Usai menyelesaikan beragam pekerjaan, pada akhirnya sampailah di mana dia harus kembali ke pekerjaan utamanya yakni mengulik informasi dari kasus anak yang diduga dibunuh Ibunya sendiri.
Kini dia tiba di tempat pemakaman umum. Anak yang telah diotopsi itu akhirnya dimakamkan. Di pemakaman umum itu banyak sekali jurnalis dari stasiun berita lain yang juga mengikuti kasus ini dari awal.
Polisi sungguh mengizinkan Ibu tadi menghadiri pemakaman. Ayla cukup senang, tapi dia juga sedih melihat Ibu itu menangis tersedu-sedu. Tangan ibu itu yang sedang diborgol seolah ingin menghentikan jasad anaknya dimasukkan ke liang lahat. Barangkali masih tidak menyangka bahwa anaknya pergi secepat ini dan bahkan mendahului dirinya.
Ayla jadi terbayang jika berada di posisinya. Betapa sedihnya dia jika harus kehilangan Abenaya. Tapi kembali lagi, dia harus tetap memikirkan hal baik. Dia yakin Tuhan pun akan memberikan yang terbaik untuknya.
"Anak saya...."
"Tidak perlu merasa kehilangan, Bu! Bukankah Ibu yang dari awal memang mau menghilangkannya!" seru salah satu jurnalis perempuan dengan nada sinis dan begitu pula raut wajahnya.
Suaranya benar-benar keras. Ayla dan yang lain langsung menoleh ke arahnya. Mereka tidak percaya hinaan seperti itu datang. Padahal asal mula meninggalnya anak itu juga belum dipastikan kejelasannya, hanya saja banyak yang telah menafsirkan bahwa kematian itu disengaja dan si Ibu sendiri yang membunuhnya. Dan harusnya mereka para jurnalis atau lainnya tetap menjaga sikap, tidak boleh berkata buruk seperti tadi.
"Memangnya kamu benar-benar yakin kalau Ibu itu yang membunuh anaknya? Bagaimana kalau kamu keliru? Apakah bisa menarik kalimat yang kamu ucapkan tadi? Apakah bisa juga mengembalikan suasana hati Ibu itu?" tegur Ayla pada jurnalis yang tadi berbicara tidak semestinya. Ayla tahu perempuan itu dari stasiun berita mana. Sudah beberapa kali juga dia bertemu dan dilihat dari orangnya saja Ayla juga tahu bahwa perempuan itu agak nakal.
"Hanya orang bodoh yang masih meragukan bahwa Ibu itu bukan pembunuhnya!" sahut perempuan yang nametagnya bernama Ayudia.
Rena yang berdiri di samping Ayla segera mengusap dadanya sendiri juga d**a Ayla untuk bersabar. Dia yakin jika tidak ada banyak orang di sana, dia dan Ayla pasti akan mengamuk perempuan yang berkata tidak semestinya itu.
"Kalau saya sendiri percaya bahwa kematian anak yang baru saja dikebumikan tadi murni ketidaksengajaan. Ibu yang sedang menangis itu juga tidak bersalah," tutur Ayla lagi. Dia yakin sekali dengan perkataannya. Awalnya memang ragu, tapi setelah melihat Ibu itu kembali dia jadi semakin yakin bahwa kematian anak tadi tidak disengaja.
"Ya, apa yang baru saja dikatakan Nona ini memang benar. Setelah otopsi dan pemeriksaan di rumah tidak ada unsur kesengajaan. Anak itu tidak dibunuh Ibunya melainkan meninggal sendiri karena jatuh dari tangga ketika hendak mengambil bola yang menggelinding," ucap salah satu polisi yang sejak kejadian itu menjadi pemeriksa.
Dan hal tersebut membuat para jurnalis segera mencatat informasi yang baru saja didapat untuk dijadikan bahan. Ayla tidak mencatatnya sebab dia terlebih dahulu mendapatkan informasinya dan bahkan dia sudah menyusun berita, tinggal dipublikasikan saja. Dia menunggu kepastian dan akhirnya mendapatkan juga dari pihak kepolisian.
"Hah! Sial!"
Perempuan yang berkata tidak semestinya itu menghentakkan kaki sembari menatap Ayla dengan sengit sebelum pergi meninggalkan pemakaman. Dia pergi dengan membawa sorakan dari teman jurnalis lainnya. Semuanya yang sedari tadi menahan kesal akhirnya bisa melampiaskannya.
Ada-ada saja memang. Ayla sendiri berusaha untuk sabar. Dia segera mencari tempat yang nyaman bersama Rena untuk mempublikasikan berita yang telah disusunnya. Tidak perlu waktu lama karena semuanya sudah dipersiapkan sedemikian rupa.
"Kamu pandai sekali mencari informasi. Untuk ke sekian kalinya kamu menjadi jurnalis pertama yang mempublikasikan berita baru!" seru Rena memuji Ayla.
"Entahlah. Mungkin wajahku benar-benar bisa dipercaya sampai Ibu tadi menceritakan segalanya padaku," sahut Ayla. Dia jadi teringat dengan Ibu tadi yang bercerita segala hal bersamanya.
Ayla dan Rena masih berada di pemakaman. Sementara jurnalis yang lain telah pergi. Mereka berdua menyusun berita baru selain kepastian yang ada yakni mengenai anak yang pada akhirnya dikebumikan. Dia tidak lupa menambahkan foto-foto yang diabadikan ketika pemakaman tadi.
Beberapa saat kemudian Ibu dan polisi yang mengawalnya tadi beranjak dari makam. Ibu itu sudah tidak menangis, tapi siapapun juga paham bahwa kesedihannya belum usai bahkan tidak akan pernah usai. Kehilangan anak agaknya memang hal yang paling menyakitkan. Seorang Ibu pun akan selalu merasa bersalah sekalipun mereka harusnya tidak demikian. Para Ibu akan merasa bersalah karena anaknya harus pergi terlebih dahulu, padahal harusnya mereka yang pergi terlebih dahulu. Hanya saja semuanya sudah diatur dan tidak bisa diatur ulang.
"Barangkali Tuhan memang sangat mencintai anak Anda hingga akhirnya memintanya kembali lebih cepat. Sabar, Ibu," ujar Rena sembari memberi usapan pada bahu Ibu itu. Dia belum dikaruniai anak, tapi dia bisa merasakan bagaimana jika memiliki anak dan akan berada di posisi Ibu itu. Pasti akan sangat sulit untuk menerima kenyataan yang ada.
"Iya, saya berusaha untuk ikhlas." Ibu itu menyahuti sambil tersenyum kemudian dia memandang Ayla dan memeluknya dengan erat. Lalu berkata, "terima kasih karena sedari awal memahami saya. Terima kasih pula sudah mengusahakan supaya saya bisa hadir di pemakaman anak saya."
"Iya, sama-sama." Ayla kembali sedih jika menatap Ibu itu. Dia benar-benar berharap supaya sedih yang ada tidak berlanjut, semoga saja Ibu itu segera mendapat kebahagiaan lain.
Meski dinyatakan tidak bersalah, Ibu itu tetap harus kembali ke kantor polisi dan mungkin menginap untuk malam ini sebab barangnya masih berada di sana dan besoknya dia akan dikawal polisi untuk klarifikasi semuanya di pengadilan. Tentu saja Ibu itu tidak akan menjalani hukuman karena dia jelas tidak bersalah setelah penyelidikan yang dilakukan oleh pihak berwajib.
Pada akhirnya pemakaman kembali sepi karena orang yang memenuhinya tadi ke tempat masing-masing. Begitu pula dengan Ibu dari anak yang baru saja dimakamkan, dia akhirnya mau meninggalkan tempat itu.
Di tengah perjalanan usai mengantarkan Rena pulang, Ayla melihat Abenaya di halte. Anaknya baru saja turun dari bus dan ingin melanjutkan langkahnya menuju rumah.
"Abe..." seru Ayla dengan kaca jendela mobil yang diturunkan setengah dan tangannya melambai.
Abenaya yang kala itu sedang asyik membaca buku sembari berjalan pun menoleh. Ternyata Ibunya yang datang. Dia pun melangkah mengitari mobil dan kemudian duduk di samping Ibunya. Tak lupa mengenakan seatbelt. Dia selalu mematuhi tata cara berkendara meskipun jarak ke rumahnya dekat, dia tetap akan memakai seatbelt.
"Mommy pulang cepat hari ini?" tanya anak itu tanpa menoleh ke arah Ibunya. Dia tetap asyik membaca buku dan enggan untuk berhenti. Seperti itu Abenaya jika sudah bertemu buku. Dan Ayla sangat paham dengan situasi ini.
"Harusnya Mommy yang bertanya. Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Ayla sembari melirik jam tangan sport di tangannya yang berwarna merah muda itu. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore, sementara Abenaya seharusnya sudah pulang pukul satu atau dua siang tadi.
"Tadi Abe mengikuti seleksi untuk OSN Sains dan Matematika di sekolah, makanya baru pulang." Abenaya menjawab dengan menoleh ke arah Ibunya yang sedang asyik mengemudi mobil. Dia menghentikan aktivitasnya, bukunya disimpan ke dalam tasnya dan kini dia meneguk air putih yang berada di mobil itu— milik Ibunya yang masih tersisa.
"Lalu, bagaimana hasilnya? Setahu Mommy OSN bukan untuk anak kelas tiga."
"Tadi guru-guru juga bilang gitu. Tapi Abe bisa mengerjakan soal seleksinya dengan benar. Abe yang akan mengikuti OSN."
Anak itu benar-benar membuat Ayla tercengang. Apalagi saat Abenaya memperlihatkan kertas hasil uji seleksi yang dimaksud tadi. Benar semuanya. Padahal melihat soal-soalnya saja, Ayla hampir muntah dibuatnya. Soalnya akan sangat sulit diselesaikan oleh anak seumuran Abenaya, herannya anak itu bisa menyelesaikannya.
Tak lama kemudian sampailah mereka di komplek perumahan yang asri, tepat sekali di depan rumah mereka. Ayla kemudian menatap lekat anaknya yang sudah melepas seatbelt dan akan bersiap turun dari mobil. Ayla mencegahnya sejenak, ada yang harus dipastikan olehnya.
"Apa, Mom?" Abenaya terheran-heran dengan Ibunya yang menarik lengannya supaya tidak turun.
"Apa kamu anak Mommy? Kenapa kamu membahayakan sekali!"
Begitu ucap Ayla. Dia masih tidak menyangka dengan anaknya yang bisa menyelesaikan soal seleksi untuk siswa yang akan ikut OSN. Abenaya selalu saja membuatnya terkejut. Segala hal yang dilakukan anak itu memang di luar dugaan dan terkadang sulit untuk diterima.
"Kalau bukan anak Mommy anak siapa lagi?"
Jawaban dari Abenaya juga di luar dugaan, tapi sebenarnya itu memang jawaban tepat.
"Abe akan sering pulang jam segini karena ada pelatihan. Mommy tidak perlu khawatir." Abenaya melanjutkan perkataannya ketika dia ingat akan suatu hal. Dia harus memberitahu Ibunya supaya nanti tidak mencari dirinya jika kebetulan Ibunya pulang lebih awal sebelum dirinya.
"Ya... ya... ya... Mommy tidak akan khawatir dengan anak yang dewasa sebelum waktunya."
Dewasa sebelum waktunya. Begitulah yang terjadi pada Abenaya. Hal itu membuat Ayla tidak perlu bersusah payah memikirkan cara yang baik untuk mendidiknya karena Abenaya tumbuh dengan sendirinya. Namun tetap saja Ayla merasa khawatir.
"Mom, apakah minggu ini kita akan pergi ke rumah Kakek dan Nenek?" tanya Abenaya ketika dia dan Ibunya telah turun dari mobil dan kini sedang membuka pintu dengan menekan pin yang telah diatur sebelumnya.
"Kamu merindukan mereka?"
"Ya, Abe merindukan mereka. Mommy juga, kan? Ayo minggu ini ke sana."
Abenaya terus saja meminta Ayla untuk ke rumah Kakek dan Neneknya. Ayla bingung harus bagaimana. Dia sendiri memang merindukan orang tuanya, hanya saja dia selalu teringat dengan kejadian dulu. Ya meskipun sudah berulangkali pula Ayla pergi ke rumah mereka bersama Abenaya, tapi tetap saja itu rasanya berat.