Perjanjian di Atas Kertas
Suasana di ruang makan rumah keluarga Ayu Mentari terasa begitu pekat, berat, dan penuh ketegangan. Udara seolah berhenti bergerak, menyisakan kebisuan yang jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran hebat sekalipun. Di meja makan panjang yang biasanya menjadi tempat berkumpul ceria keluarga kecil itu, kini duduk tiga orang dengan wajah tertunduk lesu, ditambah satu orang tamu yang duduk dengan tenang namun membawa kabar yang akan mengubah seluruh hidup Ayu selamanya.
Ayu menundukkan wajah, menatap piring makan yang isinya belum tersentuh sama sekali. Di usianya yang baru menginjak dua puluh satu tahun, gadis itu memiliki segalanya: kecerdasan, ketulusan hati, dan mimpi besar yang sedang ia bangun perlahan. Sebagai mahasiswi kedokteran semester akhir, Ayu hanya memiliki satu tujuan hidup: lulus, menjadi dokter, dan menyembuhkan banyak orang. Ia yakin, dengan kerja keras, ia bisa mengangkat derajat keluarganya yang hidup pas-pasan namun penuh kebahagiaan. Namun malam itu, semua keyakinan itu seakan hancur lebur menjadi debu, tertiup angin kenyataan pahit yang baru saja didengarnya dari mulut ayahnya.
"Maafkan Ayah, Nak... Maafkan Ayah..." suara Pak Haris, ayah Ayu, terdengar parau dan pecah. Pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya berguncang menahan tangis yang tertahan bertahun-tahun. "Bisnis Ayah bangkrut. Semua tabungan habis, dan Ayah menanggung hutang yang jumlahnya sangat besar. Jika tidak dilunasi dalam waktu tiga hari, kita akan kehilangan rumah ini, nama baik keluarga akan hancur, dan kita semua akan jatuh miskin."
Ayu mengangkat wajah perlahan. Matanya yang indah dan jernih kini berkaca-kaca, menatap ayahnya yang tampak begitu tua dan lelah. Di sebelah ayahnya, ibunya duduk diam sambil menyeka air mata yang tak henti mengalir di pipi keriputnya.
"Berapa besar hutangnya, Yah?" tanya Ayu pelan, suaranya bergetar namun berusaha tetap tenang.
"Ratusan juta, Ayu. Jumlah yang tidak mungkin bisa kita bayar meski kita bekerja seumur hidup," jawab seorang pria paruh baya yang duduk di ujung meja. Itu Pak Hartono, rekan bisnis ayahnya yang entah bagaimana caranya menjadi satu-satunya jalan keluar bagi keluarga ini. "Tapi, ada kabar baik. Ada satu keluarga yang bersedia melunasi seluruh hutang itu, menghapus semua catatan hitam, dan menjamin kesejahteraan kalian seumur hidup. Keluarga Dirgantara."
Nama itu membuat jantung Ayu berdesir hebat. Keluarga Dirgantara. Nama yang sangat besar, sangat berkuasa, dan sangat dihormati di seluruh negeri. Keluarga pemilik kerajaan bisnis terbesar yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari properti, teknologi, hingga perbankan. Siapa yang tidak tahu nama Dirgantara? Nama itu ada di gedung-gedung pencakar langit, di berita-berita ekonomi, hingga di bisik-bisik orang-orang yang kagum akan kekayaan luar biasa mereka.
"Tapi... ada syaratnya, bukan?" tanya Ayu lagi. Naluri wanitanya mengatakan bahwa tidak ada kebaikan yang datang cuma-cuma dari orang sebesar keluarga Dirgantara, apalagi untuk keluarga kecil seperti mereka.
Pak Hartono mengangguk pelan, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat dari dalam tas kerjanya. Ia meletakkan amplop itu di atas meja, tepat di hadapan Ayu, seolah benda itulah yang memegang kendali atas nasib gadis itu mulai detik ini.
"Benar. Syaratnya sederhana, namun berat. Kau harus menikah dengan satu-satunya pewaris keluarga itu, Andra Dirgantara."
Darah Ayu serasa berhenti mengalir di pembuluh darahnya. Mulutnya ternganga tak percaya. "Andra Dirgantara? CEO muda itu? Tapi... aku bahkan tidak mengenalnya, Paman! Dia orang asing bagiku! Dia hidup di dunia yang jauh berbeda dari kami! Kenapa dia mau menikah denganku? Ada ribuan wanita cantik dan kaya yang rela mati-matian untuknya!"
"Andra Dirgantara adalah laki-laki jenius, tapi juga laki-laki yang keras dan tertutup," jawab Pak Hartono tenang, seolah sudah menduga reaksi Ayu. "Dia tidak butuh wanita cantik atau kaya. Kakeknya, Tuan Dirgantara tua, membuat syarat mutlak: Andra harus menikah sebelum usianya menginjak dua puluh delapan tahun jika ingin mewarisi seluruh kekayaan dan perusahaan. Dia butuh istri, bukan untuk dicintai, tapi untuk melengkapi syarat, untuk menjadi penerus keluarga, dan yang paling penting... dia butuh wanita yang sederhana, tulus, dan tidak serakah. Wanita yang tidak akan mencuri kekayaannya atau bermain di belakangnya. Dan menurut mereka... kau, Ayu Mentari, adalah wanita yang paling tepat untuk itu."
Ayu menggeleng kuat, mundur sedikit di kursinya seolah ingin menjauh dari kenyataan ini. "Tidak... aku tidak mau. Aku punya mimpi, Paman. Aku mau jadi dokter. Aku tidak mau dijodohkan dengan orang asing, apalagi laki-laki yang terkenal dingin dan tidak punya hati seperti Tuan Andra itu. Katanya dia kejam, katanya dia tidak pernah menatap wanita lebih dari lima detik, katanya dia menganggap semua orang hanya alat. Aku tidak mau!"
"Ayu, dengar Ayah..." Ayahnya kembali angkat bicara, suaranya memohon. "Ini satu-satunya jalan. Jika kau menolak, kita hancur. Kita akan diusir dari rumah ini, Ayah mungkin akan dipenjara karena utang, dan masa depan Ibu juga hancur. Kau satu-satunya harapan kita, Nak. Andra Dirgantara bukan penjahat. Dia hanya... berbeda. Kau akan hidup mewah, kau bisa tetap kuliah, semua biayanya ditanggung mereka. Kau hanya perlu mendampinginya untuk beberapa tahun saja. Nanti... nanti saat waktunya tiba, kau bebas pergi."
"Beberapa tahun?" potong Ayu cepat. "Berapa lama, Yah? Seumur hidup? Ayah tahu berita tentang dia. Dia tidak pernah membiarkan orang masuk ke dunianya lalu pergi begitu saja."
Ibunya menangis semakin keras, menggenggam tangan Ayu dengan erat. "Ibu mohon, Nak... Ibu berlutut di sini kalau perlu. Tolong selamatkan kami. Kami tidak punya siapa-siapa selain kau. Cinta bisa dicari belakangan, tapi keselamatan keluarga ini kalau hilang, tidak akan pernah kembali."
Hati Ayu yang lembut akhirnya retak juga. Ia melihat wajah kedua orang tuanya yang penuh rasa bersalah dan ketakutan. Ia sadar, penolakan dirinya sama saja dengan menghancurkan nyawa kedua orang yang dicintainya itu. Ayu Mentari dibesarkan dengan kasih sayang, dan sekarang, kasih sayang itulah yang menjadi rantai yang mengikatnya. Ia tidak bisa bersikap egois. Ia tidak bisa membiarkan orang tuanya menderita.
Dengan napas tertahan, Ayu meraih amplop cokelat itu. Tangannya gemetar hebat saat membukanya. Di dalamnya terdapat berkas-berkas dokumen resmi, dan selembar kertas yang berjudul tegas: PERJANJIAN PERNIKAHAN.
Jantungnya berdegup kencang, nyeri, dan takut. Matanya menelusuri tulisan-tulisan rapi yang tercetak di sana, poin demi poin yang mengatur hidupnya seperti barang dagangan.
1. Pernikahan ini bersifat kontrak, semata-mata untuk kepentingan kedua belah pihak, tanpa didasari rasa cinta atau ikatan batin apa pun.
2. Pihak Kedua (Ayu Mentari) berhak tinggal di kediaman pribadi Pihak Pertama (Andra Dirgantara), mendapatkan fasilitas hidup, dan izin melanjutkan pendidikan, namun wajib menjaga nama baik, bersikap sopan, serta tidak mencampuri urusan pribadi, bisnis, maupun kehidupan sosial Pihak Pertama.
3. Selama masa pernikahan, Pihak Kedua dilarang menuntut hak layaknya istri pada umumnya, termasuk perhatian, kasih sayang, waktu bersama, atau hak nafkah batin.
4. Jika terjadi perceraian atas permintaan Pihak Kedua, maka Pihak Kedua tidak berhak menuntut harta gono-gini, warisan, atau ganti rugi dalam bentuk apa pun, dan wajib mengembalikan seluruh dana yang telah dikeluarkan selama masa pernikahan.
5. SYARAT UTAMA: Pihak Kedua dilarang keras jatuh cinta atau memiliki perasaan pribadi apa pun terhadap Pihak Pertama. Pelanggaran poin ini akan berakibat pada pembatalan kontrak seketika dan pencabutan seluruh hak yang telah diberikan.
Ayu terpaku pada poin kelima. Kalimat itu tercetak tebal, seolah sengaja ditekankan. Dilarang jatuh cinta.
Laki-laki itu... Andra Dirgantara... begitu yakin, begitu dingin, seolah perasaannya adalah hal paling menjijikkan yang bisa terjadi di antara mereka. Dia menganggap Ayu hanya sebagai boneka, sebagai pajangan yang dibayarnya mahal. Dia bahkan sudah memastikan dari awal agar gadis itu tidak berharap sedikit pun.
Air mata Ayu jatuh membasahi kertas itu. Sakit. Rasanya sangat sakit, meski ia belum bertemu wajah laki-laki itu. Di mata orang lain, menjadi istri Andra Dirgantara adalah impian terindah, puncak kemewahan dan kebahagiaan. Namun di mata Ayu, ini adalah penjara terindah yang mematikan. Penjara di mana ia harus hidup berdampingan dengan orang asing, menutup hatinya rapat-rapat, dan berpura-pura bahagia.
"Kau hanya perlu menandatangani di sini," suara Pak Hartono terdengar samar di telinganya, seolah datang dari tempat yang sangat jauh. Ia menyodorkan sebuah pulpen hitam mahal ke hadapan Ayu. "Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi, tertutup, hanya saksi keluarga. Setelah tanda tangan ini tercetak, masalah keluargamu selesai."
Ayu menatap ayahnya. Pria tua itu menatapnya dengan pandangan penuh permohonan, penuh rasa bersalah yang mendalam. Ayu tahu, ayahnya tidak berniat jahat, dia hanya terpojok. Ayu menatap ibunya, wanita yang melahirkannya, yang kini terlihat sangat tua dan rapuh karena beban pikiran.
Ayu menarik napas panjang, mengisinya dengan sisa keberanian yang ia miliki. Ia ingat mimpinya menjadi dokter. Ia ingat sumpah dokter yang akan diucapkannya nanti untuk menyelamatkan nyawa. Dan saat ini, nyawa dan kehormatan kedua orang tuanya ada di tangannya.
Kalau begitu aku akan menyelamatkan mereka dengan cara ini, batin Ayu, tegar meski hatinya hancur. Aku akan menandatangani ini. Aku akan masuk ke duniamu, Tuan Andra Dirgantara. Aku akan menjadi istri kontrakmu. Aku akan menjalani semua aturanmu. Aku tidak akan mencampuri urusanmu, aku tidak akan menuntut apa pun, dan... aku berjanji, aku tidak akan jatuh cinta padamu. Tidak akan pernah.
Dengan tangan yang masih gemetar namun gerakannya pasti, Ayu Mentari meraih pulpen itu. Ujung pena menyentuh kertas putih bersih itu, meninggalkan jejak tinta hitam yang perlahan membentuk namanya. Ayu Mentari.
Tanda tangan itu menjadi garis pemisah antara kehidupan lamanya yang bebas dan sederhana, dengan kehidupan barunya yang penuh kemewahan namun terikat rantai perjanjian. Tanda tangan itu adalah awal dari segalanya.
"Bagus," ucap Pak Hartono sambil mengambil kembali berkas itu, melipatnya rapi seolah baru saja menyelesaikan transaksi dagang biasa. "Mulai detik ini, hutang lunas. Segala urusan beres. Bersiaplah, Nona Ayu. Hidupmu yang baru akan segera dimulai."
Setelah Pak Hartono pergi, meninggalkan rumah yang kini hening kembali namun dengan suasana yang sama sekali berbeda, Ayu berjalan pelan menuju kamarnya. Ia tidak menangis lagi. Air matanya rasanya sudah kering habis. Ia duduk di tepi tempat tidurnya yang sederhana, menatap jendela yang membiarkan cahaya rembulan masuk perlahan.
Di atas meja belajarnya, tumpukan buku-buku kedokteran masih tertata rapi. Buku anatomi, buku fisiologi, catatan-catatan tebal yang penuh coretan tinta biru dan merah. Ayu meraih salah satu buku itu, membelai sampulnya dengan pandangan kosong.
Apakah aku masih bisa menggenggam mimpiku di sana? tanyanya dalam hati. Apakah Tuan Dirgantara itu akan membiarkanku belajar, atau dia akan mengurungku di istananya sampai aku lupa siapa diriku sendiri?
Pikirannya melayang pada sosok laki-laki yang akan menjadi suaminya dalam tiga hari lagi. Andra Dirgantara. Laki-laki yang konon memiliki segalanya namun tidak bahagia. Laki-laki yang begitu berkuasa hingga bisa mengatur nasib orang lain hanya dengan satu jentikan jari. Laki-laki yang begitu dingin hingga melarang istrinya sendiri jatuh cinta.
"Kau pikir kau bisa mengatur segalanya dengan kertas dan aturanmu, Tuan Andra?" bisik Ayu lirih pada dirinya sendiri, senyum getir terukir di bibirnya. "Kau pikir rasa itu bisa dilarang? Kau pikir hatiku ini barang mati yang bisa dikunci dan dikendalikan sesuka hatimu? Lihat saja. Aku akan masuk ke duniamu, aku akan memainkan peranku sesuai naskah yang kau buat. Tapi... jangan kau lupa satu hal hati manusia bukanlah sesuatu yang bisa diatur oleh kontrak."
Namun, di sudut hati yang paling dalam, Ayu merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ada rasa penasaran yang bercampur ngeri. Siapa sebenarnya Andra Dirgantara? Benarkah dia sosok monster dingin seperti yang dikabarkan semua orang? Atau ada luka mendalam yang membuatnya menutup hati begitu rapat?
Matahari akan terbit lagi tiga hari ke depan, dan saat itu, gerbang dunia baru akan terbuka lebar untuk Ayu Mentari. Dunia yang penuh misteri, bahaya, dan rahasia besar yang bahkan belum ia bayangkan bentuknya.