"Astaga! Siapa yang mencarimu? Uncle hanya sedang bersembunyi saja!"
"Uncle bersembunyi karena sedang mengikuti seseorang. Dan orang itu adalah saya, bukan?"
Keduanya saling pandang dan kemudian memalingkan wajah seolah ada kekesalan tersembunyi di sebaliknya. Tidak tahu harus didefinisikan seperti apa, jelasnya keduanya merasa kesal meski sebenarnya penyebab kekesalannya tidak perlu dihiraukan.
"Aih, kenapa aku memanggilnya 'uncle'. Dia kan bukan 'uncle-ku'," lirih Abenaya menyadari apa yang dikatakannya dalam menyebut lelaki yang benar-benar tidak dikenalnya sama sekali.
"Kenapa aku menyebutkan diri sebagai 'uncle' anak itu? Dia kan bukan keluargaku," lirih lelaki itu. Dia pun menyadari bahwa ada yang tidak beres sedari tadi.
Keduanya lantas membiarkan apa yang baru saja terjadi yang selanjutnya membuat mereka kebingungan. Panggilan seperti itu pada orang yang tidak dikenal memang agak aneh di negara ini, namun tidak masalah sebab itu juga sopan. Yang terpenting memang kesopanan, perihal aneh atau tidaknya itu nomor sekian. Lagipula jika dipikir lebih lanjut, panggilan tersebut juga layak saja diajukan untuk memanggil seseorang yang belum dikenal dan bahkan baru ditemui sekali.
Lelaki yang mengikuti Abenaya tadi terdiam mengamati postur tubuh anak lelaki yang tingginya sebatas perutnya. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Abenaya yang ternyata tahu bahwa ada yang mengikutinya. Padahal sedari tadi dia berusaha untuk tidak ketahuan. Tapi sepertinya dia kurang pandai dalam hal ini, atau memang anak itu yang terlampau pandai?
"Kamu Abenaya Buana? Yang menanamkan saham di Pradipta Group?"
Mendapat pertanyaan dari lelaki yang belum juga dikenalnya meski telah beberapa saat mendekat, Abenaya kembali menelisiknya dari atas hingga bawah sama seperti yang dilakukan lelaki itu padanya tadi.
"Uncle siapa? Kenapa bisa tahu bahwa aku menanamkan saham di Pradipta Group?"
Pertanyaan tadi sebenarnya sekaligus menyiratkan bahwasanya orang yang di hadapannya itu ada sangkut pautnya dengan salah satu perusahaan ternama, baik di negara ini ataupun negara luar. Namun, Abenaya masih ingin memastikan lebih tepat lagi dengan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.
Lelaki itu mengulurkan tangannya bermaksud memperkenalkan diri, dia lalu berkata, "Uncle adalah asisten pemimpin Pradipta Group untuk saat ini. Perkenalkan, Byan Abraham."
"Oh...." Abenaya hanya membulatkan mulutnya, enggan untuk membalas uluran tangan dari lelaki yang ternyata adalah Byan. Abenaya hanya sedang berjaga-jaga, dia takut bersentuhan dengan orang lain karena bisa saja ada hal buruk setelahnya. Pemikiran seperti ini memang harusnya dihindarkan, namun tetap saja sulit.
Byan pun kesal dibuatnya. Anak itu sangatlah sombong, mirip seperti Bosnya. Tangannya kembali diturunkan sebab anak itu memang tidak mau menjabatnya, barangkali karena kesal diikuti secara diam-diam. Harusnya Byan tadi juga langsung berterus terang jika memang ingin berkenalan. Dan sebenarnya dia hari ini atau tepatnya pagi itu belum mau berkenalan secara langsung melainkan memastikan bahwa anak itu memang ada di dunia yang fana sekaligus memilukan ini.
"Apa kamu benar-benar menanamkan saham di Pradipta Group? Atau itu Ayah dan Ibumu tapi mengatasnamakan dirimu?" Byan sangat tidak sabar mendapat jawaban Abenaya.
Sudah tertebak dari awal oleh Abenaya oleh orang yang baru saja dikenalnya dan itupun hanya sebatas kenal. Paginya yang dirasa kacau itu membuat Abenaya enggan menanggapi pertanyaan dari lelaki yang bernama Byan tersebut.
Anak itu melangkahkan kakinya meninggalkan Byan dan tentunya menuju kembali ke tujuan utamanya yakni sekolahannya. Sudah hampir jam masuk sekolah, makanya Abenaya tidak boleh membuang-buang waktunya untuk hal yang menurutnya tidak penting untuk diladeni.
"Hey!"
Byan pun kelabakan, dia mengikuti Abenaya kembali. Ada jawaban yang sangat diinginkannya, namun tak kunjung diberikan oleh Abenaya. Byan awalnya tidak kewalahan karena Abenaya berjalan pelan dan langkah kakinya jauh lebih pendek dibandingkan dengan langkah kaki Byan yang memang panjang. Namun, beberapa saat kemudian Abenaya berjalan cepat seperti seseorang yang sedang terburu-buru, padahal sebenarnya hanya ingin menghindari orang yang tentunya masih asing.
"Tidak. Itu saya sendiri yang melakukannya. Ibu saya sebenarnya tahu. Sedangkan Ayah... Saya tidak punya Ayah."
Byan terperangah, tak percaya bahwa anak kecil di hadapannya benar menanamkan saham di Pradipta Group dengan jumlah cukup besar. Abenaya segera pergi dari sana karena dirasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.
"Eh, tunggu!" Byan berusaha menghentikan langkah Abenaya, tapi anak itu tetap tak memedulikannya lagi.
Lelaki itu segera kembali ke perusahaannya dan memberitahu atasannya apa yang terjadi sebenarnya. Dia dan Bosnya terdiam di ruangan pemimpin. Masih mencoba mencerna kebenaran yang ada.
"Anak berusia enam tahun sudah pandai bermain saham? Sungguh, luar biasa!" puji Berta teramat kagum dengan Abenaya.
"Mungkin itu pengaruh gen orang tuanya. Aku yakin jika kedua orang tuanya itu sangat pandai, makanya Abenaya juga pandai. Menurut informasi yang kudapat, Ayahnya tidak diketahui dan Ibunya adalah jurnalis."
"Jika ada rapat dengan pemegang saham, pastikan anak itu ikut juga. Aku sangat ingin bertemu dengannya."
"Tentu."
Byan pergi usai berbincang dengan Berta. Sementara itu, Berta teringat dengan perempuan yang tujuh tahun lalu menjebaknya. Dia tetap menyimpan selembar kertas yang dia dapat ketika bangun usai hal bodoh semalam.
Inisial namaku, ABC. Aku sebenarnya perempuan baik-baik, aku hanya menginginkan anak untuk mengisi kehidupanku. Terima kasih telah bersedia memberikan benihmu di rahimku. Jiak nanti membuahkan hasil, aku tidak akan meminta pertanggungjawaban. Kamu juga tidak perlu khawatir karena aku memiliki gaji yang cukup untuk membesarkannya. Intinya, aku sangat berterima kasih padamu. Maaf atas segala perlakuanku, tapi sepertinya kamu sangat menikmati dan aku tidak perlu meminta maaf, hehe....
"ABC? Seperti sakatonik anak-anak."
Berta terkekeh. Sampai saat ini dia tak kunjung menemukan perempuan yang berinisial A B C. Dia ingin memastikan apakah kejadian waktu itu membuahkan hasil atau tidak. Tujuh tahun ini membuatnya gila karena terus saja memikirkannya.
Beragam cara dilakukan, namun Berta masih saja gagal. Dia sampai lupa bahwa usianya kini menginjak 32 tahun, tapi tak kunjung menikah. Padahal dia sendiri juga memiliki tunangan. Hanya saja, dia ingin memastikan terlebih dahulu apakah benihnya membuahkan hasil atau tidak. Jika benar, maka dia harus bertanggungjawab meskipun bukan dia yang memulai perkara itu.
Sepertinya ia akan bertanggung jawab sebab Berta jatuh hati pada pandangan pertama. Entah apa yang dilakukan perempuan itu. Namun, jelasnya, Berta sangat tertarik. Hal tersebut dibuktikan dengan ia yang sampai kini tidak melupakan wajah perempuan tersebut. Wajahnya cantik dan menenangkan. Berbeda dengan perempuan-perempuan yang ia temui selama ini. Begitu pula dengan tingkahnya yang di luar dugaan. Oleh karenanya, Berta dibuat gila dengan perempuan yang juga gila itu.