Pencarian Nadine tidak berhenti pada Pak Dimas yang ternyata "pria rumahan" sejati.
Hari-hari berikutnya, hidung Nadine menjadi lebih sensitif daripada radar militer.
Ia mengendus setiap pria yang berpapasan dengannya di koridor, di pantri, bahkan di area parkir.
Namun, belum ada yang benar-benar membuat jantung Nadine berhenti berdetak karena kemiripan aroma dengan "pria serigala" itu.
Hingga siang itu, di dalam lift yang penuh sesak.
Nadine berdiri di pojok belakang, mencoba menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang karena bau berbagai macam parfum yang bercampur aduk.
Saat lift berhenti di lantai 12—divisi Marketing—seorang pria masuk dengan langkah yang penuh percaya diri.
Zrett...
Aroma itu. Aroma vetiver yang maskulin berpadu dengan sandalwood yang hangat dan mewah menyelinap masuk ke indra penciuman Nadine. Matanya membelalak. Ia menoleh ke arah pria yang baru masuk itu.
Leo.
Sang primadona kantor.
Kepala Divisi Marketing yang dikenal memiliki senyum semanis madu dan wajah yang bisa membuat wanita mana pun lupa cara bernapas.
"Siang, Nadine. Kau terlihat pucat. Apa kau baik-baik saja?" tanya Leo sambil menoleh, memberikan senyuman miring yang selama ini menjadi dambaan para staf wanita.
Nadine terpaku.
Suaranya...
Memang tidak seberat suara pria malam itu, tapi postur tubuhnya sangat tegap. Bahunya lebar, persis seperti pria malam itu! Dan parfum ini—ini petunjuk terkuat yang pernah ia temukan!
"O-oh, siang, Pak Leo. Saya baik-baik saja," jawab Nadine, mencoba bersikap normal meski jantungnya berdebar gila.
"Panggil Leo saja kalau kita sedang tidak di depan Bosmu yang kaku itu," godanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Setelah pertemuan singkat di lift itu, Leo mulai gencar mendekati Nadine. Sangat berbeda dengan Revan yang hanya bisa mencaci dan memberinya tumpukan kertas, Leo adalah definisi dari seorang gentleman.
Besoknya, sebuah buket bunga lili putih sudah bertengger manis di meja kerja Nadine dengan kartu ucapan:
"Untuk sekretaris paling cantik di gedung ini. Jangan lupa tersenyum. -L"
Lusa, Leo mengajaknya minum kopi di kafe bawah kantor saat jam istirahat. Ia memuji kecantikan Nadine, menertawakan leluconnya, dan menatap Nadine dengan tatapan yang seolah-olah menunjukan bahwa Nadine adalah satu-satunya wanita yang menarik di dunia ini.
Nadine mulai goyah.
"Mungkin... mungkin si Serigala itu adalah Leo. Dia tampan, lajang, populer, dan aromanya... aromanya sangat mendekati. Jika dia ayahnya, hidupku mungkin tidak akan seburuk itu," pikir Nadine dalam hati.
Namun, ada satu penghalang besar dalam "penyelidikan" Nadine terhadap Leo: Revan.
Setiap kali Leo baru saja ingin mendekati meja Nadine atau saat mereka sedang mengobrol di koridor, telepon di meja Nadine akan berdering.
Drrrtt! Drrrrtt!
"Nadine, ke ruanganku sekarang! Laporan triwulan ada yang salah ketik satu koma," suara Revan dari interkom terdengar sangat dingin dan menuntut.
Atau saat Leo mengajak Nadine makan siang bersama, Revan tiba-tiba muncul di antara mereka.
"Nadine, batalkan makan siangmu. Temani aku rapat dengan klien dari Jepang sepuluh menit lagi," titah Revan sambil melewati meja mereka tanpa menoleh, sengaja meninggalkan aura dingin yang memutus kemesraan Nadine dan Leo.
Nadine mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Dasar Bos Iblis! Dia sengaja melakukannya!" maki Nadine dalam hati.
Revan terus-menerus mengganggu pendekatannya dengan Leo seolah-olah pria itu memiliki radar khusus untuk merusak suasana hatinya.
..............................
Jumat Malam.
Leo mengajak Nadine ke sebuah club eksklusif yang kabarnya hanya bisa dimasuki oleh orang-orang kelas atas.
Awalnya Nadine menolak, ia teringat kandungannya. Tapi Leo memaksa, mengatakan ini adalah perayaan kecil karena proyek mereka baru saja tembus.
"Hanya sebentar, Nadine. Aku janji akan mengantarmu pulang sebelum jam sebelas," rayu Leo dengan suara yang begitu lembut.
Akhirnya Nadine menyerah. Ia ingin memastikan sekali lagi, di luar suasana kantor, apakah Leo benar-benar pria malam itu.
Namun, begitu mereka sampai di ruangan VIP club tersebut, bulu kuduk Nadine meremang.
Ruangannya remang-remang, berbau alkohol yang menyengat, dan sangat asing. Di sana sudah duduk beberapa pria bertampang nakal, terlihat seperti preman berjas, didampingi wanita-w*************a yang mengenakan pakaian sangat minim, seolah-olah mereka kekurangan bahan untuk menutupi belahan d**a mereka.
Nadine merasakan ketakutan menjalar. Ia duduk di pojok sofa, mencengkeram tasnya erat-erat. Tanpa ia sadari, jarinya yang gemetar terus memainkan layar ponsel di tangannya, menekan-nekan layar secara acak di dalam remasan tangannya karena rasa gugup yang luar biasa.
Setengah jam—yang terasa seperti setengah tahun—kemudian, orang-orang itu berkata akan menari di lantai dansa dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan. Kini, tinggal Nadine dan Leo.
Suasana berubah mencekam.
Nadine mencoba mencairkan suasana dengan meminum jus lemon sedikit, namun sikap Leo tiba-tiba berubah 180 derajat.
Leo meletakkan gelasnya dengan kasar ke atas meja kaca, lalu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, memperlihatkan dadanya yang bidang.
"Nadine... kau... juga tahu kan, kenapa aku mendekatimu?" suara Leo kini terdengar parau dan agresif. Ia mendekat, memojokkan Nadine di sudut sofa yang empuk. Tangannya bergerak ke bawah, mulai membuka sabuk kulitnya dengan bunyi klik yang mengerikan di telinga Nadine.
"A-apa... apa maksudmu, Leo?" Nadine mencoba bangkit, tapi tangan Leo dengan kasar menahan bahunya, menekannya kembali ke sofa.
"Jangan berlagak polos... Kau sudah merayuku di lift, tersenyum padaku, menempel padaku beberapa hari ini... Bukankah kau juga menginginkannya?!" desis Leo.
Mata Leo berkilat gelap, penuh nafsu yang menjijikkan.
Nadine menggigil, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Tidak! Kau salah paham, aku tidak merayumu!"
Saat Nadine mulai memberontak lagi, mencoba mendorong d**a Leo, pria itu tiba-tiba menjambak rambut Nadine dengan sentakan kasar, memaksa wanita itu mendongak menatap wajahnya yang kini terlihat sangat bengis.
"Kenapa?! Wanita jalang sepertimu pasti sudah biasa melayani bosnya di atas ranjang, kan?" teriak Leo kasar, suaranya menggelegar mengalahkan dentum musik di luar.
"Kenapa sekarang berlagak seperti wanita suci di depanku?! Apa menurutmu aku tidak bisa membayarnya semahal Revan?!"
"Lepas! Sakit!" tangis Nadine pecah.
Tangan Leo mulai brutal. Ia merenggut kerah blus satin yang dikenakan Nadine.
Bunyi kain robek terdengar memilukan.
Satu demi satu kancing baju Nadine terlepas dan teronggok menyedihkan ke lantai marmer yang dingin.
Nadine berteriak dalam hati, tangannya mencoba menutupi dadanya yang kini hanya terbalut pakaian dalam.
Ia ketakutan setengah mati.
Ketakutan akan keselamatannya, dan ketakutan yang jauh lebih besar lagi:
Apakah mungkin pria sebejat ini adalah ayah kandung dari anakku? Tidak! Kumohon, Tuhan... jangan dia!
"Diam dan layani aku, jalang!" bentak Leo sambil mendorong tubuh Nadine lebih dalam ke sofa.
Tangannya mencengkeram leher Nadine dengan kuat hingga wanita itu sulit bernapas, sementara tangan satunya berusaha meraih ritsleting celananya sendiri, berusaha mengeluarkan kejantanannya yang sudah menegang.
Nadine memejamkan mata rapat-rapat, terisak dalam kepasrahan yang menyakitkan, hingga tiba-tiba...
BRAAAKKK!!!
Pintu kayu jati ruangan VIP itu hantam dengan kekuatan luar biasa hingga engselnya jebol. Suara dentuman itu mengguncang seluruh ruangan, menghentikan kebrutalan Leo seketika.
Sesosok pria berdiri di ambang pintu.
Auranya begitu gelap dan dingin, membawa hawa kematian yang sanggup membekukan darah siapapun di sana.
.............................