Anna dan Carl terkejut melihat pintu kamar terbuka, tampaklah sosok pria tampan dengan balutan jas hitam. Sama halnya dengan dua manusia yang sedang berdiri, lelaki berjas hitam itu juga agak sedikit merasa tak enak. Pasalnya pemandangan di depan mata sedikit asing di matanya.
‘Itu benar si bos’, batin Steve.
“Kenapa kau tak permisi dulu sebelum ingin masuk Stev..” ucap Carl dengan nada dingin dan ekspresi wajah datar.
“Hah..” Stev sedikit terkejut, “Maaf bos” lanjutnya sambil sedikit menundukkan kepala.
“Ayo nona..” ucap Carl sambil merangkul Anna dan menuntunnya menuju kamar mandi. Entah apa yang merasuki tubuh Carl, yang jelas ia sangat nyaman berdekatan dengan Anna. Ada rasa tersendiri baginya.
Steve kali-kali ini benar-benar dibuat bingung dengan bos nya. Setiap susunan saraf di kepala pria ini bereaksi, bertanya-tanya akan apa yang menimpa bosnya sebelum ia datang. Lalu, apa yang terjadi saat ia meninggalkan sang bos untuk membeli minuman.
Lama Stev termenung, hingga akhirnya ia kembali tersadar saat bosnya dengan seorang gadis muda sudah keluar dari dalam kamar mandi. ‘ Hah..!, apa..?, si bos juga ikut masuk?’ tanya Steve dengan rasa penasarannya.
“Kau jangan berpikiran yang bukan-bukan” ucap Carl saat menyadari ekspresi wajah asistennya. “Kamar mandi tersebut ada bilik khusus untuk toilet” lanjutnya.
Mendengar hal tersebut, Stev hanya bisa mengangguk paham.
Carl kembali menuntun Anna untuk berbaring di atas ranjang.
“Di mana Anda tinggal nona?” tanya Carl.
“Ha..?” Anna sedikit tersentak, kaget dengan pertanyaan tak terduga dari Carl. “Em..., maaf saya tidak bisa memberitahu Anda” jawab Anna sambil menunduk. “Itu hal yang bersifat pribadi dan agak tak pantas untuk kita yang baru berkenalan” lanjutnya.
“Hem..,” Carl menghela nafas, “Kau salah paham nona, aku hanya ingin mengantar mu pulang. Atau jika tidak Anda bisa memberikan nomor ponsel suami, agar ia bisa menjemput mu” balas Carl.
“Eh..., em..., tidak usah tuan” balas Anna. “Saya bisa sendiri”.
“Tidak..., tidak.., jangan membantah nona. Cepat berikan saja nomornya” paksa Carl.
“Maaf tuan tidak bisa, itu juga bersifat pribadi” balas Anna.
“Hah...” Carl tak habis pikir dengan gadis yang ada di hadapannya ini. “Anda ini kenapa nona, semuanya dianggap pribadi” jawab Carl sambil menggelengkan kepalanya.
“Maaf tuan” hanya itu yang keluar dari mulut Anna.
Steve hanya mematung melihat adegan yang benar-benar asing baginya. Selama bekerja dengan keluarga Howard, ia tak pernah melihat tuan muda kedua dari keluarga itu terlibat interaksi yang intensif dengan seorang wanita di luar anggota keluarga.
“Maaf tuan, saya bisa pulang sendiri, lagian saya hanya sedikit kelelahan” ucap Anna sambil tersenyum. Senyum yang membuat Carl sedikit menahan nafasnya. Sial..! ada apa dengan dirinya.
“Hem.., baiklah jika itu yang Anda inginkan” jawab Carl. “Steve ayo kita pergi ke kantor” lanjutnya.
“Baik tuan”
Carl kembali melihat Anna sambil berkata “Nona.., saya pergi dulu. Untuk semua biaya rumah sakit sudah saya tanggung hingga besok, sebenarnya Anda bisa menginap di sini dulu sampai besok. Tapi, jika memang Anda sudah merasa baikan maka Anda bisa pergi” ucap Carl.
Anna hanya tersenyum sambil mengangguk, ia melihat punggung lebar Carl perlahan menjauh. Entah mengapa Anna merasa sedih Carl meninggalkannya. Ah.., ada apa dengan Anna.
Carl sudah di ambang pintu, tapi seketika lelaki itu kembali menoleh ke arah Anna seraya berkata “Saya pergi dulu nona, semoga lekas sehat” meski perkataan tersebut diucapkan tanpa ekspresi senyum sedikit pun. Tapi rasanya Anna ingin terbang saat mendengarnya.
***
Seminggu berlalu setelah kejadian antara Anna dan Carl saat pertemuan pertama mereka, dan seminggu sudah pula Carl terus mendekati Anna. Mulai dari mengunjungi Anna di tempat gadis itu bekerja hingga memaksa gadis itu untuk menemaninya makan. Hal tersebut bukan tanpa alasan, Carl merasa bahwa kondisi tubuhnya selalu merasa baik jika ia berada di dekat Anna.
Hal itu terbukti ketika Carl meninggalkan Anna di rumah sakit 1 minggu yang lalu. Baru saja lelaki itu menginjakkan kaki keluar dari lobi utama rumah sakit, rasa mual kembali menghampirinya hanya karena ia tak sengaja mencium aroma parfum milik seseorang yang baru dilewatinya.
Selama 1 minggu itu pula Carl menguji apa benar jika ia berada di dekat Anna ia tak merasa mual saat mencium aroma-aroma sekitar. Terbukti..., saat Carl berjam-jam berada di minimarket, pria itu tak keberatan akan aroma dari pengharum ruangan. Saat Carl melihat wajah Anna, entah mengapa ia merasa mendapat asupan energi yang besar.
Tak sulit juga bagi Carl untuk mencari keberadaan Anna, mulai dari tempat gadis itu bekerja sampai di mana ia tinggal. Bahkan yang membuat Carl sedikit terkejut adalah siapa ayah dari seorang Anna.
Tak jauh berbeda dengan Carl, Anna juga merasakan hal yang sama. Tubuhnya merasa lebih sedikit bertenaga saat ia berada di dekat pria tampan bernama Carl itu. Meski Anna merasa sedikit risih dengan tingkah Carl yang selalu mendekatinya, tapi tubuhnya merespon berkebalikkan.
Namun di lain sisi Anna juga merasa tidak enak, pasalnya kehadiran Carl di tempat ia bekerja menyita perhatian banyak orang, terlebih karyawan minimarket. Bahkan Anna tak lepas jadi bahan gosip teman-teman kerjanya. Sampai-sampai ada yang menganggap bahwa perut buncit Anna merupakan hasil perbuatannya dengan pria yang selalu menunggunya bekerja.
Anna juga sering mendapat hinaan, ia dikira menjadi wanita simpanan pria bernama Carl itu. Pria yang banyak tak diketahui oleh khalayak ramai. Pasalnya Carl memang jarang muncul di publik sehingga banyak orang tak mengenal siapa dirinya. Carl pria dengan perawakan yang tampan, gagah, dan dewasa. Tak salah jika Anna dianggap wanita simpanannya, melihat Anna yang masih muda dan Carl..., tak mungkin pria dewasa seperti dia tak memiliki kekasih atau istri.
Yang lebih tak masuk akal adalah dari segi penampilan sudah dipastikan bahwa pria itu dari kalangan atas. Tentu sangat tak mungkin Anna menjadi kekasih atau istrinya. Ya, jawaban yang tepat ialah Anna hanya seorang wanita simpanan atau bisa dikatakan wanita pemuas nafsu belaka. Begitulah pemikiran beberapa pekerja minimarket terkait apa hubungan Anna dengan pria bernama Carl itu, terlebih Yuri yang sangat membenci Anna. Gadis itu sangat geram melihat Carl yang selalu memperhatikan Anna, bahkan gadis itu sempat berpikir untuk menggoda Carl agar ia bisa menjadi wanita simpanan pria itu.
‘Jika dilihat-lihat, apa yang bisa membangunkan hasrat pria itu saat melihat Anna. Heh.!, dari sisi apapu tentu aku lebih dari si Anna itu', pikir Yuri.
Tapi sayangnya setiap Yuri berusaha untuk mendekati Carl, justru pria itu tidak menanggapinya sama sekali.
Namun ada satu orang yang sangat memprihatinkan dari kondisi ini. Orang tersebut tak lain ialah asisten Steve. Pria ini harus memupuk rasa sabar sebanyak-banyaknya. Bagaimana tidak, selama 1 minggu ini seluruh pekerjaan diselesaikan oleh dirinya. Bahkan Steve lupa kapan terakhir kali ia pulang ke apartemennya. Saking sibuknya, ia harus rela tidur di kantor agar tak membuang waktu. Jika ia pulang ke apartemen, tentu ia akan membuang waktu yang berharga untuk perjalanan pulang saja.
Ya begitulah nasib bawahan. Harus menurut apa yang diperintah oleh atasan. Terlebih tampaknya atasannya itu sedang diserang virus b***k cinta. Hah, agak sedikit lucu diusia segitu baru merasakan yang namanya cinta. Tapi Steve juga tidak tahu pasti apakah bosnya memang sedang jatuh cinta atau hanya memanfaatkan keadaan demi kenyamanan tubuhnya.
Intinya hanya bosnya saja yang tahu. Steve tidak mau semakin pusing dengan memikirkan tingkah bosnya akhir-akhir ini. Nasibnya sudah cukup malang, tentu ia tak mau semakin mendapat kemalangan.
Salam sayang dari author, jangan lupa
1. Masukkan ke library
2. Like and Komen