Perjalanan pulang dari klinik Dokter Aris diselimuti oleh keheningan yang aneh. SUV mewah itu melaju membelah kemacetan Jakarta yang mulai meredup, namun atmosfer di dalam kabin justru terasa semakin pekat dan menyesakkan. Suara thump-thump—detak jantung janin yang tadi bergema kuat di ruang periksa—seolah masih tertinggal, berdenyut di balik gendang telinga Nadine. Irama itu bukan lagi sekadar suara medis; itu adalah lonceng peringatan bahwa ia kini terikat selamanya dengan pria di sampingnya, jika memang janin itu adalah milik pria ini. Revan menyetir dengan rahang yang terkatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar pipinya menegang. Fokusnya pada jalanan tampak begitu absolut, seolah-olah ia sedang mencoba menghapus memori sesaat di klinik tadi—saat tangannya menggenggam era

