24

1237 Words

“Dek, apa aku harus meminumnya?” tanya mas Lutfan. Aku meletakkan nampan itu di atas nakas. s**u di dalam gelas itu masih panas, jadi kubiarkan sejenak untuk menjadi hangat. “Katanya kamu malam ini mau itu, Mas? Ya udah, minum aja nggak apa-apa. Ibu pasti mau yang terbaik untuk kamu, Mas.” “Tapi Dek, tanpa meminumnya aku sudah perkasa kok.” “Terus, s**u itu mau dibuang? Apa nggak sayang? Udahlah Mas, mungkin ibu bermaksud baik sama kita. Masa harus suudzon terus sama ibu. Kamu nggak mau kuajak pindah dari sini juga ‘kan? Kalau pindah ‘kan, kita bebas mau ngapain aja. Nggak ada yang ngatur-ngatur kayak gini.” Sudah kubilang, badanku terasa lelah. Jadi akan mudah emosi. Mas Lutfan sepertinya mengeluh saja tentang perlakuan ibunya itu. Membuatku menjadi tak sabar lagi. Dan kembali mengun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD