Kesepian

1309 Words
"Kesepian bukanlah alasan untuk jatuh cinta. Banyak orang yang tetap merasa kesepian meski telah jatuh cinta." "Aku tidak tahu, Masida," jawabku berbohong. "Tidak tahu?" ulangnya lembut. Wajahnya yang menyeramkan berubah menjadi sosok perempuan yang manis. "Hatimu sendiri tidak yakin, Cah Ayu. Apa kemungkinan kamu akan menerima lamaran pria itu?" tebaknya. "Entahlah, Masida. Ada sesuatu yang tak bisa kupahami. Aku merasa kasihan. Dari sorot matanya, pria itu benar-benar terluka. Tapi aku tidak tahu masalahnya selain alasan yang dia ucapkan ... aku melihat dia seperti sangat kesepian. Bukankah aku juga orang yang selalu kesepian? Hanya bisa berbagi cerita dengan kalian ... aku takut perasaan seperti ini mempengaruhi keputusanku." "Cah Ayu, kesepian bukanlah alasan untuk jatuh cinta. Ketahuilah, banyak orang yang tetap merasa kesepian meski mereka telah jatuh cinta. Kamu tahu, aku selalu mengawasi anak-anak remaja memadu cinta di kebun teh itu? Mereka melengkapi kesepian bukan karena perasaan cinta, tapi untuk memenuhi nafsu dengan berbuat maksiat." Kata-kata yang diucapkan Masida penuh semangat serta nasihat layaknya seorang motivator. "Cinta ibarat pisau, semua bergantung di tangan orang yang menggunakannya," tambahnya lagi. Aku hanya terdiam mendengarkan Masida bercerita. Terkadang, makhluk itu sering membuatku kesal, tetapi apa yang dia ucapkan memang masuk akal. Aku seperti anak kecil yang sedang diceritakan dongeng pengantar tidur. Hingga tanpa sadar, mataku mulai terpejam dan terlelap dalam buaian malam. Mimpi pun menyapa, merangkai bunga, menjelajahi alam bawah sadar. *** "Akbar kenapa, Bu Nyai?" Pagi-pagi, Bu Nyai tampak cemas terduduk di bibir ranjang sambil meletakkan kain basah di kening si bungsu, Akbar. "Adikmu demam, Ay," ujarnya sedih. "Sejak kapan? Kemarin Ay lihat dia bermain di luar." "Semalam ... dia terbangun, katanya mimpi buruk." Aku ingin sekali mengobati sakit Akbar. Namun, Bapak tak menyukai itu, ia khawatir kemampuanku yang bisa menyembuhkan orang karena atas bantuan jin yang menempel dalam diriku. Ia menegaskan bahwa Akbar akan diperiksa oleh dokter. Bapak sudah izin hari ini untuk tidak berangkat kerja. Ia meminjam motor Wa Karni dan membawa Akbar ke puskesmas. "Bagaimana keadaan Akbar, Bu Nyai?" Aku melihat kegelisahan di wajah ibu angkatku. "Akbar menderita usus buntu, Ay. Kata dokter di puskesmas, adikmu harus dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi ...," tangis Bu Nyai pecah seketika. Aku merangkul pundaknya untuk menenangkan dan memberi kekuatan. "Kalau begitu kita harus ikuti saran dokter. Barangkali melalui jalan operasi, penyakit Akbar bisa disembuhkan." "Ibu tahu, Ay ... tapi dari mana ibu mencari uang untuk biaya operasi? Tadi pagi saja, Bapak pinjam uang lagi pada Wa Karni untuk periksa adikmu ke puskesmas." Aku turut prihatin. Aku tahu, untuk kebutuhan darurat seperti ini mereka pasti sangat kebingungan. Kulihat, Bapak tiba di rumah dengan menekuk wajah. "Bu, bapak akan bawa Akbar ke rumah sakit untuk menjalani operasi." "Ke rumah sakit? Dari mana bapak mendapat uang untuk biaya operasi?" Bapak terdiam. Ia menoleh ke arahku dengan raut penuh penyesalan. "Bapak akan pinjam lagi sama Wa Karni. Ay, bapak minta maaf, Nak ... Wa Karni akan meminjamkan uang kalau kamu menerima lamaran Tuan Andrew. Bapak sangat bingung." Bagai disambar petir di siang hari. Takdir sepertinya sedang menguji dan ingin agar aku menyerah. Menerima lamaran pria yang sama sekali tak kukenal keseluruhan pribadinya. Ini akan menjadi ujian dan awal sebuah petualangan, tetapi aku tak boleh pasrah begitu saja pun tak akan menangisi nasib. "Baik, Pak. Saya menyetujui permintaan Wa Karni. Saya akan menerima lamaran Tuan Andrew, tapi sebelumnya saya perlu bicara dengannya lagi. Saya akan ke rumah Wa Karni sekarang." Usai berkata demikian, aku segera menuju kediaman Wa Karni. Ternyata sudah ada Tuan Andrew di sana. Kebetulan sekali, aku tak perlu repot mendatangi penginapannya. Pria itu tampak terkejut melihat kedatanganku. "Wa, Bapak baru saja mengatakan tentang uang pinjaman untuk biaya operasi Akbar. Saya datang ke sini untuk menyetujui permintaan Wa Karni dan saya menerima lamaran pria itu ...." Aku melirik sekilas ke arah lelaki yang kumaksud. "Baguslah, Ayuni. Wa tahu kamu anak yang berbakti." Wa Karni tersenyum semringah. "Dik Ayuni ... sebenarnya niat saya tulus ingin membantu ayahmu--" sela Tuan Andrew sebelum ia selasai berujar, aku segera menjeda kalimatnya. "Tidak apa-apa, Tuan Andrew. Saya tahu bagaimana harus berterimakasih dan membalas budi." Aku membalasnya dengan menatap tajam. "Tapi, perlu Anda ketahui. Ada syarat yang wajib Anda setujui dengan rencana pernikahan ini. Saya harap Anda tidak keberatan." "Tentu saja, silakan dilanjutkan!" "Ada tiga persyaratan dari saya yang harus Anda setujui. Pertama, status kita hanya menikah di atas kertas dan Anda tidak boleh menyentuh saya. Kedua, saya tidak mau tinggal satu atap atau satu kamar dengan Anda. Ketiga, anggap saja pernikahan ini seperti kontrak nikah. Saya hanya sebagai pengantin pesanan dan saya bebas memutuskan kontrak ini kapan saja harus diakhiri." Aku menegaskan padanya panjang lebar. "Apa Anda setuju?" tanyaku lagi. Wajah Tuan Andrew dan Wa Karni terlihat menegang. Pak tua itu hanya diam mematung, dia tak berani menyela. Sementara, Tuan Andrew secara perlahan mampu menguasai diri. Pria bertubuh tinggi itu mengangguk pelan sebelum memberi jawaban. "Baik, saya menyanggupi ketiga persyaratan itu," ucapnya percaya diri. "Kita akan segera mengadakan pesta setelah adikmu selesai operasi," kata Wa Karni. "Tidak perlu, Wa. Saya tidak mau ada pesta meriah. Cukup dilakukan secara sederhana saja," timpalku menolak usulan Wa Karni. *** Aku menatap hampa pada tiga bocah kerdil dan berkepala botak yang sedang asyik bermain genangan air hujan di tepi jalan. Rambutku tertiup angin sore. Sebentar lagi senja menyapa. Namun, aku enggan beranjak. Gubuk kecil di pinggir kebun teh ini adalah tempat paling nyaman untuk menikmati hari. "Ayuni ...." Suara panggilan Barja terdengar dari balik pohon besar. "Jika ada orang yang menyakitimu, maka dia harus siap terluka." Suara itu memperingatkan dari kejauhan seperti tertiup angin semilir. "Kecuali jika kamu ingin melukai dirimu sendiri, Ayuni." Makhluk itu berdiri gagah dengan tatapan tajam. Warna loreng hitam dan cokelat pada bulunya menjadi khas hewan tersebut. Gemeretak gigi taringnya menandakan dia sedang marah besar. Selama aku tinggal bersama keluarga Pak Hamid, aku tidak pernah meminta apa pun kepada makhluk tersebut. Dia selalu mengikuti, jika ada yang berani menggangguku, Barja dengan sigap melindungi. Saat kecil, Kakek pernah berpesan bahwa aku akan dijodohkan dengan makhluk itu. "Aku tidak mau menikah dengan jin atau bangsa siluman mana pun!" protesku pada Nenek saat itu. "Ayuni, kalau menolak, kamu juga tidak akan bisa hidup bahagia dengan pasanganmu. Barja sudah menyatu dalam tubuhmu," terang Nenek. "Lihatlah! Dia sedang marah padamu, Cah Ayu," bisik Masida. "Tapi aku tidak punya pilihan, Masida. Kau tahu aku berhutang budi pada keluarga angkatku. Aku tak tega melihat keadaan mereka juga adikku yang sedang menderita." "Dan kamu akan menderita lebih parah dari bocah itu nantinya!" "Setidaknya adikku bisa disembuhkan." Aku bergegas meninggalkan gubuk. Malam ini, Bapak dan Bu Nyai akan menginap di rumah sakit. Mereka berpesan agar aku menjaga kedua adikku. Ketika hendak masuk ke dalam rumah, Tuan Andrew sedang duduk di kursi ruang tamu. Ia tersenyum menyambutku. "Dik Ayuni, saya minta maaf ... saya datang ke sini tanpa memberitahu." "Ada perlu apalagi Anda datang ke sini, Tuan?" "Saya ingin meminta kartu tanda pengenal, akta kelahiran, serta surat penting lainnya untuk mengurus proses pernikahan." "Apa sebaiknya kita cukup menikah secara siri saja, Tuan Andrew?" "Saya khawatir itu akan memberatkan kamu, Dik Ayuni. Saya tidak mau nanti kamu mendapatkan masalah jika kita hanya menikah siri. Bagaimanapun, keluarga saya harus tahu dan saya akan membawa kamu ikut ke Malaysia," ungkapnya. "Apa yang akan saya lakukan selama di sana?" tanyaku polos. "Kamu bisa menikmati apa pun yang kamu mau. Tidak tinggal di desa ini sampai kulitmu berubah warna. Kamu bisa melihat dunia dan saya akan mengenalkan keindahan di luar sana." "Apa Anda sudah lupa dengan syarat yang saya ucapkan, Tuan Andrew?" "Membawamu pergi dari tempat ini bukan berarti aku melupakan ketiga syarat itu. Jangan khawatir, kamu akan tinggal di rumah Mak Cik saya," bujuknya meyakinkan. "Dan tentu saja, saya ingin menikahimu secara legal, Dik Ayuni." "Walaupun kita menikah secara resmi, itu tidak akan mengubah status kita. Terutama bagi saya, rencana ini akan menjadi pernikahan terburuk dalam hidup saya. Jangan lupakan itu, Tuan Andrew...."  Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD