bc

Yakuza Wife (Indonesia)

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
billionaire
dark
contract marriage
forced
dominant
mafia
heir/heiress
drama
bxg
city
secrets
like
intro-logo
Blurb

Reika adalah seorang gadis yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk bekerja demi melunasi utang keluarganya.Hingga suatu hari, takdir menyeretnya ke dalam dunia Yakuza dan mempertemukannya dengan pewaris salah satu klan paling ditakuti di Jepang.Terdesak oleh utang yang mustahil dilunasi, Reika hanya memiliki dua pilihan: menyerahkan dirinya kepada para rentenir, atau menandatangani sebuah kontrak untuk melahirkan penerus bagi Klan Yakuza Hayama.Pilihan mana yang akan diambil Reika? Dan sanggupkah ia bertahan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya?

chap-preview
Free preview
The Crimson Request
11 Januari 2015, 09:57 | Wilayah Katsushika, Area Pemakaman : Udara musim dingin menusuk hingga ke tulang. Aku berdiri membeku dalam balutan kimono hitam yang terasa terlalu berat untuk tubuh remaja berusia 19 tahun. Di depannya, gundukan tanah baru saja menjadi tempat peristirahatan bagi. Satu-satunya tempatku bersandar di dunia ini, Ayah. Dan kini, aku benar-benar sendirian. Upacara pemakaman berjalan sepi, hanya dihadiri beberapa rekan kerja mendiang Ayah. "Hubungi Paman jika kamu membutuhkan sesuatu nanti, Reika." Di antara mereka, Paman Goshabu melangkah mendekat. Ia menggenggam tanganku yang gemetar, menatapku dengan iba. "Mmhh... Terima kasih atas semua bantuannya, Paman Goshabu." Aku menunduk dengan mata sembab, menahan air mata yang sudah mengering di pipi. "Jika kau mau... Kau bisa tinggal bersama paman dan bibi, datang kapanpun kau mau." Paman Goshabu mengelus kepalaku seperti seorang Ayah, tersenyum tulus mencoba menyalurkan kekuatan yang tersisa. "Mhh, terima kasih..." Aku tidak sanggup mendongak, hanya bisa mengangguk kecil. "Ayahmu... Adalah rekan yang baik, dia akan baik-baik saja disana." Ucap salah seorang rekan kerja Ayah sembari menepuk pundakku pelan. "Kau mirip dengan Ayahmu, kau pasti gadis yang tangguh." Sambung yang lain, mencoba memberikan kekuatan. "Bibi turut berduka cita, tetaplah sabar menghadapi semuanya." Seorang wanita paruh baya memelukku sekilas sebelum berpamitan. "Sesekali... datanglah kerumah, kakak akan membuatkanmu Sup yang enak." Sapa salah satu anak dari rekan Ayah dengan senyum hangatnya. Satu per satu, teman-teman Ayah mulai berpamitan setelah mengucapkan kata-kata belasungkawa, doa, dan penyemangat yang terdengar samar di telingaku. "Ini tidak banyak... Paman harap, cukup untuk beberapa bulan kedepan." Sebelum melangkah pergi, Paman Goshabu menyelipkan sebuah amplop tebal berisi uang bantuan ke sela jemariku "Terima kasih..." Bisikku lirih pada punggungnya yang menjauh. Kini, pemakaman itu kosong. Hanya ada aku, angin musim dingin, dan nisan Ayah. Aku perlahan berlutut di atas tanah yang dingin. Tanganku menyentuh permukaan makam Ayah, mengelusnya perlahan seolah berharap bisa merasakan kehangatannya sekali lagi. Aku duduk di sana, diam dalam keheningan, hingga matahari perlahan tenggelam dan bayang-bayang malam mulai menelan Katsushika. *** 11 Januari 2015, 20:57 | Wilayah Katsushika, Apartemen : Aku duduk dan bersandar di bingkai jendela kamar dan memangku Zoro, masih memakai Kimono hitam. Menatap gerimis yang masih jatuh membasahi, permukaan tanah. "Zoro... Apakah kita bisa, menjalani ini semua sendirian?" Mengelus bulu kucing persia hitam betinaku dengan tatapan kosong menatap ke luar jendela yang gelap "Meoww..." Zoro mendongak, mengesekkan kepalanya ke telapak tanganku seolah mengerti kesedihanku. "Aku tidak akan menyerah, aku akan bekerja keras untuk melunasi hutang dan impian kita. Suatu hari nanti kita akan memiliki rumah dan Shelter, untuk teman-temanmu yang masih hidup di jalanan yah...?" Memeluk erat tubuh hangat Zoro dan mencium kepalanya lembut, mencoba mencari kekuatan yang tersisa di dalam hatiku. "Meeoww~" Zoro mendengkur pelan dalam pelukanku, berjanji untuk selalu menemaniku. *** 20 Januari 2015, 13:00 | Roppongi, Yuki Spa : Hanya sembilan hari sejak kepergian Ayah. Kenyataan pahit dan beban utang yang kian menumpuk membuatku harus mengambil keputusan berat, berhenti dari universitas. Kini, aku sepenuhnya fokus bekerja di usia 19 tahun demi bertahan hidup dan mencicil utang keluarga. "Ahh... Baik, terima kasih atas kedatangannya. Kami sangat senang melayani Anda..." Aku membungkukan punggungku 90 derajat dengan ramah dan penuh rasa hormat, ke arah pelanggan yang baru saja menyelesaikan perawatannya. "Pelayanan di sini selalu memuaskan, terima kasih ya, Reika-san." Seorang customer wanita muda tersenyum puas, sebelum melangkah keluar dari spa kecantikan. "Kami tunggu... kedatangan selanjutnya, sampai jumpa." Membukakan pintu kaca spa dengan sopan untuk pelanggan tersebut. Setelah pelanggan itu pergi, aku melangkah sedikit ke teras spa untuk menghirup udara segar. Namun, gerakannya terhenti seketika saat mataku tidak sengaja melirik ke seberang jalan. Jantungku berdegup kencang. Di seberang jalan yang ramai, berdiri seorang laki-laki bertubuh kekar mengenakan setelan jas hitam formal. Dia adalah salah satu Rentenir, yang meminjamkan uang kepada Ayahku dengan bunga tinggi. Rentenir itu berdiri diam di dekat tiang listrik, menatap lurus ke arahku dengan ekspresi dingin, mengawasiku tanpa henti seolah memastikan aku tidak melarikan diri. "Reika-san? Apa yang sedang kau lihat di luar sana?" Tanya Iruka, rekan kerjaku, yang tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang karena melihatku melamun. "Ah... Tidak, bukan apa-apa..." Seketika tersentak panik, langsung memutus pandangan dari seberang jalan dan buru-buru kembali ke meja resepsionis. Namun, ketegangan belum berakhir. Tiba-tiba, keheningan di dalam spa pecah oleh suara teriakan seorang customer yang marah-marah dan keluar dengan kasar dari salah satu ruangan treatment karena komplain. "Bagaimana sih kerja di sini?! Kulitku bisa rusak kalau caranya seperti ini! Sini kamu, jangan lari!" Customer berteriak murka sembari menarik paksa lengan terapis muda yang melayaninya hingga gadis itu meringis kesakitan. "Maaf, Nyonya... Maafkan saya... Saya benar-benar minta maaf jika ada yang salah..." Terus membungkuk berulang kali dengan tubuh gemetar ketakutan. "Ma... Maaf, tolong tenang dan jelaskan kepada kami. Apa yang membuat Anda tidak puas dengan pelayanan kami...?" Langsung berlari menghampiri mereka dan membungkuk dalam-dalam di hadapan customer tersebut untuk meredam amarahnya. "Alah, tidak usah banyak bicara! Intinya pijatan terapis bodoh ini membuat seluruh ototku sakit! Aku minta ganti rugi biaya pengobatan sekarang juga, atau tempat ini akan kulaporkan!" Tanpa perduli customer itu tetap berteriak histeris, sengaja mencari-cari alasan agar mendapatkan uang ganti rugi. "Tapi... tapi saya sudah memberikan scrub dan pijatan sesuai dengan pesanan Nyonya... Saya juga sudah menyesuaikan tekanan yang diminta dari awal hingga treatment selesai..." Menjelaskan dengan suara bergetar di balik punggungku. "Maaf Nyonya, atas ketidaknyamanannya. Terima kasih atas keterangan yang Anda berikan jika memang ada kekurangan dari pihak kami. Tapi, berdasarkan riwayat treatment yang diberikan, semuanya sudah sesuai dengan pesanan Anda. Teknik dan tekanan pijat yang digunakan pun sudah sesuai dengan lembar permintaan yang Anda setujui di awal." Aku tetap tenang dan membungkuk sopan, sembari menunjukkan kertas rincian pesanan bertanda tangan yang dipilih oleh customer tersebut. Melihat bukti tertulis yang kutunjukkan, customer itu seketika terdiam karena tidak bisa mengelak lagi. Wajahnya memerah karena malu dan kesal. "Cih! Spa sialan! Kurang ajar sekali kalian!" Customer memaki dengan kasar, lalu menolak untuk membayar sepeserpun dan langsung menghentakkan kakinya pergi keluar dari spa. Begitu customer itu pergi, sang terapis langsung merosot ke lantai dan menangis sesenggukan karena syok dituduh yang tidak-tidak. "Husstt... Hai, tidak apa-apa. Kau tidak salah, kau sudah melayani sesuai permintaan dengan sangat baik." Berlutut memeluk erat terapis yang menangis itu, mengelus punggungnya menenangkan, lalu membawanya ke ruangan belakang agar dia bisa ditenangkan. *** Pukul 20:00 | Wilayah Tokyo : Matahari telah lama terbenam, menandakan giliran kerja keduaku dimulai. Aku sudah mengendarai mobil tua peninggalan almarhum Ayahku, menyusuri jalanan kota untuk bekerja sebagai kurir dan mengirimkan banyak pesanan makanan dan barang ke rumah-rumah pembeli. Kali ini, aku harus mengantarkan pesanan ke sebuah gedung apartemen. Setibanya di sana, aku mendapati antrean lift sangat penuh dan bergerak lambat. Demi menghindari komplain dari pelanggan karena keterlambatan, aku memilih untuk berlari menyusuri anak tangga satu per satu hingga mencapai lantai 9. "Ah... Ah... Ah..." Membungkuk sembari berpegangan erat pada dinding koridor, mencoba mengatur nafas yang memburu dan menyeka keringat di dahiku setelah sampai di lantai 9. "Selamat malam... Saya kurir, ingin mengantarkan makanan?" Mengetuk pintu apartemen dengan sopan setelah berhasil menstabilkan suaraku. Pintu terbuka dengan kasar. Seorang pria paruh baya muncul dengan wajah memerah karena amarah. "Lama sekali! Kamu tahu makananku bisa dingin?! Telat dua menit itu sama saja tidak becus kerja! Ambil ini dan cepat pergi dari depan pintuku!" Berteriak murka lalu melemparkan beberapa lembar uang pembayaran tepat ke arah wajahku. "Ma... Maaf, saya harus melewati tangga..." Tetap membungkuk dalam-dalam, menahan rasa perih di wajah dan terus meminta maaf. "Jangan banyak alasan! Dasar kurir tidak berguna!" Membentakku dengan keras sebelum akhirnya membanting pintu apartemen di hadapanku dengan sangat keras. Perlahan berlutut di lantai koridor yang dingin untuk memungut lembaran uang yang berserakan, tanpa terasa air mataku jatuh menetes ke lantai. Di tengah isak tangisku, ponsel di saku jaket tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi pesanan baru masuk: pengantaran sebuah buket bunga berukuran besar ke lokasi yang cukup jauh di wilayah Gotemba. "Mhh... Ah... Aku harus kuat, satu lagi." Mengusap air mata di pipi dengan punggung tangan, lalu memaksakan diri untuk berdiri kembali dengan senyuman. Aku memutuskan untuk mengambil pesanan terakhir itu setelah melihat nominal tarif pengantaran yang tertera cukup tinggi, uang yang sangat berarti untuk cicilan bulan ini. Setelah mengambil buket bunga mawar merah yang indah dari toko bunga yang ditunjuk aplikasi, aku langsung menginjak pedal gas mobil tua milik Ayah. Menyetir membelah malam menuju alamat pengiriman di luar kota, Gotemba.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
808.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
376.6K
bc

Not just, the Beta

read
358.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook