ya untukku meski sudah kutolak. "Hara!" panggil Juna berlari-lari mendekatiku dengan rompi Toko Bibi Ni. Di tangan kanannya terdapat ponsel dengan sampul berwarna merah jambu. "Kamu harus baca artikel ini," katanya memberikanku ponsel di tangannya. Berdiri, membersihkan rokku dari pasir-pasir yang menempel. "Artikel apa?" "Baca saja! Aku tahu dari Irene dan teman-temannya di Toko Bibi Ni. Bacalah cepat, anak-anak menunggu di toko," ujarnya dengan napas terengah-engah. Irene adalah salah satu siswi kami di kelas XI C. Dia merupakan penggemar berat Super X, bahkan beberapa hari ini dia banyak membicarakan Delvin yang terus mengancam Gazza setiap kali Gazza bertingkah jahil dalam acara ragam mereka. Mengambil alih ponsel di tangan Juna. Membaca artikel yang dia tunjukkan. Sebuah artikel dari situs laknat yang gemar membongkar aib para selebriti di negeri ini. Dalam artikel tersebut dua insan dengan pakaian serba hitam duduk di sebuah taman dan dijelaskan bahwa mereka adalah Kim Gazza dan Ohnara, ketua girl grup G Girl.  Mereka berdua dikabarkan terlibat skandal kencan. Jujur saja, ada kaca-kaca berbunga yang patah di dalam sana. Aku tidak ingin menampik bahwa aku kecewa, sebab kenyataannya memang demikian. Mataku bahkan belum buta untuk bisa mengenali Gazza hanya melalui foto buram dan hanya nampak mata saja. Postur tubuh, masker yang dia gunakan, dan bahkan jaket yang membungkus tubuhnya tidak asing bagiku. Tersenyum masam, memberikan ponsel itu pada Juna. "Terima kasih, kembalilah ke toko." "Kamu tidak apa-apa? Ah, sudah kuduga dia hanya bisa membual. Selebriti selalu sesuka pantatnya dalam bertindak," ketusnya. "Tidak apa-apa. Aku hanya harus sedikit belajar bahwa setiap orang yang baru datang tidak pantas langsung menerima kepercayaan. Kembalilah ke toko, nanti Bibi marah. Anak-anak pasti juga menunggumu." "Tidak, tunggu sebentar. Aku akan kembali ke sini dan menemanimu." "Tidak perlu!" Juna segera berlari dan aku hanya bisa tersenyum masam pada dunia yang begitu kejam. Seolah tak ada kesempatan untuk berbahagia dan jatuh cinta. Aku hidup dalam musim dingin, sendirian, lalu ketakutan. Hingga tiba waktunya aku bertemu dengan Gazza, sedikit merasa hangat, dan itu menyenangkan. Meski aku ragu, aku tetap terbang dan bahagia karena bualannya. Belum genap satu Minggu dia berjanji akan kembali menemuiku lagi dan meyakinkanku tapi dia sudah terlibat skandal kencan dengan ketua G Girl. Perempuan cantik dengan keluarga harmonis dan kaya raya. Memang sepatutnya aku sadar diri ada di mana posisiku saat ini. Aku segera kembali ke rumah setelah air mataku jatuh di depan senja yang indah. Tidak sepantasnya indahnya senja berteman air mata. Aku juga mengunci pintu kamarku, dan mengabaikan teriakan Juna di depan rumah. Bukankah kami seperti anak kecil yang mudah cemburu dan terlalu percaya? Padahal usia kami sudah menginjak 26 tahun saat ini. "Baiklah, aku akan membiarkanmu sendiri malam ini. Besok pagi aku tunggu di bawah tangga, jangan terlambat!" pekik Juna setelah mengetuk jendela kamarku dari luar. Pagi-pagi buta, aku berniat menghindari Juna dan menumpang bus pertama. Sialnya, Juna sudah menungguku dengan setelan jas hitamnya. Kudengar kelas XI akan ada rapat wali murid dan Juna harus berpenampilan rapi sebagai wali kelas XI C. Bagiku penampilannya berlebihan, bukan, tampannya yang berlebihan. "Hey, ada apa dengan matamu?" sapanya saat aku meruni anak tangga.  Aku tidak membalasnya, hanya terus melangkah melewatinya. "Ya, kenapa masih menghindariku?" tanyanya mengikutiku sembari menuntun sepeda ontelnya. "Aku tidak menghindarimu." "Kalau begitu naik!" titahnya menghalangi langkahku dengan sepedanya. "Tidak." "Ayolah. Kalau alasanmu menghindariku karena menolak perasaanku, itu salah besar. Kita bukan anak kecil lagi yang harus saling mengindar karena perasaan kita yang tidak sama." Juna segera menarik tanganku dan memaksaku naik ke jok belakang sepedanya. Aku pasrah saja. Sepanjang perjalanan aku meminta maaf pada Juna dan berterima kasih karena sudah kembali menyadarkanku perihal bualan Gazza. Aku memang seharusnya tidak terlalu percaya. "Aish, setelah kupikir-pikir aku juga salah. Kenapa tidak mendengarkan penjelasan Gazza lebih dulu?" Diam. "Rasanya tidak perlu." Juna tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat. "Katakan jika kamu sudah menyerah atas Gazza, aku akan menyiapkan diriku untukmu." "Ya!" Berhentilah membual. "He-he. Sedikit lagi aku akan berdamai dengan masa laluku. Jangan khawatir." Tidak kubalas. Hati manusia siapa yang tahu? Tiba di sekolah, hampir semua siswa-siswi memegang ponselnya dan bergumam. 99% dari mereka menyesalkan kabar kencan Kim Gazza dengan Ohnara. Mereka nampaknya sama kecewanya denganku. "Padahal aku pernah mendengar desas-desus bahwa dia sering main ke desa kita. Apakah itu artinya dia datang dengan Ohnara?" gumam Irene di kamar mandi saat aku sedang membasuh mataku yang bengkak. Terlalu cengeng. "Hey, bisa juga. Bagaimana jika kita mencari tahu ke penginapan sekitar, mungkin mereka bisa memberi kita rekaman CCTV," usul Rossa keluar dari kamar mandi. "Boleh!" "Jangan!" Aku menolaknya. Aku tahu banyak anak muda yang terobsesi dengan idolanya sehingga akan melakukan apapun untuk membuktikan itu. Meski di pedesaan, tempat ini merupakan daerah wisata dengan CCTV di beberapa jalan, bisa jadi beberapa CCTV penginapan tidak merekam Gazza tetapi CCTV jalanan sudah barang tentu merekamnya. Tak jauh dari Toko Bibi Ni ada CCTV yang bekerja 24 jam. "Eh, Bu Hara, kenapa, Bu?" "Ah, tidak-tidak." "Mata Bu Hara kenapa? Diapain Pak Juna, Bu? Ih, tuhkan, Ren. Kubilang juga apa, di mana aja namanya cowok ganteng sama aja. Kaya kucing nemplok sana nemplok sini, nyakitin orang lain." "Tidak, tidak, bukan karena Pak Juna," bantahku. "Masa?" Irene dan Rossa berseru kompak. Mengangguk pelan. "Lihat saja jika Gazza benar-benar berkencan, aku akan meninggalkan fandom, aku tidak akan lagi mendukung Super X." "Hey, kenapa begitu? Bukankah setiap manusia memiliki hak asasi untuk urusan pribadi mereka masing-masing?" "Bu Hara, jangan seperti orang zaman dulu. Idol zaman sekarang harus siap jauh dari skandal dan melupakan kebahagiaannya sendiri karena mereka milik kami dan kami akan membahagiakan mereka dengan mendukung mereka." "Bukankah itu egois?" "Sudah hukum alamnya, Bu Hara." Aku tidak lagi menjawab. Kenapa? Bahkan meski aku menasihati mereka hingga berbusa, mereka tidak akan mengerti karena sudah terlalu buta. Terlalu egois ketika mereka bebas berkencan dengan siapapun, akan tetapi idola mereka tidak boleh berkencan dan memiliki kehidupan pribadi seperti para penggemarnya. Dunia ini harus berubah bahwa karya lebih penting dari sekadar aturan kehidupan pribadi para selebriti. Selebriti, penulis, atlet, dan lain sebagainya. Mereka hanya perlu membuat sebuah karya dan prestasi, itulah yang akan kita hargai dan kita banggakan. Perihal urusan pribadinya, kurasa itu bukan ranah kita untuk ikut serta. Kling... Ponselku berdering saat aku masih merenungi kalimat-kalimat yang Irene dan Rossa lontarkan. "Gazza," gumamku membuat Irene dan Rossa menoleh padaku. "Ah, tidak. Ada pemberitahuan artikel tentang Gazza," kataku segera membawa ponselku pergi. Benar sekali, Gazza yang meneleponku dan aku berusaha mengabaikannya sekarang. Aku harus mulai sadar bahwa kami hanya pantas berteman, tidak perlu saling melempar cinta dengan bumbu bualan semata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD