Dan Ini Selanjutnya

1500 Words
Menjadi jurnalis memang berat, mereka harus benar-benar mendapatkan informasi yang tepat meskipun harus mati-matian memperjuangkannya.Dan yang paling utama harus mendapat informasi lengkap serta tidak kalah dari stasiun berita lainnya. Kecepatan dan keakuratan memang parameter utama dalam dunia jurnalistik. Oleh karenanya setiap jurnalis sudah seolah berlomba setiap harinya dengan jurnalis lainnya. Meski hadiahnya hanya kepuasan, tapi tetap saja ini perlombaan yang perlu dimenangkan. Banyak hal diupayakan dan banyak hal yang bahkan direnggut dalam dunia jurnalistik. Agak sulit, tapi sebenarnya mudah dan sangat menyenangkan. Terlebih lagi pada mereka yang sangat mencintai dunia tersebut. "Saya tahu perasaan Anda karena saya sendiri juga seorang Ibu yang sudah pasti akan sedih jika kehilangan anak. Bisakah Anda menceritakan dan berbagi kesedihan Anda? Saya akan mendengarkannya dengan baik," bujuk Ayla yang kini berhadapan dengan Ibu yang tampilannya acak-acakan dengan tangan tetap diborgol. Perempuan yang ditemui adalah perempuan yang dianggap telah membunuh anaknya sendiri. Sebenarnya tidak ada yang diperbolehkan untuk menemui Ibu itu. Hanya saja kali ini berbeda, Ayla mendapat kesempatan istimewa sebab dia berhasil meyakinkan bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk setelah wawancara untuk kedua kalinya. Wawancara yang pertama gagal karena Ibu itu bungkam. Dan kali ini Ayla berharap ada hal yang dia dapat, terlebih lagi berharap dengan kebenaran yang ada. Informasi yang dia dapatkan nantinya juga akan memudahkan pihak yang mengurusnya. Jadi, ini merupakan hal yang harus diupayakan sebagaimana mestinya. "SAYA TIDAK SENGAJA MELAKUKANNYA!" gertak Ibu yang diduga membunuh anaknya. Tangis kembali datang, Ibu itu meraung-raung. Ayla tidak hanya terkejut dengan gertakan tadi, dia juga jadi sedih mendengar tangisnya. Dia yang tadi duduk di depan kursi yang menghadap ibu itu kini berpindah. Dia memilih untuk duduk di samping Ibu itu dan memberikan usapan di bahunya seolah sebagai penguat dan penghibur supaya tidak lagi menangis. Dia paham betapa sedihnya kehilangan anak meski dia tidak pernah merasakannya sendiri. Mendapati bahunya diusap Ayla dengan lembut, Ibu itu menoleh sekilas membuat Ayla langsung menjauhkan tangannya. Ayla takut jika Ibu itu tidak suka, makanya dia menyudahi perlakuannya. Tapi sebisa mungkin Ayla bersikap biasa saja dan terus meyakinkan Ibu itu hingga akhirnya mau berbicara yang sebenarnya. "Saya orang baik. Anda tidak perlu khawatir. Jika memang tidak percaya, cari saja teman-teman saya untuk membuktikannya sendiri," ujar Ayla. Dia memberitahu demikian supaya Ibu itu tidak takut dan menganggap dirinya seperti jurnalis yang lainnya yang mana langsung mengecam Ibu itu jahat sepenuhnya. Padahal semuanya tidak boleh asal menilai, harus terlebih dahulu melihatnya di beragam sisi. Ayla sendiri yakin bahwa Ibu itu bukannya bungkam karena menutup kasusnya, namun Ibu itu hanya belum tahu tempat yang benar untuk bercerita. Mungkin saja juga takut jika apa yang dikatakan tetap tidak diyakini oleh orang yang mendengarnya. "Saya ingin melindungi, tapi anak saya malah takut dan jatuh dari lantai dua. Saya tidak bertujuan seperti ini. Saya tidak mau anak saya mati, tapi anak saya malah mati...." Ibu itu akhirnya bercerita di sela tangisannya. Mungkin benar-benar yakin bahwa Ayla merupakan tempat yang tepat untuk bercerita. Hal ini sudah sangat menyenangkan bagi Ayla karena sebelumnya memang tidak satu katapun dia dengar. Sebenarnya suaranya tidak terlalu jelas, tapi Ayla yang pandai itu mampu menangkap semuanya dengan baik. Tangan Ayla dengan cepat menulis apa yang diucapkan Ibu itu di notebook miliknya. Di sini dia menerima kebenaran bahwa kejadian itu memang tidak disengaja, tapi semua orang telah beranggapan bahwa Ibu itu memang sengaja untuk membunuh anaknya. Meski demikian Ayla belum bisa memercayai sepenuhnya karena bisa jadi apa yang dikatakan Ibu itu hanya rekayasa supaya semuanya lekas pulih dan dia tidak menjalani hukuman yang berat nantinya. "Kenapa Anda ingin melindunginya? Apakah sebelumnya anak Anda sedang rewel?" tanya Ayla kemudian. Dia ingin tahu apa alasan Ibu itu melindungi anaknya jika memang tidak berniat melindunginya. Dia ingin memastikan pula apakah ini benar-benar ketidaksengajaan atau justru sebaliknya. Hal tersebut belum diketahui pasti karena memang pihak penyidik kesulitan menelisik lebih lanjut sebab bukti yang ada pun tidak kuat. Ibu itu mengangguk. Tangisannya disudahi dan kini menghadap Ayla dan menatapnya lekat. "Anak saya mau mengambil bola yang terlempar dan akhirnya jatuh. Saya sudah berusaha menahan anak saya supaya tidak menangkap bolanya, tapi dia malah jatuh." Dari penjelasan Ibu itu Ayla bisa menyimpulkan bahwa kejadian itu murni ketidaksengajaan. Anaknya jatuh dengan sendirinya karena berusaha menahan bola yang terlempar. Dan takdir berkata lain, dia tidak bisa menahan dirinya hingga akhirnya jatuh dari balkon lantai dua. "Saya harap Anda mengatakan yang sebenarnya," tutur Ayla lagi. Dia sedang memikirkan hal lain setelah ini. Agak bingung karena hal yang ada membingungkan. Dan tiba-tiba Ibu yang tangannya diborgol itu berusaha menggenggam tangan Ayla. Tentu Ayla langsung menggeser tubuhnya menjauhi Ibu itu, Ayla takut. "Saya ingin memeluk anak saya sebelum dia dimakamkan. Tapi semua orang di sini tidak memperbolehkannya. Tolong bantu saya...." Rupanya Ibu itu hanya ingin memohon pada Ayla supaya mengabulkan keinginannya. Ayla kemudian nampak berpikir. Anak ibu itu akan dimakamkan nanti sore setelah berhasil diotopsi. Polisi pasti tidak akan memperbolehkan untuk keluar karena takut melarikan diri dan semuanya mengecap bahwa dia pembunuh dan tidak mungkin memiliki keinginan seperti itu. Di sisi lain, Ayla paham bagaimana posisi Ibu itu, dia tentu akan memperbolehkan Ibu itu untuk ikut pemakaman anaknya. "Saya akan berbicara dengan polisi. Kalau mereka tidak mengizinkan, maka saya akan mengambil video prosesi pemakaman anak Anda supaya Anda dapat melihatnya. Mungkin, Anda juga akan segera dibebaskan karena kejadian ini murni ketidaksengajaan." "Bantu saya... Saya tidak membunuh anak saya...." Tangis kembali pecah. Ibu itu kembali sedih karena menyangka bahwa Ayla akan sama seperti yang lain yang telah menemui dirinya dan berusaha mengupas segala hal mengenai kejadian yang memilukan. "Anda memang tidak membunuh anak Anda? Kejadian ini murni ketidaksengajaan anak Anda sendiri?" tanya Ayla kembali memastikan. "Ya! Saya tidak membunuh anak saya. Ibu mana yang tega membunuh anaknya sendiri? Anak saya jatuh sendiri, saya tidak mendorongnya. Saya justru mau menyelamatkannya." Ibu itu kembali mempertegas. Benar kiranya bahwa seorang Ibu tidak akan pernah tega membunuh anaknya sendiri. Namun, belakangan ini banyak kasus serupa hingga akhirnya kasus kali ini diasumsikan seperti kasus sebelumnya yakni seorang Ibu yang benar-benar tega membunuh anaknya dengan beragam cara. "Tapi kita juga perlu bukti yang kuat bahwa Anda tidak mendorongnya dari lantai dua. Apa ada CCTV atau seseorang yang melihat kejadian yang sebenarnya?" Ibu itu kini sudah terdiam dari tangisnya, dia hendak mengusap air matanya tapi tidak bisa karena borgol masih melekat. Ayla yang peka pun segera menyeka dengan tisu yang diambil dari tote bagnya. Dia awalnya takut dengan Ibu itu, tapi lambat laun mulai terbiasa. Toh, Ibu itu tidak akan bermacam-macam dengannya karena tangannya diborgol. "Tidak ada yang melihat, semuanya hanya tahu saat dia sudah jatuh dan berlumuran darah." "Kalau begitu, bicarakan ini dengan pengacara Anda. Sejujur-jujurnya, tidak perlu takut. Pengacara Anda pasti akan mencari cara. Saya tidak bisa membantu lebih, terima kasih untuk informasinya." "Apa saya benar-benar akan bebas?" Pertanyaan yang cukup sulit jawabannya itu diterima Ayla. Di sini Ayla hanya sebagai jurnalis yang sedang mengulik informasi. Dia bukan penguasa hukum yang bisa memutuskan untuk bebas atau harus menjalankan hukuman. Hanya saja Ayla tahu bahwa orang yang tidak bersalah akan bebas, dan sebaliknya. "Saya percaya, Anda tidak bersalah dan pasti akan dibebaskan. Saya akan segera meminta izin supaya Anda bisa menghadiri pemakaman anak Anda. Permisi." "Terima kasih, banyak...." Ayla segera merapikan notebook ke dalam tasnya lagi, kemudian bergegas mencari polisi untuk meminta izin. Ternyata memang sulit, semuanya yakin bahwa Ibu itu memang sengaja membunuh anaknya. Tapi Ayla yakin itu murni ketidaksengajaan. "Pak, kalau Anda dan rekan-rekannya tetap mengecam bahwa Ibu itu bersalah sepenuhnya maka tidak apa. Tapi perlu Anda ketahui bahwa seorang Ibu itu kasih sayangnya luar biasa. Bahkan anaknya demam saja mereka kebingungan. Apalagi ini, anaknya meninggal dan akan dimakamkan hari ini. Ibu itu hanya ingin menatap anaknya untuk terakhir kali. Tolong perbolehkan, Ibu itu tidak akan ke mana-mana dan tetap akan mempertanggungjawabkan semuanya jikalau dia memang salah." Polisi yang sedang dimintai izin oleh Ayla itu mendengar semuanya dengan baik. Apa yang dikatakan Ayla memang tidak ada yang salah. Ayla pandai sekali menyentuh hati polisi itu. Dan pada akhirnya polisi itu mengiyakan. "Ya. Nanti akan saya antarkan ke pemakaman dan penjagaan akan diperketat!" "Terima kasih, Pak. Tolong jangan berbohong dan biarkan Ibu itu menghadiri pemakaman anaknya," ujar Ayla mengakhiri pembicaraannya dengan polisi. Dia lega sekali akhirnya bisa memenuhi keinginan Ibu tadi. "Sialan kamu! Beraninya menggelapkan uang perusahaan!" teriak seseorang yang baru saja memasuki kantor polisi. Ayla dan yang lain jadi menoleh ke sumber suara karena sangat menarik perhatian. Ternyata itu adalah lelaki yang menabrak mobilnya. Ayla jadi ingin menghampiri dan meminta pertanggungjawaban jika memang orang itu masih mau mempertanggungjawabkannya, lumayan juga nantinya dia tidak akan mengeluarkan uang banyak untuk perbaikan. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki lain muncul dan langsung menghajar lelaki yang telah babak belur. Beberapa polisi segera menghentikannya. Sungguh, situasi benar-benar rumit. Ayla ingin lebih lama lagi di sana karena barangkali apa yang sebenarnya terjadi itu bisa dijadikan berita. Dia akan menunggunya terlebih dahulu apakah memang pantas dijadikan berita atau justru sebaliknya. Dan tanpa disadari lelaki lain yang muncul setelah lelaki yang menabrak mobilnya itu pernah muncul dalam kehidupan Ayla. Perempuan itu hanya belum sadar karena wajahnya juga belum jelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD