Kencan Pertamaku

2158 Words
Setelah pulang dari healing kemarin, aku dan defan semakin dekat, kami seperti dua insan yang sedang di mabuk cinta. Kami sering menghabiskan waktu bersama, hubungan kami juga sudah di ketahui oleh semua teman kerja . Mereka juga sering ngeledek kami berdua karena begitu asik dengan dunia sendiri . Tapi tidak untuk kisah cinta kenie, kenie yang bermasalah dengan kekasih nya itu sangat frustasi . Dia harus menjalani kisah cinta sebagai kekasih kedua, harus di sembunyikan dari orang-orang . Bertemu juga harus dengan sembunyi-sembunyi, sempat beberapa waktu dia ketahuan oleh kekasih pertama pacarnya. Karena di handphone nya ada foto kenie berselfie mesra dengan pacarnya, tapi yang namanya laki-laki punya jurus seribu alasan . Akhirnya dengan alasan-alasan palsu kekasih pertamanya pun percaya, aku sampai ikut sedih melihat kisah cinta sahabatku kenie . Sepulang kerja, aku mengajak dafan untuk ke kost kenie . Aku ingin menghibur kenie, agar dia tidak begitu frustasi . Aku dan defan membawakan satu kotak brownise untuk kenie, semoga dengan yang manis-manis ini mood nya kembali normal . Aku berangkat ke kost kenie dengan sepeda motor defan yang sangat classic , dengan vespa matic defan. Baru kali pertama aku di bonceng dengan vespa, biasanya defan tidak pernah membawa vespa ini untuk kerja. Dia sangat sayang kalo vespa nya harus di jemur di parkiran tempat kerja, karena aku mengajaknya ke kost kenie dia memutuskan untuk membawa vespa. Karena dia ingin aku di bonceng dengan scotter kesayangan nya itu, ah defan memang paling jago soalnya membuat pipiku merah . *** Akhirnya aku sampai di kost kenie, langsung saja ku suruh defan parkir motornya di teras kost kenie . Kenie tidak tahu kalau aku bersama defan akan ke kost nya, aku ingin memberikan nya kejutan . "Keniee....." Teriaaak ku sambil mengetok-ngetok pintu kost nya "Iyaaa sebentar." "Helooooo..." Ujar ku di ambang pintu dengan senyuman lebar "Eh kalian, ko ngga ngasih kabar dulu kalo mau main kesini?" "Sengaja mau ngasih kejutan aja,kaget ga?" Ujarku "Kaget lah, masa engga." Sambung defan di sebelahku "Hih apaan sih kalian." Ujar kenie "Lo kenapa deh, kaya bingung gitu." tanyaku "Engga, ada temen gua di dalem si nina. Dia mau nginep disini katanya." jelas kenie "Yah, terus gimana dong?" tanyaku "Gapapa, temen gua di kamar kok. Udah ayo masuk sini, ayo masuuukkkk." Ujar nya sambil menarik tangan ku Akhirnya aku dan defan berada di ruang depan kost kenie, yang hanya tiga sekat itu . Teman nya si nina itu berada di sekat kedua , aku dan defan seperti kikuk rasanya . Tidak nyaman, karena kurang leluasa untuk mengobrol . "Ken, dia kapan datang?" tanyaku "Barusan aja, beda 10 menit sama kalian. Kalo tau kalian mau kesini mah gua gak bakalan terima tamu dulu." ujarnya "Ya engga gitu juga kali ken, tumben banget ada yang main ke kost an lu." "Gue juga kaget, tiba-tiba di telfon katanya mau nginep. Lagi ada masalah sama pacarnya katanya sih." "Oh gitu, eh lu ngomongin ntar kedengeran orangnya." "Orangnya lagi mandi kok." Defan hanya diam dan menyimak sambil memainkan handphonenya. Kasian banget pacarku di cuekin gini, aku mendekatkan diri ke defan . "Serius amat main hp nya bang." ujarku "Kalian lagi cerita kan , yaudah lanjutin aja. Aku mah nyimak aja, lagian aku mau nimbrung juga ngga ngerti ngomongin apaan." jawabnya "Ehiya, belom beli minum. Bentar gua ke warung dulu." ujar kenie "Gausah repot-repot kenie, keluarin aja yang ada." Canda defan Kenie pun pergi ke warung untuk membelikan camilan . Sisa aku dan defan di ruang depan , aku pun masih tidak menyangka kalau defan mau di ajak ke kost kenie . Karena setau ku defan sangat pemalu , seperti kejadian di toko oleh-oleh saat pulang dari puncak kemarin . "Kamu mau beli apa?" "Aku mau beli roti unyil aja deh." "Oh yaudah sana milih mau rasa apa." "Kamu ga beli?" "Ini mau, kan gantian atuh kamu dulu milih." Dan kami pun saling tatap satu sama lain dengan senyum malu-malu . "Eh bentar deh, aku kaya nya mau ini. Ikat rambut nya lucu ya, coba pilihin bagusan mana." "Itu mah di abang-abang tukang jepit yang keliling juga banyak." "Ini tapi lucu, aku mau yang pink aja deh satu." Sesampai di kasir.. "Ini di gabung atau di pisah mba?" Aku dan defan hanya saling tatap satu sama lain.. "Di gabung aja mba." Ujar defan Akhirnya semua belanjaan ku dan kenie di bayar oleh defan.. dengan malu-malu aku mengucapkan terima kasih padanya.. "Nih di minum dulu, ko pada diem-dieman sih . Ngobrol apa." Ujar kenie yang seketika membuat lamunan ku buyar "Ohiya ngobrol dong def." ujarku sambil menyenggol kaki defan "Gimana di tempat kerjaan kalian ada loker ga? Gua pengen kerja nih , gara-gara covid kan jadi di liburin gua." "Kaya nya sih belom ada ken." jawab defan "Kalo ada kabarin ya, ini nih pada di minum napa udah gua beliin juga." tutur kenie "Iya, nih diminum ya." ujar defan sambil memberikan satu minuman dingin kepadaku yang sudah dia buka "Ohiya sampe lupa, ini kita juga bawain brownise buat lu ken." ujar ku memberikan kotak brownise . "Dih ngapain repot-repot segala, masa tamu yang bawa in makanan." "Ya gapapa, tamu mandiri dong kita mah." ucapku "Yaudah nih buka, makan bareng-bareng aja." Sambung kenie sambil membuka brownise nya Defan pun mulai kode mengajak pulang, karena hari sudah malam . Tidak terasa kami dari sore bertamu di kost kenie "Ken, udah malem kaya nya gua ama defan mau balik nih. Lagian gak enak sama temen lu yang di dalem di kacangin." Ujarku "Gapapa dia kayanya udah tidur juga, yaudah atuh mau balik mah. Besok masih kerja kan ya." jawab kenie "Iya masih, takut kesiangan." ujarku Akhirnya aku dan defan berpamitan pulang pada kenie dan meninggalkan kost nya. Di perjalanan aku banyak sekali berbicang dengan defan, tentang masalah-masalah di kerjaan tentang masalah kenie . "Kita jadi kemaleman ya pulangnya, kamu nanti di cariin orang rumah gak?" tanya defan "Engga kok, kan aku bilang mau pergi ke tempat kenie." "Terus sampe malem gini?" "Iya mama aku udah percaya, aku kan emang sering main ke tempat kenie" "Kamu sama mantan kamu suka main keluar kaya gini?" "Ngga sih jarang." "Tapi pernah kan?" "Iya, kamu juga pernah kan." "Ohhh...pernah." "Dih kenapa jadi bahas mantan gitu." "Gapapa aku cuma nanya aja." "Aku seneng deh kamu mau diajak main ke kostnya kenie." "Kenapa seneng?" "Iya seneng aja, emang ga boleh?" "Boleh kok." Defan menarik tangan ku untuk berpegangan di pinggangnya, menarik tangan satu nya lagi untuk mengaitkan nya . Ah defan ini bisa saja , bilang aja minta di peluk batinku . Sepanjang jalan defan memegang tangan ku, menggengamnya dengan erat. Sambil banyak bercerita tentang kami saat-saat pertama kali bertemu, aku pun masih dengan posisi memeluknya dari jok belakang. Defan hanya menggunakan satu tangan nya untuk mengendarai sepeda motornya, kami tidak perduli dengan pengendara lain nya di jalan raya tersebut . Kami punya dunia sendiri, larut di dalam nya . Semua portal yang menuju jalan rumah ku ternyata sudah ditutup semua karena sudah larut malam, akhirnya kami pun memutar arah kembali lewat jalan lain . "Yah di tutup juga." ujar defan "Yaudah balik lagi lewat jalan depan." tutur ku "Balik lagi dong." "Iya balik lagi, emang kenapa sih. Jalan-jalan malem, akhirnya waktu sama kamu nya jadi lebih lama. Kamu gak seneng ya?" "Kok gitu?" "Itu gak jawab" "Kamu salah ngomong nya, harusnya Kamu juga seneng kan." sambil meraih tangan ku dan di taruh di dada nya Seketika aku pun langsung malu dan menenggelamkan muka ku di balik punggung defan. "Berarti semesta masih nyuruh kita buat abisin waktu bareng." "Apaan sih bawa-bawa semesta, mau jadi anak indie ya pak." ujar ku sambil terkikik "Kan sama pacar harus romantis." "Bisa bisaaa." jawabku yang tidak menyangka kalo defan bisa seperti ini Rasanya aku ingin sekali menghentikan waktu di menit ini, aku tidak ingin cepat-cepat sampai rumah . Sesampainya di gerbang rumah, aku pun turun dari motor defan. Kami saling tatap, defan pun mematikan motor nya dan mebuka helm nya . "Ngapain ko ga langsung pulang?" "Gapapa, mau liat kamu masuk rumah aja." "Kalo aku gamau masuk rumah gimana" "Kenapa gamau masuk?" "Yaudah kalo gitu aku pulang aja deh." "Dih ko gitu, nanti dulu 5 menit lagi." "Udah malem ini, udah sana masuk." Sambil membalik badan ku dan mendorong ku kecil ke arah gerbang "Masih kangen ih, 5 menit lagi." sambil menujuk jarum jam di tanganku "Oke deh 5 menit lagi ya." "Nah gitu dong." "Banyak nyamuk ih disini mah." "Tuhkan kamu mah, cuma 5 menit aja gitu banget." ujarku pura-pura ngambek dan membalikan badan ku "Hey apaan sih, orang aku cuma bilang banyak nyamuk doang masa ngambek sih." tuturnya sambil menarik-narik swetterku "iya banyak nyamuk yaudah sana pulang aja." sambil menyalahkan motornya "Beneran nih aku disuruh pulang?" "Iya pulang aja, udah malem kan." "Uchhh udah dong jangan ngambek, bibirnya manyun gini." sambil menarik bibir ku yang manyun , defan juga mematikan motornya . "ih apaan sih, ga lucu . Udah sana kalo mau pulang mah." ujar ku sambil membalikkan badan , membelakangi defan "Baru tadi baik-baik aja abis muter-muter jalanan, masa pulangnya ngambek gini. Sini-sini 5 menit lagi kan ya." Ujarnya sambil memelukku dari belakang "Masih kangen ko aku juga, malahan betah gak mau pulang." Sambung nya berbisik di telinga kanan ku Rasa nya aku seperti anak kecil malam ini, yang merajuk saat tidak di penuhi ke inginan nya. Aku pun hanya terdiam saat defan memelukku dari belakang . "Jadi masih ngambek nih." Ujarnya sambil menoleh ke arah ku dan memelukku dengan gemash seperti memeluk boneka . "Hey jawab dong kalo di tanya tuh." sambil merapatkan kepala nya di bahu ku "Ngga kok, aku ngga ngambek def. Udah lepasin ntar kalo ada orang lewat di kira macem-macem lagi." Pintaku Defan melepaskan pelukan nya, tapi dia memutar badanku menghadapnya. Seketika wajah kami bertemu dengan jarak yang sangat dekat , hanya berjarak 5 cm saja . Tangan defan masih memeluk pinggangku, dan mata kami saling bertatapan . Cup! Defan mencium ku, walaupun dia masih menggunakan masker sangat terasa bibir nya menyentuh pipi ku. Aku pun malu sampai menundukkan wajahku yang merah padam itu, rasanya aku ingin lari dari hadapan defan sekarang juga . "Kenapa nunduk gitu?" "Gapapa, udah sana kamu pulang. Udah malem ini, katanya mau pulang." Ujarku yang masih terus menunduk "Coba aku mau lihat muka pacar aku dulu." Sambil mengangkat dagu ku agar aku melihatnya "Muka kamu merah gitu kenapa?" "Ih defan apaan sih kamu, aku malu." jawabku sambil menenggelamkan wajahku di dada defan Defan hanya tertawa kecil melihat aku yang salting karena ulahnya itu, defan mengeratkan pelukan nya padaku . Tanpa sadar aku pun memeluk defan, rasanya tenang sekali . Ada kedamaian dalam pelukan ini, tangan defan mengusap-usap kepalaku dan yang satu nya lagi masih memeluk tubuh ku . "Pacarku yang menggemashkan, jangan ngambek-ngambekan lagi ya." Sambil mengusap-usap kepalaku "Iyaa siap pacar." jawabku malu-malu di dada defan "Mana sini mau lihat muka pacar aku yang udah engga ngambek lagi." sambungnya sambil melepas pelukan nya dan melihat wajahku Untung saja wajahku sudah tidak memerah seperti awal tadi, defan memang suka sekali menggodaku begini. "Nah gitu dong, kalo gini kan tambah cantik." sambil mencubit hidungku gemash "Jadi aku boleh pulang dong ya sekarang." sambungnya sambil menatapku "Gaboleh, 5 menit lagi def.." ujarku manja dan menaruh kepala ku di dada defan "Dari tadi udah lebih dari 5 menit sayang, lihat nih udah setengah jam." jawabnya sambil melihatkan jam yang ada di tangan ku "Tadi kan 5 menitnya kamu ngajakin ribut dulu." "Iya oke 5 menit ya." ujar nya yang tidak mau berdebat dengan ku lagi, manis nya defan mau mengalah seperti ini . Aku yang terus berada di dada defan mendengarkan detak jantungnya yang tidak karuan, defan deg-degan? batinku "Def....." "Iya sayang." ujar defan yang juga memelukku "Kamu jantungan ya?" tanyaku Defan yang terkejut langsung melepaskan pelukkan nya "Enggaa... emang kenapa?" "Itu aku denger jantung kamu detaknya kenceng banget." "Iya kalo ga berdetak aku mati dong." "Ohiya ya." ujarku sambil terkikik "udah ya sayang, aku pulang. Udah malem gak enak kalo di lihat orang dari tadi kita di sini udah hampir sejam." "Yaudah sana pulang." "Jadi aku di usir nih?" "Kan tadi kamu mau pulang, yaudah sana pulang." "Yaudah sana pulang." ujarku lagi Tapi defan malah menatapku dalam dan kembali menciumku lagi, kali ini bukan hanya di pipi tapi semua wajahku di cium nya. Aku hanya mematung di buatnya , aku normal kan kembali perasaanku agar defan tidak melihat aku yang sangat salting ini. Walaupun ciuman tadi terhalang oleh masker yang defan pakai, rasanya bibir defan masih terasa di setiap sudut wajahku . "Yaudah pulang gih." ujarku Defan menarikku sangat dekat dengan wajahnya, dan dia membuka masker nya. Kemudian.. Cup! Dia mencium bibir ku, sekarang tanpa sekat sama sekali. Dia melumat bibirku dengan lembut, aku tidak tau bagaimana cara membalasnya . Tapi sepertinya defan dengan perlahan menuntun ku mengikutinya, aku pun terbawa oleh permainan defan yang begitu lembut sampai kami kehabisan nafas dan melepaskan ciuman kami . Kami pun tersenyum satu sama lain, dan saling memeluk, rasanya seperti dua orang yang sedang di mabuk cinta .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD