Ma, Pa? aku salah apa? -Ghe

2069 Words

Jakarta, 2011

Ghea kecil menangis di sudut ruangan rumah, ya dalam keluarga kaya ini mereka punya semacam ruangan kecil di bawah tangga yang di isi dengan hiasan piano mewah, bukan hanya hiasan tetapi mama ghea pecinta musik, hal itu menjadi dasar utama kenapa ada piano yang berukiran yunani kuno di sudut rumah. Disini, ghea menutup kedua telinga dengan tangan mungilnya sembari menggeleng-gelengkan kepala mengikuti irama suara keras di balik pintu kamar utama keluarga Aira, keributan yang terjadi membuat nya takut terlebih ia baru saja berduka sepulang dari pemakaman kakak satu-satunya yang amat sangat ia cintai. Tidak ada yang menghibur atau menenangkan, papa dan mama nya malah sibuk salah-salahan dan mempertahankan ego mereka masing-masing. Dia hanyalah anak yang baru saja berulang tahun ke - 9, tidak mengerti apa-apa dan juga mengalami shock trauma kehilangan kakak satu-satunya tepat di depan matanya, harusnya orang terdekat merangkul alih-alih mendengarkan perdebatan dengan suara yang keras. Namun perasaan anak ini tak pernah mereka pikirkan, mereka hanya fokus pada keegoisan dan tak mau kalah satu sama lain.

Tubuh ringkihnya mengkerut ke punggung sofa, dengan mata sembab dan bibir bergetar kian terisak lirih. Mengingat gorya teman terbaik yang ia punya di timbun di tanah membuat tangis ghea makin menjadi-jadi. Dia sedih tidak bisa bertemu, bahkan menyentuh kakak nya lagi.

Tidak ada lagi yang akan membacakan cerita sebelum tidur, tidak ada lagi yang mengajari nya bersepeda, karena pada hari ini sampai seterusnya gorya memutusakan untuk tinggal di surga tanpa membawa ghea ikut serta. Kecelakaan besar yg baru saja mereka alami adalah hal terakhir kenangan ghea bersama kakak nya.

Dia tidak tau harus apa selain menangis, bingung dgn keadaan, terlebih pertengkaran antara mama dan papa nya membuat ghea takut untuk menampakkan diri, perutnya lapar tetapi tidak berani untuk sekedar meminta makan kepada kedua orangtuanya.

***

“ ini semua salah kamu,! Kalo saja kamu bisa lebih sabar untuk tidak mengangkat telfon mungkin gorya tidak akan berakhir seperti ini!” Pekik gina kepada nattawin,.

Ibu dari 2 orang anak ini akrab di sapa dengan nyonya gina selaku komisaris di perusahaan milik dia dan sang suami, Aira Grup. Penamaan perusahaan dan merupakan nama besar keluarga kecil ini di ambil dari nama belakang pak nattawin yaitu nattawin Aira yg merupakan suami dari gina dan papa dari gorya dan ghea.

“Aku memang penyebab kecelakaan ini, tpi kamu sebagai ibu tidak pernah becus dalam mengurus mereka!, di banding memperhatikan safety anak-anak kamu lebih memilih sibuk dengan dandanan kamu yg ribet dan ngga jelas itu! Kalo gorya safety belt nya terpasang tidak mungkin dia bisa terlempar jauh dari titik kecelakaan dan terlindas mobil lain!” Kini nattawin membuka suara yang tidak kalah lantang nya dari gina.

“ becus kata kamu? emang kamu tau apa urusan rumah? Sekarang aku tanya kamu tau apa urusan rumah?”

“Aku kepala rumah tangga, aku tidak perlu tau bagaimana urusan rumah dan lagipula itu tugas kamu!”

“Ohh iya, kamu kepala rumah tangga yang gagal untuk menghidupi kami, kamu lupa siapa yg bantu kamu sampai sesukses ini? Cih!” dengus gina meremehkan.

Dengan puncak amarah dan sisa kesedihan yg mendalam kedua suami istri ini saling menyalahkan atas insiden yang baru menimpa putri pertama mereka, bagaimana tidak, gorya yang lebih tua 7 tahun dibanding ghea merupakan anak impian semua keluarga, dengan hadirnya gorya dalam hidup mereka membuat nama keluarga Aira semakin gemilang dan terhormat, saking bangga nya dengan gorya, nattawin dan gina sudah tidak peduli lagi jalan apa yang di tempuh ghea dalam hidup nya, bagi mereka gorya sudah lebih dari cukup tanpa harus memperhatikan bagaimana ghea kedepannya, terserah saja anak itu mau hidup bagaimana asal kan dia tidak membuat nama besar keluarga ini tercoreng saja.

***

Di tengah kesedihan yg menyelimuti ghea, tiba-tiba suara pintu yg terbuka mengambil alih perhatiannya, ghea lantas bangun mencoba menghentikan isakan disamping matanya yg buram, di tatap nya dalam dengan sangat hati-hati siapakah gerangan di balik pintu yang terbuka?

“Ghe? Ini pie coklat aku bawain buat kamu” suara lembut dari sosok anak lelaki yang usia nya terpaut hanya 2 tahun saja dari ghea sukses mengantarkan rasa tenang.

Na Jaemin, anak laki-laki semata wayang Nathandinata Aira ini mampu mengusir rasa takut dan kalut yg dirasakan ghea.

“Kak?” Sapa ghea dengan nada yg sgt tak karuan

“Iya ghe,” tatap jaemin membalas sapaan ghea yg keadaannya sudah tidak tergambar sebagai putri bungsu keluarga ternama di kota ini.

“ tadi papa harus langsung pulang, jadinya aku ikut deh. Kamu ngga papa kan?”

Tak bergeming, ghea hanya diam mematung sambil memainkan jari-jemari yang penuh dengan luka-luka akibat serpihan kaca yg mulai mengering.

Tanpa bertanya pasti, nana sapaan akrab dari Na Jaemin ini pun langsung menuntun ghea pelan untuk keluar dari rumah yg masih menyisakan luka yg mungkin tak tau kapan redanya.

***

“Kamu msh blm bisa naik sepeda kan ghe?”

Satu pertanyaan yg keluar dari mulut tak berdosa itu pun membuat tangis ghea pecah dan menjadi-jadi

“Huaaa, kakak, aku blm bisa naik sepeda, siapa yg bakalan ngajarin aku, aku ngga mau di antar jemput pak bot, aku mau bebas!”

“Eh iya ghe, maaf maaf, aku lupa klo gorya udh ngga ada”

Kalian berharap apa dgn anak usia 11 tahun? Pada kenyataan nya mereka hanyalah bocah!

Nana yg msh merasa bersalah karena sudah membuka obrolan yg tidak pantas untuk di mulai dgn seorang adik yg baru saja kehilangan kakak nya itu., tapi mau bagaimana lagi? Mulut akan selalu cepat memulai dibandingkan otak bukan?

“Ghe, kita udh sampai yok turun”

Ghea msh tetap diam dan mengikuti intruski dari nana tanpa adanya penolakan sedikitpun,

“Kalo disini aman, bnyak makanan dan seru lagi!”

“Hm, seru apanya kak? hanya banyak barang rongsokan dan alat-alat aneh disini”

“Ghe, ini bukan rongsokan tapi ini barang2 yg harus di perbaiki, dan ini bukan alat-alat aneh ini itu bisa bikin barang2 lama jadi baru lagi!”

Tebak nana bawa ghea kemana? Wkwkw barang rongsokan yg disebut ghea itu adalah barang2 yg sudah rusak dan kumuh sepeti sepeda rusak,mobil-mobilan rusak dan semacam nya dan yah alat-alat aneh itu bukan aneh beneran hanya saja hal itu terbilang tidak familiar di mata ghea semua alat-alat perkakas lengkap di garasi, iya garasi mobil, haha nana bawa ghea kesana karena garasi mobil merupakan tempat ternyaman untuk nana berkutat dengan hobi tak biasanya, bisa dibilang nana tertarik dengan mesin, dan listrik terhitung sudah beberapa kali dia memenangkan kejuaraan robotik untuk anak sekolah dasar tingkat nasional, karena hobi dia yg aneh inilah nana tampak sangat membosankan di mata ghea.

“Tapi kak, kenapa hal ini begitu menarik bagi kakak, papa, om nathan, dan kak gorya? aku sampai pusing klo semua guru-guru les kak gorya datang kerumah dan setiap hari membuat kekacauan di ruang tengah” tanya ghea dengan suara yg mulai tak bergetar

“Haha, itu bukan kekacauan ghe itu namanya testing setiap karya yg di cipatakan kak gorya akan di nilai sama guru nya”

“Ya sama aja, terlalu banyak alat-alat aneh dan melukai tangan kak gorya, ghea ngga suka!”

“ ya udh sini deh,” nana yg tidak mau memperpanjang bahasan yg akn selalu di bantah ghea pun mengajak ghea untuk duduk dan langsung menjentikkan jarinya,

Walaupun keluarga mereka ahli mesin dan robotik tetapi jiwa seni tetap mengalir dalam darah mereka, nana yg di anugrahi suara emas sedari kecil yg mungkin ia dapatkan dari mendiang ibunya yg sudah wafat beberapa tahun lalu karena mengidap kanker pita suara. Tetapi tak mau bernasib na’as seperti ibunya nana lbih memilih menyimpan bakat lainnya agar tak di ketahui banyak orang, bukan tanpa alasan nana hanya takut dengan semua ingatan tentang ibunya, yg harus meregang nyawa karena memiliki suara yg indah bak kicauan burung surga.

***

Ghea memang orang yg susah di tebak, sedari dulu dia hanya suka menyendiri dan teman nya hanyalah kakaknya seorang. Akan sulit untuk masuk kedunia ghea karena anak itu tak suka bersosialiasi seperti anak- anak kebanyakan.

Pukul 19.48

“Ghe? Kamu udh kenyang kan? gimana kalo kita pulang?

“Hm, iya kak” titah nana mampu membuat ghea tersadar bahwa matahari telah turun dan kini saatnya bintang memancarkan pesona yg tak kalah hebatnya dari sang penguasa alam.

***

“Ghea pulang, ma?pa? Maaf ghea bikin kalian khawatir!” Seru ghea yg tampak berlari sedari pintu gerbang rumahnya terbuka

“Oh kamu sudah pulang” jawab papa nya ketus tanpa ingin bertanya lebih dari ini

“ pa?” Wajah yg sudah mulai cerah pun terukir ulang ke waktu pagi, “papa ngga mau nanyain aku dari mana? Kan aku udh hilang sejak sore tapi papa ngga penasaran emng aku kemana? “ batin ghea yg tak mendapati rasa khawatir sedikit pun dari pria berkacamata itu.

“Ya udh ghe, kamu masuk sana langsung istirahat, karena kamu udh jdi anak baik hari ini besok aku bakalan anter kamu ke tempat kak gorya” ucap nana percaya diri

“Hah? Beneran kak? Beneran? Kita bisa kesana,? Aaa senang sekali senang sekalii” Ghea tak tau harus bereaksi seperti apa, kurang lebih setengah hari waktu yg sudah mereka habiskan bersama membuat ghea mulai lupa dgn kesedihan yg ia alami, bagaimana tidak nana yg sedikit memiliki kemiripan dgn gorya sukses membuat ghea tenang dan semua tindakan yg nana lakukan membuat ghea sadar bahwa hidupnya akan baik-baik saja.

***

Seminggu berlalu,

Nana yg akan datang setiap hari kerumah sepulang sekolah menepati janjinya untuk mengajari ghea bersepeda, garis keturunan itu memang kental siapa sangka ghea yg selama ini tidak terlalu di perhatikan bisa mudah mengerti setiap langkah pasti yg di ajarkan nana kepadanya. Yap, cukup dalam waktu seminggu dan eklusif sekarang ghea sudah bisa bersepeda dari rumah nya menuju rumah nana yah walaupun jaraknya hanya 2 meter ?, setidaknya itu sudah disebut usaha bukan?.

***

“Pa?kenapa jemput nana tiba2?” tanya sang anak bingung dengan kenyataan yg sedang terjadi, ia melihat ada 2 koper yg sudah siap untuk di bawa dan ia harus keluar sekolah sebelum waktunya.

“Na, papa di pindah tugaskan ke amrik beberapa cabang disana butuh papa, kakek udh ngga bisa kesana dan kakek ngutus papa untuk lanjutin disana” jawab nathan hati-hati

“Tapi pa, gimana dgn sekolah nana? Sebentar lagi nana lulus dan harus daftar ke sekolah baru”

“Nana disini aja yah pa,” pinta anak semata wayang nya

“Na, kamu tau kita cuma berdua. Kekuatan papa itu kamu dan kamu juga cuma punya papa, papa ngga mau ngelanggar janji sama mama kamu untuk ngga selalu ada di dekat kamu, sudah bnyak yg terjadi di keluarga besar kita, papa mohon, biarkan papa menjaga kamu dgn baik, nurut yah nak” suatu kalimat yg mampu menyentuh hati nana, yah anak laki-laki ini memang di besarkan dgn penuh cinta oleh kedua orangtuanya apalagi semenjak sepeninggal mamanya papa nana semakin protektif pada nana dan tidak akan membiarkan nana sendiri.

“Tapi pa, nana mau pamit sama ghea dulu” pinta nana dengan tanpa pengharapan yg langsung di iyakan dgn satu anggukan oleh papa nya.

***

“Ghe?gheaaaaa”

“Apa sih kak, ngga ush teriak2 juga kan kamar aku di lantai bawah”

“Ghe? Aku minta maaf aku ngga bisa nemanin kamu lagi,tapi aku janji aku bakalan kirim pesan ke kamu dan dengarin cerita2 kamu tentang apa tu? Lalat yah?

“Kupu-kupu kak, bukan lalat!” Protes ghea yg tidak senang dgn pernyataan nana.

“Eh iya itulah pokoknya, aku bakalan pergi tapi kamu tenang aja kan di kamar ada komputer nanti kita msh bisa bertukar pesan dan aku ngga bakalan biarin kamu sendiri”

Tanpa aba-aba, air mata berhasil lolos dari sudut mata kiri ghea. Bukan tanpa alasan, reaksi berlebihan sudah tak bisa ghea tampakkan ia tak mengerti kenapa semua orang harus pergi? Terbilang sudah lama semenjak kakaknya tiada mama dan papanya jadi jarang pulang kerumah dan sibuk dengan urusan masing-masing, satu-satu pilihan yg masih ia percaya adalah menghabiskan waktu dgn menguntit nana, iya menguntit karena nana selalu sibuk drngan urusan2 robotik dia jdi ghea hnya bisa melihat dari jauh,.

Tapi hal ini tak masalah bagi ghea, ia sudah terbiasa melihat kakaknya melakukan kegiatan yg sama dengan nana, setidaknya hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi ghea.

“Ghe, kamu baik-baik. Kakak pergi dulu yah”

“Kak nana, terimakasih. ghea bakalan selalu nunggu waktu kakak luang, janji hubungi yah?”

“Iyah, sepeda kakak buat kamu aja jdinya ada 2 sepeda deh” ucap nana lembut sembari melihat gadis kecil di depan nya yg sebentar lagi sudah tak terlihat

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd