Bab 3 : Rencana Masa Depan

1238 Words
Tre mencoba bertahan selama beberapa hari. Ternyata tidak mudah untuk melewati rutinitas disertai tekanan dari pihak atasan. Sangat aneh, mengingat dirinya berusaha untuk bekerja semaksimal mungkin tanpa kesalahan, namun selalu muncul fitnah-fitnah keji yang membuat harga dirinya teruji. Sebagai pria normal, lambat laun darahnya mendidih. Akan tetapi, diurungkannya niat untuk menghajar seseorang demi Vanessa dan bayi dalam kandungan istrinya. Ya, demi mereka berdua, ia harus sanggup bertahan. Setidaknya hingga akhir tahun ini, sesuai rencananya. “Aku rasa, kita harus membeli laptop.” Makan malam kecil yang sederhana adalah saat yang tepat untuk membahas kelanjutan rencananya. Vanessa yang berada di dekatnya masih bersikap biasa saja. “Laptop? Untuk apa? Supaya aku bisa memotong sayuran di atasnya?” goda bidadari hatinya. Tre terkekeh, berusaha tidak tersedak. “Tentu, jika tidak dipakai, kau bisa memanfaatkan semaumu. Aku sadar betul bahwa bentuk talenan yang kita punya memang membosankan. Sudah saatnya kau punya talenan yang bisa menghubungkanmu dengan internet.” Mereka tertawa bersama. Kehangatan seperti ini yang selalu dirindukan Tre setiap kali pulang ke rumah. “Dan, bila sedang tidak kugunakan di dapur, apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?” tanya Vanessa sambil mengerling nakal. “Pemasaran afiliasi. Masih ada beberapa bulan untuk belajar sebelum benar-benar keluar dari perusahaan. Jika aku berhasil, pekerjaan ini bisa menjadi sampingan atau bahkan pekerjaan utama. Kita lihat bagaimana prospeknya.” “Apakah itu artinya … kau menghindari bekerja di kantor atau lapangan? Menurutku, pekerjaan apapun yang menghasilkan sudah pasti bagus, tapi pemasaran afiliasi sedikit menjauhkanmu dari kehidupan sosial. Koreksi aku bila salah, hanya kuharap … kau benar-benar memikirkannya. Kau pernah bilang bahwa bekerja dalam tim sangat menyenangkan karena bisa mengenal banyak orang.” Tre merenung. Ucapan istrinya benar. Kehidupan sosialnya baik-baik saja selama ini. Selain itu, Tre bukanlah jenis pria penyendiri. Ia butuh dunia orang lain untuk melengkapi dunianya. Menghabiskan suapan terakhirnya dan minum beberapa teguk air putih, ia pun berkata, “Akan kupertimbangkan lagi, aku janji. Kau tak perlu khawatir, kita bertiga akan baik-baik saja.” Dikecupnya kening Vanessa, isyarat bahwa sebagai pria, ia akan melakukan apa saja untuk membahagiakan istri dan anaknya, melindungi mereka berdua. Tak lama, smartphone milik Tre berbunyi, seseorang menghubunginya. Pada tampilan layar, tertera sebuah nama yang sangat dikenalnya, Ben Benjamin, begitu ia menamai nomor Ben di ponselnya. “Ya? Tumben, ada apa?” Tre mulai bicara setelah menggeser ikon telepon berwarna hijau. Suara Ben terdengar jelas. “Maaf mengganggu. Aku yakin kau sedang makan malam?” “Sudah selesai. Piringku sudah kosong. Vanessa juga sudah membereskannya. Apa yang bisa kubantu?” “Hm, tentang fitnah keji yang akhir-akhir ini menyerangmu, kurasa akan segera dialami pekerja yang lain.” jawab Ben hati-hati. “Tunggu, aku akan keluar rumah supaya Vanessa tidak mendengarku,” bisiknya, setelah memastikan situasinya aman. “Baik.” Di teras rumahnya yang memiliki tangga mungil dari kayu oak yang divernis mengkilat, Tre duduk dan mendekatkan kembali ponsel tersebut ke telinganya. “Bicaralah, Ben. Apa yang sedang terjadi?” “Torres dipecat. Kau tahu dia. Mana mungkin ia sengaja mengubah platform konstruksi. Seseorang sedang mempermainkan kita semua dan satu persatu karyawan lama akan tumbang sehingga perusahaan berhak merekrut orang baru. Bagaimana menurutmu?” ucap Ben serak. Ia seperti habis minum sesuatu untuk menenangkan kegelisahannya. Cemas, sebab hanya perusahaan konstruksi ini yang memberinya gaji lumayan setiap bulan. Tre menghela napas, turut prihatin dengan ketakutan Ben yang memang tidak berlebihan. Ia tahu, Ben dan Torres berkawan baik. “Dengar, Sobat, kendalikan dirimu. Kita pasti bisa melalui ini. Aku akan membantumu mencari perusahaan yang … .” “Mereka sengaja mencoreng nama kita, berengsek! Kita tidak akan mendapat pekerjaan di manapun!” Ben mulai stres, kemudian suaranya bergetar meratapi nasib. “Maafkan aku, Tre. Tapi aku benar-benar putus asa. Latar pendidikanku lain dengan dirimu. Setidaknya kau punya ijazah sarjana, tapi aku? Jika mereka memecatku, maka aku hanya mampu membeli rumah kecil di sebuah lahan peternakan sempit yang masih sepi penduduk. Aku bingung.” Tre diam sesaat, lantas kembali membuka suara. “Ben, singkirkan botol itu, lalu tidurlah. Jika besok kau tambah kacau, kujamin keadaan akan bertambah buruk.” “Ya, kau benar.” Ben termangu, tatapannya terpaku pada selembar foto Vanessa yang pernah diambilnya diam-diam dengan ponselnya. Sejatinya, ia putus asa pada semua hal. Takut gagal dalam profesi dan percintaan, takut hidup dalam kesepian. “Maaf, aku bicara kasar padamu. Banyak hal yang menjejali pikiranku. Aku tidak berniat menyakitimu.” Ben menahan tekanan emosinya yang semakin dalam, agar jangan sampai telinga Tre yang tajam, mendengarnya. “Selamat malam.” “Istirahatlah, Ben. Selamat malam, sampai jumpa besok.” Komunikasi berhenti. Dari belakang, sentuhan lembut seseorang terasa di lehernya. Vanessa duduk di sampingnya, menyandarkan kepala pada otot lengannya. “Harus kau yang menyetir besok. Ben terguncang namun harus tetap masuk kerja. Hanya engkaulah yang bisa menjaganya.” tutur wanita yang mengenakan sweter ungu gelap, hadiah dari seorang tetangga baik hati, saat Thanksgiving tahun kemarin. “Dia sedang kacau,” Tre menghembuskan napas. “Justru pada saat seperti ini, ia bicara jujur padaku. Aku baru tahu bahwa ia memikirkan selembar ijazah yang sama sekali tidak kugunakan. Andai kami bicara santai, mungkin aku akan mentertawakan kelakuanku sendiri. Sebuah ironi, bahwa nasib kadang melenceng dari rencana semula yang begitu lama dipikirkan.” “Kita tetap harus bersyukur, Sayang. Bila masanya tiba, semua akan terasa indah dan menyenangkan, dan aku ingin tetap menikmatinya bersamamu.” Kalimat Vanessa sangat melegakan dirinya. Tre seolah ditopang oleh sebuah kekuatan cinta. Mungkin, itulah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh seorang pria. Kekuatan yang diperoleh dari wanita terkasih. Kini ia sadar bahwa seorang pria tidak boleh merasa kesepian. Semua prinsip hidupnya akan goyah! Bohong belaka jika ada seseorang yang menyangkalnya dan pura-pura bahagia. “Menurutmu, apakah Ben merasa kesepian? Dia selalu mengatakan bahwa tanpa wanita hidupnya akan baik-baik saja, tapi … ya, Tuhan! Mungkin dia memang butuh seseorang!” “Tidak, bukan begitu, Sayang. Kita tidak berhak mencampuri urusan pribadinya. Kita hanya wajib mendampinginya, terutama bila dia minta bantuan atau saran. Masalah wanita adalah hal yang sensitif. Tetap harus ada batasan yang tidak boleh kita langgar.” Kening Tre berkerut. “Kau pikir begitu?” “Ya, percayalah. Begini saja, undanglah Ben untuk makan malam bersama. Dia boleh menginap jika mau, tapi usahakan jangan membahas masalah pekerjaan. Dia butuh teman bicara untuk mengalihkan tekanan batinnya.” Tanpa pikir panjang, Tre mengangguk setuju. “Mengapa tidak terpikir olehku? Ide brilian, Sayang! Besok, mungkin kami pulang agak larut karena lembur. Kau mau menunggu?” tanyanya mesra. “Tentu, bukan masalah bagiku.” Vanessa membalas tatapan teduh Tre yang menghangatkan perasaannya. Apapun yang terjadi, ia berjanji dalam hati untuk mendukung suaminya. Ia percaya, badai ini akan segera mereka lalui. “Kalau begitu, ayo masuk. Anginnya mulai dingin.” Tre membimbing istrinya untuk bangkit dan masuk ke dalam rumah dengan hati-hati. Mengunci pintu, memastikan tiada celah dari luar untuk melihat suasana dalam rumah. Lampu ruang tamu dipadamkan lalu keduanya bergerak ke kamar. Bahkan di atas tempat tidur, sulit bagi Tre untuk langsung memejamkan mata. Tidak ada yang lebih buruk selain nama pekerja yang diketik dalam daftar hitam suatu pekerjaan. Lepas dari resah yang juga hinggap di benaknya, Tre mencoba mengingat Tuhan. Hanya Dia yang bisa melindungi keluarganya dari segala rintangan. “Sayang, tidurlah. Aku belum mendengar dengkuran halusmu.” kata Vanessa memperingatkannya dengan mata terpejam. Kecupan hangat di pipi melegakan hati Vanessa dan tak lama kemudian, keduanya telah larut dalam bunga tidur masing-masing, di bawah naungan sinar bulan yang menyelinap masuk melalui empat buah genting kaca. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD