Mata Anna seketika melebar tatkala mendengar pertanyaan dari pria bernama Carl ini. Bagaimana tidak, ia tidak mungkin menjawab bahwa ia sedang hamil. Tapi..., tunggu.., mengapa ia takut?, pria ini tak mengenalnya, mereka baru bertemu beberapa menit yang lalu. Jadi.., mengapa dia harus takut jikalau pria ini tahu dia sedang hamil, pria itu pasti berpikir wajar jika wanita dewasa hamil.
Saat Ana hendak menjawab pertanyaan dari Carl, tiba-tiba
Bruk...!!
Anna spontan tergeletak di tanah dan hal tersebut membuat mata Carl melebar.
“No..nona..” panggil Carl dengan sesekali menepuk pelan pipi Anna. Namun tidak ada respon dari wanita tersebut.
Tanpa pikir lama, Carl menggendong Anna dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya. Pria itu segera menjalankan mobil menuju rumah sakit.
•
Tak butuh waktu lama, Carl berhasil menemukan rumah sakit terdekat. Segera ia membopong Anna menuju ruang UGD yang ada di samping pintu masuk utama rumah sakit. Dengan dibantu dua orang perawat, Anna masuk ke dalam ruang UGD sedangkan Carl menunggu di kursi tunggu.
Setelah beberapa menit, Carl di ajak oleh seorang dokter yang menangani Anna untuk berbicara di ruang pribadinya.
“Istri bapak tidak kenapa-kenapa, hanya sedikit kelelahan saja, memang ibu hamil umumnya selalu merasa kelelahan meski tidak melakukan aktivitas yang berat. Kandungannya pun baik-baik saja” ucap dokter sambil tersenyum
‘Istri..?’ batin Carl sambil tersenyum getir.
“Maaf dok, nona yang pingsan itu bukan istri saya” balas Carl dengan ekspresi biasa saja.
“Oh maaf, saya kira Anda suaminya.., lalu.., mana suami nona tersebut?, atau mungkin Anda keluarganya?” tanya dokter itu kembali.
“Oh masalah itu saya tidak tahu dok, kami baru saja berkenalan dan tiba-tiba nona tersebut jatuh pingsan” balas Carl.
Dokter di hadapan Carl ingin kembali berbicara sebelum dering ponsel menghentikannya.
“Ada apa..?” tanya Carl saat ia tahu dering ponsel itu miliknya.
[“Bos di mana?, kenapa saya ditinggal?”] tanya seseorang yang tak lain adalah Steve, asisten pribadi Carl.
‘Sial..., kenapa aku lupa dengan Steve’ umpat Carl dalam hati. “Aku sedang di rumah sakit, maaf aku melupakan mu” balas Carl.
[“Hah.., rumah sakit?, apa yang terjadi dengan mu bos?, kau mual-mual lagi?, tapi bukannya mual mu semakin bertambah jika kau mencium bau-bauan di rumah sakit?”] tanya Steve bertubi-tubi.
Seketika Carl terdiam, apa yang diucapkan oleh Steve memang benar, kenapa ia tidak merasakan mual saat masuk ke dalam rumah sakit?, apa karena terlalu khawatir dengan gadis itu. Tapi..., masak iya..., mereka baru ketemu. Mana mungkin karakter orang seperti Carl bisa bertindak demikian.
“Sudahlah..., kau susul aku di rumah sakit Kota sekarang” titah Carl.
[“Baik bos”]
“Permisi dok, apa saya bisa bertemu nona tersebut sekarang?” tanya Carl setelah mengakhiri percakapan dengan Steve.
Dokter pun tersenyum dan berkata “Bisa Tuan”.
“Terima kasih” ucap Carl lalu keluar dari ruangan.
•
Sejak membuka mata hingga sekarang Anna masih bingung siapa yang membawa ia ke rumah sakit saat ini. Perawat yang sebelumnya berada di ruangan ini hanya mengatakan jika seorang pria tinggi dengan kulit sedikit kecokelatan dan brewok di sekitar rahangnya. Mendengar deskripsi yang dijelaskan oleh sang perawat, Anna sempat berpikir bahwa pria yang baru saja berkenalan dengannya lah yang membawa ia ke rumah sakit.
Tapi..., apa mungkin?, mereka baru saja berkenalan kan?. Namun ada satu hal yang membuat Anna tergelitik, peristiwa ketika perawat tersebut berkata bahwa ‘suami’ Anna yang membawanya. ‘Suami dari mana?, dari neraka?’, pikir Anna.
Saat asyik-asyiknya bermonolog, suara gesekan pintu mengalihkan perhatian Anna. Tak lama muncul pria yang sebelumnya hampir mirip dengan yang dideskripsikan oleh si perawat.
“Bagaimana nona?, apa yang Anda rasakan saat ini?” tanya Carl
“Lebih baik” jawab Anna sambil tersenyum manis. Ah, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, biasanya Anna akan bersikap biasa-biasa saja bahkan tak jarang dingin terhadap orang yang baru ia kenal.
‘Manis sekali.., Ah apa yang ku pikirkan’, batin Carl.
‘Ada apa dengan ku?, mengapa rasanya ingin sekali memeluk dan merasakan d**a bidang itu?, Anna mengapa pikiran mu sekarang seperti seorang jalang’ batin Anna.
‘Mengapa rasanya berbeda saat melihatnya?, bahkan saat ini aku tidak merasakan mual saat mencium aroma lavender’ pikir Carl saat tidak sengaja melihat pengharum ruangan yang ada.
Carl berjalan mendekat ke arah kasur dan duduk tepat di samping kanan kasur.
“Kau pingsan karena kelelahan nona, tapi untungnya kandungan mu baik-baik saja kata dokter” ucap Carl, ada rasa kecewa dalam dirinya saat mengetahui gadis di hadapannya sudah menikah, atau mungkin memiliki seorang kekasih. Yang jelas sebentar lagi dia akan memiliki anak.
“Oh, mungkin karena saya terlalu asyik bekerja” balas Anna.
“Bekerja?, Anda masih sibuk bekerja saat hamil begini?, apa suami Anda tidak merasa khawatir?” tanya Carl spontan saat mendengar hal tersebut.
Namun bukannya menjawab, Anna justru terdiam dengan tatapan kosong. Sedikit syok saat mendengar pertanyaan Carl. Sebenarnya saat ia sadar Carl sudah mengetahui kehamilannya, Anna sudah menyiapkan mental kalau-kalau mendapat pertanyaan yang menyulitkan baginya. Akan tetapi nyatanya dia belum siap akan hal tersebut.
“Nona..?”
“Ah.., eh.., ma.., maaf tuan” jawab Anna sambil menunduk.
“Tidak apa-apa.., mengapa Anda melamun?” tanya Carl kembali.
“Tidak apa-apa” balas Anna sambil tersenyum.
“Lalu..?”
“Lalu.., apa?” tanya Anna
“Mengenai pertanyaan saya sebelumnya” balas Carl.
“Oh.., perihal itu.., maaf, saya rasa itu terlalu bersifat pribadi, jadi saya tidak bisa menjawabnya” Anna sedikit merasa tidak enak.
“Huh.., baiklah. Saya yang harusnya minta maaf karena terlalu lancang bertanya sesuatu yang bersifat pribadi” jawab Carl sama tak enaknya.
“Tidak apa-apa tuan. Em.., sebelumnya terima kasih karena telah menolong saya” kepala Anna terangkat sekedar untuk melihat wajah Carl. Entah mengapa Anna selalu ingin melihat wajah tampan itu. Bukannya ia sering melihat yang seperti ini sebelumnya.
“Tidak masalah” jawab Carl.
Setelah itu keheningan menyelimuti mereka berdua hingga pada akhirnya dering telepon milik Carl terdengar dan mencairkan suasana. Carl pamit keluar sebentar kepada Anna.
“Ada apa..?” tanya Carl
[“Bos, kau di mana?, saya sudah di depan rumah sakit”] tanya Steve dari sisi yang lain.
“Masuk saja dan pergi ke lantai 3 ruang Yoseph 303” jawab Carl.
“Baik bos” ucap Steve dan telepon pun mati.
Carl kembali masuk ke dalam ruangan. Baru saja membuka pintu, ia melihat Anna yang berusaha untuk berdiri, segera pria itu berjalan cepat dan menghampiri Anna.
“Eh..” Anna sedikit kaget saat merasakan kedua bahunya di pegang oleh seseorang. Saat ia menoleh, dapat ia lihat wajah tampan Carl memancarkan sedikit kekhawatiran.
“Mau ke mana?” tanya Carl.
“Em.., saya ingin ke kamar mandi tuan” balas Anna.
“Ayo saya bantu”
“Tidak masalah tuan”
“Sudahlah nona, menurut saja” jawab Carl dengan nada seperti tidak ingin dibantah.
“Hem.., baiklah” balas Anna karena merasa sudah tidak ada tenaga lagi untuk berdebat.
Benar saja, baru beberapa langkah, kaki Anna terasa lemas dan ia hampir terjatuh. Untung saja dengan sigap tangan kekar Carl merengkuhnya hingga berada dalam pelukan hangat milik lelaki tersebut. Tapi naasnya bunyi gesekan pintu membuat mereka berdua merasa dikuliti. Namun orang yang membuka pintu justru lebih merasa bersalah dan bodoh saat itu juga.