"Sudahlah, Ay. Jangan dilanjutkan pemikiran bodohmu tadi. Jalani saja sebagaimana mestinya, jangan pernah melenceng!" tegur Rena. Dia berharap usai obrolan tidak masuk akal tadi, sahabatnya tidak melampaui batasan dengan melaksanakan apa yang bersarang di benaknya karena itu bukan hal baik.
"Hm...."
Perempuan yang sedang dinasehati itu menguap, dia sudah mengantuk. Hanya saja dia masih enggan untuk kembali ke apartemennya. Terlebih lagi dia juga belum tentu pulang karena sahabatnya belum dijemput oleh pacarnya.
"Hai, Sayang...."
Perkataan manis itu terdengar. Manis hanya bagi Reyna tentunya, bukan Ayla. Siapa lagi jika bukan Tomi si calon suami Rena. Dan seperti biasa, lelaki yang teramat menyayangi Rena itu segera mendekap perempuan tersebut dengan erat. Meski tubuhnya lelah karena juga baru saja pulang bekerja, namun Tomi tetap menyempatkan diri untuk menjemput Rena.
"Halo, sayang...."
"Apa aku terlambat?" tanya Tomi seperti biasanya pula.
"Tidak."
Dan seperti biasa kembali, Ayla kini sendirian sebab Rena telah pulang bersama Tomi. Dia selalu diajak pulang bersama, hanya saja dia tidak mau. Sebenarnya bisa irit ongkos untuk naik bus nantinya, namun dia kasihan jika meminta kekasih Rena memutar arah karena arah mereka berbeda.
Kini dia sudah berada di halte menunggu bus malam yang biasanya akan datang lima belas menit lagi. Masih cukup lama, Ayla selalu sabar menanti. Sembari menanti dia berdiam diri mengamati sekitar. Biasanya membaca buku atau menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung. Namun, kali ini dia memilih diam karena tubuhnya sudah mulai lelah.
Pikirannya tetap tertuju dengan rencana konyolnya tadi yang diobrolkan bersama Rena. Dia memang tidak mengira bisa mendapat rencana konyol itu. Dan sekarang keinginannya untuk melangsungkan rencana tersebut meningkat.
Agaknya tidak apa jika aku terlihat nakal malam ini.
Begitu yang ada di pikirannya. Pada akhirnya dia menganggukkan kepala dan meyakinkan diri untuk segera melaksanakan rencana tersebut sedikit demi sedikit.
Dia mengamati orang sekitar. Mencari lelaki yang menarik perhatiannya dan dia yakini mampu memberikan keturunan yang baik. Kini perhatiannya tertuju pada restoran mewah nan mahal di dekat halte. Dia tahu restoran itu sering dikunjungi oleh orang-orang tampan dengan karir yang bagus— yang kemudian sudah dipastikan bahwa otaknya juga bagus hingga nanti keturunannya pun tidak akan memilukan.
Perempuan yang tadinya duduk di kursi tunggu halte akhirnya berdiri. Dia melangkahkan kakinya menuju ke restoran tersebut. Dia sudah memiliki banyak rencana yang bersarang di otaknya, tinggal direalisasikan saja.
Ayla mengamati orang-orang yang berlalu-lalang menuju ke mobil mereka untuk meninggalkan restoran tersebut. Ya, dia berada di parkiran restoran. Menurutnya akan lebih mudah jika dia berada di parkiran.
Beberapa saat kemudian Ayla mengamati lelaki yang berjalan menuju ke parkiran dan ternyata mobilnya tepat sekali sedang berada di samping Ayla berdiri. Ayla tertarik dengan lelaki yang memakai jas rapi, tapi tetap terlihat muda dan menawan. Ayla memprediksi bahwa usianya tidak jauh darinya.
Lelaki yang namanya ternyata adalah Berta— yang pada saat itu tidak diketahui Ayla sudah membuka pintu mobil dan ingin pergi. Benar-benar tidak memedulikan Ayla yang berdiri di samping mobilnya, padahal mereka sempat melakukan kontak mata. Belum sempat menutup pintu mobilnya lagi, tangan Ayla dengan cepat mencegahnya.
"Pak! Bisakah saya menumpang di mobil Anda? Saya tidak mempunyai uang lagi untuk pulang. Tolong antarkan saya di hotel yang dekat mall," ucapnya mengiba supaya apa yang dia inginkan diperoleh.
Sebelumnya Ayla telah memesan kamar hotel. Ya, ketika di halte tadi dan ketika dia benar-benar yakin harus merealisasikan keinginannya.
Di sisi lain, lelaki itu hanya diam. Dia mengamati Ayla dari atas hingga bawah. Ekspresinya berubah dari cuek menuju ke kesal dan kasihan. Dia kasihan karena perempuan itu tidak punya uang untuk pulang, namun dia juga kesal karena ternyata ada orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Padahal harusnya semuanya telah terpikir dan perempuan itu harusnya sudah menyiapkan uang untuk pulang. Entah ini memang tidak punya uang atau apa.
Berta lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang untuk Ayla. Daripada mengantarkannya, lebih baik memberikannya ongkos, begitu pikir Berta malam itu. Dia tidak tahu ongkos pulang perempuan itu berapa, tapi agaknya seratus ribu rupiah cukup karena hanya itu juga uang cash yang dimiliki Berta.
"Antarkan saya saja, Pak!" Ayla menahan uang yang akan diberikan kepadanya. Dia kemudian langsung masuk ke mobil membuat Berta terkejut bukan main. Ayla duduk di samping Berta yang tentunya akan mengemudikan mobil.
"Keluar!"
Lelaki itu berteriak dan membuat Ayla berjingkat karena terkejut. Namun, Ayla berusaha untuk tidak beralih dari posisinya. Dia tetap harus melaksanakan idenya sebagaimana mestinya. Apa yang telah terpikirkan harus direalisasikan dan diusahakan untuk berhasil.
"Tolong antarkan saya...."
Mulailah perempuan itu berakting. Dia memasang wajahnya yang melas. Dia yang sudah mulai mengantuk pun dipenuhi rasa penat benar-benar mendukung suasana. Sudah seperti orang yang tidak punya ongkos untuk pulang sungguhan.
Berta yang kesal pun membiarkannya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata membuat Ayla panas dingin. Takut sekali. Tapi tidak masalah. Berta sangat tampan dan terlihat pandai, dengan begitu jika dia berhasil mendapatkan benihnya maka akan lahir anak yang tampan dan pandai pula. Ini yang diinginkan Ayla. Meski sifat Berta terlihat dingin dan agak kasar, Ayla tidak masalah jika turun pada anaknya kelak sebab nanti sifat bisa diubah.
Perempuan itu menahan tubuhnya di kursi supaya tidak beralih. Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Sudah seperti ingin mencari mati. Tahu begini Ayla tidak akan menumpangi mobil ini. Ah, ini sudah telanjur. Dia hanya perlu melaksanakan sisa rencananya.
"Sudah sampai! Segera turun atau kucekik lehermu?"
Pada akhirnya mobil sampai di tempat yang dimaksud Ayla. Berta lekas berusaha mengusir perempuan yang sudah dia bantu sebagaimana mestinya.
Sementara Ayla kehabisan ide karena dia hampir tumbang, oleh karenanya tidak menyangka pula bahwa sudah sampai di tempat yang dimaksudnya. Isi perutnya hampir meledak dan kepalanya pusing sekali. Dia berusaha menahannya meski ini sangatlah sulit.
"Anda... Anda tidak boleh berkendara seperti tadi!" ucap Ayla lemas.
Dia segera membuka pintu mobil dan berakting. Ayla pura-pura pingsan. Berta yang sebenarnya ingin meninggalkannya begitu saja dihalang oleh satpam penjaga hotel itu. Berta pun terpaksa menggendong Ayla masuk ke kamarnya.
Di tengah perjalanan Ayla membuka matanya, dia berpura-pura sadar dari pingsannya. Namun, dia lemas sungguhan hingga tidak mau melepaskan tangannya yang menaut leher Berta.
"Saya benar-benar masih lemas. Ini semua gara-gara Anda mengemudikan mobilnya tidak wajar. Tolong antarkan saya ke kamar sekalian. Kamarnya di lantai tiga."
Berta tidak menanggapi perkataan Ayla, tapi bukan berarti dia tidak mendengarkannya. Dia sebenarnya juga punya rasa kasihan, apalagi melihat wajah Ayla yang memang lemas dan tubuhnya pun tidak berdaya. Dia bersedia mengantarkannya sekalipun hatinya kesal setengah mati.
Perempuan itu memberitahu sebelah mana kamarnya. Dan lelaki yang menggendongnya lekas menuju ke kamar tersebut. Barangkali dia juga heran kenapa orang tidak punya ongkos untuk pulang tapi menginapnya di hotel yang cukup mewah.
Ketika berhasil membuka pintu kamarnya, Berta segera melempar Ayla ke kasur membuat perempuan itu memekik tajam. Dan Ayla segera menghalangi pintu, dia menyimpan kartu kamarnya supaya Berta tidak bisa pergi dari sana. Pintu terkunci sekarang dan kartu kuncinya berada di tangan Ayla. Kartu kunci itu dijauhkan dari tangan Berta yang terus berusaha menggapainya supaya bisa keluar dari kamar tersebut.
"Apa maksudmu! Buka pintunya dan biarkan aku keluar dari sini!"
Lelaki yang lehernya dipenuhi beberapa titik keringat akibat lelah menggendong Ayla itu akhirnya membuka mulut. Wajahnya terlihat kesal karena perempuan yang ditolongnya semakin mengusik kesabarannya. Dia sudah sangat marah sekarang. Tangannya bergerak mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang yang dia rasa bisa membantu. Namun ternyata ponselnya tidak dia bawa, masih berada di mobil. Hanya ada dompet yang melekat di kantong jasnya.
"Aku tidak memerlukan uang. Sungguh, aku sudah punya uang. Akan kuperlihatkan!"
Lagi-lagi Ayla mencegah keinginan Berta yang akan memberinya uang dan mungkin juga kartu karena hanya ada uang selembar saja di dompetnya. Berta tadinya mengira bahwa selembar uang itu tidak akan cukup, makanya mau memberinya kartu supaya dia bisa bebas. Dia mengira pula bahwa perempuan itu adalah perempuan perampok yang mengincar hartanya.
"Aku punya ongkos untuk pulang. Bahkan bukan hanya ongkos untuk naik bus, tapi aku juga punya ongkos untuk naik taksi. Hanya saja aku punya maksud lain hingga membohongimu," tutur Ayla kemudian. Dia masih memasang wajah melas.
Dan Ayla membuat Berta tercengang saat memberitahukan isi dompetnya yang mana jumlah lembaran uangnya lebih banyak dari miliknya. Ada kartu kredit, dan sejenisnya pula. Namun, semua itu masih kalah dari milik Berta, pun dengan jumlah kartunya yang tidak sebanyak milik Berta. Lelaki itu juga kembali dibuat kesal karena dibohongi.
"Apa maksudmu sebenarnya?" Berta kembali menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka akan disudutkan dengan situasi yang aneh ini. Dia mengecek jamnya yang menandakan sudah tiga puluh menit lebih dia meladeni perempuan di depannya.
"Ja-jangan membuatku takut. Aku hanya ingin bermain denganmu, tanamkan benihmu di rahimku. Biarkan aku memiliki anak. Aku tidak mau menikah, tapi aku mau memiliki anak."
Ayla akhirnya mengungkapkan keinginannya dan tentu saja Berta menggelengkan kepalanya mendengar kebodohan Ayla. Tidak menyangka bahwa itu adalah keinginan perempuan yang malam itu tidak dikenalnya, pun mengenalnya kembali. Mereka benar-benar baru dipertemukan malam itu dan justru dipertemukan dengan situasi yang aneh.
"Tolong bantu aku...."
Tidak lagi ungkapan 'saya' seperti tadi. Ayla telah menggantinya dengan ungkapan 'aku' supaya terkesan lebih santai dan supaya lelaki yang dia jebak itu tidak kabur. Dia berharap akan hal itu meski kini dirinya kembali tidak yakin jika harus melakukan ide konyolnya.