Rencana bodoh yang tersirat senja kala itu benar-benar dilakukan. Tidak terpikirkan lebih matang lagi, semuanya terlaksana begitu saja karena si pelaku merasa apa yang telah direncanakan haruslah disegerakan. Pun dengan pikiran yang seperti ini muncul pula, "Lebih cepat lebih baik."
Padahal sesuatu yang dilakukan dengan cepat belum tentu itu hal yang terbaik. Bisa saja malah sebaliknya. Sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Tidak ada yang bisa dihalangi lagi atau bahkan dicegah seperti sebagaimana mestinya.
Kepandaiannya dalam memilih lelaki yang menurutnya memang sempurna benar-benar membuahkan hasil. Apa yang diinginkannya terkabul dan terealisasikan dengan baik. Entah kenapa semesta berpihak padanya, padahal harusnya semesta memberi teguran atas apa yang dilakukan karena memang apa yang dilakukan itu di luar dugaan. Mungkin untuk kali ini semesta memang berpihak, tidak tahu selanjutnya nanti bagaimana. Tidak tahu, tapi terus saja berharap semoga hanya hal baik yang datang.
Kini delapan tahun telah berlalu sejak menemukan ide konyol kala senja dulu. Ide yang muncul direalisasikan dengan semestinya dan tidak ada halangan suatu apa. Ayla pun mendapatkan apa yang diinginkannya meski keadaan tidak seperti sedia kala. Kehidupannya benar-benar berubah. Berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya? Lihat saja sendiri bagaimana cerita ini berlangsung.
Hamil dan memiliki seorang putra tanpa diketahui siapa Ayahnya menimbulkan sensasi di tengah masyarakat. Tentu saja masyarakat terus saja memperbincangkannya, dan hal ini tidak terpikir oleh Ayla sebelum melakukan hal bodohnya itu. Namun, perlahan dirinya mulai menganggap angin lalu apa yang dikatakan masyarakat tentang dirinya. Selagi dirinya tidak mengacaukan masyarakat, maka tidak masalah.
Apa yang terjadi memang salah, namun Ayla terus saja membenarkannya. Dia terlalu pandai pula menikmati segala hal yang didapat. Tidak ada rasa penyesalan atau sejenisnya. Ayla justru berterimakasih pada dirinya sendiri yang mampu memunculkan ide. Dia sangatlah senang atas apa yang kini menggeluti dirinya.
"Mom! Buku Albert Einsten yang baru Abe beli semalam di mana? Abe tidak bisa menemukannya!" teriak seorang anak berusia tujuh tahun dengan tangan yang tidak hentinya mencari barang yang dia inginkan.
Jikalau Ibunya tahu maka sudah dipastikan anak itu akan dinasehati panjang lebar karena membuat barang-barang di ruangan tersebut berantakan, padahal awal mulanya sangat rapi. Hal tersebut memang wajar, seorang Ibu pasti juga akan memahami meski awalnya agak kesal karena nantinya pekerjaan mereka menjadi berlipat-lipat.
"Mommy belum masuk kamarmu dan belum membereskannya, pasti masih ada di sana. Coba cari yang benar, Mommy sedang bersiap!"
Hal tersebut selalu terjadi ketika pagi. Namun sebenarnya tidak menjadi hal yang menjengkelkan bagi Ayla yang kini statusnya berubah menjadi ibu beranak satu tanpa suami dan tanpa adanya pernikahan sebelumnya. Ayla selalu berkata bahwa semua hal yang dia lalui sangat nikmat dan dia sendiri mampu menikmati. Tidak ada yang menyedihkan atau mengecewakan lagi. Semuanya membahagiakan. Tapi apakah benar demikian?
Anak yang sudah berpakaian seragam lengkap itu masuk ke kamar Ibunya yang sedari tadi terbuka lebar. Seperti biasa, anak bernama Abenaya itu memeluk Ibunya dari samping. Tingginya sebatas perut Ayla, lucu sekali jika sudah memeluk dari samping dan mengusap-usap kepalanya di permukaan perut Ayla.
"Sudah ketemu?" Ayla bertanya sembari tetap melanjutkan aktivitasnya yang sedang mengeringkan rambutnya. Dia benar-benar tidak keberatan atau kewalahan ketika anaknya memeluknya dari samping. Padahal apa yang dilakukan anaknya itu cukup menyulitkan dirinya beraktivitas.
"Belum, Mom."
"Aih, Mommy akan mencarinya setelah rambut Mommy kering. Tunggu sebentar, ya?"
Gerakannya dipercepat supaya lekas selesai. Dia harus segera membantu anaknya mencari barang yang ternyata belum ditemukan. Abenaya memang selalu kesulitan mencari barangnya padahal sebenarnya kamarnya selalu rapi hingga harusnya mudah mencari sesuatu. Tapi tetap saja sulit menemukan, dan ketika Ayla yang turun tangan, barangnya langsung ketemu.
"Sudah tidak menginginkan barangnya lagi, tidak perlu mencarikannya, Mom."
Mendengar perkataan anaknya, Ayla pun memperlambat gerakannya. Dia tidak perlu cepat-cepat karena Abenaya tidak membutuhkan bantuannya. Ayla paham Abenaya itu bagaimana, jika sudah tidak menemukan barang yang diinginkannya, maka dia benar-benar tidak menginginkannya lagi.
Kini Ayla sudah selesai mengeringkan rambut. Dia pun juga sudah menyisir serta merapikannya, langkah selanjutnya yang dia tempuh adalah memoles wajahnya dengan make up tipis. Sementara Abenaya melepas pelukannya, dia sudah puas memeluk Ibunya pagi itu. Sekarang Abenaya justru tertarik dengan iPad Ibunya yang sedang tersambung daya. Dayanya sudah terisi penuh, namun belum dicabut. Abenaya mencabutnya.
"Mom... Abe lupa mengisi daya iPad. Bisakah Abe memakai iPad Mommy hari ini?" tanya anak yang bernama Abenaya itu, yang kini sedang mengotak-atik iPad Ibunya. Abenaya memang tahu sandi iPadnya karena Ibunya memberitahu, makanya dia bisa membukanya.
Sedangkan Ayla masih acuh, dia sedang fokus memakai eyeliner yang memang memerlukan kefokusan tinggi supaya hasilnya tidak berantakan. Namun sebenarnya Ayla mendengarkan dengan baik apa yang anaknya katakan, pun sebaliknya dengan Abenaya yang juga paham mengapa Ibunya tak kunjung menyahuti perkataannya karena memang Abenaya tahu apa yang sedang dilakukan Ibunya.
"Abe harus mengurus trading dan memeriksa saham yang Abe tanamkan di perusahaan baru kemarin," tambah Abenaya sebagai argumen untuk memperkuat permintaannya. Dia harus memberitahu dengan jelas apa alasan yang kemudian mengharuskan Ibunya meminjamkan iPad yang telah terisi daya penuh.
Alasan yang baru saja didengar yang juga beriringan dengan selesainya dia memoles wajahnya dengan make up, Ayla menghela napas panjang. Suatu hal yang kerap didengar Ayla dari mulut Abenaya.
"Abe, sekolah saja yang benar dan perhatikan gurumu. Mommy tidak mau dipanggil ke sekolah lagi gara-gara kamu malah bermain trading di kelas."
Ayla lelah sekali menghadapi anaknya yang kian hari kian menjadi. Tidak tahu sudah berapa kali Ayla datang ke sekolah Abenaya untuk bertemu dengan guru pembimbing. Dia kerap datang dengan alasan yang sama yaitu Abenaya sibuk bermain trading, saham, atau sejenisnya ketika kelas berlangsung. Sekalipun Abenaya paham dengan apa yang diajarkan, harusnya memang anak itu tidak bersikap semaunya sendiri. Hal itulah yang membuat Ayla serta guru-guru di sekolah Abenaya gemas.
"Tapi Abe suka melakukannya. Lagi pula pelajaran di kelas sangat membosankan, Abe sudah paham semuanya kenapa harus mempelajarinya lagi?"
"Tapi hanya kamu yang paham, teman-teman yang lain kan belum? Setidaknya menghargai peraturan yang ada. Jika tidak boleh main iPad di kelas, maka kamu harus mematuhinya."
"Tapi mereka jauh lebih tua dari Abe, kenapa masih tidak paham juga? Abe tidak suka dengan orang bodoh. Abe tidak suka sekelas dengan mereka."
Abenaya kini duduk di bangku kelas tiga, naik satu tingkat di anak seusianya. Seharusnya memang naik lagi, tapi Ayla selalu menolak dan tidak mengizinkan anaknya melampaui batas. Dia hanya takut jika anaknya tidak mampu bersosialisasi dan menikmati dunia sekolah karena terlalu pandai. Bagaimanapun juga pengalaman jauh lebih penting dari segalanya.
"Abe... Jadilah anak baik! Jangan membuat Mommy darah tinggi."
Abenaya mengacungkan jempolnya menanggapi perkataan Ibunya. Dia kembali ke kamarnya untuk mengambil ransel. Lalu kembali lagi ke kamar Ibunya yang mana si pemiliknya sedang membereskan peralatan make up tadi.
"Tidak mau Mommy antar saja? Mommy tidak akan terlambat ke kantor," ucap Ayla yang entah kali ini yang ke berapa. Sudah berulang kali pula Ayla meyakinkan anaknya bahwa jika anaknya diantarkan terlebih dahulu, maka Ayla nantinya tidak akan terlambat. Dan yang ada Abenaya tetap tidak mau Ibunya kelelahan karena harus menempuh jarak yang cukup jauh.
"Tidak, Mom. Abe naik bus saja."
Anak itu kemudian pergi setelah memberi kecupan bertubi-tubi di pipi Ibunya. Dia melangkah setelah berhasil mengambil iPad dan stylush pen Ibunya yang sebenarnya belum diberitahu apakah boleh dibawa atau tidak, tapi yang jelas Abenaya mengasumsikan bahwa Ibunya tetap akan memperbolehkannya.
Rompi seragamnya dipakai di tengah jalan, dia takut jika ketinggalan bus lagi. Anak seusianya seharusnya memang masih di antar Ibunya ke sekolah, tapi Abenaya selalu menolak dan memilih untuk naik bus sendiri ke sekolah. Dia terlalu mandiri, sampai Ayla terkadang takut dia tidak benar-benar dibutuhkan lagi meskipun semuanya tahu bahwa masing-masing tetap memerlukan kehadiran seorang Ibu.
"Hati-hati di jalan, Abe! Selalu ingat pesan Mommy!"
"Iya, Mommy!"
Meski anaknya bisa dipercayai, hati seorang Ibu tetap penuh dengan kekhawatiran jika suatu hal buruk terjadi. Dan yang harus dilakukan hanyalah berdoa supaya hal buruk yang menjadi kekhawatiran besar tersebut tidak terjadi.
"Huffttt... Hanya Abe yang aku punya. Perlakukan dengan baik supaya hidupmu tidak terlalu kosong. Sabar, Ayla. Anakmu terlalu luar biasa, kamu harus bisa mengimbanginya," ujar Ayla sembari mengelus d**a.
Tingkah Abenaya memang selalu di luar dugaan, yang mana tidak jauh pula dari sifat Ayla sendiri. Sifat seorang Ibu pasti akan menurun ke anaknya. Begitulah yang ada. Meski terkadang membuat dirinya kelelahan karena bingung harus bersikap bagaimana, Ayla tetap bisa menikmatinya dengan baik.
Dia bahkan sangat bersyukur karena masih memiliki Abenaya dalam hidupnya. Syukur juga tidak henti-hentinya diungkapkan karena Tuhan mengirimkan Abenaya untuknya hingga akhirnya dia menjalani hidup dengan baik meski hanya bersama beberapa orang dekat saja. Sebenarnya orangtuanya masih lengkap, tapi mereka tidak pernah peduli dengan Ayla.
Itu yang menjadikan Ayla memilih untuk hidup mandiri semenjak pertikaian terjadi. Pertikaian yang juga menimbulkan trauma besar hingga ketakutan untuk berhubungan dengan seorang lelaki. Benar-benar memilukan sampai-sampai sakit yang ada belumlah sirna dan sepertinya tidak akan sirna melainkan terus saja membekas.
Tidak tahu pertikaian yang kemudian membuat hubungan runyam ini akan berakhir bagaimana. Jelasnya, Ayla merasa bahwa akan sangat sulit untuk kembali seperti semula karena memang apa yang terjadi sangat luar biasa hingga sulit untuk pulih. Tapi bukan berarti orang-orang yang terlibat dalam pertikaian tidak mengharap hal baik di akhir, mereka bahkan terus saja meminta pada semesta untuk segera memberi petunjuk bagaimana mengakhiri pertikaian yang menyesakkan.