Siapa yang Mengikuti?

1505 Words
Perempuan itu tersenyum ketika mengingat kenakalannya enam tahun lalu. Dia sangatlah nakal dan tentunya menyadari bahwa hal tersebut tidak dapat dibenarkan pula. Baik di mata Tuhan ataupun manusia, Ayla menyadari kesalahannya itu tidak bisa diampuni. Namun, dia tetap berusaha yang terbaik dengan cara menjalankan hal yang tidak melampaui batasan lagi. Kemudian terlintas di benak Ayla apa yang terjadi dengan lelaki itu setelah bangun. Apakah menyesal? Atau justru senang karena mendapatkan kepuasan secara gratis? Entah, Ayla tidak begitu memikirkannya. Dia mengira lelaki itu telah melupakan segalanya dan tidak akan pernah berpikir bahwa kejadian malam itu membuahkan hasil. Hal tersebut diperkuat dengan lelaki itu yang tidak mencari-cari Ayla lagi setelah malam tersebut. Bahkan Ayla sendiri juga tidak pernah melihatnya lagi padahal sering sekali dia menjumpai kawasan yang menjadi tempat dia menemukan lelaki itu. Ayla kembali tersenyum seolah tidak menyesali perbuatannya dulu. Dia sangat berterima kasih dengan Berta karena akhirnya dia mendapatkan seorang putra yang amat genius dan tampan. Selain itu, Abenaya juga anak yang pengertian membuat Ayla sangat menyayanginya. Tidak akan cukup jika menceritakan betapa bagusnya keturunannya. Kalau saja dia tidak bersama lelaki itu, barangkali Abenaya tidak akan terlahir sebaik dan setampan sekarang. Dan barangkali hidupnya akan benar-benar kosong karena tidak ada yang menemani, lebih tepatnya karena tidak ada yang bisa menghibur dirinya. Jujur saja, kehadiran Abenaya membuatnya terhibur. Segala penat yang dia rasa sirna seketika meski hanya menatap anaknya. Ke depannya mau seperti apa Ayla belum tahu pasti. Tapi jelasnya dia takut jika Berta mempermasalahkan kehadiran Abenaya. Ayla tidak mungkin memberitahukan yang sebenarnya bahwa malam itu benar-benar membuahkan hasil dan Abenaya yang menjadi hasilnya. Jika nantinya Berta percaya bahwa Abenaya itu anak kandungnya, maka Ayla akan bersikeras pula menentangnya dengan beragam alasan kuat. Jujur saja, dia tidak mau cerita hidupnya seperti di novel yang mana anaknya akan diambil alih nantinya. Dia tidak mungkin melepaskan Abenaya. Ayla harus terus bersama anaknya sampai waktunya di dunia ini benar-benar habis. Pagi itu seperti biasa, Abenaya akan selalu membantu Ibunya mempersiapkan sarapan. Meski dia anak lelaki, namun Abenaya sangat pandai memasak. Jadi, jika Ayla harus pergi mengurus pekerjaannya, tidak perlu khawatir lagi dengan anak itu. Dengan bantuan bangku kecil, Abenaya berdiri menghadap kompor yang sedang berusaha mematangkan sayur mayur yang telah ditumis dengan bumbu sebelumnya. Sementara ibunya sedang menggoreng nugget ayam. Sarapan kali ini sederhana, tapi tentunya nikmat dan bergizi. "Mommy tidak lupa kan kalau mulai hari ini Abe akan mengikuti pelatihan OSN?" Sembari mengorak-arik sayurannya, Abenaya mengajak ibunya yang hampir mengentaskan nugget ayam dari minyak goreng. Usai itu, Ayla pun menoleh ke arah anaknya dan mengambil alih spatula. "Tidak, Abe. Siapa saja yang akan mengikutinya?" Abenaya tak kunjung menjawab sebab dia turun dari bangku kecil dan mengembalikan bangku tersebut ke tempat biasanya. Dia kemudian memberikan dua piring untuk wadah nugget ayam dan juga sayurannya nanti. Begitu pandai membantu ibunya tanpa dimintai tolong terlebih dahulu. "Ada dua anak lagi, Abe tidak mengenalnya karena dia kelas enam." "Ah, begitu ternyata." Ayla tentu saja tidak bisa berkata lebih. Dia selalu tercengang dengan prestasi yang diraih anaknya. Menurutnya Abenaya memang berprestasi dalam banyak bidang. Abenaya terpilih menjadi anak yang istimewa sebab mampu bersaing dengan anak yang beberapa tahun lebih tua darinya. Ya, Abenaya terlalu hebat. Ayla selalu bangga dengannya. Ayla sendiri juga selalu berusaha untuk mengapresiasi hal apapun itu yang diraih oleh anaknya, sekalipun hal kecil. Dia juga tidak akan menuntut anaknya untuk menjadi ini itu. Dia sebisa mungkin memberi kebebasan untuk anaknya meski sebenarnya dia juga ada dalam kebebasan tersebut. Maksudnya, dia akan menjadi orang tua yang memberi izin untuk melakukan hal-hal menuju kebebasan tersebut. Beberapa saat kemudian, Abenaya dan Ayla telah selesai sarapan. Mereka pun sudah siap untuk meninggalkan rumah. Rumah yang tidak terlalu besar, namun sangatlah nyaman. Benar kiranya bahwa kenyamanan sebuah rumah tidak terletak pada kemewahan atau kebesarannya, melainkan tentang siapa saja yang menghuninya. "Mommy antar saja sampai sekolah," seru Ayla ketika Abenaya mulai bersiap turun dari mobil ketika hampir sampai di halte bus. Dia berusaha membujuk anaknya sekalipun dirinya sendiri yang akan gagal dan harus mengalah nantinya. "Tidak, Mommy. Sampai halte saja. Kali ini Mommy juga jangan mengikuti Abe, langsung berangkat ke kantor Mommy saja. Abe bisa jaga diri baik-baik." Hendak ditentang, Ayla pun tidak tega. Pada akhirnya dia menurut saja dengan anaknya. Sesekali memang tidak apa memberi kepercayaan pada anaknya. Bagaimanapun juga anak jika telah diberi kepercayaan maka mereka tidak akan pernah mengacaukannya, mereka benar-benar akan tahu diri. Tugas orang tua hanya berdoa supaya kepercayaan yang mereka berikan benar-benar diusahakan sebagaimana mestinya. Tidak langsung pergi begitu saja, Ayla tetap memiliki kekhawatiran pada anaknya. Dia menanti sampai anaknya masuk ke dalam bus dengan baik, barulah dia pergi setelahnya. Meski demikian kekhawatirannya masih saja ada. Ibu dari anak lelaki itu pasti akan menghubungi wali kelas atau siapapun yang berada di sekolahan anaknya untuk memastikan apakah anaknya memang sampai di sekolah dengan keadaan baik-baik saja atau justru sebaliknya. Ayla seolah tidak akan membiarkan hal buruk sedikitpun terjadi pada anaknya. Abenaya cukup senang karena ibunya tidak mengikutinya lagi. Dia sebenarnya senang-senang saja diantarkan Ibunya sampai sekolahan, namun dia hanya takut jika Ibunya terlambat. Maka dari itu dia yang mengalah dan memilih untuk naik bus saja ke sekolahnya. Lagipula naik bus juga sangat menyenangkan, Abenaya tidak akan bosan. Turun dari bus di halte dekat sekolahnya, Abenaya kemudian berjalan menuju ke gerbang bebarengan dengan rekannya yang lain. Hanya Abenaya yang berangkat sekolah dengan bus, yang lain tidak melainkan diantarkan orang tua mereka atau hanya salah satu saja. Beberapa di antara mereka juga memilih untuk diantar sampai di halte karena ingin menikmati perjalanan singkat menuju ke depan pintu gerbang sekolah. Jarak dari halte ke gerbang sekolah tidak jauh. Abenaya selalu berjalan pelan dan menikmati setiap langkahnya karena merasa tidak akan terlambat. Sebab ini masih pagi. Dia selalu pandai mengatur waktu, sama halnya dengan ibunya yang tidak hanya pandai mengatur waktu, melainkan memanfaatkannya juga bisa menghemat waktu dengan baik. Kali ini dia merasa ada yang mengikutinya. Sebenarnya tidak diikuti dari rumah sampai ke sekolah, melainkan dari halte dekat sekolahan itu hingga dirinya berjalan melangkah ke pintu gerbang. Tadinya selepas dia turun dari bus, dia tahu bahwa ada seorang lelaki yang bersembunyi di belakang pohon dekat halte. Dia mengira lelaki itu sedang menantikan seseorang atau memang ingin naik bus, tapi ternyata sedang bersembunyi dan mengikutinya secara perlahan. Sesekali anak itu menoleh ke belakang dan memastikan apakah ada orang yang mengikutinya. Hanya ada beberapa siswa lain di belakangnya, tidak ada yang mencurigakan. Tapi Abenaya tetap saja tahu jika ada yang mengikutinya. Dan yang mengikutinya itu adalah lelaki yang sempat dilihatnya tadi. Sebenarnya Abenaya tidak peduli dengan lelaki tadi. Hanya saja makin lama, dia jadi kesal sebab tahu benar siapa yang diikuti. Teman-temannya yang berjalan beriringan bersama tadi melangkah lebih cepat. Dan kini tetap ada orang yang mengikutinya meski jaraknya agak jauh. Awalnya anak itu hendak memanggil satpam di sekolahannya karena dirinya merasa terganggu dengan lelaki asing yang entah apa maunya sampai mengikutinya sedari tadi. Tapi rasanya dia bisa menyelesaikan perkara ini sendiri. Ah, maksudnya mencoba untuk menyelesaikan sebagaimana yang Ibunya bilang jika memang kita bisa menyelesaikan masalah sendiri, maka tidak perlu merepotkan orang lain yang sebenarnya juga belum tentu bisa menyelesaikan masalah kita. Langkah Abenaya berhenti, dan dia bisa paham bahwa lelaki yang berada di belakang dengan jarak jauh itu berhenti pula. Agaknya lelaki itu juga pandai, buktinya saat Abenaya berhenti, dia lekas bersembunyi seolah paha bahwa Abenaya akan menoleh ke arahnya. "Aih! Menyebalkan sekali. Merusak pagiku!" celetuk Abenaya saat tidak mendapati orang yang mengikutinya karena orang itu sudah bersembunyi di suatu tempat. Selanjutnya Abenaya melangkah ke arah halte kembali. Dia sebenarnya tidak senang membuang-buang waktu. Tapi, untuk kali ini biarkan saja. Dia harus bisa memergoki orang yang mengikutinya dan harus mengetahui pula siapa sebenarnya orang itu. Dia melangkah melewati tempat persembunyian orang yang mengikutinya tanpa diketahui orang itu sendiri. Beberapa saat kemudian orang itu keluar dari tempat persembunyiannya. Dia seolah kebingungan mencari sesuatu dan sudah dipastikan bahwa yang dicarinya itu adalah Abenaya. "Lah! Di mana perginya anak itu? Apa sudah masuk ke sekolahnya? Tapi cepat sekali?" Perkataan orang itu semakin meyakinkan bahwa sedari tadi dirinya memang mengikuti Abenaya. Dia berkacak pinggang sembari menatap ke arah gerbang sekolah yang ramai dengan siswa yang diantarkan orang tuanya. Dia tidak menemukan orang yang dicarinya. Bukan Abenaya namanya jika tidak berhasil memergoki siapa yang mengikutinya sedari tadi. Kini dia sudah berada di belakang orang yang sepertinya pekerja kantoran karena memakai setelan jas rapi. Orang tersebut sedang kebingungan mencari dirinya. Sementara Abenaya semakin kesal karena merasa terganggu. Entah apa tujuan orang itu mengikutinya, tapi jelasnya itu pasti hal penting. Sebenarnya Abenaya tidak mau mempermasalahkannya kembali, namun dia harus memenuhi rasa penasarannya. "Orang yang Paman cari ada di belakang," ucap Abenaya membuat orang itu menoleh dan berjingkat karena terkejut. Anak yang bersekolah di sekolah bertaraf internasional itu melipat tangannya di d**a sembari menatap lelaki di hadapannya dengan intens. Kekesalan karena usikan diikuti sedari tadi masih tampak jelas di raut wajahnya. Abenaya benar-benar tidak tahu siapa lelaki di hadapannya itu dan apa urusannya dengannya. Anak itu masih menatap dengan tatapan tidak suka pada lelaki yang sedang menetralisir dirinya dari keterkejutan karena berjumpa dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD