Di sisi lain, seorang wanita muda tengah kesusahan. Wanita itu sedang menentang dua kantong besar yang berisi makanan.
Brak...!
Tiba-tiba salah satu kantong plastik pecah hingga membuat isinya berceceran.
“Ah..., Sial..” keluh Anna, dia ingin membungkuk. Tapi perutnya yang sudah membesar membuatnya merasa tidak nyaman untuk melakukan itu.
“Hei, bisa ku bantu?” seorang pria muda tiba-tiba saja datang menghampiri
“Ah.., tidak perlu susah-susah”
“Tidak, aku tidak merasa keberatan. Lagi pula kau memang terlihat butuh bantuan” lelaki itu tak mengindahkan penolakan dari Anna. Ia tetap memungut satu persatu makanan yang berserakan di tanah dan mengumpulkannya, “Kita butuh kantong baru” ucapnya dan sedetik kemudian pria itu berlari ke sebuah toko kecil yang tak jauh dari tempat Anna berdiri.
Anna hanya memandang pria itu tanpa berkata apa pun. Ia sudah cukup lelah karena harus membawa 2 kantong plastik besar. Ditambah harus berjalan, melewati jalan sempit yang kotor. “Ayah, kau memang sangat keterlaluan. Kau berhutang banyak pada ibu karena sudah menelantarkanku” gumamnya.
Anna hanya bisa menghela nafas untuk saat ini. Ia tidak bisa berbuat banyak, jika saja ia seperti dulu. Tentu ia akan berusaha untuk bekerja dan tidak akan sudi menerima uang pemberian ayahnya. Ia lebih suka memiliki penghasilan sendiri, setidaknya itu membuat dirinya merasa lebih baik. Namun, untuk saat ini tidak akan ada yang mau memperkerjakan wanita hamil seperti dirinya. Untuk bergerak saja susah, apalagi bekerja.
“Hei..., Sini kita masukkan barang-barangmu” kata si pria yang barusan menolong Anna.
Pria itu berparas tampan dengan hidung mancung. Rambutnya pirang, dan itu menambahkan kesan menawan untuknya.
“Sudah ku katakan tidak perlu repot-repot”
“Ah, ini tidak repot. Lagi pula sangat tidak sopan jika aku mengabaikanmu yang tengah membutuhkan bantuan. Sudahlah nona jangan terlalu dipikirkan”
Mereka berdua memasukkan barang-barang yang tadinya berjatuhan. “Sekarang tunjukkan, di mana kau tinggal?” tanya pria itu
Anna mengernyit, “Untuk apa kau tahu tempat tinggalku?”
“Hem..,” dia menghela nafas
“Kau ini bodoh atau bagaimana sih nona. Tentu aku harus tahu di mana kau tinggal agar aku bisa membantumu untuk membawa semua barang-barang ini” ucapnya sambil melirik ke arah kantong besar yang ada di genggamannya.
“Sudah katakan saja, jangan menolak niat baikku” kata pria itu saat tahu Anna pasti ingin menolak dirinya lagi.
“Ya ya, terserah kau saja. Aku tinggal di apartemen blok F nomor 212” wajahnya Anna terlihat datar saat memberikan alamat tempat tinggalnya
“Baik, kalau begitu mari kita lanjut” kata pria itu sambil melangkah terlebih dahulu
***
Carl sudah rapi dengan jas mahal yang membalut tubuh atletisnya. Ia akan menjemput wanita yang beberapa bulan ini selalu memenuhinya ruang di kepala. Baru kali ini ia dibuat pusing oleh seorang wanita. Padahal banyak wanita yang sudah pernah mendekatinya, tapi tidak ada yang bisa membuat dirinya bereaksi seperti sekarang.
Steve hanya diam, namun ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada tuan mudanya ini. Hal penting yang harus ia sampaikan sebelum terlambat.
“Ada apa Steve?” tanya Carl saat melihat ekspresi asistennya dari pantulan cermin. Steve sudah bekerja lama untuk keluarga dan dirinya, maka tak heran jika Carl mampu membaca ekspresi yang ditunjukkan oleh si asisten.
“Emm..., Tuan..”
“Ya...” Carl berhenti untuk mendengar apa yang ingin Steve sampaikan
“Apa tuan sudah yakin dengan semua ini. Em.., maksud saya soal nona Anna” ucapnya dengan penuh kehati-hatian
“Memangnya ada apa?” jawab Carl cuek
“Tuan tahu sendiri nona Anna..”
“Steve...” suara datar milik Carl seketika memotong ucapan Steve, “Kau tahu aku kan..?”
Steve langsung tersadar dari kebodohannya dan langsung mengangguk sembari terus mengucapkan kata maaf, “Maaf tuan, saya sudah lancang. Maaf, maafkan saya”
Carl hanya diam. Nasib baik Steve merupakan orang kepercayaannya, jika tidak mungkin Carl sudah melayangkan kursi di dekatnya ke wajah Steve. Carl tahu apa yang ada dalam pikiran asistennya. Namun ia tak suka Steve menilai rendah gadis pujaannya.
“Sebaiknya kau keluar, siapkan mobil. Aku tidak ingin terlambat menjemput Anna. Oh iya, jangan lupa hubungi Darren”
“Baik tuan” setelah pamit Steve langsung menjalankan perintah.
Carl kembali memandang dirinya di depan cermin. Hal ini tak biasa ia lakukan, tapi entah mengapa ia seperti merasa selalu ada yang kurang sejak tadi.
Carl dan Steve melaju menggunakan mobil, mereka terlebih dahulu menemui Darren di sebuah resto di daerah Maryland. Hanya Darren yang mengetahui keberadaan Anna.
Darren sudah siap untuk menemui atasannya tersebut. Meski dia merasa kesal mengapa harus Anna yang diinginkan oleh seorang Carl Howard. Padahal menurut Darren, Catherine jauh lebih menarik dibanding Anna.
“Halo, selamat pagi tuan Howard” sapa Darren saat mobil hitam berhenti dan salah satu kaca jendela mobil terbuka.
“Sudahlah tuan Darren Anda tidak perlu banyak basa-basi. Sebaiknya cepat Anda masuk ke dalam mobil Anda dan tunjukkan kepada kami di mana nona Anna tinggal sekarang” jawab Steve. Pria ini selalu mewakili Carl dalam segala hal. Sedangkan Carl hanya diam, bahkan menoleh ke arah Darren pun tidak.
Menerima reaksi seperti itu membuat Darren bertambah kesal. Ia mengepalkan tangan sambil memaksakan seulas senyuman. “Baik, kalau begitu mari kita pergi”
Darren masuk ke dalam mobil lalu berjalan terlebih dahulu menuju kediaman Anna. Dia tidak peduli bagaimana reaksi Carl nantinya saat melihat lingkungan sekitar tempat Anna tinggal. Yang terpenting bagi Darren adalah dia masih diberi kesempatan untuk bekerja di HG (Howard Group) setelah memberikan putrinya yang tidak berharga itu kepada Carl.
***
“Kau tinggal sendirian di sini?”
“Ya..”
“Lalu di mana suamimu?”
“Apa dia pergi meninggalkanmu?, atau jangan-jangan kalian belum menikah dan dia tipikal lelaki yang tidak bertanggung jawab?”
“Hei..!, aku berbicara denganmu bukan dengan batu. Jadi tolong dijawab pertanyaanku itu”
“Apa itu penting untuk dirimu?” Anna balik bertanya
“Tidak.., em.., maksudku tidak juga”
“Lalu?, untuk apa kau mengajukan pertanyaan sebanyak itu” Anna melangkah sedikit lebih dekat ke arah pria yang barusan menolongnya, “Dengar.., kita baru saja bertemu beberapa menit lalu. Kau memaksa masuk ke dalam rumahku dan sekarang.., kau berlagak seperti kita sudah lama kenal dengan bertanya banyak hal tentangku”
Pria itu sedikit meringis mendengar ucapan Anna. Ia hanya tersenyum tipis sambil berkata, “Oh maaf jika apa yang aku lakukan telah membuatmu tidak nyaman. Tapi ketahuiah, aku hanya ingin menolongmu. Ku pikir tidak mungkin seorang wanita yang tengah hamil besar untuk tinggal sendirian”
“Apanya yang tidak mungkin?. Aku memang tinggal sendirian dan kuharap kau segera pergi karena aku ingin beristirahat. Terima kasih sudah menolongku tadi” Anna berbalik dan pergi meninggalkan pria itu di dapur.
Baru saja ia ingin menanggapi ucapan Anna, tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar...
***
Salam sayang dari author, jangan lupa
1. Masukkan ke library
2. Like and Komen