Bab 1: Satu Malam, Seribu Penyesalan
Lampu kristal raksasa di aula ballroom Hotel Grand Royale berputar lambat, membiaskan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan.
Malam ini adalah perayaan hari jadi ke-10 Perusahaan Varkas Group, sebuah kekaisaran bisnis yang bergerak di bidang teknologi dan properti.
Semua orang mengenakan pakaian terbaik mereka, wajah-wajah mereka tersembunyi di balik topeng-topeng elegan bermotif bulu, renda, hingga ukiran emas.
Namun, bagi Nadine, pesta ini bukan perayaan. Ini adalah neraka yang dibungkus kain satin.
"Nadine, di mana laporan proyek reklamasi yang kuminta? Aku butuh data itu sepuluh menit lagi di meja VIP. Dan pastikan gelas champagne-ku selalu terisi penuh dengan suhu tepat sepuluh derajat."
Suara bariton yang dingin itu terngiang-ngiang di telinga Nadine. Revan.
Bosnya.
Pria itu mungkin masih muda, tampan seperti dewa Yunani yang turun dari langit, tapi hatinya terbuat dari es dan tumpukan berkas kerja. Selama tiga tahun menjadi sekretaris pribadinya, Nadine merasa lebih seperti robot daripada manusia.
Nadine berdiri di sudut balkon, jauh dari keriuhan. Ia menatap gelas kristal di tangannya yang berisi cairan amber pekat—bukan champagne, tapi whisky murni yang ia ambil diam-diam dari bar. Ia meneguknya dalam sekali telan. Tenggorokannya terbakar, tapi hatinya terasa sedikit lebih lega.
"Dasar iblis perfeksionis," maki Nadine pelan, suaranya parau. "Dia pikir aku punya sepuluh tangan? Dia pikir aku tidak punya kehidupan? Revan sialan. Buat apa tampan, kalau kelakuannya menyebalkan!"
Nadine menuangkan gelas kedua. Lalu ketiga.
Kepalanya mulai berputar, namun keberanian yang selama ini terpendam justru bangkit.
Di balik topeng kucing hitamnya, matanya mulai sayu. Musik waltz di dalam sana terdengar seperti dengungan lebah.
Dunia seolah bergoyang.
Saat ia mencoba melangkah kembali ke dalam untuk mencari Revan dan melemparkan surat pengunduran diri imajiner ke wajahnya, tumit sepatu stiletto-nya tersangkut karpet bulu di ambang pintu balkon.
"Ah!!"
Nadine memejamkan mata, siap merasakan kerasnya lantai marmer. Namun, sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang lengan yang kokoh dan sekeras baja menangkap pinggangnya dengan sentakan yang kuat.
Tubuh Nadine tertarik ke belakang, menabrak sesuatu yang begitu keras dan hangat.
Sebuah d**a bidang yang terbungkus setelan tuksedo mahal.
Nadine mendongak dengan sisa kesadarannya yang kabur.
Pria itu mengenakan topeng serigala perak yang menutupi bagian atas wajahnya, namun aura d******i yang terpancar darinya begitu mengintimidasi.
Rahangnya tegas, dan bibirnya yang tipis tampak terkatup rapat, menciptakan kesan otoriter yang mutlak.
Namun, ada satu hal yang menyerang indra penciuman Nadine seketika: aroma maskulin yang begitu unik. Perpaduan antara vetiver yang membumi dan sandalwood yang hangat serta mewah.
Perpaduan aroma yang menenangkan sekaligus memabukkan.
"Kau mabuk, Nona," suara pria itu berat dan rendah, bergetar langsung di tengkuk Nadine, mengirimkan gelombang listrik yang aneh ke sekujur tubuhnya.
Nadine tertawa kecil, jemarinya yang lentik tanpa sadar mencengkeram lengan berotot pria itu di balik tuksedo mahalnya. "Aku tidak mabuk... Hanya.. sedang mengutuk bosku. Mau ikut?"
Pria bertopeng serigala itu tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia justru mencengkeram pinggang Nadine lebih posesif, lalu menuntunnya menuju lift pribadi dengan langkah yang sangat stabil dan penuh percaya diri.
Nadine dalam kondisi setengah tak sadar merasa seperti mangsa yang sedang dibawa masuk ke dalam sarang pemangsa, namun anehnya, di balik alkohol yang sudah menguasai setiap penjuru otaknya, ia justru merasa haus akan kehadiran pria ini, merasa aman dalam dekapan pria asing ini.
Ting.
Lift terbuka. Mereka masuk ke dalam kesunyian yang mencekam namun intim. Di dalam kotak besi yang sempit itu, aroma vetiver dan sandalwood itu semakin menguar, memenuhi paru-paru Nadine.
Tanpa Nadine bisa cegah, wajahnya mendekat ke ceruk leher pria itu, tempat dimana wangi itu paling jelas tercium.
Begitu pintu Presidential Suite tertutup dengan dentuman pelan, pria itu tidak membuang waktu.
Ia mendorong Nadine lembut ke arah pintu yang tertutup, mengurung tubuh mungil wanita itu di antara tubuh besarnya dan kayu pintu yang dingin.
Nadine perlahan menatap pria yang mengungkungnya dengan napas memburu. Napas hangat pria itu bertemu dengan napas hangat dari mulutnya, dan membuat udara terasa semakin panas.
"Kau tahu apa yang akan aku lakukan, Nona?" bisik pria itu, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Nadine.
Mata Nadine menatap dalam ke balik lubang topeng serigala itu. Ia tidak bisa melihat warna matanya dengan jelas, tapi ia bisa merasakan intensitas yang luar biasa.
Sebuah ketenangan intim yang hebat menyelimuti mereka.
Di saat itu, stres karena pekerjaan, makian Revan, dan semua beban hidup Nadine menguap begitu saja.
"Entahlah... Apapun boleh... Asal aku tidak bertemu iblis itu, malam ini..." racau Nadine asal, matanya berkilat di balik topeng kucingnya.
Pria itu mendengus rendah, suara yang terdengar hampir seperti geraman lapar. Tanpa peringatan, tangan pria itu bergerak perlahan, membelai pipi Nadine. Sentuhannya terasa seperti sengatan listrik.
Perlahan ia menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang menghancurkan. Bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang menuntut, penuh gairah, dan mendominasi. Lidahnya menyeruak masuk, menjelajahi rongga mulut Nadine dengan otoritas yang membuat lutut Nadine lemas seketika.
Nadine terengah, tangannya merayap ke belakang kepala pria itu, mencoba melepas topengnya, namun tangan pria itu dengan cepat menangkap kedua pergelangan tangan Nadine dan menguncinya di atas kepala hanya dengan satu tangan.
Dominasi pria ini benar-benar gila!
Nadine merasa gaun satin tipisnya ditarik paksa, mengekspos kulit mulusnya pada udara kamar yang dingin sebelum akhirnya disambut oleh panasnya telapak tangan pria itu. Sentuhan itu terasa membakar.
Setiap kali pria itu mencium lehernya, meninggalkan jejak merah yang dalam, Nadine hanya bisa mendesah pasrah.
Pria bertopeng serigala itu mengangkat tubuh Nadine dengan mudah, membawanya menuju ranjang berukuran king size.
Di bawah temaram lampu, pria itu menanggalkan pakaiannya dengan gerakan efisien, memperlihatkan otot-otot perut yang terpahat sempurna dan punggung yang lebar.
Saat kemudian tubuh mereka bersatu, dunia Nadine meledak.
Pria itu bergerak dengan ritme yang kuat dan tanpa ampun, seolah-olah ia sedang menaklukkan sesuatu yang memang menjadi miliknya sejak lama.
Nadine mencengkeram bahu kokoh pria itu, kuku-kukunya meninggalkan bekas di sana, sementara aroma vetiver dan sandalwood seolah meresap ke dalam pori-porinya.
Malam itu, dalam kegelapan yang intim, Nadine menyerahkan segalanya pada pria asing yang aroma tubuhnya akan menghantuinya selamanya.
..................................
Cahaya matahari yang menyelinap dari celah gorden raksasa memaksa Nadine membuka matanya. Kepalanya berdenyut hebat.
Nadine mengerang, mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Saat itulah ia menyadarinya.
Ia telanjang bulat.
Dan saat ia melihat ke cermin besar di samping tempat tidur, ia terkesiap.
Lehernya, bahunya, hingga dadanya dipenuhi jejak merah keunguan yang kontras dengan kulit putihnya.
"Sial..." bisiknya serak.
Nadine menoleh ke samping. Kosong.
Pria itu telah pergi.
Tanpa pesan, tanpa kartu nama. Hanya aroma sandalwood yang masih tersisa samar di bantal.
Nadine merasa terhina. Bagaimana bisa pria itu meninggalkannya begitu saja seolah dia hanya mainan satu malam?
"b******k!!"
..............................
Satu Bulan Kemudian.
"Nadine! Mana laporan proyeknya?! Kau melamun lagi?" Suara Revan menggelegar, membuat Nadine tersentak.
Nadine mendongak menatap Revan dengan wajah pucat.
Seminggu ini, ia tidak bisa mencium bau kopi tanpa merasa ingin muntah.
Dan pagi ini, ia merasa perutnya benar-benar bergejolak tak karuan.
Begitu Revan memalingkan wajah ke monitornya, Nadine bergegas ke toilet.
Di dalam bilik yang terkunci, dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan benda yang ia beli tadi pagi sekali dengan ketakutan.
Test pack.
Setelah memakainya, ia menatap hasil yang tertera di benda plastik kecil itu.
Dua garis merah. Jelas. Tegas. Nyata.
"f**k," bisik Nadine, menyandarkan kepalanya ke dinding toilet yang dingin. "Aku hamil. Dan bahkan tidak tahu siapa bapaknya..."
Rasa takut sempat melintas membanjirinya, namun hanya beberapa menit rasa takut itu digantikan oleh kemarahan yang membara.
Ia teringat bagaimana pria bertopeng itu meninggalkannya di hotel.
Sangat dingin dan pengecut.
"Jangan-jangan dia sudah beristri?!" Nadine memekik pelan, menutup mulutnya sendiri. "Atau dia p****************g?"
Nadine mengepalkan tangannya.
Ia tidak peduli seberapa pahit kenyataannya nanti, pria itu harus ditemukan.
Pria itu harus bertanggung jawab atas nyawa yang kini tumbuh di rahimnya!
Satu-satunya petunjuk yang Nadine punya adalah aroma itu.
Aroma vetiver dan sandalwood yang begitu spesifik. Aroma yang hanya dimiliki oleh pria kelas atas, dan Nadine sangat yakin pria itu ada di gedung ini.
Nadine sendiri yang mengatur daftar tamu malam itu, dan isi daftarnya hanyalah karyawan Varkas Group, serta segelintir klien VIP.
Nadine berdiri tegak di depan cermin toilet, merapikan rok span-nya. Matanya yang biasanya lembut kini menatap tajam bayangannya sendiri.
"Aku akan menggeledah setiap sudut gedung ini jika perlu. Aku akan mencium setiap pria yang lewat di depanku sampai aku menemukan bau sialan itu," gumamnya penuh tekad.
"Aku pasti akan menemukanmu, lelaki bertopeng sialan! Kau tidak bisa lari dariku."
Nadine melangkah keluar dengan langkah mantap.
Misinya jelas: Mencari ayah dari anaknya, dan dia tidak akan berhenti sebelum pria itu berlutut di hadapannya!
..................................