“Gimana Wa?” Bapak mertua kembali mempertanyakan pencarianku. Sebenarnya aku sudah menemukan peci itu, namun sengaja pura-pura tak melihatnya. Aku belum puas mencari sesuatu yang bisa menjawab rasa penasaranku. “Nggak ada, Pak. Ibu nyimpennya dimana sih? Kok susah banget dicari,” ucapku, mendustai. “Nah ‘kan, apa kata Bapak.” “Coba cari lagi ya? Siapa tau ketemu.” Kini aku pergi ke nakas. Kucari sesuatu di dalam lacinya. ‘Eh, air apa ini?’ Aku kembali menemukan hal yang janggal. Ada botol bekas air mineral yang tersimpan di dalam laci nakas. Memangnya air apa yang ada di dalam botol bekas itu? ‘Hmmm … baunya harum. Warnanya juga pink. Apa ya kira-kira?’ Dalam benakku aku hanya bisa menerkanya. ‘Eh, apa ini air rebusan mawar tadi? Kenapa ada di laci nakas kamar ibu?’ Ya … kini ak

