POV Lutfan “Fan, Eliza cantik ‘kan?” tanya ibu tiba-tiba. Beliau tersenyum bangga. Untuk apa ibu bertanya semacam itu? Nggak penting banget sih! “Wanita pasti cantik, Bu. Ibu juga cantik ‘kan?” Tentu saja jawabanku ketus. Pertanyaan ibu benar-benar aneh. “Bukan gitulah, Fan. Maksud Ibu nggak kalah cantik sama Salwa ‘kan? Ibu pintar kalau pilih wanita, pasti cantik.” Beliau kembali membanggakan dirinya sendiri. Apa untungnya ibu melakukan hal semacam itu? Aku sama sekali tak terpengaruh. “Tentu saja cantikan Salwa, Bu. Dia ‘kan istriku. Sedangkan Eliza ….” Sengaja tak kuteruskan perkataanku. Dia ada di belakangku. Meski aku tak suka, bukan berarti aku menyakiti hatinya dengan perkataan kasar menurutku. “Yang penting dia cantik ‘kan? Ibu pintar pilihnya.” Kembali beliau mengatakan k

