Pagi itu, kantor pusat Perusahaan Varkas Group tidak berjalan seperti biasanya—setidaknya bagi Nadine.
Jika biasanya Nadine datang dengan setumpuk berkas dan wajah lesu karena kurang tidur, hari ini ia datang dengan misi yang jauh lebih krusial daripada sekadar mengatur jadwal rapat Revan.
Ia membawa satu set indra penciuman yang telah ia asah setajam anjing pelacak!
Nadine berdiri di depan cermin toilet karyawan, merapikan blus sutra berwarna krem yang kini terasa sedikit lebih sesak di bagian dadanya. Ia mengelus perutnya yang masih rata, namun ia tahu, di dalam sana ada rahasia kecil yang sedang tumbuh.
"Sabar ya, Nak. Mama akan cari tahu siapa si Serigala sialan itu," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.
Keluar dari toilet, Nadine memulai operasinya.
Strateginya sederhana namun berisiko: menjadi sekretaris paling perhatian seantero kantor.
Ia berjalan melewati deretan kubikel staf pemasaran. Saat seorang karyawan pria lewat membawa berkas, Nadine sengaja berbelok tajam hingga mereka hampir bertabrakan.
"Oh, maaf, Pak Budi!" Nadine mendekat, berpura-pura hampir terjatuh ke arah pria itu sambil menghirup udara dalam-dalam di sekitar lehernya.
Bau keringat dan kopi instan! Bukan dia.
Nadine pindah ke divisi IT. Di sana ada seorang pemuda jangkung berambut ikal. Nadine berpura-pura menanyakan masalah pada komputernya. Ia membungkuk sedemikian rupa hingga hidungnya berada tepat di dekat bahu si pemuda.
Bau pewangi pakaian murah dan sisa asap rokok. Cih, jelas bukan.
Target utama selanjutnya adalah Pak Dimas, manajer keuangan senior.
Pak Dimas memiliki postur tubuh yang mirip dengan pria malam itu—tegap, tinggi, dan memiliki bahu yang lebar.
Terlebih lagi, Pak Dimas dikenal sebagai kolektor parfum kayu-kayuan. Setiap kali pria itu lewat, aroma hutan selalu tertinggal di koridor.
Nadine menyusun rencana. Ia tahu Pak Dimas biasanya makan siang lebih awal di kantin lantai lima. Dengan langkah anggun namun penuh tekad, Nadine menuju ke sana. Ia melihat Pak Dimas sedang duduk sendirian, menikmati sop buntutnya.
Ini saatnya!
Nadine berjalan mendekat, memegang nampan makan siangnya dengan gaya yang sedikit goyah. Saat ia berada tepat di samping kursi Pak Dimas, ia sengaja memiringkan tumitnya.
"Aah!" Nadine memekik kecil, membiarkan tubuhnya oleng ke arah Pak Dimas.
Sesuai dugaan, Pak Dimas yang memiliki insting pelindung tinggi langsung bangkit dan menangkap bahu Nadine. Nadine sengaja membiarkan wajahnya hampir terbenam di ceruk leher Pak Dimas selama beberapa detik yang terasa sangat lama.
Ia memejamkan mata, menghirup aroma yang menguar dari kulit pria itu dengan rakus.
Vetiver? Ya, ini vetiver!
Jantung Nadine berdegup kencang. Ia merasa yakin 90 persen.
Aroma kayu-kayuan ini sangat mirip. Apakah pria paruh baya yang sopan ini sebenarnya adalah serigala liar di ranjang malam itu?
"Nona Nadine? Anda baik-baik saja?" suara Pak Dimas terdengar khawatir.
Nadine mendongak, matanya sayu yang disengaja. "Oh, maaf Pak Dimas. Kepala saya tiba-tiba pusing sekali. Terima kasih sudah menangkap saya."
Nadine tetap menempelkan tubuhnya, tangannya merayap ke lengan Pak Dimas, mencoba merasakan kepadatan otot di sana sambil pura-pura membutuhkan pegangan untuk berdiri tegak.
Nadine kemudian mulai mengeluarkan jurus mautnya. "Malam pesta topeng itu... Bapak terlihat sangat gagah. Saya sempat melihat Bapak di dekat lift..."
Pak Dimas tersenyum ramah, namun terlihat bingung. "Pesta topeng? Oh, sayang sekali saya tidak bisa menikmati acaranya sampai selesai, Nadine."
Senyum Nadine membeku. "Maksud Bapak?"
Tiba-tiba, seorang wanita cantik dengan pakaian rapi masuk ke kantin sambil membawa tas bekal bermotif bunga.
"Mas Dimas!"
"Ah, ini istri saya, Ratna," Pak Dimas memperkenalkan wanita yang baru saja tiba di dekat meja mereka itu, dengan bangga.
"Sayang, ini sekretaris Pak Revan, Nadine. Tadi dia hampir jatuh."
Sang istri tersenyum manis, namun di tempatnya, Nadine merasa dunianya runtuh.
Pak Dimas melanjutkan, "Oh iya, Nadine. Malam itu saya hanya sempat hadir di pembukaan. Jam sembilan malam saya sudah pulang karena anak bungsu saya tiba-tiba demam tinggi. Saya bahkan tidak sempat memakai topeng saya."
Deg.
Target tersangka pertama: GAGAL TOTAL.
Alibinya terlalu kuat, dan istrinya ada di sini sebagai bukti nyata.
Hampir saja ia menghancurkan keluarga bahagia orang lain.
Benar-benar memalukan!
Rasanya Nadine ingin sekali menghilang ke dalam mangkuk sop buntut di depannya, saat itu juga.
"Oh... begitu ya. Saya salah lihat mungkin. Baiklah, Pak, Bu, Selamat menikmati makan siang. Permisi," gumam Nadine dengan wajah memerah, segera berbalik untuk pergi.
Namun, baru tiga langkah ia berjalan, langkahnya terhenti.
Ia merasakan satu tatapan sepanas laser yang menyerang tengkuknya.
Nadine menoleh.
Di ambang pintu kantin, berdiri sesosok pria dengan aura yang sanggup membekukan seluruh ruangan. Revan.
Bosnya itu berdiri dengan tangan bersedekap di d**a, mata elangnya menatap tajam ke arah Nadine. Wajahnya datar, namun ada kilat kemarahan yang tertahan di sana.
Revan telah melihat semuanya—bagaimana Nadine "menempel" pada Pak Dimas dan bagaimana ia mencoba menggoda pria beristri itu barusan.
"Nadine. Ke ruanganku. SEKARANG," desis Revan. Suaranya rendah, namun penuh otoritas yang membuat bulu kuduk Nadine berdiri.
Begitu Nadine melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang dingin dan minimalis itu, pintu di belakangnya tertutup dengan dentuman pelan namun tegas. Nadine belum sempat mengerjap saat ia merasakan aura panas mendekatinya dengan langkah predator.
Brak!
Revan menghentakkan tangannya ke pintu, tepat di samping telinga Nadine, mengurung tubuh mungil wanita itu di antara tubuh besarnya dan kayu pintu yang keras.
Nadine terperangkap.
Ia bisa merasakan napas Revan yang memburu mengenai pucuk kepalanya.
Revan menunduk. Tangan kanannya bergerak perlahan namun dominan, mencengkeram rahang Nadine dengan jemari yang kuat. Ia memaksa Nadine mendongak, membuat manik mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat intim.
"Jadi, sekarang kau punya hobi baru, Nadine? Menggoda seorang manajer di jam makan siang? Terlebih dia sudah beristri?!" Suara Revan begitu rendah, hampir seperti geraman yang menggetarkan d**a Nadine.
Nadine terpaku. Jantungnya berpacu liar.
Dari jarak sedekat ini, aroma vetiver dan sandalwood dari tubuh Revan menyerang indranya, namun pikirannya terlalu kacau oleh ketakutan dan rasa mual yang tiba-tiba muncul untuk mengidentifikasi aroma itu.
"Sa-saya tidak menggoda, Pak... itu kecelakaan," bisik Nadine gemetar.
Revan tidak melepaskan cengkeramannya. Ibu jarinya mengusap pinggir bibir Nadine dengan tekanan yang membuat wanita itu merinding.
"Kecelakaan? Atau kamu memang m***m? Menempel di leher pria lain seolah kau sedang kehausan."
Revan menatap mata Nadine dengan tatapan gelap seolah ingin menelan wanita itu hidup-hidup. Setelah beberapa detik ketegangan yang menyesakkan, Revan tiba-tiba melepaskan rahang Nadine dan menjauh. Langkahnya tegap saat ia berjalan menuju meja kerjanya yang luas.
Plak!
Revan melempar sebuah map tebal ke atas meja dengan kasar.
"Aku tidak butuh penjelasan memuakkanmu. Sejak sebulan lalu, kinerjamu menurun drastis! Kamu sering melamun, sering ke toilet, dan sekarang kau bertingkah seperti wanita haus perhatian di kantin. Kamu mempermalukan posisimu sebagai sekretarisku!"
Nadine menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang. Ia tidak bisa menceritakan alasan sebenarnya. Ia tidak mungkin bilang,
"Saya hamil anak pria misterius dan sedang mengendus semua pria di kantor ini untuk mencari tahu siapa dia, Pak!"
"Sebagai hukuman," Revan duduk di kursi kebesarannya, kembali menjadi bos iblis yang dingin. "Kau akan lembur malam ini. Selesaikan seluruh revisi anggaran tahun depan. Dan aku tidak mau melihatmu pulang sebelum matahari terbit."
"Tapi Pak, ini sudah hampir jam pulang—"
"TIDAK ADA TAPI! Kerjakan, atau surat pemecatanmu akan ada di meja besok pagi."
................................
Pukul 23.30.
Gedung Varkas Group sudah sepi sejak tadi.
Hanya lampu di area meja kerja Nadine yang masih menyala.
Nadine mendesah, menyandarkan kepalanya di meja. Perutnya terasa mual lagi, dan ia sangat lapar.
Ia merasa menjadi wanita paling malang di dunia.
Hamil, ditinggalkan, dan sekarang disiksa sampai kelaparan oleh bos iblis!
"Dasar Revan sialan. Dia pikir aku robot? Aku sedang hamil, bodoh!" maki Nadine pelan sambil mengetik angka-angka di komputernya.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki yang stabil mendekat.
Nadine menegang.
Siapa yang masih ada di sini?
Sesosok pria jangkung muncul dari balik kegelapan koridor.
Itu Revan.
Ia sudah tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kuat dan urat-urat yang menonjol.
Di tangannya, ia membawa sebuah kantong plastik dari restoran Jepang ternama.
Revan berjalan mendekat dan meletakkan kantong itu di meja Nadine dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi brak keras.
Nadine mendongak, bingung.
"Apa ini, Pak?"
Revan memalingkan wajahnya ke arah lain, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Ada rekan bisnisku yang memberiku sushi itu tadi sore. Aku sudah kenyang, dan aku tidak suka makanan dingin."
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada ketus yang khas.
"Daripada aku menaruhnya di kotak sampah dan membuat ruanganku bau, lebih baik aku membuangnya padamu. Makanlah, agar kau tidak pingsan dan menyalahkan ku nanti, karena kelaparan."
Nadine membuka kantong itu.
Isinya adalah paket sushi premium yang harganya mungkin setara dengan gajinya seminggu. Aromanya sangat menggoda, membuat perutnya yang keroncongan langsung bereaksi.
"Terima kasih, Pak..." bisik Nadine pelan.
Revan tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap Nadine yang mulai memakan sushi itu dengan lahap.
Untuk sesaat, tatapan mata Revan melunak, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan di tenggorokan.
Namun, begitu Nadine meliriknya, Revan segera kembali ke mode "Iblis"-nya.
"Selesaikan pekerjaanmu. Aku akan ada di ruanganku. Kalau kau mencoba kabur, aku akan tahu," ancam Revan sebelum berbalik pergi.
Nadine menatap punggung lebar bosnya itu dengan heran. Matanya kemudian beralih ke sushi di depannya. "Padahal sushi-nya masih hangat. Kasih tahu apa jangan ya? Tapi kalau dia tahu masih hangat, nanti nggak jadi buat aku, dong?"
Nadine menggelengkan kepalanya, tak peduli.
Selanjutnya, sambil mengunyah, teringat misinya yang berakhir gagal hari ini, amarah yang tertahan di dadanya kembali menyulut api.
"Siapapun kau, lelaki bertopeng sialan..." bisik Nadine dengan nada mengancam sambil menatap perutnya. "Lihat saja, aku akan balas dendam! Kau sudah membuatku mual setiap pagi, membuatku harus mengendus ketiak bapak-bapak di kantin, dan sekarang membuatku disiksa oleh bos iblis ini. Aku bersumpah, aku akan mencarimu sampai ke lubang semut sekalipun!"
Nadine mengepalkan tangannya yang memegang sumpit. "Aku akan memastikan kau membayar setiap detik penderitaanku, setiap rasa mualku, dan setiap tetes keringat yang keluar karena lembur sialan ini! Kau tidak akan bisa lari setelah menaruh benihmu di rahimku dan kabur seperti pengecut!"
Dini hari, saat pekerjaan akhirnya selesai, Nadine membereskan meja kerjanya dengan sisa tenaga yang ada.
Saat ia hendak membuang kantong plastik sushi tadi, sebuah benda kecil jatuh dari sela-sela lipatan kantong.
Itu secarik kertas kecil.
Nadine memungutnya dan membeku saat membaca deretan kata di sana. Tulisan tangan itu tegas, sedikit miring ke kanan, dan sangat elegan.
Tulisan tangan yang sangat ia kenali karena setiap hari ia melihatnya di dokumen-dokumen perusahaan.
Tulisan tangan Revan.
[Jangan sampai sakit, dasar wanita ceroboh.]
Nadine tertegun.
Jantungnya berdegup aneh untuk sesaat, namun kemudian ia mendengus kasar.
Ia meremas kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah dengan emosi.
"Cih! Jangan sampai sakit? Setelah dia membuatku lembur sampai mau mati begini, dia bicara soal kesehatan?" maki Nadine pelan sambil menyampirkan tasnya di bahu.
Ia melirik ke arah pintu ruang kerja Revan yang masih tertutup rapat.
Matanya berkilat penuh kekesalan.
"Dasar lelaki nggak punya hati! Pak Revan, asal kau tahu saja, kalaupun aku mati karena sakit akibat siksaanmu ini, kau adalah orang pertama yang akan kuhantui seumur hidupmu! Aku akan jadi hantu paling cerewet yang duduk di atas kepalamu setiap hari!"
Nadine melangkah pergi meninggalkan kantor yang sunyi itu, tanpa menyadari bahwa di balik pintu ruangannya, Revan sedang berdiri bersandar pada daun pintu, mendengarkan setiap makiannya dengan senyum tipis yang sangat misterius.
.............................