Kejadian Pagi

1500 Words
Meski anaknya bisa dipercayai, namun hatinya tetap dipenuhi kekhawatiran. Seorang Ibu memang sebenarnya tidak bisa percaya sepenuhnya dengan sang anak. Sama halnya seperti Ayla yang kini sedang memantau anaknya dari jauh. Dia mengendarai mobilnya mengikuti anaknya yang rupanya masih berada di halte bus karena bus yang menuju ke sekolahnya belum datang. Hal ini sering dilakukan, Ayla memastikan bahwa apa yang dilakukannya tidak diketahui anaknya karena jika tahu maka sudah dipastikan anaknya akan marah besar. Apa yang dilakukan cukup membuatnya tenang. Bahkan terlalu tenang sampai dirinya nyaman melakukan pekerjaan yang benar-benar rumit sekalipun. Namun, ketika kegiatannya mengawasi berlangsung, dia takut jika Abenaya tahu karena anak itu pasti akan marah. Dan selama ini untungnya Ayla pandai menjaga jarak ketika mengawasi hingga Abenaya tidak mengetahui posisinya. "Kenapa lama sekali busnya?" Ayla berseru seorang diri di dalam mobilnya yang terparkir cukup jauh dari tempat Abenaya. Ini sudah lebih dari lima belas menit dari kedatangan biasanya. Ayla jadi kasihan dengan Abenaya yang menunggu cukup lama, meskipun ada banyak orang yang juga sedang menunggu, tapi tetap saja Abenaya terlihat melas karena tidak ada yang mengajaknya berbicara. Kalau pun ada yang mengajak Abenaya berbicara, maka anak itu akan menjawab ketus hingga membuat orang yang mengajaknya berbicara tidak nyaman. Matanya sesekali tertuju pada jam di tangannya yang jarumnya terus saja berputar. Kemudian sesekali juga memantau anaknya yang melipat tangannya di d**a sembari menantikan bus datang, sudah terlihat jenuh dan terlihat semakin tidak tega Ayla melihatnya. Dan pada akhirnya Ayla berencana untuk mengantarkan Abenaya ke sekolah supaya Abenaya tidak jenuh, juga tidak terlambat ke sekolahnya. Dia melajukan mobilnya mendekati Abenaya yang sedang berkerumun dengan orang yang menunggu bus. Klakson mobil dibunyikan, jendela kaca diturunkan hingga menampakkan si pengendara mobil. Tanpa begitu pun sebenarnya Abenaya paham benar siapa yang datang karena dia hafal sekali dengan mobil Ibunya. Abenaya yang tadinya duduk pun segera berdiri. "Abenaya, masuklah. Biar Mommy mengantarkanmu, ini sudah siang," seru Ayla sembari melambaikan tangannya sebagai isyarat supaya Abenaya mau diantarkan olehnya. "Tapi, Mom...." Abenaya terlihat tidak mau, tapi setelah dia berpikir sejenak akhirnya dia mau melangkahkan kakinya membuka pintu mobil dan ikut bersama Ibunya. Mobil pun melaju perlahan meninggalkan halte yang masih dipenuhi dengan orang-orang yang sebenarnya kesabarannya sudah dipertaruhkan. Mungkin bus yang biasanya sedang terjadi kendala hingga tidak datang tepat waktu. "Mommy tidak apa mengantarkan Abe terlebih dahulu?" Abenaya merasa tidak enak jika membuat Ibunya harus mengantarkannya terlebih dahulu. Hal itu dikarenakan Ibunya nanti akan kewalahan sebab jarak kantor dan sekolah tidak searah. "Memangnya Mommy akan kenapa kalau mengantar Abe ke sekolah? Terlambat?" Anggukan kepala diberikan Abenaya. Dia yang awalnya duduk tegap kini menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil yang sedang dia duduki. "Tidak ada acuan waktu untuk Mommy, Abe. Sebenarnya mau masuk kapan saja itu terserah Mommy. Mommy berangkat pagi itu karena takut kejadian seperti ini terjadi dan kamu tidak bisa berangkat lebih awal, juga Mommy harus memberi contoh yang patut untuk para junior," jelas Ayla panjang lebar berharap untuk kali ini anaknya benar-benar paham hingga dia tidak akan mengulang untuk ke sekian kalinya. "Aa, itu busnya. Ternyata bannya bocor," celetuk Abenaya saat berpapasan dengan bus yang terhenti dengan sopir dan kernet yang sedang kebingungan di sekitar ban belakang bus. Ayla menoleh sekilas, ternyata memang ada hal buruk yang menyebabkan bus tak kunjung datang sesuai waktunya. "Untung saja ada Mommy, coba kalau tidak, maka kamu benar-benar akan terlambat," ucapnya kemudian. "Bukannya Mommy selalu mengikuti Abe dari jarak jauh?" Tepat di lampu merah, tepat pula pertanyaan itu selesai dilontarkan. Ayla jadi bingung harus menanggapi bagaimana. Dia pikir anaknya tidak tahu apa yang dia lakukan selama ini. Ah, dia lupa bahwa Abenaya ini memang luar biasa anaknya. "Abe tahu, Mom. Abe benar-benar tahu kalau Mommy diam-diam mengawasi Abe." Abenaya tersenyum mengatakannya sembari menatap Ibunya yang agak kebingungan karena tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. "Apa yang dilakukan Mommy wajar, Abe. Mommy hanya tidak mau kamu kenapa-kenapa karena bagaimanapun juga kamu masih terlalu kecil, masih butuh pengawasan orang tua sekalipun kamu terus saja meyakinkan Mommy supaya tidak perlu khawatir lagi." Suasana mendadak haru. Abenaya malah jadi kesulitan mau membalas bagaimana. Dia sendiri sebenarnya tidak marah pada Ibunya yang diam-diam mengawasinya. Dia justru ketakutan jika Ibunya terus saja merasa khawatir pada dirinya. Itu bukanlah sesuatu yang baik. Sebuah kepercayaan harusnya tertanam dalam diri Ibunya. Tapi tidak mengapa, Abenaya sendiri juga harus sadar bahwa dia memang masih kecil dan perlu pengawasan lebih dari orang dewasa. Dia harusnya juga terus bersyukur karena memiliki Ibu seperti Ayla. Pada akhirnya Abenaya sampai ke sekolahannya tepat sebelum pintu gerbang ditutup, tidak terlambat. Dia berpamitan kembali pada Ibunya sebelum masuk. Biasanya Ayla juga mengawasi Abenaya sampai anak itu benar-benar masuk sekolah, dan setelah itu dia baru menuju ke kantornya. Ayla kembali dengan tenang seperti biasa saat anaknya masuk sekolah sebagaimana mestinya. Namun, dia juga terus berdoa supaya Abenaya tidak membuat kekacauan. Anak itu selalu saja di luar dugaan, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. Dan seperti biasa pula, ketika pagi menjelang siang kemacetan kembali melanda. Kemacetan memang selalu menjadi alasan terbaik ketika terlambat. Padahal masing-masing individu bisa mengatasinya. Mereka sudah banyak yang tahu bahwa pagi hari memang identik dengan kemacetan, hanya saja mereka tidak mau mengantisipasinya dengan baik. Sudah tahu jika akan terjebak macet, tapi mereka tidak mau berangkat lebih awal. Coba saja jika diantisipasi dengan baik, maka tidak akan pernah lagi terdengar kemacetan dijadikan alasan ketika terlambat. Entah sudah berapa kali pula Ayla terlambat ke kantornya. Dan kali ini jauh lebih parah. Dia terjebak di tengah kerumunan mobil lainnya sudah hampir satu jam lamanya. Sebenarnya dia sudah mengantisipasi sejak awal. Hanya saja kemacetan kali ini tidak bisa dihindarkan lagi sebab ada kekacauan yang mungkin terjadi akibat perselisihan dua pengendara. Tidak tahu pastinya bagaimana, jelasnya hal tersebut harus segera diatasi. Meski hatinya kesal setengah mati, tapi tetap saja senyum mengembang di wajahnya. Apa pun kondisinya, senyum mampu menetralkan semuanya. Dan siapa sangka bahwa di dalam hatinya, Ayla sedang merutuki dirinya. Andai saja dia berangkat satu jam lebih awal lagi, maka dia tidak akan terjebak kemacetan dengan ratusan pengendara lain. Akan tetapi semua itu hanya pengandaian yang tidak akan pernah menjadi realita sebab realita yang sesungguhnya sudah terealisasi. Dia sudah cukup senang pagi ini karena mengantarkan Abenaya ke sekolah yang mana merupakan tugas orang tua pada umumnya. Sebelumnya memang sudah pernah, hanya saja ketika Abenaya beranjak, anak itu semakin mandiri dan ingin melakukan segala halnya sendiri. "Ah! Hey!" Perempuan itu memekik ketika mobil terdorong, untung saja tidak menabrak mobil di depannya dan untungnya dia memakai seatbelt sebagaimana mestinya hingga tidak terjungkal. Sudah dipastikan bahwa bagian belakang mobil Ayla lecet karena dorongan tadi cukup kuat. Ini sangat mengejutkan Ayla, sebelumnya tidak ada kejadian seperti ini. "Ini orang kenapa tidak sabaran, sih!" Ayla menggerutu kesal. Dia yakin sekali mobil yang berada di belakangnya tidak sabar hingga menabrak mobil miliknya. Padahal Ayla tadi juga sudah bersiap untuk melajukan kembali, tapi diurungkan sebab ada yang menabraknya dari belakang. Perempuan yang berusaha untuk sabar itu keluar guna memastikan mobilnya. Kalaupun parah, maka dia akan segera membawanya ke bengkel. Ketika Ayla turun, ketika itu pula pemilik mobil yang menabraknya ikut turun. Ayla tidak memedulikannya, dia masih tercengang dengan kondisi belakang mobilnya. "Maaf. Kami tadi buru-buru karena harus menghadiri rapat. Dan saya segera melajukan mobil ketika lampu sudah hijau, tapi tidak tahunya mobil Anda belum melaju," ujar lelaki yang mengendarai mobil tersebut. "Harusnya Anda berhati-hati supaya tidak merugikan orang lain," sahut Ayla tanpa menengok ke arah lelaki yang menabrak mobilnya tadi. Dia sendiri juga yakin bahwa si penabrak sedang menundukkan kepala dan merasa bersalah. Dan sebenarnya Ayla kesal dengan alasan yang dilontarkan, tapi dia berusaha untuk bersikap dengan baik supaya tidak semakin kacau. "Ah, mobil kesayanganku...." Ayla menghela napas karena melihat kondisi mobilnya yang memprihatinkan. Plat kendaraannya bahkan rusak dan hampir lepas. Hanya memengaruhi penampilan, namun tetap saja ini menyebalkan. "Saya akan bertanggungjawab. Berikan nomor rekening Anda atau mau uang cash saja untuk perbaikannya?" Lelaki berpakaian jas lengkap dan rapi itu kelabakan mengambil ponsel serta dompet dari sakunya. Dia terlihat panik dan harus sesegera mungkin mempertanggungjawabkan kesalahannya. "Sudahlah. Tidak perlu!" Ayla menghentikan lelaki yang hendak memberinya uang untuk perbaikan. Dia sebenarnya mau-mau saja mendapat uang ganti rugi, tapi untuk kali ini masanya sedang tidak tepat apalagi saat melihat uang di dompet lelaki itu sedikit yang mana tidak akan cukup. Mungkin tidak memiliki uang cash banyak karena semuanya tersimpan dalam bank. "Tidak, tidak, saya orang yang bertanggungjawab." Lelaki itu terus memaksa membuat Ayla yang sebenarnya tidak marah jadi marah. Ayla sendiri tidak suka dipaksa. Jika Ayla sudah berkata tidak, maka orang sekitarnya harus mematuhi bukan malah terus memaksa sampai berkata iya. "Mending kita segera bergegas daripada menimbulkan kemacetan lagi. Permisi!" Perempuan itu lalu masuk ke mobilnya lagi dan segera melaju. Jika tidak demikian, maka pengendara yang lain akan menghujamnya habis-habisan. Dua mobil yang tak kunjung melaju tadi saja sudah membuat pengendara lain kelabakan bak setan padahal tidak sampai lima menit. Mereka emosi karena ada yang menghalangi jalan yang mana kemacetan sudah hampir teratasi. Padahal harusnya mereka memaklumi dan ikut berduka atas kejadian kecil yang menimpa Ayla. Tapi ya sudah, pendapat orang akan suatu hal memang berbeda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD