Bab 4: Penyelamat dari "Iblis Nafsu"

1989 Words
Dunia seolah berhenti berputar bagi Nadine. Di tengah isak tangis dan sisa tenaga yang hampir habis untuk melawan kebrutalan Leo, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dengan bunyi keras. Di ambang pintu, berselimut bayangan remang koridor club yang penuh dosa, berdiri sosok jangkung yang sangat Nadine kenal. Sosok yang selama satu bulan terakhir sering ia maki di dalam hati karena ketatnya jadwal kerja, namun kini tampak seperti malaikat maut yang dikirim langsung dari neraka untuk menjemput nyawa Leo. Revan Varkas. Mata Revan berkilat gelap, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, memberikan kesan liar yang belum pernah Nadine lihat di kantor. Tanpa sepatah kata pun, Revan melangkah masuk. Aura dingin yang ia bawa seketika membekukan gairah menjijikkan yang tadi memenuhi ruangan. "P-Pak Revan?" suara Leo tercekat. Ia melepaskan cengkeramannya pada leher Nadine, wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat mencoba menaikkan kembali ritsleting celananya yang sudah terbuka. "Ini... ini tidak seperti yang Bapak lihat. Sekretaris Anda ini yang merayu—" Bugh! Satu bogem mentah mendarat telak di tulang hidung Leo sebelum pria itu sempat menyelesaikan fitnahnya. Suara tulang yang berderak terdengar mengerikan di dalam ruangan VIP yang kini sunyi dari musik. Leo tersungkur ke lantai, menabrak meja kaca hingga gelas-gelas kristal pecah berantakan. Revan tidak berhenti. Ia menarik kerah baju Leo, mengangkat pria itu seolah-olah beratnya tidak lebih dari selembar kertas, lalu melayangkan pukulan kedua dan ketiga. Revan menghajar Leo dengan ketenangan yang mematikan. Tidak ada teriakan, hanya suara kepalan tangan yang menghantam daging dan rintihan kesakitan Leo. "Kau berani menyentuhnya?" suara Revan rendah, bergetar karena amarah yang ditahan di ujung lidah. "Sekertarisku?! Dengan tangan kotormu itu? Besar sekali, ya, nyalimu?" "Ampun, Pak! Ampun!" Leo melolong, darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya. Revan menghempaskan tubuh Leo ke sudut ruangan seperti membuang sampah. Ia kemudian berbalik ke arah Nadine. Nadine masih meringkuk di sofa, gemetar hebat dengan tangan yang berusaha menutupi dadanya yang terekspos karena blusnya yang robek. Kancing-kancing bajunya berserakan, sama hancurnya dengan harga dirinya saat ini. Mata Revan melembut sesaat saat melihat kondisi Nadine, namun segera berganti dengan tatapan tajam yang menyakitkan. Tanpa bicara, ia melepas jas hitam yang ia bawa di lengan kirinya dan menyampirkannya ke bahu Nadine. Jas itu besar, hangat, dan seketika menelan tubuh mungil Nadine. "Berdiri," perintah Revan pendek. Nadine mencoba bangkit, namun kakinya terasa seperti jeli. Ia hampir terjatuh jika Revan tidak segera melingkarkan lengannya di pinggang Nadine dan menariknya mendekat. Revan membawa Nadine melewati batas pintu tanpa melirik Leo sedikit pun. "Pak... hape saya..." bisik Nadine parau, tiba-tiba. Revan berhenti dan mengambil ponsel Nadine yang tergeletak di lantai, lalu menatap layarnya sejenak. Tanpa Nadine sadari, jari wanita itu tadi secara tidak sengaja menekan fitur Emergency Call yang terhubung langsung ke nomor kantor yang kemudian dialihkan ke ponsel pribadi Revan. Itulah alasan mengapa Revan bisa muncul di sana secepat kilat. Di dalam mobil mewah milik Revan, suasana terasa lebih mencekam daripada di dalam club tadi. Revan mengemudi dengan kecepatan tinggi, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-bukunya memutih. Bau di dalam mobil itu segera dipenuhi oleh aroma yang sangat Nadine kenali. Aroma vetiver dan sandalwood. Aroma itu menguar kuat dari jas yang sedang dipakai Nadine, juga dari tubuh pria di sampingnya. Jantung Nadine berdegup kencang, ada rasa perih yang tiba-tiba menyesakkan dadanya. Aroma ini... sangat identik dengan pria malam itu! Namun, pikiran Nadine segera membantah dengan rasa sakit yang mendalam. Tidak mungkin dia. Revan Varkas adalah pria yang menatapnya dengan hinaan, yang menganggapnya tak lebih dari sekadar alat kerja yang tidak becus. Bagaimana mungkin 'Iblis' yang menyiksa dirinya setiap hari, bisa menjadi pria yang sama dengan yang memberikan kehangatan intim yang begitu hebat malam itu? Takdir tidak mungkin sejahat itu, menjatuhkannya ke tangan pria yang justru paling membencinya di dunia! "Nadine, berhenti mengendus jasku. Kau terlihat seperti orang m***m," suara ketus Revan memecah keheningan. "Kalau kau ingin muntah karena bau club tadi, jangan di jas itu. Jas itu seharga tiga kali lipat gajimu." Nadine tersentak dan menjauhkan wajahnya dari jas itu. "Terima kasih sudah menolong saya, Pak." Revan mendengus kasar. Ia meminggirkan mobilnya di bahu jalan yang sepi, lalu menginjak rem dengan sentakan yang membuat Nadine terdorong ke depan. Revan berbalik, menatap Nadine dengan tatapan yang menghujam. "Apa yang ada di otakmu, hah?!" bentak Revan tiba-tiba. "Setelah Pak Dimas di kantin, sekarang Leo?! Apa kau begitu putus asa mencari pria untuk ditiduri, sampai-sampai kau tidak bisa membedakan mana pria baik dan mana binatang seperti dia?!" Nadine tersinggung. Air mata yang baru saja kering kembali mengalir. "Saya tidak sedang mencari pria untuk... untuk.. hal semacam itu!" "Lalu apa?! Kau sengaja tersenyum pada Leo, menerima bunga dan kopi pemberiannya, pergi ke club malam dengannya... Untuk apa?!" Revan mendekatkan wajahnya, menghimpit Nadine ke pintu mobil. "Memangnya kau tidak tahu reputasi Leo di kantor ini? Dia itu predator! Dan kau dengan bodohnya masuk ke kandangnya!" Jarak mereka menjadi begitu dekat. Nadine bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Revan. Aroma vetiver itu mengepungnya semakin kuat, memabukkan dan mencekik di saat yang bersamaan. "Saya punya alasan sendiri kenapa saya mendekati mereka, Pak! Anda tidak tahu apa-apa!" teriak Nadine frustrasi. "Alasan apa?! Uang? Apa gajimu sebagai sekretarisku kurang? Apa kau butuh pria kaya untuk membiayai gaya hidupmu sampai kau harus bertingkah murahan seperti tadi?" tuduh Revan kejam. Plak! Tanpa sadar, tangan Nadine melayang ke pipi Revan. Suara tamparan itu menggema di dalam kabin mobil yang sempit. Revan terdiam, wajahnya berpaling ke samping. Bekas merah mulai muncul di kulit wajahnya yang putih bersih. Nadine gemetar, ia kaget dengan keberaniannya sendiri, tapi melanjutkan kegilaannya, karena sudah kepalang tanggung. "Jangan... jangan pernah sebut saya murahan! Anda tidak tahu apa yang saya tanggung. Anda tidak tahu betapa menderitanya saya mencari... Mencari..." Nadine menggigit bibirnya, hampir saja ia membocorkan tentang pencarian ayah bayinya. Revan perlahan menoleh kembali. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan, melainkan kilat gelap yang lebih berbahaya. Bukannya menjauh, ia justru semakin merapatkan tubuhnya. Satu tangannya mencengkeram tengkuk Nadine, memaksa wanita itu tetap menatapnya. "Mencari apa, Nadine? Katakan padaku," bisik Revan, suaranya rendah dan serak. Wajah Nadine dipaksa terbenam di ceruk leher Revan karena tarikan pria itu. Hidungnya menempel langsung pada kulit leher Revan yang hangat. Ia dapat merasakan detak jantung Revan yang kencang dan tidak beraturan di ujung hidungnya. Aroma vetiver dan sandalwood yang murni tanpa campuran alkohol atau asap rokok, meresap ke dalam paru-parunya. Gairah aneh tiba-tiba menjalar di perut Nadine. Hormon kehamilannya membuat indranya sepuluh kali lebih sensitif. Seolah merindukan sentuhan ini, seolah ia merindukan aroma ini, tanpa sadar, Nadine meremas kemeja hitam Revan, isakannya berubah menjadi napas yang memburu. Revan terdiam, ia bisa merasakan tubuh Nadine yang mulai melunak di pelukannya. Tangannya yang tadi mencengkeram tengkuk Nadine kini berubah menjadi belaian halus di rambut wanita itu. Posisi mereka begitu dekat, seolah-olah dunia di luar mobil itu tidak lagi ada. "Kau sangat ceroboh, Nadine," gumam Revan, bibirnya hampir menyentuh telinga Nadine. "Kau membuatku gila dengan tingkah laku gatalmu, pada pria-pria itu..." Nadine mendongak, matanya yang basah menatap bibir Revan. "Kenapa Bapak peduli?... Bukankah saya hanya sekretaris yang tidak becus?!" Revan menatap mata Nadine dengan intensitas yang sanggup meluluhkan tulang. Ia seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ia menahannya. Revan hanya tahu satu hal: ia benci melihat Nadine disentuh pria lain. Ia benci melihat Nadine mencari perhatian dari pria selain dirinya, meskipun ia sendiri tidak mengerti mengapa ia merasa seposesif itu. Revan melepaskan pelukannya dengan kasar, kembali duduk tegak di kursi pengemudi, sambil merapikan kemejanya yang kusut karena remasan Nadine. "Aku peduli karena kau adalah tanggung jawabku selama jam kerja dan di luar jam kerja jika menyangkut reputasi Varkas Group," ujar Revan kembali ke mode dinginnya, meski napasnya masih sedikit tidak teratur. Revan menjalankan kembali mobilnya, melaju menuju apartemen Nadine. Nadine hanya bisa terdiam, hatinya berkecamuk. Aroma di jas Revan masih memeluknya, memberikan rasa aman yang palsu. Sesampainya di depan lobi gedung apartemen Nadine yang sederhana, Revan tidak turun. Ia hanya menatap lurus ke depan. "Masuklah. Dan jangan pernah berpikir untuk mendekati pria mana pun di kantor lagi tanpa seizinku." Nadine membuka pintu mobil, masih mengenakan jas Revan. Berusaha tak mengindahkan kalimat perintah tak masuk akal Revan barusan. "Jas ini... akan saya kembalikan besok." "Simpan saja. Aku tidak mau memakai jas yang sudah terkena tangisanmu," ketus Revan. Nadine keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Ia berjalan menuju lobi, namun langkahnya terhenti saat suara Revan memanggilnya dari jendela mobil yang terbuka. "Nadine." Nadine menoleh. Revan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa penasaran yang tersembunyi di balik wajah batunya. "Sebenarnya... pria seperti apa yang sedang kau cari dengan begitu terobsesi?! Apa dia begitu penting, sampai kau rela mempertaruhkan nyawamu di club tadi?" Nadine tertegun. Ia menatap Revan lama, mencari jawaban di mata pria itu. "Bukan orang penting, Pak. Dia hanya seorang pengecut yang meninggalkan saya sendirian setelah mengambil segalanya. Sama sekali... Bukan orang penting..." Nadine berbalik, dan masuk ke dalam lobi tanpa menoleh lagi. Di dalam mobil, Revan terdiam membeku. Tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat keras hingga buku-bukunya memutih. Kalimat Nadine berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Pengecut yang meninggalkannya sendirian... Revan memejamkan mata, menyandarkan kepalanya pada headrest jok kulitnya. Seketika, memori malam pesta itu—yang selama ini tertutup kabut alkohol dan distorsi gairah—merayap kembali dengan sangat nyata. Kali ini bukan sekadar bayangan kabur, melainkan sebuah getaran yang mematri di sarafnya. Revan teringat suara parau yang memaki-maki namanya di tengah pergulatan panas malam itu. Suara yang penuh keputusasaan namun menuntut, suara yang frekuensinya identik dengan nada bicara sekretarisnya setiap kali wanita itu sedang kesal, atau terdesak. Revan menyentuh pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Nadine. Sensasi terbakar itu seolah membuka gerbang ingatan lain. Ia teringat kembali bagaimana tubuh Nadine gemetar di pelukannya tadi, cara wanita itu mencengkeram kemejanya, dan desahan napas Nadine yang memburu di lehernya tadi... semuanya terlalu presisi untuk disebut kebetulan. Dan puncaknya, adalah memori tentang kain satin tipis. Kain yang ia lihat melintasi pandangannya di meja VIP malam itu saat Nadine dengan sigap mengatur segala keperluannya. Kain yang sama yang kemudian ia lucuti di bawah remang lampu Presidential Suite! "Sial," geram Revan lirih, suaranya pecah di tengah kesunyian kabin mobil. Kecurigaan yang selama ini ia tekan ke sudut terjauh pikirannya kini meledak menjadi keyakinan yang membakar. Logikanya yang dingin mencoba menyangkal, berkata bahwa ia harus tetap menganggap malam itu sebagai kesalahan yang harus dilupakan. Namun, aroma tubuh Nadine yang masih tertinggal di udara mobil—manis, lembut, dan memabukkan—mengkhianati semua penyangkalannya. Revan menyipitkan mata, menatap lobi apartemen yang kini telah kosong. Ada sebuah benang merah yang sangat jelas melintang di depannya, tapi ia belum siap menariknya. Jika benar Nadine sedang mencari "pria malam itu", dan jika pria itu adalah dirinya... maka pencarian Nadine sudah berakhir sejak lama. Pria itu ada di sini, duduk di balik kemudi ini. Tapi jujur, Revan belum siap menghadapi konsekuensi, jika dihadapkan pada kenyataan itu, saat ini. Ia memikirkan posisinya saat ini—rantai pertunangan bisnis yang masih mengikat lehernya, sebuah kesepakatan yang belum sanggup ia putuskan tanpa menghancurkan banyak hal. Ia tidak bisa memberikan pengakuan sekarang! Ia tidak ingin menjadikan Nadine sekadar simpanan. Teringat ucapan Nadine tadi, Revan menyeringai tipis, sebuah senyuman yang tampak berbahaya sekaligus penuh teka-teki. "Tapi berani juga, ya, kau memanggilku pengecut, Nadine?" bisiknya pada kegelapan. "Mari kita lihat, siapa yang akan memenangkan permainan ini," gumam Revan. "Kau yang begitu hancur mencari identitasku, atau aku yang akan menyembunyikannya dengan sangat rapi... sampai waktunya tiba." Revan menginjak pedal gas, membuat mesin mobilnya mengaum sebelum melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi. Malam itu, ia membawa pulang sebuah misi pribadi: Revan akan membiarkan Nadine terus mencari. Ia akan menonton setiap langkah putus asa sekretarisnya, mengawasinya dari bayang-bayang, dan memastikan bahwa pencarian itu hanya akan berujung pada satu pria. Dirinya sendiri. Tapi, semua itu akan terbongkar hanya ketika Revan menginginkannya. Ia sendiri yang akan menentukan kapan Nadine boleh mengetahuinya. Pencarian Nadine, akan serigala yang memangsanya malam itu, memang lebih dahulu dimulai... Namun sang Serigala, kini sudah lebih dulu menemukan, dan mengunci targetnya. ..............................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD