Cukup lama Ayla berdiam diri menyaksikan beberapa polisi menghentikan lelaki yang sedang menghajar seseorang. Dia menyaksikan dengan melipat tangannya di d**a. Seolah sebagai hiburan baginya karena melihat kelucuan yang ada. Bagaimana tidak lucu sebab polisi itu kewalahan dan justru tersungkur jauh. Padahal harusnya polisi yang menang, tapi rupanya orang yang sedang bergejolak emosinya itu mengalahkannya.
"Pak! Sudah! Nanti kalau dia mati bagaimana?" seru polisi lain yang masih aman dari dorongan kuat lelaki yang memukuli seseorang dengan ganasnya. Sangat kewalahan karena orang itu terlalu kuat.
"Biarkan saja! Koruptor memang tidak pantas untuk hidup. Menyusahkan orang lain saja!" sahut lelaki yang masih mengerahkan tangannya ke wajah dan bagian tubuh lainnya dari seseorang yang rupanya telah melakukan kesalahan besar.
Mendengarnya, Ayla jadi setuju dengan tindakan lelaki berjas yang dia yakini sebagai rekan dari lelaki yang telah menabrak mobilnya dari belakang. Ayla tahu, tapi dia belum tahu siapa sebenarnya yang sedang memukuli seorang koruptor itu.
Korupsi harusnya bukan tindakan yang bisa dimaklumi lagi. Hanya saja negeri ini masih saja memakluminya. Padahal setiap individu sangat paham dampak negatif yang ditimbulkannya. Entah mau sampai kapan korupsi terjadi, dan agaknya sekarang telah diyakini sebagai budaya yang itu berarti wajar-wajar saja jika dilakukan. Semoga saja akan ada hal baik setelahnya. Semoga hal yang memang tidak pantas dilakukan tersingkir sepenuhnya.
"Aku rasa sudah cukup. Nanti kalau sungguh mati kita malah menambah kasus," ucap laki-laki yang menabrak mobil Ayla. Dia berusaha menghentikan rekannya yang sedang membabi buta yang sebagai tindakan karena kekesalan yang teramat besar.
Lelaki yang menabrak Ayla tadi menggelengkan kepalanya menyaksikan rekannya yang keras kepala, benar-benar sukar dinasehati. Dia tidak sengaja menatap Ayla yang sedang duduk dan menyaksikan perkelahian. Dan ketika itu Ayla pun memandangnya. Lelaki itu akhirnya mendekati Ayla, hal tersebut dinantikan Ayla sebelumnya. Agaknya dia memang menginginkan uang ganti rugi untuk perbaikan mobilnya.
"Nona? Ada apa Anda kemari? Apa Anda melaporkan saya karena menabrak mobil Anda tadi pagi?" tanya lelaki yang menabrak mobil Ayla tadi.
Namanya Byan Abraham, dapat dilihat di name tag yang melekat di jasnya. Ayla kini tahu namanya dan kemungkinan selanjutnya tidak akan menyebutnya sebagai 'lelaki si penabrak mobil'. Kini Ayla malah lupa menjawab pertanyaan lelaki itu karena terlalu asyik mengamati dari atas sampai bawah. Sebenarnya dia bukan orang penilai, hanya saja penampilan lelaki itu sangat menarik perhatiannya hingga dirinya terkesan menjadi orang penilai.
"Sungguh, Nona, saya tidak sengaja melakukannya. Saya akan bertanggungjawab penuh untuk perbaikan mobil Anda. Tolong jangan bawa perkara ini ke jalur hukum," ujar Byan lagi. Dia memasang raut memohon dan agak ketakutan, barangkali memang tidak menyukai jika hal kecil dibesar-besarkan ke jalur hukum.
"Dia sedang mewawancarai salah satu narapidana. Memangnya apa kesalahan Anda sampai ketakutan seperti itu?" tanya polisi yang sudah pasrah karena tidak bisa menghentikan perkelahian tadi. Dia malah tertarik dengan kasus yang menimpa Ayla dan juga Byan. Dia yang baru saja datang tentu tidak mengetahui kasus mulanya, hanya saja jika dia datang lebih awal maka sudah tahu karena Byan sempat menyebutnya tadi.
"Dia menabrak mobil saya dari belakang. Dia tidak sabaran, Pak, lampu baru hijau dan saya baru mau melaju, eh, dianya malah nabrak mobil saya sampai penyok. Untung saya tidak kenapa-kenapa!" ucap Ayla kemudian. Dia sebenarnya tidak mau mengadu, hanya saja dia iseng. Dia ingin melihat Byan lebih kebingungan sekaligus ketakutan.
"Mau diangkat kasusnya, Nona? Saya akan membantu. Orang yang tidak sabaran ketika berkendara dan merugikan orang lain memang pantas diberi hukuman." Pak Polisi memberi penawaran pada Ayla, hanya saja dia tidak menatap orang yang ditawari. Pak Polisi malah menatap lekat wajah Byan dengan gemas sekaligus kesal.
"Digelindingkan saja jangan diangkat kasusnya, Pak," sahut Ayla dengan kekehan kecil.
Byan yang tadi ketakutan pun akhirnya ikut terkekeh. Dia paham maksud Ayla yang sebenarnya tidak mau memperkarakan masalah tadi lebih jauh lagi. Dia kemudian berkata, "Saya akan bertanggungjawab sepenuhnya, Pak. Dan saya benar-benar minta maaf karena sudah teledor hingga merugikan orang lain."
"Jika pihak korban memilih untuk memaafkan, maka perkara bisa selesai. Dan Anda harus bertanggungjawab yang benar. Ingat, lain kali lebih berhati-hati jika berkendara," tutur polisi itu pada Byan.
"Tentu." Byan dengan cepat mengiyakan. Dia tentu akan lebih berhati-hati lagi ketika berkendara. Sungguh, sejak kejadian itu Byan jadi tidak fokus karena terus memikirkan bagaimana dia bertanggungjawab. Dan pada akhirnya Tuhan mempertemukan kembali dengan pemilik mobil yang ditabraknya tadi hingga akan memudahkan untuk bertanggungjawab.
"Ah, iya, saya minta waktu sebentar untuk menyelesaikan urusan saya terlebih dahulu sebelum membicarakan perkara mobil Anda, ya, Nona."
Perempuan itu memberi anggukan kepala, dia mempersilakan Byan untuk menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu. Sebenarnya masalah yang pertama harus diselesaikan. Hanya saja Ayla mengalah karena menurutnya masalah korupsi memang harus segera diselesaikan.
"Sudah puas memukuli koruptor, Tuan?" seru Pak Polisi pada rekan Byan yang menghampiri Ayla, Byan, dan polisi itu sendiri. Dia menggelengkan kepala karena terlampau gemas dengan orang yang nampaknya belum puas, tapi sepertinya berhenti karena sudah lelah— terlihat jelas dari raut wajahnya.
Mendengar polisi bercakap, Ayla dan Byan pun menoleh ke arah lelaki yang justru menatap lekat polisi dan seolah kesal dengan perkataannya tadi. Dan saat itu Ayla baru sadar bahwa dia mengetahui siapa lelaki itu.
"Ah!" Ayla berteriak karena terkejut. Dia lekas memalingkan wajahnya supaya tidak diketahui. Perempuan itu pun segera mencari kacamata hitam yang selalu dibawanya dalam tas.
"Kenapa, Nona?" tanya Byan dan Pak Polisi serempak. Mereka terkejut akibat teriakan Ayla tadi.
"Ada apa?" sahut lelaki yang datang terakhir tadi. Berpawakan gagah dan menawan. Ayla tahu siapa itu. Sedari tadi wajahnya memang tidak nampak karena asyik memukuli koruptor, dan sekarang Ayla baru tahu. Lelaki itu ikut terkejut dengan teriakan Ayla.
"Tidak ada apa-apa!" jawab Ayla dengan kelabakan. Dia berhasil mengenakan kacamata hitam yang kemudian dia yakini akan menyulitkan lelaki yang diketahuinya itu mengenali dirinya.
Lelaki yang diketahui Ayla itu terkekeh. Dia kemudian berkata, "Mungkin dia terkejut dengan ketampananku, sampai-sampai memakai kacamata supaya tidak terkejut lagi."
"Terlalu percaya diri itu tidak bagus, Tuan." Polisi itu kembali menyahut. Dia yang tadi berdiri segera duduk dan bersiap menerima laporan dari Byan serta rekan yang baru saja selesai memukuli seorang koruptor.
Sementara Ayla juga kesal dengan perkataan yang sombong tadi. Dia bahkan mual mendengarnya. Rekan Byan itu memang tampan, tapi tidak dengan mulutnya. Benar-benar sangat tidak disukai Ayla.
"Urusan saya sudah selesai. Permisi...."
Ayla pergi dengan berusaha menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan membuat Byan dan rekannya terheran-heran, begitu pula dengan polisi. Namun, mereka tidak peduli lagi karena masih ada hal yang penting, yakni mengurus koruptor di perusahaan.
"Eh, Nona, kita belum diskusi bagaimana baiknya tentang mobilmu!" teriak Byan yang tak lagi dihiraukan Ayla. Byan sendiri hampir lupa bahwa masih memiliki urusan dengan Ayla.
Ayla mau membahasnya, tapi untuk kali ini belum tepat. Dia sudah seperti bertemu zombie saja. Ayla kelabakan ketika keluar dari kantor polisi. Dia pun segera melajukan mobilnya yang ternyata terparkir di samping mobil lelaki tadi. Ayla masih hafal dengan mobil yang menabrak mobilnya dari belakang.
Sungguh, sudah lama dia tidak bertemu dengan lelaki yang malam itu dimanfaatkan olehnya. Dia pikir tidak akan menemukannya lagi, tapi entah kenapa hari ini berbeda. Setelah bertahun-tahun lamanya, dia dipertemukan kembali dengannya. Lantas, apa yang akan diperbuatnya apabila lelaki itu mengingat tentang siapa yang mengajaknya berhubungan badan.
Kini Ayla menuju ke kantor kembali untuk menjemput Rena sebelum bertolak ke suatu tempat lagi. Kali ini dia harus bersama Rena sebab banyak hal yang harus dilakukan dan tidak mungkin untuk dilakukan seorang diri.
"Ah, sial! Semoga dia lupa kalau aku yang memaksanya waktu itu!" Ayla masih saja memikirkan hal tadi. Dia sedang dalam suasana hati yang campur aduk. Andai saja dia langsung kembali setelah mewawancarai Ibu tadi, maka dia tidak akan bertemu dengan lelaki yang menabrak mobilnya serta rekannya yang rupanya lelaki yang dulu berhubungan badan dengan Ayla.
"Apa maksudmu?" tanya Rena yang duduk di samping Ayla. Dia belum paham maksud sahabatnya itu, dan sepertinya memang suatu hal yang tidak nyaman untuk dirinya.
"Aku bertemu dengan lelaki yang aku paksa malam itu. Tapi, kuharap dia tidak mengenaliku. Aku malu sekali," jawab Ayla lesu sembari menundukkan kepalanya. Menurut Ayla lelaki tadi tidak bisa mengenalinya dengan baik karena dia tadi memakai kacamata dan segera pergi sebelum lelaki itu menatapnya lebih lekat.
"Di mana?" Rena justru terkejut dan antusias mendengarnya. Namun, Ayla tidak mau menceritakan hal lebih karena dia tidak mau mengingatnya. Malu betul dibuatnya.
"Di mana, Ayla?" tanya Rena kembali.
Dan pada akhirnya Ayla mau memberitahu. Dia memberitahu bahwa lelaki itu berada di kantor polisi yang sama seperti dirinya tadi untuk melaporkan koruptor.
"Dia orang mana, sih? Kenapa muncul lagi? Apa jangan-jangan dia tidak jauh dari lingkungan kita?"
Pertanyaan itu tidak diketahui jawabannya oleh Ayla. Dia sendiri juga heran kenapa setelah sekian lama kembali dipertemukan. Entah apa maksud semesta.
Sebelumnya Ayla senang karena tidak dipertemukan dengan lelaki tersebut sejak malam di luar dugaan itu. Tapi sekarang kesenangannya pudar. Dia kini dipenuhi ketakutan. Takut jika lelaki itu balas dendam atau bagaimana karena bagaimanapun juga perbuatannya dulu sangat tidak bisa diterima.
Tidak tahu lagi harus bagaimana. Jelasnya Ayla berharap supaya lelaki itu melupakan kejadian dulu. Dan dia berharap pula jika memang lelaki itu masih mengingat supaya tidak melakukan pembalasan dendam atau sejenisnya. Semoga saja ke depannya hanya ada hal baik bukan sebaliknya.