Chapter 2

1422 Words
Aku mengetuk-ngetukkan pulpen ke atas mejaku sambil menatap lantai kelasku dengan pandangan nanar. Saat ini aku berada di ruang kelas, menanti dosen kelas pertamaku datang. Suara bising dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang mengobrol di ruangan kelas ini, sama sekali tidak menggangguku. Pikiranku tidak di ruangan ini, semalaman aku sulit tidur memikirkan bahasan makan malam kami dengan Kakek Steffan Arturo. Keluarga Arturo adalah rekan bisnis keluarga Pamanku, telah lama keluarga itu menjadi salah satu investor sekaligus partner di perusahaan Paman Abram. Cucunya yang telah lama berada di Rusia telah kembali ke kota Clifford, itulah yang menyebabkan kunjungan Kakek Steffan semalam. Sekitar 16 tahun lalu, Kakek Steffan dan Kakekku, Robert Bennet telah saling mengikat janji untuk menjodohkan aku dan Zhen, cucu kedua dari keluarga Arturo. Well.. jujur aku lupa dengan si Zhen ini, walau kakek Steffan bilang kami sering bermain bersama waktu kecil dulu, sebelum akhirnya Zhen bersama kakaknya Dante serta kedua orang tua mereka pergi ke Rusia 16 tahun lalu. Seharusnya lelaki yang bernama Zhen itu datang semalam bersama Kakek Steffan, namun karena ada urusan bisnis di perusahaannya menyebabkan dia tidak bisa ikut. “Ray.. Rayne Bennet!” seruan kesal Lily menyadarkanku. Aku menoleh ke arahnya, entah sudah berapa kali sahabatku ini memanggil. “Iiih.. jawab dong..” ucap gadis cantik yang bernama lengkap Liliana Everly itu, aku mengenalnya sejak masuk bangku SMA, dan demi bisa tetap bersama denganku dia mengikuti aku masuk ke universitas serta jurusan yang sama. “Hmm..” sahutku kalem “Kebiasaan banget sih bersikap dingin gitu. Untung aku sudah mengenalmu cukup lama, kalau ngga pasti sudah bertengkar denganmu.” Aku hanya diam tak menjawab, sudah biasa aku mendengar ucapan itu dari berbagai orang yang aku kenal selama 5 tahun terakhir ini. Jika dibilang dingin, mungkin ngga juga ya, aku hanya tidak menginginkan apapun, tidak memiliki harapan atau mimpi apapun, tidak ada motivasi apapun dan aku mulai apatis dengan apa yang terjadi di kehidupanku. Hidupku terasa hampa sejak tidak ada ayah dan ibu. Tidak ada yang ingin aku lakukan tanpa ada mereka di sisiku. Bahkan saat ini ketika mengingat mereka, tidak dapat lagi membuatku menangis karena kerinduan atau merasa kesepian, atau tertawa karena mengenang moment bahagia, ataupun marah karena sesuatu hal yang membuatku tidak nyaman. Aku hanya menjalani kehidupanku begitu saja, menjalaninya hanya karena aku masih hidup.. ya itu saja. “Kau ingatkan, hari ini kita akan pergi ke Betinghams?” lanjut Lily dengan semangat menyebutkan salah satu Mall terbesar di kota Clifford ini. “Yup..” sebenarnya aku lupa akan janji ini “Tapi… sepertinya aku tidak bisa ikut, Bibi Lucia pasti tidak akan mengijinkan.” lanjutku tenang. “Oooh..ayolah Ray! Sudah saatnya kita menghabiskan waktu bersama.” Jika aku ingat-ingat lagi, mungkin terakhir aku pergi dengan Lily adalah ketika aku berada di SMA kelas 2, yeah.. sebelum kejadian kecelakaan itu. “Hampir setiap hari kita menghabiskan waktu bersama kan?” sahutku. “Iish.. ini sih namanya belajar bersama ya, hanya karena kita satu kelas saja makanya kita ketemu terus tiap hari.” ucap Lily sambil merenggut “lagi pula lihatlah pakaianmu ini.. dalam satu minggu ini saja aku sudah melihatmu menggunakan dua kali loh! Itu karena kau hampir tidak membeli pakaian sama sekali dalam 5 tahun terakhir ini. Jadi ayolah bersenang-senang denganku, kita bisa membeli beberapa pakaian, membeli camilan, makan bersama, atau sekedar ngopi-ngopi cantik..mau ya. Pleaseee..” lanjut Lily. “Eum.. aku akan pikirkan dulu..” “Aku yang akan meminta ijin kepada Bibi Lucia, lagi pula selama ini dia selalu bersikap manis kepadaku.” Yeah tentu saja, keluarga Everly adalah salah satu keluarga terkaya di Clifford dan tentunya Liliana Everly dapat menjadi incaran menantu yang terbaik untuk Andrei Bennet. “Hmm.. terserah kau saja.” sahutku. Lily sudah akan mengomentari sikap masa bodohku, namun akhirnya dia urungkan karena professor sudah memasuki ruang kelasku. === “Jadi yang namanya Zhen itu seperti apa?” tanya Lily dengan wajah riang, kedua tangannya sibuk memilah beberapa pakaian walaupun pandangannya tidak lepas dariku. Aku sudah menceritakan kejadian semalam kepada Lily, di sepanjang perjalanan kami dari kampus ke Betinghams. “Entahlah.. aku sudah lupa tentang dia. Lagi pula aku masih sangat kecil waktu itu.” Sahutku cuek, sambil menyilangkan tanganku tanpa keinginan sama sekali untuk menyentuh gaun-gaun indah ataupun pakaian terupdate yang ada di salah satu butik di Mall ini. “Lalu bagaimana perasaanmu saat ini?” “Biasa saja” “Hah.. ada rasa kesel karena di jodohin ga?” Aku menggeleng. “Apa malah seneng, siapa tahu yang namanya Zhen itu tampan” “Ngga juga” “Isssh.. cuek banget sih. Sudah sempet cari tahu yang namanya Zhen kaya gimana?” Aku menggeleng. “Ya Ampun.. bener-bener deh kau ini, Ray. Ngga ada rasa kepo-keponya gitu. Hhhh… Ya udah, habis ini anterin aku ke toko perhiasan di area depan sana ya, aku mau membeli kado buat mamiku. Lalu habis itu kita bisa ngopi-ngopi cantik sambil browsing dan kepoin yang namanya Zhen itu di medsos.” “Ih..ngapain sih pake stalking segala. Ngga usah kali, Ly. Entar juga di kenalin kalau dia uda ada waktu.” “Biarin.. kan aku yang stalking, kamu mah dapat laporan dari aku aja” ucap Lily centil. Aku tersenyum mendengar ucapan Lily, yah.. setidaknya dengan sahabatku yang satu ini aku bisa sedikit mengendurkan perasaan kehampaanku. Setelah memilih beberapa pakaian untuk Lily dan 2 set pakaian yang dipaksa Lily belikan untukku, kami pun berjalan menuju toko perhiasan yang ada di area depan Mall. Toko perhiasan yang bertabur berlian hampir di setiap sudut toko ini. Aku bukan penggemar perhiasan, sehingga tidak merasa silau dengan ratusan perhiasannya yang ada di toko ini. Lily sibuk berbicara dengan salah satu pelayan toko tentang perhiasan yang ingin dibeli, sementara aku memilih berdiri bersandar di tembok salah satu pojok toko menunggu dengan tenang. Diam dan menikmati ketenangan sudah menjadi hobi baruku selama 5 tahun terakhir ini. Jadi aku sama sekali tidak keberatan menunggu Lily yang sibuk mencoba beberapa perhiasan. “AAAAAAA…..” Teriakan ketakutan salah seorang pelayan wanita menyadarkan aku dari lamunan. Aku menoleh ke arah datangnya suara, beberapa orang berlarian sambil sesekali berteriak ketakutan dan menjauh dari bagian depan menuju ke area tengah dan belakang toko. Tiga orang lelaki mengenakan topeng dan bersenjata berjalan dengan cepat, bahkan mendorong beberapa pengunjung agar bergerak mundur menuju area toko. Sementara dua orang lelaki bertopeng lainnya berdiam dia area depan seolah berjaga untuk memastikan tidak ada orang yang berani memasuki area toko. Untuk sepersekian detik aku hanya mematung terdiam, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi dan baru menyadari ternyata Lily sudah berdiri di sampingku dengan wajah ketakutan. “Apakah mereka adalah perampok, Ray?” Bisik Lily. Aku mengangguk “Mungkin..” bisikku. “Kalau mereka nekat membunuh kita gimana, Ray?” suara Lily mulai bergetar. Aku diam tidak menjawab. Di kepalaku sibuk dengan berbagai pertanyaan. Apa yang para lelaki bertopeng itu inginkan? Kenapa mereka bisa membawa senjata? Bukankah itu ilegal? Sejauh apa mereka akan bertindak? “Aku takut Ray..” bisik Lily masih dengan suara bergetar. “Tenanglah, Ly” ucapku berusaha menenangkan Lily dan diriku sendiri, walau sedikit cemas karena situasi seperti saat ini. “Heeei! Kalian berdua yang disana, cepat berkumpul di tengah!” Seru salah satu lelaki bertopeng kepada aku dan Lily. Berusaha bersikap tenang aku menggandeng Lily ke area tengah seperti yang diminta, di area tengah toko sudah ada sekitar 15 orang yang berjongkok dan menunduk ketakutan. Salah satu lelaki bertopeng itu memaksa manager toko untuk membuka lemari display berlian dan menginstruksikan hal mereka inginkan. Manager toko itu terlihat ketakutan dan menuruti permintaannya. Aku memperhatikan senapan yang dibawa oleh mereka, untuk memastikan apakah itu hanya sekedar mainan untuk menakuti saja atau real senapan. Para lelaki bertopeng itu menggunakan senapan laras pendek, yang panjangnya sekitar 16 inchi sepertinya sudah di modifikasi. Salah satu orang tersebut ada yang menyimpan pistol yang menggantung di pinggang. Seorang lelaki, yang aku tebak adalah seorang pengunjung nampak ketakutan dan mulai berteriak yang menyebabkan lelaki bertopeng yang menanganinya marah, lelaki itu menendangnya dan memukulnya dengan ujung senapan. “Hei..hentikan!” teriakku tanpa sadar karena tidak tega melihat orang itu di sakiti. Lelaki bertopeng itu beralih menatapku, dibalik topeng aku dapat merasakan serigai sinisnya, dan detik berikutnya mulai melangkah menghampiri kami. “Ray…” rintih Lily ketakutan. Harusnya aku pun merasa takut seperti yang Lily rasakan, namun entah kenapa sejak kejadian lima tahun itu perasaan takut akan kematian hilang. Mungkin seharusnya aku ikut mati saja bersama ayah dan ibu pada saat itu, pikiran buruk mulai menghampiriku. Aku dapat merasakan pegangan tangan Lily yang semakin erat ke lenganku ketika lelaki bertopeng itu terus berjalan semakin mendekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD