BAB 16 SABOTASE

1750 Words
Sirene tanda bahaya meraung ke setiap penjuru Saturn Gallant. Satu ledakan yang menyasar ruang pribadi Dante, langsung mendapat respon dari Kapten Skivanov dan seluruh stafnya. “Kalian menemukannya?” tanyanya, cepat tiba di lokasi. Staf keamanan mengangguk setelah memberi hormat. “Ya, Pak. Space DJ Dante ditemukan tak jauh dari sumber ledakan. Rasanya mustahil.” lapornya. “Mustahil?” “Seharusnya dalam jarak itu ia sudah tewas.” “Luka berat? Tubuh terpotong? Kondisi macam apa yang kau maksud?” “Tewas, Pak. Hancur lebur, tak tersisa. EDOS mendeteksi sinyal terakhir tempat Space DJ Dante berada.” “Di mana?” “Di dalam ruangannya sendiri, itu artinya, saat terjadi ledakan sesuatu menariknya keluar, tapi tak terlihat pada laporan EDOS. Ada kemungkinan, Space DJ Dante memiliki program kecerdasan buatannya sendiri yang mampu memblokade deteksi. Dengan kata lain, kita tak memiliki bukti rekaman apapun tentang aktivitas di kamarnya. EDOS dibuat buta. Itu saja, Pak.” Pemimpin Saturn Gallant itu termenung sesaat, kemudian bergerak memeriksa keadaan Dante yang hampir dibawa pergi staf medis. “Status?” “Syok neurogenik, kemungkinan karena pengaruh suara keras dan efek api dalam skala besar, namun bukan itu penyebab utamanya jika dia selamat.” terang staf itu yang juga tampak kebingungan, kemudian melanjutkan lagi penjelasannya setelah melihat ekspresi wajah sang kapten yang mulai tak sabar, seraya membuka kain yang menutupi tubuh Dante yang diposisikan tengkurap hingga terlihat bagian tonjolan di sepanjang ruas tulang punggungnya. “Saraf tulang belakangnya sudah tidak normal, itu penyebabnya. Ini bukan prosedur aman untuk merawat pasien tapi kami tidak ingin menyakitinya.” “Ya, Tuhan,” gumam Kapten Skivanov, menyaksikan keadaan Dante yang semakin parah. “Berita baiknya, syok ini mungkin hanya sementara.”             “Apa?” “Tidak ada gegar otak yang terdeteksi, baik berat maupun ringan. Dengan kata lain, Space DJ Dante hanya pingsan, Kapten. Namun kita tetap harus menunggunya bangun dengan sendirinya.” Tak mendapat tanggapan lagi dari atasannya, staf medis itu bergabung dengan timnya membawa Dante ke rumah sakit, lebih tepatnya klinik dalam skala luas. Sementara itu, Kapten Skivanov memutar otak, mengaitkan kejadian aneh yang menimpa Dante dengan saat terakhir ketika seorang wanita Eyn menyelamatkan dirinya. Pelan mulai terjawab bagian puzzle yang hilang. Banyaknya fasilitas Saturn Gallant yang telah kosong dan suara sirene menyebabkan kabar tentang Dante cepat menyebar. Tak terkecuali Soundbuzzter Club. Cain dan Shawn tampak menyesal menyaksikan berita tentang rekan mereka melalui layar virtual. Ray menyalahkan mereka. Rapat terbatas menyidang mereka berdua. Ray menutup semua tirai kantornya. “Lihat, dan perhatikan!” perintahnya, menunjukkan sebuah rekaman video tentang profil seseorang di medan perang, tepatnya seorang pilot pesawat tempur. “Siapa dia, Ray? Itu kau?” tanya Cain tak percaya. “Lebih tepatnya Letnan Raymond Bliss, penerbang. Dulu, sudah lama sekali, tapi kemampuan hebat itu terus ada dalam otakku.” ungkap Ray menunjuk kepalanya. “Apa yang membuatku banting setir, tidak penting. Yang jelas, aku tak mau peristiwa yang sama terjadi pada kalian. Mengira pendapat kalian benar, ternyata menjadi sesuatu yang akan kalian sesali seumur hidup.” Ray setengah merenung. Shawn paham maksudnya. “Sikap kami pada Dante? Kami hanya kesal, dia tak mau berbagi masalahnya.” “Oh, begitu? Andai dia mau berbagi sejak awal, apakah kalian bisa memberi solusi? Bantuan apapun yang dia minta?” Menunggu beberapa detik setelah Shawn hanya diam. “Kurasa tidak. Tidak seorang pun yang mau dan sanggup membantunya. Tidak adil rasanya menyalahkannya atas kekacauan yang terjadi.” “Baik, aku salah dan adakah yang bisa kita lakukan? Dante terbaring di klinik sementara serangan Roughart bisa terjadi kapan saja.” Pendapat Shawn memang dipikirkan Ray yang mengangguk membenarkannya. “Dante dijaga ketat. Tidak mungkin menemuinya, mustahil mendapatkan izin jenguk meskipun kita keluarganya sekalipun, kecuali … bila situasinya tak terkendali.” “Perang?” “Ya, Cain. Dante dalam keadaan bahaya jika belum sadar. Kita harus memastikan dia tak terluka sedikitpun.” “Kalau begitu, kau tahu apa yang harus kau lakukan, Ray. Soundbuzzter Club akan mengadakan ‘pestanya’ untuk terakhir kali.” usul Cain dengan muka serius. “Tentu, sebuah penghormatan untuk seorang Space DJ yang memberinya gelar juara.” tegas Ray setuju. Di klinik yang seluas itu, hanya dihuni oleh Carlo Dante yang menempati kamar khusus. Tepatnya, kamar VIP untuk para pesakitan yang terluka sebelum dipindah ke penjara. Setelah berjam-jam, keadaannya berangsur pulih, dan sesuai dugaan dokter, Kapten Skivanov hanya perlu menunggunya hingga terjaga. Jari-jari itu bergerak, satu matanya mulai terbuka, meskipun masih menyipit karena sakit. Menyadari tubuhnya yang terpasung di atas bed klinik berpengikat logam, sedangkan Kapten Skivanov duduk sendirian tak jauh darinya, Dante pun tersenyum. “Ledakan yang luar biasa, Anda tinggal memanggilku atau menyuruh staf militer untuk menangkapku, tidak usah membahayakan kapal Anda sendiri, Kapten. Biar kutebak, itu bom mikro dengan rotasi waktu yang hanya bisa dikirim oleh program AI seperti EDOS sesuai perintah majikannya. Untuk memadamkannya, butuh dua unit robot besar pengendali api.” “Empat, dan bukan aku yang melakukannya.” Kapten Skivanov bangkit, menuju ke samping tempat tidur di mana Dante sulit bergerak. “Menuduhku menggunakan bom untuk membunuhmu adalah sebuah hinaan, Space DJ. Kau tahu aku lebih suka bertarung satu lawan satu, bahkan senjata pun aku letakkan di lantai demi menghormati dirimu. Sebaliknya, satu-satunya orang yang kucurigai justru dirimu.” “Wah, itu juga tuduhan serius. Lebih tepatnya … gila. Atas dasar apa?” “Kepemilikan program AI tanpa izin. Di Saturn Gallant, ada satu peraturan dasar yang harus ditaati semua warganya, yaitu tidak boleh menggunakan program lain selain EDOS. Melanggar peraturan itu adalah kejahatan tingkat tinggi. Aku bisa menuntutmu telah melakukan spionase, membangun pertahanan pribadi untuk menggerogoti EDOS dari dalam.”             “Lalu aku meledakkan kamarku sendiri menggunakan program AI yang kumiliki? Ayolah, Kapten, Anda terlalu cerdas untuk ini.” Kapten Skivanov menelusuri jejak kejujuran di sinar mata Dante yang redup. Ia tahu, sudah saatnya ia harus percaya, atau Saturn dan sisa stafnya akan musnah seketika menghadapi musuh yang tak kasat mata. “Roughart yang menyisipkan program AI yang lebih tinggi levelnya dari EDOS.” “Tepat sekali!” Nyaris kegirangan, Dante menahan nyeri, bekas pertarungannya dengan Al Hadiid masih sering berdenyut. “Bagaimana AI itu diselundupkan, sudah tidak penting lagi. Kau harus melepasku, Capt., aku bisa membantumu.” Nyatanya laki-laki berdarah Rusia itu tak langsung meluluskan permintaannya. Tetap tegar dengan pendirian keras bahwa Dante juga ikut bertanggungjawab, meskipun ia tahu, tanpa Dante, kekuatan Saturn akan sangat terbatas. “Saat ini aku belum bisa percaya pada seseorang dengan inti Zord di dalamnya. Suatu parasit juga tumbuh di punggungmu dan aku tidak tahu, apakah itu hasil persahabatanmu dengan wanita Eyn itu. Dual Exchanger yang kau berikan padaku tak lain hanyalah pengalihan agar aku berbelas kasihan padamu. Andai, aku bisa percaya padamu semudah itu, Dante.” “Apa?!” Dante tak mampu menahan sang kapten yang pergi berlalu. Ditelannya semua pembelaan sebab ia benar-benar tak berdaya. Pria itu takkan percaya tiap jengkal peristiwa yang dialami, terutama tentang roh pedang Zeal. Dari balik pintu kaca, tampak Kapten Skivanov berpesan pada staf keamanan yang berjaga di luar agar ketat mengawasinya. “Bagus!” ucap Dante, kini hanya dapat berdoa sebuah keajaiban kecil akan terjadi padanya. Ia teringat pada Zeal. “Kau bisa melepasku. Aku harus melakukan sesuatu!” teriaknya memanggil, namun tak terjadi apapun. Kedua tangan dan kakinya masih tetap terikat. Selanjutnya, sunyi. Lampu sengaja dipadamkan dan Dante mulai menghitung detik-detik kehancuran Saturn. Sirene belum berbunyi lagi. Masih ada satu harapan … Shiva. Tapi bagaimana cara mengaktifkannya tanpa terekam oleh sistem EDOS? Kapten Skivanov pasti sedang mengawasinya dari jauh saat ini. Demi mengamankan program kecerdasan buatannya itu dari jebakan, Dante memilih menunggu. Dua puluh menit berlalu, suara seseorang mengembalikan kewaspadaannya. “Salah besar kau serahkan Dual pada Kapten Skivanov karena tidak lama lagi, dia akan meledakkan kapalnya sendiri.” Suara yang belum dikenal, sedangkan dalam ruangan yang gelap gulita itu, mustahil mengenali kawan atau lawan. “Siapa kau? Tunjukkan dirimu!” Dalam sekejap, sesuatu menampakkan diri, program AI yang lain. “Kau rupanya. Roughart yang mengirimmu?” Dante langsung tahu bahwa program AI dengan sosok hologram gadis droid itu menutup pengawasan sistem EDOS, terbukti tak seorangpun staf keamanan yang datang memeriksa keadaannya. “Dia mengirim salam untukmu.” Bersiap memanipulasi arus listrik, sehingga tubuh Dante yang terkunci itu pasti langsung terpanggang. “Aktifkan Shiva! Bekukan listrik!” Memanfaatkan kebutaan sistem EDOS, Dante memanggil Shiva yang terhubung dengan microchip di dalam kepalanya. Sebelum malapetaka itu terjadi, Shiva yang bergerak cepat masuk ke dalam jaringan listrik, mampu melawan kerusakan arus yang nyaris mencabut nyawa Dante, sekaligus melepas belenggu otomatis yang terbuat dari logam di tangan dan kaki Dante. Bangkit, berhadapan dengan program AI suruhan Roughart tersebut, menyadari sosoknya. “Kau Eva, sistem jaringan induk di Lethal-X Academy, saat Roughart masih menikmati waktunya sebagai manusia jadi-jadian, belasan tahun lalu.” “Jangan lupa, Shiva yang kau buat juga berdasarkan pengetahuan yang sama. Roughart hanya membuatku supaya lebih praktis dan cerdas.” “Dan mau disuruh-suruh. Suatu saat dia akan menyuruhmu melakukan penghancuran diri. Berbeda dengan Shiva, dia temanku.” “Kalau begitu, kita buktikan siapa yang terbaik. Jika aku yang muncul, itu berarti kau sudah kehilangan seorang teman, Carlo Dante.” Eva lenyap, masuk ke dalam jaringan komputer EDOS tanpa menimbulkan peringatan tanda bahaya. Tak seorang pun menyadari bahwa EDOS telah disusupi dan sedang terjadi ‘perang’ antara dua program AI. Shiva versus Eva. Dalam rumitnya susunan matriks, keduanya saling serang menggunakan senjata program mematikan termasuk virus apapun yang mereka punya. Dante memanfaatkan kesempatan itu untuk meninggalkan klinik. Masalahnya, ia harus melewati penjaga. Tiba-tiba dilihatnya sebuah titik laser mengarah di dekatnya. Cain dan Shawn memberinya isyarat supaya mengelabui penjaga. “Maaf, Kawan, tapi aku sangat ingin menghajar beberapa orang!” tolaknya, menggunakan dirinya sebagai umpan sekaligus melampiaskan kemarahan. “Damn it! Dante lebih dahulu memulai pestanya.” Cain membantu menghadapi para staf keamanan lain yang mulai berdatangan. “Seharusnya kita tidak perlu repot jika kau tak buru-buru,” Shawn menyalahkan Dante sambil terus sibuk menembakkan laser pelumpuh saraf. “Seluruh badanku sudah pegal, anggap saja ini olahraga!” seru Dante bersemangat. Kapten Skivanov menyaksikan pemandangan itu dari anjungan. Ruang kendali Saturn Gallant itu telah siap dengan kemungkinan perang. “Ehm, Kapten?” Salah seorang staf menanyakan perintahnya. “Biarkan. Aku ingin tahu mengapa Dante bisa lolos dan ke mana dua staf klub itu akan membawanya. Kerahkan pasukan khusus begitu tahu lokasinya, lalu tangkap mereka semua.” “Baik, Pak!” Kapten Skivanov terlalu sibuk dengan keamanan internalnya sendiri sehingga tak memperhatikan sebuah kapal perang musuh mulai mendekati perimeter tanpa terdeteksi. Sebuah kesalahan fatal yang terlambat ia sadari.   ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD