BAB 15 GORESAN LUKA LAMA

1862 Words
Hari kelima. Belum ada tanda-tanda. Evakuasi warga telah selesai seluruhnya kecuali bagi mereka yang harus tinggal dan yang memutuskan tinggal, apapun risikonya. Bila dalam beberapa minggu ke depan serangan Roughart tak terbukti, semua akan menuding Dante sebagai penebar rumor yang tak pasti meskipun Central juga mengkhawatirkan hal yang sama. Dante menatap wajahnya di depan cermin. Selesai membersihkan diri, ia hanya sempat memakai celana panjang dan membiarkan tubuh atasnya terbuka. Kamar mandi selalu menjadi tempat ideal baginya untuk menyalahkan diri. Kariernya nyaris tamat, Saturn berada di ujung tanduk, Kapten Skivanov menganggapnya lalat busuk, dan teman-temannya di klub tak lagi menyukainya. Suka. Apakah kata itu masih penting untuknya? Kecuali … tentang perasaannya pada Eyn Mayra. Apa kabar gadis itu sekarang? Seorang putri pemuja mimpi bahwa Dante adalah harapan terakhir untuk mengalahkan Roughart? Zeal! Ia teringat. Tubuhnya sudah tak sama lagi. Untuk kedua kali ia membalikkan badan agar bisa melihat bagian punggung. Tonjolan tulang itu memang tidak tampak dari luar, tetap saja terkesan menjijikkan. Gurat sebilah pedang pendek bersemayam di sana, entah bagaimana, menyatu dengan ruas-ruas tulang punggungnya. Mengerikan! Entah kekuatan Eyn mana lagi yang lebih aneh dari ini. Sejak pertama kali pedang itu ‘ditanam’ dalam tubuhnya, Dante baru berani menyentuhnya sekarang. Nyeri, menganggap tubuhnya telah cacat, menyebabkan pikirannya dalam tekanan yang cukup dalam. Ia belum menerima kehadiran Zeal dalam dirinya, kemudian menyalahkan Eyn Mayra. Untuk apa menyatukannya dengan Zeal bila akhirnya gadis itu menjadi milik orang lain? Dante sadar bahwa ia berada dalam persimpangan tanpa tahu jalan mana yang mesti ditempuhnya. Teriakannya tertahan. Dikuasai stres, ia membenturkan kepala ke cermin di depannya, namun tak ada yang terjadi. Sasarannya kosong! Sesuatu mencegahnya mencelakai diri, dan itulah Zeal, makhluk tinggi besar itu menampakkan diri di belakangnya, tanpa bicara. Dante berbalik, cermin dan kamar mandi itu lenyap! Sebagai gantinya, ia berada di sebuah dunia, bagian dari masa lalu yang pernah dikenalnya. Lethal-X Academy, Roma Italia, enam belas tahun silam. Hari itu awan hitam menggumpal siap memuntahkan bebannya. Di bawahnya, sebuah bangunan besar mirip kastil diam  terpaku dengan segala kebisuannya. Dante melangkah, satu tangannya bertumpu pada sebuah pilar besar. Sekumpulan orang cukup jauh darinya sedang mengadakan upacara di tanah lapang yang terletak di tengah kastil. Mereka berdiri melingkari sepasang suami istri yang disidang untuk dijatuhi hukuman mati. Mereka hanya anak-anak usia remaja yang berpakaian formal serba hitam, sehitam nurani yang tak lagi tersentuh rasa manusiawi. Pandangan mereka kosong, tak kenal takut. Korban cuci otak kekejaman Roughart, alien keji yang menyamar sebagai manusia. Saat Roughart muncul dan berpidato mengumumkan hukuman pancung keduanya, Dante berniat turun dan mencegahnya. “Aku bisa mengakhiri ini semua!” Namun tubuhnya terhalang. Sebuah dinding tak kasat mata menghalangi langkahnya. “Tak usah repot, peristiwa ini sudah terjadi. Lihat dan cermati baik-baik, Dante. Siapa dirimu pada masa lalu.” Suara berat Zeal seperti menguncinya, hanya matanya yang masih berfungsi untuk menyaksikan kembali kekejaman itu setiap detiknya. Alex, sang ayah angkat, sempat tersenyum pada istrinya yang menitikkan air mata. “Alex, Ruby, non puoi morire!” tangis Dante pecah tanpa sadar, air mata meleleh dari matanya yang pedih memerah, ketika kepala orang tua angkatnya itu telah terpisah dari badan. Saat itu juga ia melihat sosoknya yang masih berusia tujuh tahun, menangis tersedu-sedu dari tempatnya bersembunyi. Dante ingin meraihnya, tapi tak bisa. Langit seolah mendengar duka nestapa itu, lantas mencurahkan segala isinya. Hujan lebat membersihkan darah jasad Alex dan Ruby. “Itulah dirimu, Dante. Tersiksa oleh kisah masa lalu. Separuh batinmu masih tertutup, tak mampu bangkit dari rasa sakit.” Matanya tertutup, waktu membawanya ke bagian lain dari masa lalunya, tepatnya ketika Alex dan Ruby masih hidup. Pemandangan itu seolah nyata. Dante hanya mengamati mereka dari jauh. “Ingat, Dante. Saat mereka lakukan itu padamu, tutup matamu dan ingatlah rasa permen ini, atau … masih ingat kue stroberi dan es krim yang kubelikan untukmu minggu lalu?” Ruby, pelatih senior di Lethal-X Academy itu berkali-kali mengulang pertanyaan yang sama. Dante kecil mengangguk sambil mencicipi permen bulat pemberian ibu angkatnya. “Pilihlah rasa makanan yang kau suka. Dengan demikian kau takkan merasa sakit, mengerti?” “Oke, Ruby.” “Baiklah, sekarang kita cari ayahmu. Jika terlambat pulang, Roughart akan curiga.” Ruby tahu, Dante, si anak kecil tampan hasil penculikan anak buah Roughart, belum tahu apa-apa. Sejak pertama melihat bocah laki-laki itu dibariskan bersama sembilan belas lainnya, Ruby langsung menaruh hati padanya. Keinginan melindungi Dante tentu ditentang oleh suaminya, Alex. Waktu pun mundur ke beberapa pekan sebelumnya. “Dia akan membunuh kita. Anak ini bahkan takkan punya kesempatan hidup. Kau sadar apa yang kau lakukan?” Ruby menatap anak laki-laki yang baru dipisahkannya dari rombongan bocah seusianya. Membawanya ke tempat rahasia di mana ia dan Alex biasa bersembunyi, menahan tekanan dan segala kesedihan. Suami istri itu adalah anggota militer yang dipaksa bekerja di bawah ancaman untuk akademi gelap buatan Roughart. Sayangnya, mereka tak tahu siapa Roughart sebenarnya. Sambung Alex, “Lihatlah dia! Bocah paling kecil dan dekil, entah anak siapa dia. Cuma ‘kucing’ liar yang diambil dari jalanan. Dia tidak akan bertahan! Anak-anak lain yang mereka ambil, rata-rata punya reputasi lebih bagus, punya orang tua yang akan menangisi mereka, tapi … dia?” tunjuk Alex emosi, sementara anak itu terus memegang roti, menatap pasangan itu dengan wajah kotornya. Ruby mendesah sedih, menyesali sikap suaminya yang tak mendukung rencananya, kemudian berdiri, menatap mantap tepat ke mata biru Alex. “Maka kucing jalanan itu yang akan mengubah dunia, menghentikan rencana Roughart melakukan kudeta! Tidakkah kau bayangkan bencana apa yang akan terjadi? Setelah Roma, negara ini, maka seluruh bumi akan kehilangan satu generasi mereka yang berharga. Bila itu sampai terjadi, tak seorangpun yang sanggup memperbaiki situasi. Tak seorangpun!” Alex merenung, berusaha menyembunyikan gemetar tubuhnya. Ditatapnya bocah laki-laki itu berulang kali. “Kau yakin, dia sanggup? Karena kita akan melatihnya sangat, sangat berat.” tekadnya serius. “Harus. Di tempat ini, hanya pilihan itu yang dia punya.” “Ehm, bukankah dia belum punya nama?” Ruby tak perlu berpikir lama. “Dante. Carlo Dante, itu namanya.” Alex mengangguk. “Baiklah, nama yang bagus. Bersihkan dia, jangan biarkan anak buah Roughart menyentuhnya. Akan kupikirkan tempat yang aman untuk melatihnya besok.” “Tentu.” Dante muda tetap harus bergabung dengan anak-anak lain yang berhasil diculik para pengikut Roughart untuk menghilangkan kecurigaan. Bedanya, saat teman-temannya mulai didoktrin untuk melupakan keluarga mereka, Dante hanya diam dan memandang Ruby yang menjaganya di ruangan itu. Ia telah menganggapnya ibu. “Ingat, jangan sekali-kali menatapku di tengah para penjaga! Mereka akan curiga! Jangan lakukan itu lagi, paham? Jika kau ingin selamat!” gertak Ruby sesampainya di sarang mereka yang aman. Tentu bukan masalah. Dante bahkan tak ingat pernah memiliki seorang ibu sebelumnya. Keadaan ini memaksa keingintahuan Ruby untuk melacak jati diri anak asuhnya itu. Saat punya peluang, ia memutuskan pergi ke tengah kota, mencari keterangan beberapa orang hanya dengan membawa selembar foto. “Kau tahu anak ini?” tanyanya, walau sangat berisiko. Selama beberapa bulan ia memegang foto Dante yang sama dan hampir melupakan usahanya, saat seorang gelandangan yang ditanyainya berusaha mengingat. “Sudut jalan itu,” tunjuknya. Beberapa wanita sering membuka pintu belakang dan mengeluarkannya. Anak ini seperti sengaja disembunyikan.” Dan Ruby kehilangan selera melanjutkan pencariannya lagi. Tiba-tiba, ia takut kehilangan Dante. Menemui siapapun yang mengenal Dante tentu akan berujung maut. Ia pun mengurungkan niat. “Dante bukan anak sembarangan.” kata Ruby, melapor pada suaminya. Dahi Alex berkerut. “Kau ke kota lagi?” “Aku penasaran, mengapa anak itu begitu pendiam, seolah dia memang terlahir untuk ini.” “Apa maksudmu?” “Dia dirawat oleh beberapa wanita penghibur di kota. Mereka, para wanita itu, tidak mungkin repot menyembunyikan Dante jika dia cuma anak haram seseorang.” “Lalu?” “Dulu, saat Dante diculik dan dibawa anak buah Roughart kemari, berita yang sama muncul. Sebuah isu di kalangan tertentu bahwa putra seorang agen rahasia telah hilang, sebagai aksi balasan dari pihak musuh. Kau ingat?” “Ya, ya, berita yang tak pernah muncul di surat kabar.” “Si. Aku menduga, Dante adalah …. ” Keduanya saling pandang, dan berakhirlah kilas masa lalu itu. Setiap peristiwa mengingatkan identitas Dante meskipun tak semuanya terungkap. Zeal kembali membawanya ke masa depan, di mana Dante memandang lurus di depan cermin kamar mandi tetapi dengan raut muka yang berbeda, gemetar, dan keringat bercucuran, membayangkan kekejian Roughart yang menimpa dua orang yang dikasihinya. Kemarahan dan dendam jelas tampak di sana. Di belakangnya, Zeal masih menampakkan diri, berdiri, menunggu reaksinya. “Sakit … jantungku seperti mau meledak. Buat apa kau lakukan ini padaku? Dendam itu sudah lama kukubur dalam-dalam. Roughart, hanya Kapten Skivanov yang bisa menghadapinya.” Dante menunduk, menghindari pantulan wajahnya sendiri. “Dan?” “HARUSKAH KUKATAKAN SEMUA PADAMU?! APA URUSANMU MENCAMPURI HIDUPKU?! Zeal meraih leher Dante, mengangkatnya begitu mudah sehingga pemuda itu tercekik tangan besar makhluk berzirah tersebut. “Agar kau sadar, tugasmu bukan hanya Roughart. Roughart belum seberapa, namun semuanya tak mampu kau atasi jika belum menuntaskan alien itu lebih dulu. Kalau sudah paham maksudku, gerakkan tanganmu.” jelas Zeal enteng meskipun wajah Dante kian pucat. Dante buru-buru mengangkat tangan dengan sisa kesadaran dan tenaganya. “Bagus!” Tangan Zeal melepaskan Dante sehingga jatuh terpuruk ke lantai. Memberi waktu Dante untuk menenangkan diri. “Roughart berhasil memasukkan inti Zord ke dalam tubuhmu ketika Alex dan Ruby tak berdaya mencegahnya. Beruntung, tubuhmu kuat sebab anak-anak yang lain langsung tewas mengenaskan setelah dipaksa menerima kekuatan jahat itu. Karena itu, Roughart tak pernah melupakanmu. Tanpa peranku membentengi dirimu, dia akan mengulang perbuatannya. Tanpa kesadaranmu, Saturn akan hancur. Urusanku bukan sekadar membuatmu menjadi kesatria Eyn, melainkan juga membantumu menghadapi tugas lain yang lebih berat.” Dante memegangi lehernya yang sakit. “Tugas lain?” Zeal menatap tajam. “Melindungi Eyn Mayra,” jawabnya, singkat dan tegas. “Tidakkah kau lihat di matanya, bekas air matanya? Apa yang kau pikirkan saat bersamanya?” “Cemburu. Sebentar lagi dia akan bersuami. Peranku hanya sebagai b***k atau pelawak di depan kalian semua, jadi untuk apa? Untuk apa kau membawaku ke masa lalu untuk mengingatkan jati diriku? Tugasku? Semua yang kumiliki di sini juga telah berakhir. Mungkin lebih baik aku menunggu Roughart meledakkan kapal ini.” “Dante, cinta sejati takkan mengenal perbedaan status.” “Tentu, kau bisa menceramahiku begitu karena bukan kau yang jatuh cinta pada Eyn Mayra.” “Lalu, apa bedanya jika kau gagal melindunginya? Nyawanya bukan urusanmu juga? Hanya karena dia sudah bersuami? Katakan, Dante, apakah Eyn Mayra hanya berarti bila dia belum menikah? Untuk apa dia memberimu satu-satunya kekuatan besar yang dia miliki? Mungkin dia memang salah, kesatria Eyn yang ia tunjuk ternyata tak punya otak dan hati. Terutama otak, entah di mana kau letakkan barang tak berguna itu saat ini.” Detik itu juga Dante baru menyadari satu kesalahan akibat kecemburuan yang menutup akal sehatnya. “Maksudmu … Eyn Mayra berbohong padaku? Pernikahan itu tidak pernah ada. Dia berbohong untuk mengujiku.” “Seperti kau mengujinya.” Semakin jelas, ke mana tujuannya kini, Dante beranjak menemui Shiva. “Shiva, aku butuh …. ” Tiba-tiba ledakan itu terjadi. Semua terjadi begitu cepat, menghancurkan kamar Dante. Jika bukan karena cahaya perak Zeal, pasti Dante sudah tewas. Tetap saja, impaknya terasa. Efek ledakan itu membuat Dante pingsan seketika.   ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD