Di rumah, Alena tetap terjebak dalam pikiran tentang pesan singkat dari Darren. Setiap kata seperti menempel di benaknya, menggoda ia dengan caranya sendiri, dan membangkitkan rasa takut sekaligus penasaran yang sulit dijelaskan.
Ini bukan permainan tarik-ulur murahan seperti anak muda biasa. Pria itu bergerak dengan tenang, setiap kata disusun dengan penuh perhitungan, pengalaman yang membuatnya berbeda. Benar katanya, pria matang punya caranya tersendiri.
Alena menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya mengarsipkan pesan itu tanpa membalas. Napasnya tertarik berat, bibirnya tergigit seolah menahan sesuatu yang sulit diungkapkan.
Rumah terasa sepi. Mama sedang keluar dengan teman-temannya, sementara Papa sibuk dengan pekerjaannya. Keheningan itu justru membuat Alena merasa gelisah. Denting notifikasi terdengar lagi, dan Alena refleks meraih ponselnya. Kali ini pesannya dari Keandre.
“Sayang, aku latihan basket dulu ya. Sparing sama anak semester dua buat persiapan turnamen,” tulis Keandre di bubble chat tersebut.
Alena membalas dengan cepat, “Iya sayang, semangat ya. Aku nggak bisa nyusul, lagi nggak enak badan.”
Ia menekan tombol kirim, tapi matanya masih terpaku pada layar. Rasa bersalah muncul karena kebohongan kecil itu, sebenarnya ia sama sekali tidak sakit, hanya sedang tidak ingin bertemu pacarnya sementara pikirannya dipenuhi bayangan Ayah pacarnya sendiri. Gila sekali pikirnya.
Tak lama, balasan yang sama cepatnya masuk, “Oke, istirahat aja ya. Jangan lupa makan. Pulang latihan aku mampir ke rumah kamu, bye babe.”
Alena menatap layar ponselnya lama, jemarinya ragu-ragu di atas keyboard, akhirnya hanya mengirim tanda hati. Ia meletakkan ponsel dan merebahkan tubuh di sofa, tapi pandangannya tetap kosong menatap langit-langit.
Bukan Keandre yang memenuhi pikirannya melainkan Darren, dengan tatapan tenang dan kata-kata yang masih membekas, seolah benar-benar hadir di ruangan itu.
Alena tak bisa menahan diri lagi. Ia membuka menu arsip dan menatap pesan terakhir dari Darren. Pendek, sederhana, tapi penuh makna. Tanpa sadar ia menyentuh bibirnya, rasa bibir Darren masih tertinggal di atasnya. Tiba-tiba layar ponsel menyala, ada pesan baru masuk.
“Kamu tidak bisa pura-pura lupa, Alena.”
Alena tertegun. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Kata-kata itu terasa lebih dari sekadar teks, seolah suara yang menempel di telinganya. Ia bahkan membayangkan Darren yang mengucapkannya di depan matanya saat ini.
“Kenapa dia bilang begitu…” bisiknya pelan, hampir tidak terdengar di rumah yang sunyi.
Ia mulai mengetik, ‘Om, maksudnya apa?’ tapi menghapusnya sebelum sempat dikirim. Jemarinya gemetar, gugup bukan main.
Notifikasi berbunyi lagi. Pesan berikutnya muncul.
“Kamu penasaran, kan?”
Alena menutup mulut dengan telapak tangan, berusaha menahan napas yang semakin cepat. Semakin ia mencoba menolak, semakin godaan itu terasa datang bertubi-tubi. Sekali lagi ponselnya bergetar,
“Saya tahu kamu sedang membaca pesan ini.”
Alena menegakkan tubuh di sofa, matanya melebar. Kata-kata itu terasa begitu nyata, seolah ada seseorang berdiri di belakangnya, menatap langsung. Ia heran kenapa hatinya bisa berdebar seperti ini, campuran antara jatuh cinta dan takut ketahuan oleh Keandre, mungkin?
Pandangannya tertuju pada CCTV kecil di sudut ruang tengah. Lampu indikator berkedip pelan. “Gak mungkin, Om Darren bisa lihat sampai sini. Ini rumahku…” gumamnya, berusaha menenangkan diri.
Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia mengetik balasan,
"Terserah Om deh. Aku sama sekali gak tertarik ke hubungan itu. Jadi jangan ganggu lagi."
Tak sampai beberapa detik, layar menyala lagi,
“You’re just confused. Satu langkah lagi, ucapan tidak tertarik itu akan jadi jebakan buat dirimu sendiri.”
“Kamu yakin bisa menghindar terus, Alena?”
Alena menggigit bibirnya, perasaannya campur aduk. Antara marah ada takutnya juga, tapi tetap penasaran. Jari-jarinya kembali menari di layar, mengetik cepat, “Kenapa Om terus maksa? Aku sudah jelas nolak, kenapa nggak berhenti aja?”
Balasan datang dan lumayan panjang,
“Karena saya bisa melihat sesuatu yang bahkan anak saya sendiri tidak sadar. Kamu butuh lebih dari sekadar perhatian seperti yang Keandre berikan saat ini. Kamu butuh seseorang yang mengerti, yang bisa membuatmu merasa diinginkan sepenuhnya. Dan Keandre belum sampai ke sana.”
Alena menutup mulutnya dengan tangan. Kaget setelah membaca balasan dari Darren. Ia ingin melempar ponselnya jauh-jauh, tapi sorotnya tetap terpaku pada kata-kata itu. Ia menatap layar, menunggu sesuatu, tidak tahu apa yang akan dikirim Darren berikutnya.
'Dia beneran nekat!' begitulah batinnya menjerit dengan perasaan campur aduk tidak karuan.
••
Sementara di rumah yang beralamat di Pondok Indah tersebut, tidak terlalu banyak aktivitas. Hanya ada Darren duduk di ujung meja makan, sesekali menatap Keandre yang sibuk dengan ponselnya seperti biasa. Darren sudah tidak merasa aneh lagi.
"Kamu tidak mengajak pacarmu itu kesini nanti sore?" tanya Darren berbasa-basi, sesekali melirik anaknya lagi. "Sekalian belajar bareng, kan? Kemarin kamu bilang ujian kalian juga sudah semakin dekat."
Keandre menanggapi pertanyaan sang Ayah. “Maunya gitu, Pa. Kayak biasa.”
Darren mengangguk, mengaduk makanan di atas piringnya tanpa benar-benar fokus. “Bagus. Rumah ini terlalu sepi kalau tidak ada tamu. Ajak aja teman-teman mu main kesini, Ken. Papa tidak keberatan sama sekali, kok.”
Keandre terkekeh, tapi ada getir pahit di ucapannya. “Papa aja suka suasana sepi begini. Kalau ada Mama pasti rame lagi, jadi kayak keluarga Cemara.”
Darren tersenyum tipis, hanya meneguk air putih sambil menatap putranya lebih lama. Beberapa menit kemudian, selesai acara makan tersebut mereka pindah, Keandre sudah duduk di sofa ruang keluarga sambil bermain ponsel. Sedangkan Darren baru datang membawa secangkir kopi, langkahnya santai, tapi matanya tetap fokus pada putranya.
“Udah kabarin Alena?” tanya Darren sambil menyesap kopi perlahan. Langkahnya membawa ia ke sisi sofa yang lain, hendak duduk di sana.
“Udah, Pa. Dia baru aja bales nih. Katanya oke, nanti sore dia ke sini,” jawab Keandre dengan semangat. Darren bisa melihat bahwa anaknya setiap kali membicarakan tentang Alena selalu tampak berbunga-bunga.
Darren mengangguk, tidak banyak berkomentar. “Oke kalau gitu, biar rumah tidak terlalu sepi seperti sekarang. Nanti belajar di sini saja, ruangannya lebih luas, kalian leluasa belajarnya."
Anaknya itu setuju saja saran Ayahnya, ia kemudian bertanya karena penasaran. “Papa mau ikut belajar bareng aku sama Alena juga?”
Darren mendengus pelan. Ikut belajar? Memang Ayahnya itu mahasiswa juga seperti mereka atau bagaimana. Ada-ada saja anaknya ini. “Aneh sekali kamu. Papa kan sudah tua, buat apa ikut belajar? Kalian berdua saja."
Keandre tertawa pelan, lalu bangkit dan berjalan menuju kamarnya untuk menyiapkan materi belajar yang akan diulang nanti sore. Darren menyesap kopinya lagi. Ekspresi wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya berkilat oleh rencana lain yang sedang ia susun.
••
Alena masih di rumahnya, sibuk menyiapkan laptop dan catatan dengan terburu-buru. Ponselnya bergetar, Keandre mengingatkan bahwa dia akan dijemput. Kadang-kadang Keandre kelihatan tak sabar, sementara tangan Alena penuh dan agak kesulitan membalas pesan dengan cepat.
“Iya, jemput aja sayang. Aku siap-siap dulu.”
Sekitar tiga puluh menit kemudian, pacarnya tiba di rumah. Setelah meminta izin pada kedua orangtuanya untuk mengerjakan tugas bersama, dan karena orangtua Alena juga sudah cukup mengenal Keandre, prosesnya cepat. Tak lama kemudian, mereka segera berangkat ke rumah Keandre.
Di rumah besar itu, cahaya sore merambat masuk melalui jendela ruang tengah yang luas, disaring oleh gorden putih tipis yang membuat sinar senja tampak lembut.
Alena duduk di samping Keandre, laptop dan buku catatan berserakan di meja. Dua gelas jus jeruk sudah setengah kosong di atas meja kopi.
Mereka belajar dengan serius, sesekali saling bercanda. Namun tatapan Darren, meski hanya sekilas dari kursi dekat rak buku, membuat Alena sulit fokus sepenuhnya.
Keheningan di ruangan tengah yang sudah tegang sedari tadi, semakin terasa ketika hujan deras tiba-tiba mengguyur dari luar, sementara lampu temaram rumah memantul di kaca. Alena jadi salah tingkah sendiri, bingung harus bersikap bagaimana.
Beberapa jam kemudian mereka akhirnya ditinggalkan berdua, tapi Keandre pergi ke kamar mandi setelah agak lama menahan ingin buang air kecil, disitulah Darren yang sebelumnya naik ke kamarnya muncul kembali dari tangga.
Ia bersandar di ambang pintu ruang tengah, senyum tipis menghiasi wajahnya seperti biasa, tapi kini sorotnya nampak tajam memperhatikan gerak-gerik Alena, seolah menimbang sesuatu yang hanya bisa ia rasakan sendiri.
“Sudah selesai belajarnya?” Pertanyaan tiba-tiba yang hampir membuat Alena terlonjak kaget, terdengar begitu dekat meski ia masih berdiri di pintu.
Alena menutupi kekagetan itu dengan menoleh sekilas, lalu buru-buru menunduk. “Iya, Om. Kayaknya cukup buat hari ini,” jawabnya sopan, jari-jari meremas tumpukan kertas tanpa sadar.
Darren menyilangkan tangan di d**a, matanya tak lepas dari gadis itu. “Di luar hujan deras. Jangan pulang dulu, nanti kamu basah kuyup seperti waktu itu.”
Alena menelan ludah. Degupan jantungnya kembali cepat setiap kali berhadapan dengan Darren. “Gak apa-apa Om, nanti juga reda…” jawabnya ingin lantang, tapi malah mencicit pelan.
Darren melangkah maju beberapa langkah, tetap menjaga jarak tapi cukup dekat untuk membuat Alena merasakan kehadirannya. Suaranya menjadi lebih lembut, membuat bulu kuduk Alena berdiri, bukan karena dinginnya hujan, tapi karena nada bariton pria dewasa itu.
“Lagipula, sudah malam. Tunggu di sini saja. Seperti kemarin atau mungkin lebih bagus lagi, kalau kamu menginap.”
Alena menelan ludah, jemari tangannya sudah gemetar saat menumpuk kertas yang sebenarnya sudah rapi. Ia berusaha fokus pada suara gemericik air di luar jendela, tapi rasanya percuma. Di ruang tengah hanya ada mereka berdua, Alena ingin sekali keluar dari situasi canggung ini.
“Ih, Om serius amat sih ngomongnya, tapi makasih Om. Mungkin Keandre mau anter aku pulang habis ini, lagian kan pake mobil, nggak akan kehujanan kok,” Alena berusaha membalas dengan santai, tapi senyum tipis yang ia coba keluarkan gagal menutupi getaran di suaranya.
Darren tersenyum samar. Langkahnya semakin dekat, tapi tetap menjaga jarak aman agar anaknya nanti tidak curiga. “Kalau menyangkut kamu, saya memang ingin serius. Ada masalah dengan itu, Alena?”
Alena menunduk, kini pura-pura merapikan buku. Pipi dan dadanya memanas, sialnya Alena malah jadi salah tingkah oleh perkataan itu. Padahal seharusnya ia jijik, tapi ia malah tergoda dan semakin ingin masuk ke dalam perangkap yang Darren buka lebar-lebar untuknya.
Ia merasakan udara seolah berubah. Hujan di luar, lampu yang terasa hangat di dalam, dan kehadiran Darren yang begitu dekat mengaburkan batas antara aman dan berbahaya. Nafasnya tak beraturan. Ia ingin mundur, tapi kakinya terasa menempel di lantai seolah tubuhnya menahan dirinya sendiri.
Darren melangkah perlahan, jarak mereka semakin dekat. Tangannya terulur, menggenggam telapak tangan Alena. Matanya menatap Alena dengan intensitas yang membuatnya nyaris lupa caranya bernapas.
Tanpa kata-kata panjang, Darren menekankan satu ciuman singkat di telapak tangannya. Detak jantung Alena terasa bergema di telinganya sendiri, berdetak gila-gilaan sampai kakinya lemas oleh gerakan tak terduga dari Darren.
“Manis,” bisik Darren, satu kata yang cukup menusuk hingga ke ujung tulang dan mampu membuat Alena tidak akan bisa tidur setelahnya.