Bab 4 : Jebakan di Mini Market

1230 Words
“Mabuk, akan membuatmu hilang akal, Ben. Benjamin Hadley yang kukenal tidak pernah sedemikian mudah untuk menyerah.” Sudah saatnya membicarakan hal itu, meskipun Vanessa melarangnya. Merupakan kebiasaan para pria menyelesaikan masalah. Bagi Tre, ketakutan Ben harus dibicarakan. Jangan sampai dibiarkan menggantung dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Untuk itu, sebuah makan malam saja tidak cukup. Sambil duduk di anak tangga, sahabatnya itu mulai bicara, “Aku takut. Selama ini, pekerjaan itu cukup untuk mengalihkanku dari kebutuhan yang lain. Lelah mencegahku datang ke tempat hiburan malam, target membuatku lupa pada wanita, Mandor galak menebalkan mentalku. Hal-hal semacam itu. Bila pada akhirnya direnggut dariku, berarti aku pasti mendekati semua pantangan yang selama ini kuhindari. Aku warga yang baik, Tre. Pekerja yang baik pula. Seharusnya mereka tidak semena-mena.” “Kau pikir mereka akan peduli?” tanya Tre, mengajak Ben untuk menggunakan logika. “Maksudmu?” “Hanya dirimu yang mampu menjaga diri sendiri. Bukan Bos, Mandor, atau seorang Trevor Jordan yang masih doyan bermimpi. Kehilangan pekerjaan bukanlah akhir dunia, bisa jadi, malah membuka dunia baru yang lebih nyata untukmu.” Ben meringis. “Hh, dunia baru? Dunia baru macam apa yang kau maksud, Trevor Jordan? Aku sudah pernah kehilangan seseorang dalam hidupku … .” Ben nyaris keceplosan. Untung kalimatnya tidak melaju begitu saja seperti kereta api. Bersyukur bahwa ia masih bisa mengendalikan diri. Sukar membayangkan apabila ucapannya justru menjadi mata pisau bagi sahabat yang sudah seperti saudaranya itu. Tapi kelihatannya, Tre masih penasaran. “Seseorang? Ben, kau tidak pernah bilang kalau kau pernah mencintai seseorang. Siapa dia?” Ben menyalahkan diri sendiri. Mengapa dia bisa gegabah seperti itu? Apa pentingnya mengungkapkan kesedihannya apabila akhirnya melukai Tre? “Kalian sedang apa? Ayo masuk, makan malam sudah siap.” Ben menghela napas lega. Vanessa menyelamatkannya. Ia pun harus cepat-cepat memanfaatkan kesempatan ini untuk menghindari pertanyaan Tre. “Baik, aku juga sudah lapar. Sekarang ‘kan, Tre?” “Tentu.” Berikutnya, pria yang sedikit lebih tua daripada Tre tersebut hanya bisa berdoa, semoga Tre tidak memancing dengan pertanyaan yang sama di depan Vanessa. Walau bagaimanapun, Ben tidak ingin kehilangan keluarga kecil yang sudah menganggap dirinya menjadi bagian dari hidup mereka. Lebih baik menelan perasaan getir itu seorang diri. “Terus terang, aku agak mengkhawatirkan keadaan Tre di lokasi proyek. Maukah kau menjaganya untukku, Ben? Aku sangat menghargai bila … .” “Tunggu, tunggu, sampai kapan kau akan terus menganggapku seperti anak kecil, Sayang? Ya, Tuhan, ini memalukan sekali.” Tre pura-pura menutupi kedua mata dengan telapak tangannya. “Mengapa harus malu? Bila kau mencuri atau menyakiti perasaan orang lain, maka pantas malu. Aku hanya minta bantuan Ben untuk … .” “Sudah, sudah, tak usah diperpanjang lagi. Aku tahu maksudmu. Jangan khawatir, aku akan menjaganya, menyuapinya, menyanyikan lagu untuknya, apapun yang kau mau. Tre akan kujaga setiap saat. Aku janji.” Pernyataan Ben cukup menyejukkan hati wanita itu. “Terima kasih, kau baik sekali.” Tre dan Ben tertawa. Percakapan berikutnya terus menghangatkan suasana, dan semua karena Vanessa. Usai menyantap hidangan, Ben pun pamit, kedua pria tersebut berjalan menuju halaman, di mana terdapat sebuah mobil yang setia menunggu di pinggir jalan. Mobil Ben. “Jangan anggap serius permintaan istriku. Mungkin seharusnya, aku tidak membicarakan soal pekerjaan dengannya.” Tre agak terdiam. Ia menangkap kegelisahan pada raut wajah Ben yang kurang menyimak kata-katanya. “Ada apa?” tanyanya. “Tidak apa-apa,” jawab Ben gugup. Ia sadar harus segera pulang atau lambat laun rahasianya akan terbongkar. “Hm, aku pergi. Jaga istrimu baik-baik.” Cepat membuka pintu dan menghidupkan mesin mobil adalah jalan terbaik untuk mengendalikan keadaan. Tak lama, mobil Ben sudah menghilang di persimpangan jalan. “Sayang, kemarilah!” Seruan Vanessa menyebabkan Tre bergegas masuk ke rumah. “Ada apa?” Semburat rona pipi yang biasanya kemerahan itu memudar. Vanessa terlihat cemas. “Ini mengerikan!” “Katakan, ada apa?” ulang Tre. “Bayangkan, aku tidak punya roti dan mentega untuk besok pagi. Ya, Tuhan, bagaimana mungkin bisa seceroboh ini?” Menutupi dahi dengan tangannya, Vanessa tampak kebingungan dengan ‘bencana’ kecil yang disebabkannya. Memang, ia sudah mengingat sejak sore, tetapi acara makan malam sederhana tadi benar-benar menyita perhatiannya. “Biar aku ke mini market sekarang.” Tre menghela napas lega, lantas memeluk sebentar tubuh Vanessa. “Apalagi yang kau butuhkan?” “Hm, ini.” Dilepasnya memo kecil yang ia tindih dengan magnet di dinding kulkas. “Maaf, Sayang, aku benar-benar lupa.” desahnya dalam pelukan hangat yang berikutnya. “Tak usah cemas, aku berangkat sekarang.” Dalam perjalanan menuju mini market terdekat, secarik memo tersebut terus berada dalam genggaman jari-jarinya sambil menyetir. Jarum jam di pergelangan masih menunjukkan pukul sembilan, sehingga masih bisa santai sambil menikmati udara malam Texas yang khas dengan aroma rumput segar. Tiba di sana, Tre memarkir mobil dan segera masuk guna mengambil barang-barang yang terdapat dalam daftar belanja. Cuma butuh beberapa menit saja sebelum akhirnya menuju kasir. Ada dua orang yang mengantre di depannya dan ia mengamati sekeliling, terutama ke halaman toko yang terlihat jelas melalui dinding kaca. Di sana, ada sebuah mobil hitam yang diparkir namun tidak dalam posisi yang seharusnya. Mungkin si pemilik mobil tidak akan lama untuk membeli sesuatu, batin Tre. Tapi, siapakah pemilik mobil itu? Aneh memang, mengingat hanya ada tiga pembeli termasuk dirinya, kasir dan seorang karyawan lain yang sedang sibuk memeriksa perubahan harga. Dua pria yang sudah selesai mengantre tersebut tidak saling menyapa dan bisa dipastikan bahwa mereka tidak saling mengenal. Lalu siapakah di antara mereka yang rela berjalan kaki untuk tempat parkir yang lebih jauh? “Giliran Anda, Pak.” Kasir mengingatkan. Tre maju dan menyerahkan sekeranjang barang yang hendak dibeli, namun matanya masih berusaha mengejar salah seorang di antara mereka yang rela tidak memarkir kendaraan langsung di halaman depan. Sayang, dia sudah tidak ada. Kasir menyebutkan jumlah uang yang harus dibayar dan Tre baru merogoh dompet dan mengeluarkan sebuah kartu, kemudian keluar dari mini market setelah mendapatkan belanjaan, tak lagi memusingkan keberadaan pria misterius tersebut. Menghadap pintu mobil, tiba-tiba Tre dikejutkan seorang pria yang langsung menghambur ke arah dirinya. “Tolong, selamatkan aku! Mereka akan menghabisiku! Mereka akan menghabisiku!” pintanya berkali-kali dengan suara dan bahu gemetar. Dia adalah pria yang sama seperti dalam pikirannya tadi. “Apa yang … .” Belum sempat meneruskan kata-kata, Tre melihat sebuah mobil mengerem mendadak dan seseorang mengarahkan senjata dari kursi depan, bersiap memuntahkan isinya. “Tiarap!” Dengan sigap menekan punggung pria tadi ke bawah untuk menghindari tembakan. Selanjutnya, terdengar raungan sirene mobil polisi yang menyebabkan mobil penembak terpaksa melarikan diri. Dalam waktu singkat, dua polisi sudah berada di tempat kejadian perkara. Akan tetapi … . “Hei! Apa yang kalian lakukan? Aku tidak bersalah!” teriak Tre ketika salah satu polisi justru memborgolnya. “Diam! Apapun yang kau katakan bisa memberatkanmu di pengadilan.” “Kalian salah! Aku tidak … .” Kedua polisi tersebut membelenggu dirinya, juga pria yang ketakutan tadi, menyeretnya, memaksanya duduk di kursi belakang bersama pria tadi yang terus histeris, dan mobil pun meninggalkan mini market, tanpa seorang pun yang menyaksikan kemalangan yang menimpa Tre. Ini buruk! Pikir Tre. Tetapi ia memilih diam dan fokus, mencari jalan keluar terbaik untuk membebaskan diri bila tiba di kantor polisi nanti. Satu hal yang pasti, Vanessa. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi wanita itu bila mendengar kabar buruk ini besok pagi. Semalaman tidak pulang tanpa diizinkan memberi kabar, tentu akan menyebabkan batin Vanessa tersiksa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD