ARIAN WIDJAJA “Lo juga mau bilang kalau cidera gue adalah rencana lo sama saudara lo yang pengecut itu? Juga perlakuan lo ke gue selama ini, sampai gue minta lo jadi pacar gue, itu rencana lo? Elo berhasil, Mel!” “Enggak, nggak kayak gitu!” jawab Melati. Air mata udah siap meluncur dari matanya yang sebening permata. Gara-gara setan k*****t itu. Gue bersumpah hampir ngabisin k*****t itu saat itu juga kalau aja Melati nggak nahan gue dengan pelukannya. Dari omongannya yang kelihatan nggak mikirn perasaan ceweknya sama sekali, gue sama sekali nggak ngerti kenapa Melati masih segitu sayangnya sama cowok k*****t itu. “Terus? Oh…, atau lo mau bilang kalau lo tahu soal serangan ke Mandala, atau waktu lo dijadiin umpan sama mereka buat ngejebak

