BAB 13 API CEMBURU

1685 Words
Senja itu Dante tengah bersiap meninggalkan istana Eyn untuk menyelesaikan masalahnya di Saturn Gallant. Matahari mengerahkan cahaya kuning kemerahan yang menghangatkan pipi Eyn Mayra. Pipi yang ingin ia kecup dan nyaris tergerak melakukannya seperti orang bodoh. Setelah peristiwa menakutkan waktu itu, seharusnya gadis itu waspada padanya. “Ada apa?” tanya gadis itu, melihat sikap Dante yang tampak serba salah karena sesuatu, saat sedang berjalan berdua di lorong terbuka, menuju balkon istana Eyn Huza. Dari balkon yang luas itu, Dante akan dipindahkan Eyn Huza menuju Saturn Gallant melalui teleportasi. “Aku hampir menciummu,” ucap Dante terus terang. Baginya tak ada gunanya berbohong saat ini. Di depan Eyn Mayra, ia merasa dirinya utuh apa adanya. Juga tak merasa dirinya rendah sebab itulah yang ia rasakan tanpa bisa menolaknya. Yakin gadis itu akan marah padanya, Dante bersiap minta maaf. Sama sekali tak berniat menghina sang putri. Baru kali ini jantungnya berdebar kala Eyn Mayra berhenti melangkah dan menatapnya. “Ucapan dan sikapmu padaku, seharusnya aku merasa tersinggung. Entah jujur atau …. ” “Kurang ajar?” Tanpa diminta melanjutkan kalimat Eyn Mayra yang belum rampung. “Lupakan saja!” Dante menarik lengan Eyn Mayra yang hendak meninggalkannya sehingga tubuh gadis itu merapat padanya. Sejenak mereka bertatapan namun Eyn Mayra menunduk dan mengalihkan pandangan. “Ingatlah bahwa bukan aku yang memulai semua ini. Setelah aku mulai terobsesi padamu, kau mencoba menghindar dariku? Satu-satunya yang membuatku masih waras adalah kau akan menikah. Kau milik orang lain. Milik seorang pecundang yang kemungkinan besar tidak mampu melindungimu. Kau tahu? Mungkin aku takkan peduli. Andai kuturuti kemauan kedua kakakmu untuk tinggal di sini, kujamin pernikahanmu terancam tragedi, Yang Mulia.” “Seorang kesatria sejati hanya mementingkan keselamatan junjungannya.” Binar di mata Eyn Mayra jelas menentang pendirian Dante. “Kesatria sejati bukanlah budak.” balas Dante, perlahan melepas lengan itu dari pelukannya. Berusaha menutupi perasaannya dengan rasa kecewa, ia berjalan lebih dulu. “Jangan biarkan Eyn Huza menunggu. Tidak perlu melanjutkan debat sia-sia ini.” Membiarkan Dante beberapa langkah di depannya, Eyn Mayra bergumam sendiri, “Sayangnya, aku suka berdebat denganmu.” Hanya udara yang sempat melihat senyumnya. Tiba di depan pintu besar berukir indah, Dante mengurungkan niat membukanya. Kesempatan terakhir bicara dengan gadis itu sebelum menemui Eyn Huza. Sesuai dugaannya, Eyn Mayra hanya berdiri di sisinya tanpa bersuara sedikitpun. “Aku … tidak pernah bersikap kekanakan seperti ini sebelumnya.” ungkapnya. “Lalu?” “Maaf, tidak seharusnya aku memperlakukanmu seburuk itu. Menikah adalah hakmu dan kau pantas bahagia. Lupakan semua kata-kataku padamu, termasuk yang kutulis untukmu.” Eyn Mayra menahan senyumnya, sebisa mungkin terlihat serius menanggapi sikap Dante yang membingungkan. “Maksudmu? Kau menulis surat untukku?” Raut wajah Dante seketika berubah memucat, “Ya, ya, tapi itu … Ya, Tuhan, seharusnya kubuang benda laknat itu! Kenapa harus kukatakan padanya? Bodoh sekali!” umpatnya lirih pada diri sendiri seraya membelakangi Eyn Mayra, mengingat sudah terlambat untuk mengambil surat itu dan melenyapkannya. “Baiklah, nanti akan kucari,” ucap Eyn Mayra bersikap biasa namun sangat paham betapa kalimatnya justru menyiksa batin Dante. “Ah, sudahlah. Satu permintaanku, jangan mengundangku. Aku takkan tega melihatmu bersanding dengan pangeran … siapa namanya?” “Belum tahu, bukankah kau tak peduli?” “Ya, memang.” “Dante, kurasa kau cemburu. Itu masalahmu.” “Apa?” “Kupikir, semua akan mudah. Perasaanku padamu memang sudah ada sejak dulu walaupun kau tak mampu mengingat itu. Tapi … andai harus berakhir, apakah ini salahku? Dengar, lakukan saja tugasmu, dengan demikian tidak akan ada beban. Anggaplah tangisanku kemarin tak berarti. Setelah pernikahan, kau harus sadar siapa dirimu, Carlo Dante.” Tegas dan tajam bagai sembilu. Secepat itu Eyn Mayra mengubah pendiriannya? Sebelum semakin runyam, Dante memilih membuka pintu itu. Diraihnya gagang pintu yang dingin, sedingin sikap gadis itu padanya. Detik itu juga, hatinya hampa. Eyn Huza lega akhirnya mereka sampai, namun ceria suasana hatinya meredup saat menyadari Dante berjalan di depan dan kurang berminat membangun percakapan dengannya, apalagi Eyn Mayra. “Apa yang terjadi?” tanyanya. “Tidak ada. Kapan kita mulai?” Eyn Huza menatap dua orang itu bergantian. “Kalian … bertengkar?” Mata Dante membulat, berusaha agar pria itu tak membaca pikirannya. “Maksudmu? Buat apa aku berselisih paham dengan … Yang Mulia?” kilahnya sembari membungkuk pada Eyn Mayra untuk memberi hormat. “Tuan Putri sudah meluangkan waktu untuk menjemput dan mengantarku kemari, aku … sangat berterima kasih.” ucapnya sesantun mungkin, menyembunyikan luka hatinya. “Kuharap bukan sesuatu yang serius, karena kita harus menyatukan kekuatan tak lama lagi.” “Menyatukan kekuatan? Huh, katakan itu pada calon suami Yang Mulia Eyn Mayra. Ingat, kalian memberiku kekuatan Zeal secara cuma-cuma tanpa kuminta, jadi berhentilah mengatur hidupku. Oh ya, jika tak keberatan, Dual Exchanger? Senjataku?” Eyn Huza menyerahkan benda itu lalu segera memindahkan Dante tanpa memperpanjang percakapan lagi. Setelah kepergiannya, Eyn Huza menoleh kepada adiknya. “Apa?” Eyn Mayra kaget, belum siap dengan tatapan ingin tahu kakaknya. “Carlo Dante muncul karena sosok dirimu di masa depan memberitahumu. Tanpa berpikir panjang kita semua percaya padanya dan memberi kekuatan besar yang kita punya. Apa maksudmu mengarang skenario pernikahan palsu? Dan Eyn Rasyid mendukungmu. Apa ini? Kita bangsa Eyn tidak pernah berdusta.” “Kita tidak berdusta, melainkan hanya mengujinya, seperti dia mengujiku,” sanggah Eyn Mayra membela diri. Ia sangat yakin mampu meredakan keraguan Eyn Huza. “Menguji?” Eyn Huza menghembuskan napas panjang akibat ulah adiknya, lanjutnya, “Sebaiknya kau tahu yang kau lakukan, Eyn Mayra. Jangan sampai terjebak pada permainan yang kau ciptakan sendiri.” Eyn Mayra bukan tak tahu maksud Eyn Huza. Menarik-ulur perasaan seorang Carlo Dante bukanlah ide bagus, tapi …. “Ya, ia akan bertahan.” jawab Eyn Mayra sekenanya. Eyn Huza hanya bisa menggelengkan kepala. “Setidaknya beri dia waktu. Tidak mudah baginya untuk menerima Zeal, menghadapi kita berempat dan bertarung dengan Al Hadiid? Ada apa dengan kalian semua? Tidakkah kau lihat betapa Dante berjuang membuka matanya yang bengkak hanya demi menatapmu? Eyn Mayra, Dante belum pulih!” Tangan Eyn Mayra meraih apel merah dari baki buah bersepuh emas, mengamatinya dan sama sekali tak berniat memakannya. “Aku sudah berjanji, Eyn Huza. Dante tidak akan bisa menjadi dirinya sendiri jika hatinya lemah. Butuh lebih dari sekadar kekuatan besar untuk menjadi kesatria sejati. Zeal hanya alat, Dante-lah kekuatan yang sesungguhnya. Tidak lama lagi, semua akan terbukti, darah Eyn tak perlu mengalir lagi.” Apel itu luruh, perlahan warna merah kulitnya merasuk ke dalam kuku jemari Eyn Mayra yang semula polos tak berwarna, sedangkan bagian buah lainnya hilang lenyap begitu saja. Bahkan malam itu segalanya tampak jelas bagi Eyn Mayra. Kembali ke ruangan yang semula didiami Dante untuk memulihkan kesehatannya, ia memeriksa selintas dan menemukan sesuatu. Jas resmi kerajaan yang dipakai Dante waktu itu, masih ada di sana, tergeletak begitu saja di atas tempat tidur, belum dibereskan pelayan istana. Kedua tangannya mengangkat benda itu, memeriksa saku bagian dalam. Secarik kertas yang dilipat kurang rapi ia temukan di sana dan tulisan itu berkata,   Kepada gadis yang terlalu percaya pada satu kata : TAKDIR.   Apa yang sebenarnya kau harapkan? Sebuah mimpi? Aku ingin tertawa mendengarnya. Kau tahu? Takdir hanya terjadi bila kita sudah menjalaninya, menjalani semua omong kosong ini!   Tapi terima kasih, Yang Mulia, berkat Anda … Zeal ada pada diriku dan kebetulan kami cocok. Hm, apalagi? Dalam waktu dekat, akan kusuruh dia merampok bank, atau menyingkirkan semua orang yang kubenci. Itulah biaya yang harus dibayar akibat seenaknya menumpang gratis di punggungku yang sudah berat dengan beban hidup! Entah mengapa hidup menjadi ‘semanis’ ini.   Terima kasih juga, Kali pertama hidungku mencium aroma yang begitu seksi. Keanggunanmu, Yang Mulia, ibarat mawar berduri. Kecantikanmu, adalah obsesi baru, tapi … lepas dari carut marut pikiranku saat bersamamu, harus kuakui rasa sakit kehilanganmu. Selamat menikah, jangan harap aku di sana menonton pertunjukan kalian berdua. Sangat menggelikan!   Tambahan : jika kau temukan kertas ini, akuilah, aku-lah takdirmu. Suka, atau tidak.   Tawa tak sanggup dibendung Eyn Mayra. Baris demi baris kalimat itu sangat lucu baginya. Carlo Dante termakan jebakannya dan api cemburu sangat jelas terbaca. Demikian jelas bagi Eyn Mayra bahwa benang merah di antara mereka memang ada. Sebuah ikatan yang selalu mempertemukan keduanya. Surat itulah buktinya, sangat mudah ditemukan meskipun letaknya tersembunyi. Sesungguhnya tak jauh beda dengan peran takdir yang dimaksud Dante, menyebabkan jas itu masih di tempatnya, belum tersentuh tangan pelayan. Hidup memang aneh, namun Eyn Mayra rela menunggu. Sebagaimana benang merah itu akhirnya kembali mempertemukan mereka, setelah sekian lama. Suara ketukan pintu menyadarkannya. Cepat-cepat melipat surat berharganya, menyembunyikannya di balik gaunnya. Pintu terbuka, ada Al Hadiid dan dua dayang istana di belakangnya. “Masih di sini?” tatap Al Hadiid curiga. “Hanya memeriksa sebelum mereka.” Eyn Mayra memerintahkan kedua dayangnya membereskan jas yang pernah dipakai Dante. “Oh, bila sudah bersih, simpan lagi di sini,” pesannya lagi yang dijawab dengan anggukan kepala sebelum mereka meninggalkannya. “Sejak kapan kau peduli pada mantan penjahat itu?” tanya Al Hadiid, masih memasang raut muka yang sama. “Menyimpannya lagi di sini? Memangnya ini kamar Dante?” selidiknya bertubi-tubi. Bicara dengan Al Hadiid butuh suasana yang berbeda, kesabaran yang berbeda pula. Tampang sinisnya bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi gadis yang sedang jatuh cinta. “Bukan, tapi … Eyn Huza menyediakan ruangan ini untuknya, di istananya. Atau, kau lebih setuju jika kamar Dante berada di istanaku?” balas Eyn Mayra, menimbulkan reaksi tak suka ketika dahi Al Hadiid berkerut. “Jadi, kau tak perlu mencemaskan apapun.” Melewati adiknya, berniat meninggalkannya sebelum kekacauan kecil terjadi. “Aku menghormati Dante sebagai petarung, bukan kesatria Eyn yang menyandang roh pedang Zeal di punggungnya. Sampai kapanpun, dia tetaplah orang asing yang tak pantas berada di tengah kita.” Kata-kata Al Hadiid menghentikan langkahnya, berpikir sejenak, lalu berbalik, menatap Al Hadiid dalam-dalam. “Lalu siapa yang menurutmu pantas? Jangan biarkan rasa irimu menutup kenyataan bahwa dia, satu-satunya orang asing yang sanggup menyangga Zeal dalam tubuhnya. Tanggung jawabmu semakin berat jika tak mampu menjawab pertanyaan itu.” Sesudah mengungkapkan pembelaannya, Eyn Mayra pergi. Entah apalagi yang dipikirkan Al Hadiid, semoga bukanlah sesuatu yang akan mengancam masa depannya. Masa depan bersama calon raja yang diinginkannya.   ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD