Perpisahan

1158 Words
Untaian doa dari Bapak dan Bu Nyai mengiringi keberangkatanku pagi ini. Dengan berat hati aku berpamitan pada dua orang yang telah berjasa membesarkan serta mendidikku setelah Kakek dan Nenek meninggal. Aku memeluk erat tubuh wanita yang menjadi ibu angkatku selama kurang lebih sepuluh tahun. "Hati-hati, ya, Ay. Jaga dirimu baik-baik," pesan Bu Nyai. Matanya sembap menahan tangisan. Aku menitikkan air mata di pundaknya.Menyeka dengan ujung jari sebelum mengucapkan kata perpisahan. "Bapak ... Bu Nyai, Ay mengucapkan banyak terima kasih karena kalian telah berperan serta dalam hidup Ay. Mendidik dan menjaga Ay sejak kecil. Saatnya sekarang membalas kebaikan kalian. Ay janji akan segera mengabari setelah tiba di sana," ucapku terbata. "Jangan merasa sungkan, Ay. Seharusnya kami yang berterimakasih karena kamu bersedia menerima lamaran Tuan Andrew. Bapak berdoa semoga rumah tangga kalian langgeng seperti kami," balas Bapak menimpali. Bapak memang tidak mengetahui tentang persyaratan yang kuajukan sebelum pernikahan kepada Tuan Andrew. Biarlah, aku tidak ingin mereka ikut menanggung beban setelah sekian tahun aku tinggal bersama di rumah sederhana ini. "Bapak berpesan kepadamu, Ay. Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati. Jagalah dengan baik, Nak. Bapak tahu kamu anak yang tulus berbakti." "Iya, Pak. Ay akan ingat pesan Bapak ... Bu Nyai, jaga kesehatan kalian. Ay pasti akan merindukan rumah ini." "Mobilnya sudah tiba, Dik Ayuni." Tuan Andrew muncul di depan pintu. Ia menyewa mobil dari salah seorang rekan kerjanya untuk mengantarkan keberangkatan kami ke Jakarta. "Pak ... Bu, Ay pamit, ya." Sekali lagi aku memeluk tubuh kurus Bu Nyai. Tuan Andrew bersalaman dengan Bapak sebelum membantuku membawa tas berisi pakaian. "Kak Ay, nanti kalau pulang jangan lupa bawa oleh-oleh juga mainan buat Akbar, ya," celetuk si bungsu yang sudah mulai membaik. "Iya, Sayang, kakak janji. Akbar cepat sembuh dan jangan nakal, ya." Aku mengacungkan jari kelingking, lalu mengapit dengan jari mungil adikku. Ketika kendaraan yang kami tumpangi hendak bergerak, aku melihat Barja masuk ke tubuh teman si sopir. Pria itu tampak sangat lelah dan mengantuk. Dia meminta izin tidur sejenak sebelum bergantian mengemudi kendaraan. Aku duduk di jok belakang di sebelah Tuan Andrew. Pandanganku lepas bebas menatap jalanan yang terlewati. Rambutku meliuk ditiup angin bak mayang terurai. Wangi sampo yang kupakai menguar lembut bercampur bau mesin dan jalanan beraspal. "Apa kamu pernah ke Jakarta sebelumnya, Dik Ayuni?" tanya Tuan Andrew mengajakku bercerita. "Tidak," jawabku singkat. "Saya mendengar cerita Wa Karni, kata beliau ayah kandungmu tinggal di Jakarta ...." "Saya tidak mau membahas tentang itu." Aku menyandarkan kepala pada jendela mobil. Tuan Andrew menatapku lekat. Rasa ingin tahunya ia pendam, manakala melihatku tak mengacuhkan pertanyaannya. Andai ia tahu tentang masa lalu ibuku, aku yakin ia menyesal mendengarkan cerita bagaimana asal-usulku. Aku adalah anak hasil poligami orang tuaku. Berpoligami memang tak salah menurut agama, hanya saja tidak bisa diterima begitu saja dari beberapa pihak, terutama istri pertama. Ayahku menikahi ibu, tetapi di luar sepengetahuan istri pertamanya. Ketika ibu hamil, hubungan mereka terendus oleh istri pertama ayah. Setelah itu, tiba-tiba, ibuku menderita penyakit aneh seperti telah diguna-guna hingga ibu kehilangan nyawa tepat saat usiaku baru sebulan. "Sejak kapan Pak Hamid dan Bu Nyai mengangkatmu sebagai anak, Dik Ayuni?" "Sejak usia saya sembilan tahun, saat Nenek mulai sakit-sakitan ...." "Apa kamu tidak pernah mendatangi ayah kandungmu atau hanya sekadar ingin bertemu?" Aku menggeleng cepat. Rasanya tidak penting berurusan dengan ayah biologisku. Hingga sekarang, aku tidak peduli dia masih hidup atau sudah mati. Setelah mengabaikan ibu serta menelantarkan aku, untuk apa aku harus berhubungan dengannya? Suara bising knalpot bersahutan di tengah jalan. Suasana macet sepertinya sudah menjadi ciri khas kota ini. Bau polusi semakin terhidu, rasa mual di perut tak bisa kutahan lagi. Melihat gelagat itu, Tuan Andrew segera menyodorkan plastik. Lalu, membukanya tepat di bawah mulutku. "Bagaimana, sudah lebih baik, Dik Ay?" tanyanya setelah aku memuntahkan cairan kental bercampur makanan yang tadi pagi kutelan. Aku menghela napas kepayahan, tubuh pun terasa lemas. Punggung tanganku menyeka keringat akibat menahan rasa sakit di bagian d**a. Aku sangat terkejut saat tangan Tuan Andrew menyentuh kening sembari memijat kepalaku. Bulu kuduk semakin meremang saat tangannya berpindah memijat tengkuk leherku. "I-ini su-dah lebih baik, Tuan Andrew," kataku kikuk. Aku segera menepis tangannya dan menggeser posisi duduk menjauhi. "Kalau kamu lelah, tidurlah. Nanti saya bangunkan kalau kita sudah sampai hotel ...." "Ho-hotel?" Mataku terbelalak setelah ia mengatakan tempat tersebut. Walau hanya seorang gadis yang berasal dari kampung, mendengar tempat bernama hotel membuatku sedikit paranoid. Menurutku, tempat itu identik dijadikan sebagai tempat m***m pasangan kumpul kebo. Atau mungkin karena aku yang terlalu kampungan? "Iya, saya sudah booking tiket pesawat keberangkatan pagi pukul 08.45 WIB. Malam ini kita akan menginap di hotel. Jangan khawatir, saya pesan dua kamar terpisah," ucapnya tenang seperti menebak pikiranku. Aku tak menyahut. Meskipun aku diam tenang bagai ikan, tetapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan. Tubuh ini terasa lelah dan tanpa sadar aku tertidur lelap selama dalam perjalanan. Merasa canggung saat terbangun, kepalaku telah bersandar di bahu kokoh milik Tuan Andrew. Aku mengerjap kaget, lalu, buru-buru duduk ke posisi semula. "Sebentar lagi kita sampai," ujarnya saat mengetahui kegugupanku. *** Mobil sewaan yang mengantarkan kami berhenti di depan sebuah bangunan bercat putih dan bertuliskan, 'Dee Green Inn' dilengkapi area parkir yang terlihat cukup luas. Tuan Andrew turun dari mobil, membuka pintu belakang, dan mengambil barang-barangnya. Aku mengikutinya menuju bangunan tersebut. Ia berjalan ke arah pria muda berseragam hijau muda yang berada di belakang meja panjang. Tuan Andrew menyapa, lalu memperlihatkan ponsel miliknya sebelum pegawai itu memberikan kunci untuk dua kamar. "Ini kuncinya ... maaf, apa kamu tidak keberatan kalau saya memanggilmu Ayuni saja? Kamu juga cukup memanggil nama saya." "Hmm ...," sahutku datar. "Sebaiknya kamu mandi dulu. Jangan lupa nyalakan air panas. Kalau tidak tahu caranya, panggil saya di kamar sebelah," ujarnya seraya menujuk ke arah samping. Aku masuk ke kamar, hal pertama yang ingin kulakukan adalah berendam di dalam bak penuh air. Setelah seharian di perjalanan hanya mampir sejenak di area peristirahatan. Badan terasa lengket berlumur keringat. Aku memang tidak tahu cara menyalakan air panas, tapi aku tak peduli. Karena yang kubutuhkan air sejuk agar seluruh tubuh segar kembali. Cukup lama aku berendam, hingga tak terasa matahari hampir beranjak ke peraduan. Sedikit tersentak saat kudengar sebuah ketukan. "Ada apa, Tuan?" Aku menatap heran pada lelaki yang sedang berdiri di depan pintu. Ia termangu, netranya menatap lekat busana yang kupakai, daster bermotif batik warna mustard selutut dengan tali di atas kedua bahu. Sekilas aku dapat membaca pikirannya yang sedang bergerilya. "Sudah puas?" tanyaku santai membuyarkan fantasi indahnya terbang ke mana-mana. "Eh, a-apa?" Ia tergagap. "Seharusnya saya yang tanya, ada perlu apa Anda ke sini?" "Umm, gaunmu indah. Kamu semakin cantik dan memesona, Ayuni." "Apa Anda ke sini cuma mau merayu saya, Tuan Andrew?" Aku menggerutu kesal dan hendak menutup pintu. Namun, dengan cepat ia berhasil menahan tanganku sebelum pintu kamar tertutup. Sorot matanya berbinar menandakan ia menginginkan sesuatu. Jaraknya denganku begitu berdekatan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD