Beruntung kantornya tidak terlalu ketat, tapi Ayla tetap saja merasa bersalah jika terlambat berulang kali. Entah minggu ini sudah berapa kali dirinya telat. Sebenarnya dia selalu awal berangkatnya, hanya saja dia perlu mengawasi anaknya terlebih dahulu hingga akhirnya waktunya terkuras habis. Meski demikian Ayla tidak menyalahkan siapapun, dia benar-benar menikmati dunianya yang seperti ini.
Dia menghentikan mobilnya di depan kantor karena ada satpam yang sudah menghadangnya. Satpam tersebut sangat akrab dengan Ayla, dia tahu bahwa Ayla akan terlambat presensi jika harus memarkirkan mobilnya di tempat parkir terlebih dahulu.
"Maaf jika merepotkan," ucap Ayla setelah dirinya keluar dari mobil.
"Tidak ap—" Satpam itu tidak menyelesaikan ucapannya karena yang diajak bicara sudah pergi. Dia menggelengkan kepalanya menyaksikan Ayla yang berlari terbirit-b***t menuju tempat presensi. Dia sendiri segera memarkirkan mobil Ayla ke tempat yang semestinya.
Id Card segera ditempelkan ke pintu masuk yang sekaligus sebagai bukti kehadirannya bekerja. Dia langsung terduduk sejenak saat kehadirannya terdaftar meski satu menit lagi akan ditutup. Setidaknya gajinya tidak akan dipotong.
Bukannya sehabis berdiri langsung ke ruangan kerjanya, perempuan itu menantikan sejenak satpam yang memarkirkan mobilnya untuk mengambil kunci. Sebenarnya Ayla bisa saja menitipkannya pada satpam tersebut, hanya saja satpam tersebut yang tidak mau dititipi. Ini sudah sering sekali dan Ayla sampai hafal.
Ponselnya berdering, ada notifikasi pesan baru. Ayla segera mengeceknya takut jika ada sesuatu yang penting. Rupanya dari anaknya yang mana isi pesannya membuat dirinya terharu.
Mom, tidak terjadi sesuatu yang buruk bukan? Perasaan Abe tidak nyaman sedari tadi. Tapi semoga saja Mommy baik-baik saja. Abe menyayangimu, Mom. Sampai bertemu senja nanti.
Ah, Ayla jadi meleleh mendapat pesan manis dari anaknya yang memang manis. Apa yang disampaikan Abenaya benar-benar membuat Ayla melayang ke angkasa. Abenaya memang anak yang dingin, namun sekalinya dia hangat, maka kehangatan yang dipancarkan akan membuat orang sekitar meleleh. Dan sebenarnya Abenaya tidak terlalu dingin jika bersama Ayla— orang yang disayanginya.
"ABE! MOMMY MENCINTAIMU!" seru Ayla sembari menekan tombol untuk pesan suara. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain itu, baginya apa yang baru saja dikatakan juga sudah menguak semuanya yakni juga termasuk ungkapan terima kasih karena telah mengkhawatirkan dirinya.
Ikatan batin seorang anak dan ibu memang tidak ada yang menandingi. Jika sesuatu terjadi pada salah satu di antara mereka, maka yang lain akan ikut merasakan. Sama halnya dengan Abenaya kali ini yang merasa tidak nyaman karena memang yang terjadi sebenarnya pada Ayla bukan merupakan hal wajar. Ibu anak satu itu masih tidak menyangka bahwa Abenaya mengirimkan pesan manis seperti itu.
"Tadi Nona Ayla kecelakaan?" tanya Satpam yang baru saja selesai memarkirkan mobil Ayla. Dia berlari tergesa-gesa karena ingin memastikannya. Wajar saja, Ayla sangat disayangi orang kantor itu, termasuk satpam yang telah menganggap Ayla itu saudaranya sendiri. Dia tentu khawatir setelah menyaksikan kondisi belakang mobil Ayla yang cukup mengkhawatirkan.
"Kecelakaan kecil, semuanya baik-baik saja sekarang."
Pada akhirnya satpam lega usai mendengarnya. Perempuan yang telah dianggap saudara itu baik-baik saja. Mudah dipercayai karena memang selama ini Ayla tidak pernah berkata yang tidak sesuai.
Kunci mobil yang berada di tangan satpam itu diambil. Ayla segera berlari menuju ke ruangan kerjanya dengan ponsel yang masih menyala dan memaparkan pesan manis dari anaknya. Senyum pun masih mengembang sempurna. Dia memang seperti itu jika anak yang biasanya seperti kutub es itu mencair dan menghangat hingga memberikan hal-hal yang manis.
Teman satu timnya sudah lengkap, dirinya yang selalu terlambat. Tapi tidak apa, semuanya bisa memaklumi Ayla. Perempuan itu pun berkontribusi besar bagi stasiun berita yang menaunginya, jadi tidak akan masalah sekalipun dia menciptakan kendala. Hanya saja Ayla juga sadar diri dan tidak akan mungkin mencari masalah yang tidak hanya merugikan dirinya, stasiun berita, dan rekan kerjanya yang lain.
"Ay, bisa tolong sunting berita yang telah kususun?"
Baru saja datang, dia sudah disuguhi pekerjaan oleh sahabatnya yang sekaligus rekan satu timnya yakni Rena. Setelah duduk di kursi yang dekat dengan rekannya itu, Ayla pun segera menganggukkan kepalanya. Dia menyunting berita sebelum diterbitkan. Ayla sering sekali diminta untuk melakukan suntingan sebab yang berada di sana merasa bahwa Ayla ahli di bidang itu. Ayla paling teliti di antara yang lain, tapi tidak bisa dipungkiri pula bahwa terkadang kurang teliti. Manusia memang tidak akan sempurna.
"Hari ini aku malas sekali. Pengen di rumah terus saja," celetuk Rena. Dia menghela nafas panjang sembari mengecek daftar kegiatan yang akan dilakukannya seharian ini. Agaknya apa yang diucapkan memang harus dipenuhi, tapi tidak bisa.
"Kenapa? Suamimu pulang?" Ayla menanggapi tanpa menoleh lagi ke arah sahabatnya, dia asyik menyunting berita yang telah tersusun yang mana tadinya dikirimkan ke emailnya.
"Iya, baru saja sampai ketika aku mau berangkat kerja tadi. Sebenarnya aku sudah tidak mau berangkat kerja, tapi suamiku terus memaksa untuk bekerja saja karena dia tidak apa sendirian di rumah. Dia juga bilang kalau nanti tetap bisa bertemu."
Rena bercerita panjang lebar. Dan Ayla tersenyum mendengarnya. Dia selalu mendengar hal serupa, tapi tidak pernah bosan. Rena dan suaminya saling mencintai, mereka kerap bercerita hal-hal menyenangkan ketika berumah tangga dengan tujuan supaya Ayla tertarik untuk berumah tangga pula. Dan realitanya, Ayla sama sekali tidak tertarik. Dia lebih senang dengan posisinya saat ini yakni menjadi Ibu untuk Abenaya. Dia tidak memerlukan apa pun lagi dan siapa pun lagi selain anaknya yang dingin, namun sebenarnya memiliki kehangatan yang sukar ditunjukkan.
"Sudah selesai, sudah aku publikasikan juga," ucap Ayla kemudian memberitahu Rena bahwa berita yang telah disusun sebelumnya telah lolos suntingan dan sudah dipublikasikan juga.
Akhirnya berita pagi itu telah diselesaikan. Kini keduanya harus bergelut dengan berita lain. Tidak akan ada hentinya karena memang dunia penuh dengan kejutan. Bahkan hampir tiap detiknya selalu ada kasus, entah kasus yang memilukan atau yang menyenangkan. Semuanya hanya perlu bersiap, terlebih lagi bagi para jurnalis.
"Oh ya, kita harus mencari informasi lagi tentang anak tujuh tahun yang ditemukan tewas di rumahnya. Nanti kita akan ke rumahnya lagi untuk memantau kondisi sekarang," ujar Rena, dia memberi informasi kembali kepada Ayla yang bisa saja lupa.
"Tapi, hari ini kita masih harus menyelesaikan perkara ibu rumah tangga yang memotong 'anu' suaminya bukan?"
"Kita lemparkan saja ke yang lain. Lagipula, kasus anak ini harus segera diusut soalnya sebentar lagi akan ada persidangan pembunuh yang sebenarnya."
"Kapan sidangnya? Kenapa jauh lebih cepat dari kasus ibu yang memotong 'anu' suaminya?"
"Komisi Perlindungan Anak yang mempercepatnya. Ini benar-benar di luar dugaan, seorang anak mati di tangan ibu kandungnya."
"Aih, aku tidak habis pikir dengan pikiran ibu itu. Anak lagi imut-imutnya malah dianiaya sampai meninggal."
Ayla sedih sekali jika mendapati berita tentang anak-anak. Dia selalu teringat dengan Abenaya. Hal ini membuat Ayla semakin menyayangi dan akan melindungi Abenaya sepenuh hatinya. Sebisa mungkin Ayla akan memberikan yang terbaik sekalipun hal baik yang direncanakan itu sulit untuk diperoleh, Ayla hanya akan selalu berusaha untuk Abenaya.
Mereka berdua menuju ke parkiran mobil setelah mengemas segala barang yang dibutuhkan nantinya. Keduanya selalu semangat jika pergi ke suatu tempat untuk mengulik informasi akan suatu hal. Mereka selalu senang dengan daerah baru, berbeda dengan kantor yang sering menjenuhkan.
"Kenapa mobilmu?" teriak Rena penuh dengan kepanikan saat menatap bagian belakang mobil Ayla. Dia kemudian mengecek badan Ayla sebagaimana mestinya untuk mengecek apakah ada yang terluka atau tidak.
Tentu saja hal itu membuat Ayla menggelengkan kepalanya. Dia tahu bahwa Rena sangat menyayanginya hingga ketika sesuatu terjadi sangat khawatir, hanya saja kekhawatiran Rena itu terkadang berlebihan seperti kali ini. Dan Ayla selalu kebingungan harus menyikapinya bagaimana.
"Itu ditabrak dari belakang. Tadi sedang ramai, jadi tidak bisa mengurus dengan baik."
Ayla harus kembali menjelaskan. Dia agaknya akan sering menjelaskan karena nanti pasti akan ada yang menanyakan lagi padanya. Agaknya Ayla harus memberi pengumuman supaya tidak berulangkali menjelaskan. Hanya saja itu berlebihan. Ah, harusnya Ayla bersyukur karena banyak yang peduli padanya.
"Ah, ada-ada saja. Kalau urusan kita selesai, kita harus mengurus hal itu! Pokoknya harus sampai tuntas!"
"Mau nyari orangnya di mana? Sudahlah, tidak perlu diperpanjang."
Benar kiranya bahwa masalah yang ada harusnya memang tidak diperpanjang. Ayla benar-benar sudah ikhlas atas apa yang menimpanya meskipun dia nantinya harus keluar uang banyak untuk perbaikan mobilnya. Tidak apa. Hal seperti ini memang tidak akan terhindari.
"Tapi tetap saja orang yang menabraknya harus bertanggungjawab! Dikira perbaikan mobil murah apa?"
Dan Rena tentu tidak rela jika Ayla membiarkannya begitu saja. Ini memang bukan masalah besar, hanya saja tetap harus diselesaikan sebagaimana mestinya. Untung saja hanya mobil yang rusak, coba kalau Ayla, sudah dipastikan bahwa Rena akan menghabisi orang yang menabraknya jika bertemu.
"Aih, cepat masuk ke mobilmu. Kita harus segera pergi!"
Ayla menggiring Rena untuk masuk ke mobilnya yang jarak parkirnya tidak jauh dari tempat mobil Ayla diparkirkan. Ayla bahkan segera memasangkan seatbelt usai Rena duduk di mobilnya, juga kembali menutup pintu mobil dan segera meminta Rena untuk bergegas terlebih dahulu. Ayla hanya tidak mau jika terus berada di samping Rena yang masih saja mengomel dan tidak terima.
Rena bergegas ke rumah korban, sementara Ayla memilih untuk mewawancarai Ibu yang membunuh anaknya. Ayla selalu pandai mengulik informasi apa pun itu. Tapi karena kepandaiannya itu, terkadang dia harus bersiap mengorbankan dirinya. Pernah suatu ketika dirinya pergi ke kawasan kumuh tempat pemulung untuk mendapatkan informasi tentang penemuan mayat. Dan hasilnya dirinya malah diminta para pemulung untuk membantu mereka.