Danu terdiam. “Mitha, aku selalu emosional kalau membicarakan orang itu. Bahkan, aku tidak ingin menyebut namanya.” “Selama ini aku memanggilnya Paman Adi. Bagaimanapun ada darah Besari mengalir di tubuhnya, seperti juga di tubuhku. Jadi tidak pernah terbersit dalam pikiranku kalau dia ada niat jahat,” Danu menghela nafas. Mitha mengecupnya dan mengelus rambut Danu, ia merasa tersentuh melihat Danu yang terlihat lelah dengan segala beban pikirannya, “Aku sayang kamu. Jangan bersedih.” “Tidak, aku tidak bersedih. Hidupku sekarang penuh harapan, ada kamu di sisiku. Hanya saja, orang ini akan keluar dari kerangkeng yang memenjarakannya. Aku khawatir, sangat khawatir sayang. Aku harus melindungi keluarga ini, dan ada kamu sekarang. Aku harus berjuang sekuat tenagaku,” Danu menari

