Sah Menikah

1295 Words
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayuni Humaira binti Ahmad Sabian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" tegas Tuan Andrew berucap lantang. "Sah?" tanya petugas KUA. "Sah! Alhamdulilah ...," ucap Bapak diikuti oleh hadirin yang menyaksikan proses ijab kabul. Setelah proses ijab kabul diucapkan dengan lancar dan dinyatakan sah oleh penghulu dan para saksi, Bapak menyampaikan tausiyahnya untukku dan Tuan Andrew. Wajah Tuan Andrew tampak lebih rileks. Bahkan, saat Bu Nyai menyuruhku untuk mencium tangan Tuan Andrew. Ia malah terlebih dulu meraih tanganku dan hal itu membuatku tersipu malu. Aku mendekatkan tubuh menghadap pada lelaki yang telah menjadi suamiku. Mencium punggung tangannya menandakan bakti seorang istri terhadap suami, walau aku sendiri melarang kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh suami. "Saya akan ganti pakaian," pamitku setelah acara selesai. Kain batik serta kebaya yang kupakai terasa sempit mengimpit tubuh. Ketika sedang melepas pakaian, aku merasa sepasang mata tajam tengah mengawasiku. Erangannya mengerikan, penuh nada ancaman marabahaya. "Nanti malam apa dia akan menginap di sini, Cah Ayu?" tanya Masida penuh selidik. Aku hanya menggeleng sambil melipat kebaya, lalu menaruhnya di atas bantal. "Baguslah! Kalau dia menginap di sini, aku yakin dia akan berhadapan dengan Barja. Cakaran kukunya akan membekas di kulit suami tampanmu itu," ujarnya cekikikan. Aku tak mengindahkan celotehan Masida. Kurebahkan tubuh di ranjang, menatap pada langit-langit kamar. Pikiran menerawang, mengulang kejadian yang baru saja terjadi. Kini, mau tak mau statusku telah berganti menjadi seorang istri. "Ay ...." Panggilan Bu Nyai menghamburkan lamunan. "Temani suamimu makan, Ay. Kamu juga belum makan dari pagi. Ayo, Nak!" titahnya membuatku salah tingkah. "Ay belum lapar, Bu Nyai." "Membiarkan suami makan sendirian itu tidak baik, Ay. Ayolah, lagi pula Tuan Andrew tamu di rumah kita." Bu Nyai menyentuh tanganku lembut. Terpaksa aku mengikuti perintah ibu angkatku. Jika bukan karena kelembutan sikap Bu Nyai, aku lebih memilih mengurung diri di kamar. Di ruang makan, Tuan Andrew sedang menunggu dengan ditemani Bapak. Tampaknya mereka sedang bercerita tentang perkebunan sayur yang sedang dikerjakan oleh Bapak. Ia melepas jas dan peci yang dipakai saat resepsi, seperti biasa hanya mengenakan kemeja putih yang dipilin hingga lengan dan memperlihatkan kulit tangannya yang putih kemerahan. "Oh, ya, Pak ... setelah surat nikah dan paspor Ayuni jadi, saya akan mengajak Ayuni ke negara asal saya." "Kami setuju saja, Tuan Andrew. Asalkan Ayuni tidak keberatan," sahut Bapak tenang. "Bagaimana dengan kamu, Ay?" tanya Bu Nyai. Aku meletakkan sendok di atas piring, menunduk, dan mengangguk pelan. Mataku tertuju pada lelaki itu, diam-diam ia sedang mencuri pandang. Saat aku menangkapnya, dengan cepat ia memalingkan wajah. Dari sikapnya terlihat jelas ia salah tingkah. Tiba-tiba, Tuan Andrew tersedak. Entah karena gugup atau menyantap makanan pedas sehingga wajahnya tampak memerah. "Ay, ambilkan air minum untuk suamimu!" Siku Bu Nyai menyenggol tanganku penuh isyarat. "Terima kasih, Dik Ay--uhuk!" serunya masih terbatuk. "Kami minta maaf atas ketidak nyamanan gubuk kami, Tuan Andrew. Kami tidak bisa menyediakan tempat dan kamar pengantin yang layak," ujar Bapak memohon pengertian. "Oh, tidak apa-apa, Pak Hamid. Saya yang seharusnya meminta maaf karena tidak bisa menyanggupi pesta pernikahan ini dengan baik. Saya berjanji akan membahagiakan putri Bapak ...," ucapnya seraya menatapku. "Bu, Salsa mau tidur di kamar Kak Ay, boleh, kan, Bu?" rengek Salsa. "Salma juga, boleh, ya, Bu. Kamar Kak Ay bagus, deh." "Salsa, Salma ... tidak boleh begitu! Kalau kalian tidur di kamar Kak Ay, nanti Kak Ay tidur di mana?" "Cuma semalam saja, Bu? Boleh, ya, Kak Ay?" Aku membalas dengan anggukan melihat tingkah kedua gadis kecil itu merengek ingin tidur di kamar pengantin yang dihiasai lampu kelap-kelip. Lalu, membereskan meja makan sebelum membawa piring ke belakang. "Ay, kamu izinkan adik-adikmu tidur di kamar. Nanti kamu sama Tuan Andrew mau tidur di mana?" tanya Bu Nyai berbisik. "Tidak apa-apa, Bu. Ay bisa tidur di kursi. Lagi pula, saya yakin Tuan Andrew akan pulang," sahutku, melirik sekilas pada lelaki itu yang tengah bersiap. Ia menoleh disertai senyuman yang sulit diartikan, "Kalau Dik Ayuni tidak keberatan, dengan senang hati saya akan membuka pintu penginapan untuk ditempati olehmu." Mendengar itu sontak membuat mataku mendelik menatapnya. Sekali lagi kuingatkan tentang ketiga persyaratan sebelum pernikahan ini. "Sebaiknya Anda pegang janji Anda Tuan Andrew Wesley!" *** Angin berembus melalui jendela yang terbuka. Aku menyandarkan tubuh pada kursi kayu di ruang tamu, mengurangi rasa penat setelah seharian menjalani acara pernikahan. Walau terkesan sederhana, prosesnya tetap mengikuti sesuai adat di desa kami. "Lepaskan cincin itu, Ayuni!" perintah Barja membangunkanku secara tiba-tiba. Mata yang hampir terpejam mendadak segar kembali. Aku menatap sosoknya yang tengah duduk di kursi. Wujudnya telah berubah menjadi sosok pria bertubuh tinggi tegap. Bentuk rahangnya kuat, kepalanya memakai iket dari kain khas adat Sunda. Kedua tangan menyilang menutupi dadanya yang setengah terbuka. "Ini hanya cincin tanpa arti, Barja." Aku kembali mencoba memejamkan mata tanpa memedulikan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisku. "Aku tidak percaya, Ayuni ... aku tidak suka pria itu. Jangan mengelabuiku!" desisnya menyeringai. "Kita lihat saja nanti, Barja. Biarkan aku istirahat sekarang. Aku sangat lelah ...." Pria itu melengos, membiarkanku kembali mendekapi sunyi. Setelah dia pergi, aku merasakan pijatan pada telapak kaki. Perlahan kubuks mata, tampak samar-samar sosok wanita tua tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berwarna kecokelatan, peranda seringnya mengunyah daun sirih. Rambut putihnya digelung rapi. Sekilas wajahnya mirip sekali dengan almarhum nenekku. *** "Minggu depan kamu harus persiapkan diri, Dik Ayuni. Kita akan berangkat ke Jakarta. Semua dokumenmu sudah saya siapkan." Tuan Andrew memberitahu saat kami bertemu di sore hari. "Boleh saya bertanya sesuatu, Tuan?" "Tentu. Tapi tolong berhenti memanggil saya dengan sebutan Tuan. Saya bukan majikanmu, Dik Ayuni." "Saya perlu waktu untuk membiasakan diri. Saya ingin tahu tentang masa lalu Anda? Saya tidak bisa melihatnya ...." "Masa lalu tentang apa? Karier atau jodoh saya?" "Keduanya ... Anda pernah mengatakan kepada saya tentang kegagalan tersebut. Apakah keduanya itu saling berkaitan?" "Ya ... sangat berkaitan!" balasnya sambil menerawang dan mengingat masa lalu. "Saya mengalami masa pailit setelah mantan istri saya dan lelaki selingkuhannya membawa kabur uang perusahaan termasuk uang gaji semua karyawan di perusahaan. Saya juga telah ditipu oleh lelaki itu karena dia partner bisnis saya," ungkapnya. "Saya terpaksa menjual perusahaan beserta sahamnya untuk mengganti seluruh kerugian. Bahkan, rumah, mobil, dan tabungan saya telah disita bank. Saya bertahan dengan bekerja serabutan sebelum bertemu sahabat saya dan menawarkan pekerjaan sebagai staff di perusahaan miliknya. Hingga saya ditempatkan di kantor cabang di sini. Masalah keuangan saya mampu mengatasi, tapi harga diri sebagai lelaki telah jatuh karena ulah mantan istri saya," terangnya panjang lehar. "Jadi, Anda ingin membalas pengkhianatan mantan istri dan rekan bisnis Anda, Tuan Andrew?" "Ya, kamu benar, Ayuni. Karena membalas dendam dengan menjadi lebih baik itu lebih indah, buman? Meski saya kesulitan dan tidak tahu bagaimana memulai hidup yang lebih baik." "Saya tahu Anda pria baik, Tuan Andrew. Anda juga memiliki daya tarik sebagai lelaki dewasa dan saya rasa, Anda tidak akan kesulitan untuk memulai hidup yang lebih baik. Anda juga, ummm ... lumayan tampan. Dengan perasaan sungkan terpaksa harus kuakui kelebihannya. Mendengar penuturanku, entah kalimat mana yang menurutnya terdengar  lucu hingga lelaki itu tergelak.  "Semakin dewasa ketampanan seorang pria bukan lagi menjadi prioritas bagi perempuan. Melainkan tanggung jawab, Dik Ayuni." "Apa itu kata-kata rayuan?" "Bisa jadi ... dan saya rasa kamu akan menyetujuinya suatu saat nanti." Ia mengendikkan kedua bahu sembari memasukkan tangan ke dalam saku celana. Gerimis senja mengakhiri obrolan kami. Mengelilingi kebun teh dengan pria yang baru kukenal dan kini telah menjadi suamiku sehari sebelumnya bukanlah awal yang buruk. Dari setiap tutur katanya, aku yakin Tuan Andrew pria dewasa. Walau penampilannya terkadang menutupi karakter aslinya. Lelaki itu terlihat lebih muda di usianya yang mendekati kepala empat. Jika tidak bisa menjadi pasangan kekasih, maka lebih indah bila menjalin persahabatan. Seperti pepatah mengatakan, "Persahabatan itu seumpama laut dan pasir, senantiasa bersama-sama menghadapi pecahan ombak, bersama-sama merasakan lelehan senja, dan saling melengkapi dari masa ke masa." 'Ah, bisakah kita nantinya seperti itu, Tuan Andrew?' Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD