Baru saja membuka pintu, mereka dikejutkan dengan dua orang yang sedang berdiri membelakangi mereka. Keduanya sedang asyik berkutik di dapur. Entah sejak kapan, jelasnya sudah banyak makanan yang tentunya dimasak di dapur rumah tersebut.
Siapa mereka? Seorang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya yang sangat dikenal penghuni rumah tersebut. Dan sudah pasti mengenal penghuni rumah juga.
"Ini kejutan, Mom?" tanya Abenaya pada Ibunya dengan girang. Dia merasa ini memang kejutan. Sepasang suami istri paruh baya yang dia inginkan kehadirannya tiba-tiba datang di depan mata. Bukan main senangnya.
"Entahlah. Jelasnya, Mommy terkejut."
Tidak tahu kejutan atau apa sebenarnya. Tapi ini memang mengejutkan. Ayla sulit bersikap. Lebih tepatnya dia bingung harus menyikapi hal ini bagaimana. Sebab ini memang sulit untuk disikapi. Dia masih berdiam di tempat semula sama halnya dengan anaknya. Keduanya mencoba mencerna situasi yang ada.
Beberapa saat kemudian dua orang yang tidak mengetahui kehadiran penghuni rumah itu akhirnya berbalik dan mengetahui Ayla serta Abenaya. Mereka berbalik karena makanan yang dimasak sudah siap dan hendak diletakkan di atas meja. Barulah mereka menyadari bahwa ada dua orang yang cukup lama berdiri dan berdiam.
"Kalian sudah pulang ternyata. Abee...."
Si perempuan paruh baya berseru sekaligus menyapa. Dia meletakkan piring berisikan makanan ke atas meja dan kemudian menghampiri Abenaya—anak yang baru saja dipanggilnya. Dia memeluknya erat, Abenaya pun membalas pelukan tersebut. Tidak hanya pelukan yang diberi, melainkan juga kecupan di puncak kepala. Jangan ditanya berapa kecupan, jelasnya sangat banyak sampai Abenaya kewalahan, meski demikian dia sebenarnya sangat senang mendapat kecupan.
"Kenapa tidak mengabari Abenaya terlebih dahulu, Nenek?" Abenaya mendongakkan kepalanya menatap perempuan paruh baya yang merupakan neneknya itu. Dia tersenyum lebar dan kembali memeluk neneknya. Kejutan seperti ini sangatlah menyenangkan.
Sementara Ayla masih berdiam diri. Dia berdiri sembari melipat tangannya di d**a. Tatapannya tertuju pada seorang lelaki paruh baya yang kini sudah duduk di kursi menghadap meja makan yang penuh dengan makanan di atasnya. Telinganya juga bersiap mendengar alasan dua orang itu mendadak datang ke rumahnya yang mungkin akan dilontarkan oleh perempuan paruh baya yang tentu saja adalah Ibunya.
"Pengen saja memberi kalian kejutan."
Perempuan akrab disapa Bu Buana itu juga bercerita kenapa dia bisa masuk ke ruah Ayla sementara sandi pintu masuknya tidak tahu. Awalnya memang tidak tahu, tapi setelah dicoba berulang kali akhirnya bisa. Rupanya sandi pintu rumah Ayla sama dengan sandi pintu rumah Bu Buana dan juga Pak Candra.
Benar kiranya, sandi pintu rumah Ayla memang sengaja disamakan seperti sandi rumah orang tuanya. Ini memudahkan dirinya sebab tidak harus menghafalkan banyak sandi hingga bisa saja nanti malah lupa. Tidak ada maksud lain. (Mungkin)
Pada akhirnya setelah Abenaya dan Ayla juga dengan dua orang yang tiba-tiba hadir itu menikmati makan malam bersama usai semuanya membersihkan diri. Mereka berkumpul dengan suasana hening dan dipenuhi kecanggungan.
Ayla menikmatinya dengan baik. Selain masakan Ibunya memang enak, dia juga merasa senang karena kali ini tidak perlu repot memasak atau membeli makan malam untuk dirinya dan juga Abenaya.
Ada sosis serta ayam pedas manis yang dimasak dengan banyak bawang bombai. Kentang balado, sayur sop campur udang, mendoan, dan tahu crispy pun ada di sana. Semuanya dimasak sendiri oleh Bu Buana dengan dibantu Pak Candra tentunya. Di sana juga ada sate kambing dan juga martabak manis cokelat keju untuk penutupnya nanti. Untuk dua makanan itu pasti beli, hanya saja telah disajikan ke piring hingga terlihat tidak beli.
Semuanya nikmat meski makanan sederhana, dan tanpa disadari, sebenarnya itu semua makanan kesukaan Ayla dan Abenaya.
Bu Buana melayani Abenaya dengan baik. Dia mengambilkan lauk tambahan untuk cucunya yang teramat dia sayangi. Sama seperti yang lainnya, awalnya Bu Buana juga terkejut dengan kehadiran Abenaya. Namun, lambat laun dia tidak lagi terkejut dan justru tidak hanya bisa menerimanya melainkan teramat menyayanginya.
Ketika Ayla ingin mengambil sosis asam manis lagi, dia agak kesulitan karena letaknya jauh. Kemudian Ayahnya yang mengetahui segera menggeser piring berisikan sosis asam manis yang diinginkan Ayla, yang mana letaknya tidak jauh darinya. Pak Candra seolah acuh usai menggeser dan mendekatkan piring sosis asam manis itu pada Ayla. Dia memang begitu orangnya. Ayla pun juga sama. Dia gengsi jika harus mengucapkan terima kasih karena sudah dibantu.
Mereka makan dengan diam. Hingga akhirnya tibalah saat di mana Ayla dan Bu Buana membereskan semuanya. Makanan yang masih tersisa banyak itu dimasukkan ke dalam lemari pendingin sebab besok masih bisa dimakan. Piring serta perkakas lainnya yang kotor dicuci sampai bersih.
Sementara Abenaya dan Pak Candra menuju ke ruang baca. Mereka bertukar cerita. Pak Candra menceritakan banyak hal jika bertemu dengan Abenaya. Dan Abenaya pun senang mendengar cerita dari kakeknya yang tidak membosankan sama sekali baginya.
Usai itu Bu Buana bergabung dengan Abenaya dan Pak Candra. Sementara Ayla bergelut dengan laptopnya sebab ada pekerjaan yang memang harus diselesaikan segera. Pak Candra dan Bu Buana akan menginap. Ayla sebenarnya canggung, hanya saja dia membiarkan karena Ibunya yang menginginkan. Dia masih sulit untuk berdamai. Namun, ini memang harus segera diupayakan karena perkara yang ada juga sudah sangat lama.
Ketika menyunting artikel yang harus segera dia publish, Ayla teringat dengan orang yang dia temui di kantor polisi tadi. Dia segera menyelesaikan tugasnya dan berburu informasi tentang lelaki yang merupakan Ayah dari Abenaya yang namanya saja tidak dia ketahui.
"Mom, Abe tidur dulu, ya? Mommy segeralah tidur juga," ujar Abe berpamitan. Dia mengecup pipi Ibunya sebelum pergi ke kamarnya.
"Tidur yang nyenyak, Abe. Jangan lupa mengisi daya iPadmu."
"Tidur yang nyenyak juga, Mah. Selamat malam," ucap Ayla selanjutnya. Dia hampir melupakan Ibunya yang juga akan segera tidur di kamar tamu yang sebelumnya telah dipersiapkan sebagaimana mestinya.
Malam semakin larut, tapi Ayla masih penasaran. Dia mencoba mencari informasi terlebih dahulu tentang lelaki yang menabrak mobilnya dan sampai sekarang belum ditemui lagi serta dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya. Barangkali jika Ayla tidak kabur, semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Namun, itu juga hanya akan membuat dirinya terjebak dengan masalah pastinya karena bertemu dengan Ayah Abenaya.
Dia yakin jika mencari informasi tentang lelaki yang menabrak mobilnya akan memudahkan untuk mencari informasi Ayah Abenaya pula.
"Yes! Ketemu!" Pekiknya ketika mendapatkan informasi dan akun sosial media milik Byan Abraham.
Dia bersikap seolah tidak ada orang lain di sana hingga bisa bebas berbuat semaunya. Padahal di ruang tengah itu masih ada Pak Candra yang sedang menyaksikan televisi. Ayla tahu bahwa televisi masih menyala, hanya saja dia pikir sudah tidak ada orang yang menyaksikannya.
Perempuan itu mengecek semuanya dan mencoba menemukan celah dari sana. Ada foto bersama antara Byan dan Ayahnya Abenaya. Beruntung, Byan memberi tanda di foto tersebut dengan menautkan akun milik Ayah Abenaya yang ternyata bernama Berta Pradipta.
Dia terdiam sejenak karena teringat akan kejadian malam itu yang mana dirinya seolah menjadi perempuan penghibur atau yang kerap disebut jalang. Malam di mana dia memaksa lelaki yang tidak diketahui sebelumnya.
Benar-benar tidak diketahui. Dia hanya tahu bahwa lelaki yang dipaksa itu tampan, tinggi, gagah, putih, dan segala hal baik lainnya. Agaknya sudah seperti artis Korea yang bernama Ji Chang-wook. Ya, mirip sekali, makanya Ayla mau memaksanya hingga akhirnya keturunannya tampan.
"Siapa dia?" seru Pak Candra yang pada akhirnya membuat Ayla tersadar bahwa masih ada orang lain di sekitarnya.
Laptop yang tadinya masih menampakkan akun sosial media Ayah Abenaya itu lekas dikembalikan. Dia tidak lupa mengecek pekerjaannya terlebih dahulu sebelum mematikan laptopnya. Dia rasa Ayahnya tidak tahu jelas dengan apa yang baru saja dilihatnya karena jarak Ayla dengan Ayahnya itu cukup jauh.
"Tidak perlu tahu." Ayla menjawab dengan tangan yang segera memasukkan laptopnya ke dalam laptop sleeve. Dia tidak mengapa jika Ayahnya sedari tadi memperhatikan layar laptopnya juga, yang terpenting tidak tahu lebih jauh lagi.
"Kalau Papa justru sudah tahu bagaimana?"
"Kamu Papaku?" Ayla yang tadi duduk membelakangi Pak Candra kini menghadap ke arah lelaki paruh baya itu. Dia melipat tangannya di d**a dan bertanya menyelidik.
"Ayla!"
"Bercanda!"
Begitu Ayla dan Ayahnya. Mereka memang berselisih. Hanya saja terkadang timbul kelucuan. Entah kapan kelucuan tetap terjalin dan perselisihan sirna. Agaknya damai sulit untuk diraih.
"Papa sudah tahu semuanya. Papa tahu siapa Ayah Abe yang sebenarnya."
Perkataan Pak Candra yang terdengar santai itu mengejutkan Ayla. Entah dari mana dan bagaimana bisa tahu. Ayla sendiri baru saja mengetahui namanya.
"Kalau sudah tahu, kenapa tadi bertanya."
Begitu balasan dari Ayla yang berusaha tidak apa-apa setelah perkataan mengejutkan terlontar dari Papanya. Sebenarnya dia sedang menyembunyikan keterkejutannya yakni dengan bersikap seperti biasa.
"Apa yang kamu lakukan itu tidak bisa dibenarkan. Kamu harus bisa menebus hal yang tidak bisa dibenarkan itu. Setidaknya meminta maaf pada lelaki yang kamu manfaatkan," tutur Pak Candra dengan cepat. Jika tidak dengan cepat, Ayla tidak akan mendengarnya sebab perempuan itu mulai melangkah menuju ke kamarnya.
"Tidak perlu ikut campur. Minta maaf atau tidaknya biar menjadi urusan saya saja."
Langkah kaki Ayla terhenti, dia pun mengucapkan kalimat itu dan menatap Papanya dengan lekat.
"Kamu takut jika lelaki itu balas dendam karena tidak terima kamu manfaatkan?"
"Untuk apa takut? Saya berani berbuat, saya juga sudah pasti berani menanggungnya."
Pak Candra menggelengkan kepala dengan sikap anaknya yang keras kepala. Jika memang sudah bertekad, maka tekad itu tidak bisa diganggu gugat lagi. Dan sebenarnya sikap ini tidak jauh dari sikap Pak Candra. Benar kiranya bahwa sikap orang tua akan turun pada anaknya.