Beberapa hari ini Kapten Skivanov tak keluar ruang pribadinya, untuk sementara ia memerintahkan ajudan untuk menggantikannya di anjungan. Semua staf menduga, ia sedang menyembuhkan luka-lukanya. Sendirian.
Pintu ruang kerja kapten terbuka. Pria itu berjalan tegak namun masih menahan sakit. Sakit yang sesungguhnya bukan apa-apa, hanya malu karena seorang Carlo Dante berhasil mengalahkannya. Pikirannya campur aduk, antara benci dan rasa bersalah. Menanyakan pada diri sendiri tentang sikap dan perlakuannya pada Dante tanpa seizing Central yang menyebabkan pemuda itu menjadi lepas kendali. Namun apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur, semua telanjur terjadi, kini ia harus menghadapi konsekuensi perbuatannya sendiri, yaitu menghilangkan aset berharga Central yang dititipkan padanya. Carlo Dante adalah aset itu. Kini bangsa Eyn memilikinya, teringat ancaman seorang wanita Eyn yang menyelamatkannya. Mana mungkin ia percaya dan menurutinya begitu saja.
Menapak di lantai yang seolah penuh duri, Kapten Skivanov sampai di tempat duduknya dan menghidupkan layar virtual guna menghubungi Central, sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan. “EDOS, hubungkan ke Central Residence.” perintahnya.
Mereka pun terhubung.
“Sudah kudengar kejadian tentangmu. Seharusnya kau diberi sanksi, bukan Dante.” Itulah kalimat pertama begitu mereka terhubung.
Tentu saja. Ia harus siap dianaktirikan. Tiba-tiba saja Dante menjadi anak kesayangan, mengalahkan dirinya yang telah mengabdi sekian lama. “Ya, kuterima apapun sanksi darimu, termasuk melepas jabatanku.” kata Kapten Skivanov.
“Bukan itu yang kumau darimu. Hukuman yang paling tepat justru sebuah tuntutan dariku.”
Kalimat klise itu membingungkan. “Tuntutan?”
“Aku ingin kau lebih memahami karakter Carlo Dante, dengan demikian, kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik setelah dia kembali. Bangsa Eyn tidak akan lama menahannya.”
Tangan Kapten Skivanov mengepal. Hatinya geram. Apa-apaan ini? Permainan macam apa lagi? Protesnya dalam hati. Jujur, ia sudah gatal ingin menghabisi Space DJ itu dengan tangannya sendiri. Mana mungkin sanggup bermuka dua demi menuruti perintah Central? Ia lebih baik mati, namun kehilangan nyawa bukanlah solusi pada saat ia sangat ingin melenyapkan Carlo Dante dan menyadarkan Central bahwa Dante bukanlah satu-satunya aset!
“Nah, bagaimana? Kau membuatku menunggu jawabanmu.” ulang Central.
Ternyata ia bahkan tak sadar telah melamun cukup lama untuk memikirkan rencananya terhadap Dante. Jawabnya, “Akan kucoba.”
Tak berharap Central percaya padanya, Kapten Skivanov cukup lega ia lolos dari sanksi apapun. Kesempatan terakhirnya ini akan ia gunakan untuk ‘mengenal’ pribadi Carlo Dante seperti keinginan atasannya itu. Mengenal dalam arti yang lain, bahkan jika harus melakukan pelanggaran berat kali ini. Sampai kapanpun ia takkan sudi berbaik hati kepada penjahat macam Dante.
Dasar kriminal!
“Kau juga tahu, bukan semata-mata aku membelanya. Carlo Dante tidak akan bertindak terlalu jauh tanpa sebab. Rekaman kamera EDOS mengungkap bahwa ia dikuasai oleh sesuatu, atau … seseorang. Perlukah aku yang lebih dahulu mengatakannya padamu?” Pertanyaan Central terkesan memancing ingatan Kapten Skivanov.
“Satu nama … Roughart. Dia sempat mengucapkannya sebelum meledakkanku dengan Dual Exchanger di tangannya.”
“Alien penguasa Dark Zord. Dialah dalang di balik rencana penghancuran bumi. Satu hal yang masih diinginkannya, inti Zord, ada dalam diri Dante. Dengan itulah, dia berhasil menguasai Dante dan menggunakannya untuk menghancurkan Saturn. Karena itulah aku ingin kau sedikit longgar pada Dante. Hanya Dante yang paling tahu dan mampu mengatasi Roughart. Roughart telah kembali dan akan kembali lagi. Pada saat itu, kau harus siap.”
“Dan … senjata yang berada di tangan Dante? Ada ionos di dalamnya, Saturn akan selamat selama Dual Exchanger ada pada kita.” Kapten Skivanov mencoba mencetuskan ide yang mungkin akan mendapat dukungan penuh dari atasannya itu, mengingat sistem persenjataan Saturn Gallant masih minim.
“Sekarang kau baru mengatakannya padaku? Bukankah memiliki senjata terhebat untuk melindungi Saturn adalah misi rahasiamu? Dual adalah urusanmu, kau yang harus menyelesaikan itu. Saranku, biarkan Dante yang memilikinya sebab kau takkan mampu menggunakannya. Bila kau coba main-main dengan pendapatku dan menyebabkan insiden kedua, maka kau akan dinonaktifkan. Selamanya.”
Itu bukanlah ancaman.
Kapten Skivanov menyadari bahwa semula berawal dari kebodohannya berusaha menyetir Carlo Dante sesuai kehendaknya demi tujuan yang tampak baik. Teguran Central tidak lebih dari sekadar peringatan bahwa salah langkah justru dapat menyebabkan banyak orang menderita.
“Jika Roughart kembali, maka hanya Dante yang mampu menghadapinya. Itu pun, jika dia masih sudi berada di pihak kita. Sayangnya, hal itu berbanding terbalik dengan kebencianku padanya.” Akhirnya Kapten Skivanov terpaksa mengaku. Selama ada peluang, ada kemungkinan rasa benci itu akan berubah menjadi dendam.
“Aku senang, kau jujur. Tapi itu tidak cukup. Semua stafku adalah aset, termasuk dirimu. Kau terpilih bukan karena seleksi ketat saat itu, melainkan karena kau lebih peduli pada orang lain daripada kandidat yang lain. Jika kau sangat peduli pada keselamatan warga Saturn Gallant, mengapa tak memberi Dante kesempatan? Dia bisa menjadi baik, atau senjata mematikan yang sudah kau lihat sendiri betapa mengerikannya dia. Sebagai kapten, seharusnya kau bisa memilih mana yang lebih penting, kerja sama atau ego. Aku yakin, Saturn tak membutuhkan egomu, apalagi aku. Pikirkanlah, Kapten. Semoga Tuhan selalu bersamamu.”
Harapan itu kecil, namun sangat berarti ketika malam itu mereka kembali berjumpa. Kapten Skivanov tengah menyusuri koridor bersama beberapa staf untuk pemeriksaan fasilitas, lalu terhenti saat tak jauh di depan mereka, Dante telah berdiri menatap mereka. Nyaris para stafnya menodongkan senjata, namun Kapten mencegahnya dengan isyarat tangan saja.
“Kau kembali.” sapa Kapten Skivanov, datar dan dingin. “Tidak betah tinggal di istana Eyn yang membosankan dan kurang tantangan?”
“Aku harus kerja. Sebelum peringatan dari Space DJ Legacy menyusahkan kalian, terutama klub. Tidak ada hubungannya dengan Eyn. Aku tidak pernah lari dari tanggung jawab,” sanggah Dante tanpa tersenyum sedikitpun, tentu waspada pada reaksi kapten yang sewaktu-waktu dapat berubah.
“Kau pikir mereka tak takut padamu? Aksimu terakhir kali terbilang sadis. Banyak orang melihatmu menghabisi beberapa stafku hanya dengan tangan kosong, atau melubangi perut mereka dengan Dual Exchanger.” ujar Kapten Skivanov sinis. Ia yakin Dante akan memohon pemulihan nama baik darinya jika masih ingin tetap tinggal di Saturn Gallant.
Namun di luar perkiraannya, Dante justru berjalan mendekat, melepas tas ransel dari punggungnya, lalu mengeluarkan isinya. “Ini ‘kan yang kau cari?” Disodorkannya sebuah senjata tangan, apalagi kalau bukan Dual Exchanger. “Simpan, semoga kau puas!”
Kapten Skivanov tak tersinggung dengan nada ketus itu atau cukup senang bahwa Dual ada di tangannya sekarang. Ia membiarkan Dante lewat.
“Oh, satu hal lagi, Kapten. Sebelum terlambat, lakukan evakuasi. Cepat atau lambat Roughart pasti kembali. Saturn adalah sasaran utama, sebagai ganti kegagalannya menguasai bumi. Itu pun, jika kau percaya padaku.”
“Memangnya pilihan apalagi yang aku punya? Semula tekadku demikian bulat menghabisimu, tetapi Central mencegahku. Dia pikir, kita lebih berguna jika bekerja sama.”
“Oh ya? Ironis sekali. Aku sudah di depan matamu tapi tetap saja seorang Kapten Skivanov tak berdaya membalaskan dendamnya padaku. Kenapa? Bermanis-manis di depan Central lalu menerkamku dari belakang, memalsukan berita kematianku? Hah, kerja sama macam apa yang kau maksud? Tidak, aku sudah selesai denganmu. Dual ada padamu sekarang, kita impas!” Dante pun berlalu. Sangat wajar membawa kemarahan itu dalam dirinya.
Kapten Skivanov tak bisa berbuat banyak, baik dia maupun Dante punya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Berusaha memahami situasi dan memberi Dante sedikit waktu bisa jadi jalan terbaik. Selanjutnya, mempertimbangkan saran Dante untuk mengevakuasi warga secepatnya. Bila perkiraan Central dan Dante benar, maka perang pasti terjadi. Saturn harus siap, tapi … buat apa ia memegang Dual jika tak sanggup menggunakannya? Kapten Skivanov menghela napas panjang. “Baiklah, Dante. Kau menang.”
Di Soundbuzzter Club, suasana tidaklah nyaman. Wajah para staf yang menyadari kehadiran Dante langsung berubah, seolah sedang melihat malaikat pencabut nyawa. Mereka menghindarinya karena takut, kecuali Cain dan Shawn. Keduanya menghampiri Dante, mencegahnya masuk ke ruang kerja Ray.
“Untuk sementara klub tutup, demikian pula semua fasilitas di Saturn Gallant. Baru saja Kapten Skivanov mengumumkan darurat perang dan perintah evakuasi.” jelas Shawn kecewa. “Ternyata kau lebih buruk dari yang kami kira. Seorang pembunuh berkedok DJ.”
“Space DJ,” Dante mengoreksi.
“Terserahlah! Dengar, tempatmu bukan lagi di sini. Space DJ Legacy pasti akan mencabut izin kerjamu, mengerti?”
“Hei, kenapa kau kasar padanya, Shawn?” Cain menengahi. “Bukan salahnya menembaki para staf militer itu, dia dalam pengaruh jahat seseorang. Satu-satunya kesalahan adalah kita tidak cukup baik sebagai temannya. Biarkan Carlo Dante menanggung semuanya dan kita semua tetap bisa tidur nyenyak, bukankah begitu, Space DJ?”
Tenggorokan Dante tercekat, tak mampu lagi berkata-kata. Merasa tiada lagi yang harus dibicarakan, ia mundur perlahan. “Maafkan aku. Aku pergi, sampai jumpa.”
Sepeninggal Dante, Cain dan Shawn saling pandang.
“Kau yakin kita tak terlalu kejam padanya, Cain?” tanya Shawn, ragu pada rencana Cain kali ini.
“Dia harus tahu bahwa dia tidak sendirian. Ayo, kita harus siap kapanpun dia butuh bantuan. Evakuasi ini bukan untuk orang-orang seperti kita.” tandas Cain tegas.
Sampai di ruang pribadinya, Dante menatap hampa sekitarnya. Betapa cepat situasi berubah. Dibuang, dielukan, terbuang. Selanjutnya, apalagi? Ia percaya bahwa Tuhan punya rencana unik untuknya tapi sampai kapan? Jika pada akhirnya ia harus mengotori tangannya lagi. Benarkah tidak tersedia ruang bagi dirinya di manapun jua? Haruskah hidup sendiri selamanya? Apapun yang ia lakukan selalu salah, membuatnya kehilangan semua sahabatnya.
“Aktifkan Shiva.”
Akhirnya, program kecerdasan buatan itu lepas dari ‘sarangnya’. Wajahnya tampak kurang senang.
“Apa? Kau marah padaku? Masalahku sudah banyak, Shiva.” Lelah, menjatuhkan tubuhnya telungkup di atas tempat tidur.
“Roughart menguasaimu.”
“Ya, lewat inti Zord. Lebih baik aku mati. Akan kuminta Eyn Huza membuat ramuan kematian, mungkin lebih nyaman daripada suntik mati atau hukuman tembak.” sahut Dante sekenanya karena nyaris putus asa.
“Dan … Dual Exchanger?”
“Sudah kuserahkan pada pemesannya. Kapten Ivan ‘Igor’ Skivanov. Cck, dasar orang tak tahu terima kasih.” decak Dante kesal, kedua matanya mulai berat. “Jangan salahkan aku, Shiva, aku tahu yang kulakukan memang bodoh, tapi itu menyenangkan semua orang.”
“Hanya kau yang bisa mengoperasikan Dual, Dante. Sejak awal, setting Dual dibuat agar cocok untukmu.” protes Shiva, keras. “Banyak nyawa akan melayang bila Dual berada di tangan yang salah!”
“Lalu apa bedanya? Di tanganku, Dual juga sudah membunuh beberapa orang. Sudahlah, Shiva, aku yakin kapten Rusia itu tahu bagaimana menggunakannya, mungkin cuma dipajang di ruang kerjanya. Aku tak peduli!” Lantas mendekap bantal, semenit kemudian, Dante pun tertidur pulas.
****