Alena terpaku, wajahnya memanas, sementara Darren belum melepaskan pandangannya. “Saya tahu, kamu mau,” ucapnya pelan, nyaris seperti perintah.
Alena menoleh gugup, mencari alasan untuk melepaskan diri. “Tapi… Keandre bisa lihat, Om,” suaranya bergetar di antara takut dan sesuatu yang tak ingin ia akui.
Darren tersenyum samar, senyum yang lebih berbahaya daripada kata-kata. “Kalau begitu,” katanya lembut, “jangan biarkan dia tahu.”
Alena tercekat. Logikanya memerintahkan untuk menjauh, tapi tubuhnya tetap tak bergerak. Hanya detak jantungnya yang terus memukul keras di d**a.
Darren menunduk sedikit, bibirnya nyaris menyentuh telinganya. Suaranya rendah, penuh tekanan. “Menginap di sini malam ini,” bisiknya. “Kalau kamu memang benar-benar tertarik, datanglah ke kamar saya. Tengah malam.”
Kata-kata itu menancap dalam.
Begitu Darren berbalik dan melangkah pergi, Alena hanya bisa berdiri kaku di tempatnya—dengan telapak tangan yang masih terasa hangat dan pikiran yang berputar tak terkendali. Satu kalimat terus bergema di kepalanya, membelah keheningan hujan yang tersisa.
Belum sempat ia menata napas, Keandre muncul dari arah lorong. “Sayang, udah rapi semua ya?” tanyanya sambil menatap ruang tamu yang sudah bersih.
“Iya, udah beres,” jawab Alena cepat, mencoba terdengar santai.
Keandre tersenyum, lalu menarik tangan pacarnya, membawanya ke sofa. “Sini, duduk sama aku. Kita nonton film gimana?”
Alena menuruti, meski jantungnya masih belum stabil. “Film apa?” tanyanya, berusaha menyembunyikan kegugupan dengan nada datar.
Keandre menyandarkan tubuhnya, merapatkan bahu ke bahu Alena. “Hmm… horor, atau romantis?” Ia menatap Alena sejenak, senyumnya nakal.
Alena menelan ludah. “Horor aja. The Conjuring gitu, boleh.” Suaranya terdengar lebih ringan, meski ada kegelisahan yang ia sembunyikan.
Keandre terkekeh kecil. “Oke, biar kamu bisa manja sama aku nanti kalau takut.” Ia menoleh, matanya menelusuri wajah gadis itu, lalu jemarinya dengan lembut meraih dagu Alena, mengangkatnya sedikit.
Ciumannya datang pelan, perlahan menekan bibir Alena. Awalnya lembut, kemudian lebih dalam, penuh perasaan. Alena membalas, tapi di dalam kepalanya, lumatan itu memunculkan bayangan lain—tatapan Darren, bisikannya yang menempel di telinga, aroma parfum maskulin yang masih terasa.
Sekilas, Alena memejamkan mata lebih erat, seolah berusaha menyingkirkan perbandingan yang tak seharusnya ada. Namun justru bayangan Darren semakin jelas, membuat ciuman Keandre terasa berbeda… lebih menjerat daripada romantis.
“Seperti biasa, bibir kamu enak,” ujar Keandre setengah bercanda, sebelum meraih remote dan mulai mencari film di layanan streaming.
Alena mengalihkan pandangan ke arah lain. Diam-diam, ia menyeka bibirnya dengan ujung tangan. Sial, pikirnya. Bahkan gaya ciuman mereka pun hampir sama.
“Sayang, kamu mau nginep di sini?” tanya Keandre tanpa menoleh, matanya fokus ke layar TV.
“Kayaknya iya,” jawab Alena pelan. “Mama sama Papa lagi nggak di rumah. Aku takut kalo sendirian.”
Keandre menoleh, wajahnya langsung sumringah. Ia mendekat, menempelkan bibirnya ke telinga Alena. “Tidur di kamar aku, ya?” bisiknya.
Alena tersenyum tipis, pura-pura menolak. “Di kamar tamu aja, nanti Papa kamu curiga.” Suaranya terdengar ringan, seolah ia benar-benar khawatir—padahal dalam hatinya justru bergetar karena mengingat Darren.
Keandre mengangkat bahu santai. “Papa sibuk kok. Nggak bakal peduli. Lagian tidur berdua lebih enak, kan?” Ia menyenderkan kepalanya di bahu Alena, manja. “Aku juga lagi capek, nggak kepikiran buat macem-macem.”
Alena terdiam, pandangannya kosong ke layar televisi yang menampilkan daftar film. Dari luar ia tampak santai, tubuhnya bersandar di sofa, seolah tak ada yang mengganggu.
Namun jauh di dalam, pikirannya kalut. Ia berusaha menjaga wajah polos di depan Keandre, padahal bisikan Darren masih menggema jelas.
Judul film horor muncul di layar. Ruangan hanya diterangi lampu kecil di sudut ruang tengah, membuat bayangan samar menari di dinding. Suasana jadi pas untuk menonton—remang, sunyi, hanya suara film yang mendominasi.
“Udah siap ketakutan?” goda Keandre sambil meraih camilan dari meja.
Alena tersenyum kecil, mencoba masuk ke peran pacar yang manis. “Aku sih santai. Jangan-jangan malah kamu yang sembunyi di belakang aku.”
Keandre terkekeh, lalu merapatkan duduknya. “Kita lihat nanti.”
Awal film berjalan tenang. Namun begitu masuk ke pertengahan, musik latar berubah menegangkan, adegan jumpscare mulai muncul.
“DUARR—!” Sosok hantu tiba-tiba muncul di layar.
“AAAHHH!” teriak keduanya hampir bersamaan.
Alena spontan masuk ke pelukan Keandre, menutup wajahnya di bahunya. Keandre juga ikut kaget, tapi justru tertawa kecil setelah sadar.
“Hahaha, kamu lebay banget sih!” katanya sambil mengusap punggung Alena.
Alena memukul lengannya ringan, pura-pura ngambek. “Kamu juga tadi teriak, jangan sok berani deh!”
“Ya tapi nggak sekenceng kamu,” balas Keandre, senyum lebarnya membuat suasana mencair lagi.
Mereka kembali fokus ke film, meski beberapa kali Alena refleks menggenggam tangan Keandre saat adegan menegangkan muncul. Volume yang dinaikkan menambah intensitas, suara pintu berderit dan jeritan dari film membuat bulu kuduk meremang.
“Kalau hantunya beneran keluar dari layar, aku langsung lari duluan, ya,” celetuk Keandre sambil setengah bercanda.
Alena menoleh sekilas, matanya menatap wajah pacarnya itu. Senyumnya tipis, tapi dalam hati ia justru semakin bingung. Bahkan di tengah tawa dan pelukan ini, kalimat Darren tetap terngiang jelas.
Tengah malam. Datang ke kamar saya.
Alena menggigit bibir bawahnya, mencoba fokus pada layar. Namun detak jantungnya terus berdegup lebih cepat, bukan karena jumpscare film horor, melainkan karena janji berbahaya yang menantinya setelah Keandre terlelap.
Film akhirnya usai, kredit bergulir di layar. Alena melirik ponselnya. Sudah ada pesan balasan dari Mama. Ia sempat mengabari kalau malam ini menginap di rumah Keandre. Sang ibu mengizinkan, lebih baik begitu daripada putrinya sendirian di rumah.
Alena menarik napas lega, meski rasa bersalah langsung menyusup begitu ia sadar, izin itu justru akan membawanya ke tengah malam yang berbeda.
“Ngantuk banget, nih…” Keandre menguap lebar, lalu meraih tangan Alena. “Tidur yuk?”
Alena tersenyum samar, menyembunyikan pikirannya yang bergejolak. “Iya, kamu duluan aja. Aku ke kamar mandi sebentar, nanti nyusul.”
“Jangan lama-lama,” jawab Keandre sambil mengedipkan mata manja, lalu berjalan ke kamarnya.
Alena menunggu sampai suara langkah Keandre menghilang di lorong. Ia lalu mengambil ponselnya dan masuk ke kamar mandi dekat kamar itu.
Setelah buang air kecil dan membasuh wajah, ia menatap cermin sebentar. Bayangan dirinya kembali menatap balik, mata yang sedikit merah, bibir yang terasa masih asing.
“Apa yang aku lakuin,” gumamnya pelan, hampir tanpa suara.
Ia meraih handuk kecil, mengusap wajah, lalu keluar. Tenggorokannya terasa kering dan haus. Alena berjalan ke arah dapur. Rumah itu terasa jauh lebih hening ketika lampu hanya menyisakan cahaya redup dari ruang tengah. Kegelapan di sudut-sudut rumah seperti mengintainya.
Ia membuka kulkas, cahaya putih menyemburat keluar, menyilaukan mata. Tangannya mengambil sebotol air dingin, lalu meneguk cepat. Bunyi gluk-gluk terdengar jelas di tengah kesunyian.
Selesai minum, Alena menyandarkan punggung pada pintu kulkas yang perlahan menutup. Hening kembali menyergap. Jam dinding berdetak pelan, mengisi ruang kosong dengan bunyi yang terasa menusuk telinga. Setiap detik bagai mendorongnya semakin dekat pada pilihan yang ia tahu berbahaya.
Ia meletakkan botol kosong di atas pantry, lalu mengangkat wajahnya menatap tangga menuju lantai atas—arah kamar Darren. Dadanya berdesir keras. Tapi segera, ia menggeleng cepat, menunduk, dan mempercepat langkah kembali ke lorong menuju kamar Keandre.
Saat masuk, lampu sudah diredupkan. Keandre terbaring pulas di ranjang, napasnya teratur, sesekali diselingi dengkuran kecil. Wajahnya terlihat lelah, mungkin karena seharian penuh kegiatan.
Alena menutup pintu perlahan. Ia berbaring di sisi Keandre, memaksa matanya untuk terpejam. Namun perasaan di dadanya campur aduk, antara bersalah, takut, dan godaan yang terus menghantui. Hening itu tiba-tiba pecah oleh suara ting dari ponsel di nakas samping ranjang.
Alena membuka mata. Ia menoleh, menatap ponsel Keandre yang bergetar sekali lalu diam. Ada dorongan kuat dalam dirinya, rasa penasaran yang lebih tajam daripada rasa takut.
Perlahan, ia meraih ponsel itu, melirik sekilas wajah Keandre yang masih tertidur pulas. Jemarinya menyentuh layar. Tidak terkunci. Begitu layar terbuka, Alena membeku.
Satu notifikasi terbaca jelas: pesan baru dari Sonya.
Sonya.
Sayang, kamu kok nggak balas pesanku? Kamu sibuk banget?
Jari Alena bergetar. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Ia melirik tajam wajah Keandre yang tidur begitu damai, seakan tak bersalah. Dengan cepat, Alena membuka daftar pesan. Chat demi chat memenuhi layar. Bukti chat mesra, panggilan sayang, rencana bertemu. Semuanya sudah berlangsung lama.
“b******n!” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Tangannya gemetar semakin hebat. Matanya panas, dadanya sesak. Rasanya ia ingin membangunkan Keandre dan berteriak saat itu juga. Tapi lidahnya kelu. Yang muncul justru tatapan dingin, lama, menelusuri wajah pacarnya yang tertidur.
Air matanya hampir pecah, namun yang terasa justru amarah dan sebuah kesadaran aneh. Jika Keandre bisa mengkhianatinya, maka apa salahnya jika ia pun membalas dengan cara yang sama?
Tatapan Alena perlahan berpindah ke arah pintu kamar. Bayangan Darren kembali mengisi kepalanya. Bisikan pria itu terdengar jelas seakan bergaung di telinganya.
"Ke kamar saya, Alena."