Fania memasukkan pisang berbalut tepung itu ke dalam minyak panas. Bunyi gemericik minyak mengaluni kegiatan memasak Fania pagi ini. Bibirnya sejak tadi diam-diam merekah senyum bak bulan sabit. Ia mengingat kembali hadiah yang Farel maksud semalam. Ah, membicarakan tentang semalam, Fania sudah tak tahu mau mengatakan apa. Rasanya seperti menciptakan alunan melodi cinta mereka berdua. Fania tertegun saat merasakan ada dua lengan besar yang melingkar di pinggangnya. Dari aroma tubuh yang mengeluarkan aroma mint itu, Fania bisa membaca kalau pemilik lengan itu adalah Farel, si tuan kutub yang sudah menjadi suaminya. Lagipula, siapa lagi kalau bukan Farel? Di rumah itu hanya ada mereka berdua dan kedua orangtua Farel. "Pagi Istri..." Fania berdeham pelan menghilangkan gugupnya yang seperti

